SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok terselip di belakang. Tubuhnya perlahan bergerak naik menuju pucuk pohon yang tingginya sekitar delapan meter.
Tangannya mencengkeram batang. Kedua kakinya mencari pijakan. Sesekali ia berhenti, memastikan tubuhnya tetap seimbang sebelum kembali memanjat. Laki-laki itu Ketut Suryadnya, 48 tahun, petani tuak dari Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.
Bertani tuak sudah dilakukannya sejak berusia 12 tahun, tepat setelah tamat sekolah dasar. Suryadnya mengenal pekerjaan itu dari ayahnya. Sang ayah juga seorang petani tuak. Dari situlah ia mengikuti jejak ayahnya, mempelajari cara memanjat pohon, mengiris tandan, hingga mengambil getah yang kemudian menjadi tuak.
“Dari bapak saya. Bapak juga petani tuak. Saya ikut dari kecil,” kenang Suryadnya.
Saat tubuhnya masih kuat dan tenaga belum banyak terkuras usia, Suryadnya mampu menaiki hingga 20 pohon dalam sehari. Pagi sekitar pukul 07.00, ia naik ke pohon untuk mengiris bagian batang yang menjadi tempat keluarnya getah. Sore sekitar pukul 15.00, ia kembali memanjat untuk mengambil hasil irisan sekaligus mengirisnya kembali. Begitu seterusnya.
“Dulu saya bisa naik sampai 20 pohon sehari. Pagi naik, sore naik lagi,” ujarnya.

Suryadnya mengiris tandan atau tangkai bunga pohon lontar, kemudian ditampung dalam jeriken. Di dalam wadah itu, nira mengalami fermentasi alami. Suryadnya biasanya tidak menambahkan ragi buatan, tapi memanfaatkan mikroorganisme alami serta lau, potongan kulit pohon kesambi yang membantu proses fermentasi sekaligus memberi cita rasa khas pada tuak.
Setelah beberapa jam, nira yang telah difermentasi diturunkan dari pohon. Tuak yang baru dipanen biasanya masih terasa manis. Namun, semakin lama dibiarkan, rasanya berubah menjadi lebih asam dan kadar alkoholnya meningkat. Perubahan itu sudah sangat dikenal Suryadnya dari pengalaman puluhan tahun menyadap lontar.
“Kalau baru diambil, rasanya manis. Kalau agak lama diambil dari pohon, rasanya bisa agak asam,” kata Suryadnya.
Ketika Hidup Memaksa Memanjat
Suryadnya tumbuh dalam kehidupan yang ia sebut sendiri sebagai kehidupan yang melarat. Pendidikan formalnya berhenti setelah sekolah dasar. Selepas itu, ia mulai bekerja sebagai petani tuak.
“Saya dulu hidup melarat. Sekolah cuma sampai SD,” ujarnya.
Kehidupannya semakin berat setelah ayahnya meninggal pada 1987. Sang ayah mengalami kecelakaan akibat jatuh dari pohon nangka. Saat itu Suryadnya masih berada pada usia yang sangat muda. Ia kemudian tinggal bersama ibunya. Namun, keadaan keluarga kembali berubah ketika ibunya menikah lagi.

Tak banyak pilihan yang tersedia bagi Suryadnya ketika itu. Ia tetap menjalani pekerjaan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Memanjat pohon lontar menjadi caranya mengais rezeki sejak kanak-kanak. Pekerjaan itu kemudian ia bawa hingga dewasa, menikah, dan memiliki keluarga.
Kini, Suryadnya memiliki enam anak perempuan. Anak pertamanya duduk di bangku SMP, sementara anak kedua dan ketiganya masih bersekolah di SD. Anak kelimanya masih berusia tiga tahun. Sementara itu, anak keempatnya telah meninggal dunia.
Bersama istrinya, Suryadnya terus memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil bertani dan menyadap tuak. Pohon-pohon lontar yang sejak kecil ia panjat kini menjadi tumpuan hidup keluarganya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Tuak, Tubuh, dan Harapan
Untuk menjalankan pertanian tuak, Suryadnya kini mengontrak sekitar 20 pohon lontar. Setiap pohon dikontrak dengan biaya sekitar Rp75 ribu. Dalam sehari, satu pohon dapat menghasilkan kurang lebih lima liter tuak.
Hasil pertama fermentasi tuak umumnya berkisar antara 3% hingga 5%, kemudian dikumpulkan dan dijual. Suryadnya tidak mengolah sendiri tuak tersebut menjadi arak. Ia menyerahkan kepada orang lain untuk diproses lebih lanjut. Dari penjualan tuak, ia mendapatkan sekitar Rp50 ribu untuk dua jeriken.
“Kalau tuaknya sudah terkumpul, saya jual. Untuk jadi arak, orang lain yang mengolah,” katanya.
Hasil usaha tuak dan arak tersebut kemudian dikirim ke Desa Tukad Sumaga dan Desa Lemukih. Usaha ini dijalankan bersama istrinya. Sang istri turut mendukung pekerjaan Suryadnya dan membantu dalam penjualan tuak yang menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

Namun, pekerjaan yang sudah puluhan tahun dijalaninya itu kini tidak lagi semudah ketika ia masih remaja. Usia perlahan mengurangi tenaga Suryadnya. Jika dahulu ia mampu memanjat hingga 20 pohon dalam sehari, kini ia hanya sanggup memanjat sekitar tujuh pohon.
“Sekarang sudah tidak kuat seperti dulu. Dulu bisa 20 pohon, sekarang paling tujuh,” ujarnya.
Tubuhnya memang tidak lagi sekuat dulu. Tetapi setiap pagi, ketika ia kembali berdiri di bawah pohon lontar, Suryadnya masih tahu ke mana harus memanjat.
Ke atas. Ke tempat yang sudah dikenalnya sejak berusia 12 tahun, ketika ia pertama kali mengikuti jejak ayahnya.
Di balik lelah tubuhnya, Suryadnya menyeletuk, terselip harapan kecil. Barangkali salah satu anak perempuannya kelak bersedia melanjutkan pekerjaan bertani tuak yang telah ia jalani selama puluhan tahun.[T]
Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole




















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









