19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
in Khas
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Ketut Suryadnya memanjat | Foto: Puja

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok terselip di belakang. Tubuhnya perlahan bergerak naik menuju pucuk pohon yang tingginya sekitar delapan meter.

Tangannya mencengkeram batang. Kedua kakinya mencari pijakan. Sesekali ia berhenti, memastikan tubuhnya tetap seimbang sebelum kembali memanjat. Laki-laki itu Ketut Suryadnya, 48 tahun, petani tuak dari Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.

Bertani tuak sudah dilakukannya sejak berusia 12 tahun, tepat setelah tamat sekolah dasar. Suryadnya mengenal pekerjaan itu dari ayahnya. Sang ayah juga seorang petani tuak. Dari situlah ia mengikuti jejak ayahnya, mempelajari cara memanjat pohon, mengiris tandan, hingga mengambil getah yang kemudian menjadi tuak.

“Dari bapak saya. Bapak juga petani tuak. Saya ikut dari kecil,” kenang Suryadnya.

Saat tubuhnya masih kuat dan tenaga belum banyak terkuras usia, Suryadnya mampu menaiki hingga 20 pohon dalam sehari. Pagi sekitar pukul 07.00, ia naik ke pohon untuk mengiris bagian batang yang menjadi tempat keluarnya getah. Sore sekitar pukul 15.00, ia kembali memanjat untuk mengambil hasil irisan sekaligus mengirisnya kembali. Begitu seterusnya.

“Dulu saya bisa naik sampai 20 pohon sehari. Pagi naik, sore naik lagi,” ujarnya.

Ketut Suryadnya menuangkan tuak ke jerigen | Foto: Puja

Suryadnya mengiris tandan atau tangkai bunga pohon lontar, kemudian ditampung dalam jeriken. Di dalam wadah itu, nira mengalami fermentasi alami. Suryadnya biasanya tidak menambahkan ragi buatan, tapi memanfaatkan mikroorganisme alami serta lau, potongan kulit pohon kesambi yang membantu proses fermentasi sekaligus memberi cita rasa khas pada tuak.

Setelah beberapa jam, nira yang telah difermentasi diturunkan dari pohon. Tuak yang baru dipanen biasanya masih terasa manis. Namun, semakin lama dibiarkan, rasanya berubah menjadi lebih asam dan kadar alkoholnya meningkat. Perubahan itu sudah sangat dikenal Suryadnya dari pengalaman puluhan tahun menyadap lontar.

“Kalau baru diambil, rasanya manis. Kalau agak lama diambil dari pohon, rasanya bisa agak asam,” kata Suryadnya.

Ketika Hidup Memaksa Memanjat

Suryadnya tumbuh dalam kehidupan yang ia sebut sendiri sebagai kehidupan yang melarat. Pendidikan formalnya berhenti setelah sekolah dasar. Selepas itu, ia mulai bekerja sebagai petani tuak.

“Saya dulu hidup melarat. Sekolah cuma sampai SD,” ujarnya.

Kehidupannya semakin berat setelah ayahnya meninggal pada 1987. Sang ayah mengalami kecelakaan akibat jatuh dari pohon nangka. Saat itu Suryadnya masih berada pada usia yang sangat muda. Ia kemudian tinggal bersama ibunya. Namun, keadaan keluarga kembali berubah ketika ibunya menikah lagi.

Ketut Suryadnya | Foto: Puja

Tak banyak pilihan yang tersedia bagi Suryadnya ketika itu. Ia tetap menjalani pekerjaan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Memanjat pohon lontar menjadi caranya mengais rezeki sejak kanak-kanak. Pekerjaan itu kemudian ia bawa hingga dewasa, menikah, dan memiliki keluarga.

Kini, Suryadnya memiliki enam anak perempuan. Anak pertamanya duduk di bangku SMP, sementara anak kedua dan ketiganya masih bersekolah di SD. Anak kelimanya masih berusia tiga tahun. Sementara itu, anak keempatnya telah meninggal dunia.

Bersama istrinya, Suryadnya terus memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil bertani dan menyadap tuak. Pohon-pohon lontar yang sejak kecil ia panjat kini menjadi tumpuan hidup keluarganya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Tuak, Tubuh, dan Harapan

Untuk menjalankan pertanian tuak, Suryadnya kini mengontrak sekitar 20 pohon lontar. Setiap pohon dikontrak dengan biaya sekitar Rp75 ribu. Dalam sehari, satu pohon dapat menghasilkan kurang lebih lima liter tuak.

Hasil pertama fermentasi tuak umumnya berkisar antara 3% hingga 5%, kemudian dikumpulkan dan dijual. Suryadnya tidak mengolah sendiri tuak tersebut menjadi arak. Ia menyerahkan kepada orang lain untuk diproses lebih lanjut. Dari penjualan tuak, ia mendapatkan sekitar Rp50 ribu untuk dua jeriken.

“Kalau tuaknya sudah terkumpul, saya jual. Untuk jadi arak, orang lain yang mengolah,” katanya.

Hasil usaha tuak dan arak tersebut kemudian dikirim ke Desa Tukad Sumaga dan Desa Lemukih. Usaha ini dijalankan bersama istrinya. Sang istri turut mendukung pekerjaan Suryadnya dan membantu dalam penjualan tuak yang menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Tuak hasil sadapan Ketut Suryadnya | Foto: Puja

Namun, pekerjaan yang sudah puluhan tahun dijalaninya itu kini tidak lagi semudah ketika ia masih remaja. Usia perlahan mengurangi tenaga Suryadnya. Jika dahulu ia mampu memanjat hingga 20 pohon dalam sehari, kini ia hanya sanggup memanjat sekitar tujuh pohon.

“Sekarang sudah tidak kuat seperti dulu. Dulu bisa 20 pohon, sekarang paling tujuh,” ujarnya.

Tubuhnya memang tidak lagi sekuat dulu. Tetapi setiap pagi, ketika ia kembali berdiri di bawah pohon lontar, Suryadnya masih tahu ke mana harus memanjat.

Ke atas. Ke tempat yang sudah dikenalnya sejak berusia 12 tahun, ketika ia pertama kali mengikuti jejak ayahnya.

Di balik lelah tubuhnya, Suryadnya menyeletuk, terselip harapan kecil. Barangkali salah satu anak perempuannya kelak bersedia melanjutkan pekerjaan bertani tuak yang telah ia jalani selama puluhan tahun.[T]

Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa BondalemTejakulatuaktuak lontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Next Post

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co