19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
in Panggung
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Pergelaran musik Suara Senja sebelum pelaksanaan Bulfest di Praja Mandala Singa Ambara Raja Singaraja

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja. Malam itu dingin. Ia tampak merenung tapi sesekali pandangannya diarahkanb pada bangunan berarsitektur kolonial di sekelilingnya.  Di sebelah timur, ada panggung kecil. Suara musik terdengar sayup-sayup.

“Saya suka duduk di sini,” kata Wahyu, nama lelaki muda itu, ketika disapa tatkala.co. Jumat malam, 7 Agustus 2026.

Wahyu bernama lengkap Putu Wahyu Mahaputra, Ia alumni Universitas Pendidikan Ganesha dan mengaku sangat menyukai hal-hal berbau sejarah.  

Selain menikmati alunan musik, kata Wahyu, di tempat itu ia bisa menikmati vibes kota lama. Duduk di tempat itu, kata dia lagi, ia seolah berjalan jauh ke masa lalu.

“Kalau duduk di sini, saya jadi berpikir, apa yang orang-orang dulu rasakan ketika berada di tempat ini? Mereka melihat dan memikirkan Singaraja seperti apa?” ujarnya sembari melamun.

Wahyu mengatakan, di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, masa lalu dan masa kini seperti bertemu dan bertamu. Bangunan dan ruang yang menyimpan jejak sejarah berdiri berdampingan dengan gagasan-gagasan kreatif masa kini yang dirangkai seperti panggung musik itu.

“Apalagi, mulai ada musik di kawasan ini,” kata Wahyu.

Panggung Kecil Menjadi Salah Satu Tanda Perubahan Itu

Sejak Praja Mandala Singa Ambara Raja di bangun, kini ada program Suara Senja di Palemahan Kangin. Program ini dibuat untuk membangun ekosistem kreatif khusus bidang musik di Singaraja. Selain Wahyu, orang-orang mulai ramai mendatangi kawasan itu.

Ben Prince, salah satu Koordinator di balik program Suara Senja, melihat kehadiran kegiatan tersebut sebagai upaya menghadirkan sesuatu yang baru di ruang publik. Musik dipilih sebagai langkah awal untuk membuat kawasan tersebut kembali memiliki aktivitas dan menjadi tempat perjumpaan kalangan muda dan kalangan tua.

Senja di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, sebelum panggung Bulfest dipasang | Foto: Puja

“Suara Senja ini menjadi awal. Kita ingin ada sesuatu yang baru di ruang ini. Kaum muda dan kaum tua, menikmati musik, bertemu, dan kemudian muncul kreativitas-kreativitas lainnya,” ujar Ben.

Menurutnya, ruang publik tidak harus selalu dihidupkan melalui kegiatan besar. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat membangun kebiasaan baru dan membuat masyarakat kembali merasa memiliki ruang tersebut.

Aprilia Ulandari, vokalis dari UKM Musik Institut Mpu Kuturan juga menyatakan bahwa ruang publik di Palemahan Kangin, kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja itu memberinya kesempatan untuk belajar dan berproses mengembangkan karya musiknya.

“Saya jadi bisa belajar manggung di depan banyak orang dan memikirkan karya apa yang menarik dibawakan di tempat itu.” Ucap Aprilia Ulandari.

Sementara, bagi Putu Wahyu Mahaputra, musik hanyalah awal.

“Aku membayangkan ruang tersebut ke depan tidak hanya diisi pertunjukan musik, tetapi juga seniman yang melukis, pembacaan puisi, diskusi, hingga berbagai kegiatan yang dapat menghidupkan literasi di ruang publik,” ucap Wahyu.

“Ini mungkin, baru musik. Ya kalau bisa jangan hanya musik, harus ada yang melukis, membaca puisi, dan bercerita begitu sih,” tutur Wahyu sembari menunjuk beberapa sudut yang dibayangkannya dapat menjadi ruang bagi berbagai kegiatan kreatif tersebut.

Menurutnya, ruang seperti titik nol seharusnya dapat menjadi tempat masyarakat mengenal kembali cerita tentang Buleleng. Bukan hanya cerita yang tersimpan dalam buku, tetapi cerita yang dapat dibagikan langsung dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Gagasan tersebut membuat panggung kecil di titik nol menjadi lebih bernyawa, menjadi ruang perjumpaan antara seni, sejarah, dan literasi.

Bagi Wahyu, apa yang berlangsung malam itu hanyalah upaya-upaya awal. Panggung kecil yang hadir di Palemahan Kangin melalui program Suara Senja menjadi semacam pemantik untuk menghidupkan kembali ruang publik dengan kreativitas anak muda. Ia membayangkan ruang-ruang di kawasan tersebut kelak tidak pernah benar-benar sepi dari aktivitas dan gagasan kreatif.

Senja di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, sebelum panggung Bulfest dipasang | Foto: Puja

Ada hal yang menarik, di balik upaya-upaya menghidupkan panggung kecil seperti yang diharapkan Wahyu itu, di saat yang bersamaan ada satu perayaan sekaligus panggung besar yang akan terjadi di area itu, yaitu Buleleng Festival (Bulfest) 2026.

Bulfest dirancang sebagai panggung yang lebih besar, tempat berbagai kreativitas dan cerita tentang Buleleng dapat bertemu. Jika hari ini anak muda menikmati musik dalam panggung sederhana, maka di Bulfest akan ada panggung yang lebih besar dengan suasana yang lebih semarak.

“Kalau sekarang ini panggung kecil dulu. Nanti kita menunggu Bulfest. Di sana panggungnya akan lebih besar, dan kita bisa melihat bagaimana ruang ini benar-benar hidup,” ujar Wahyu.

Memang, setelah beberapa waktu hiatus, Bulfest kembali dimulai lagi tahun 2025. Tahun lalu Wahyu hadir dan ia merasakan sebuah festival yang cukup berbeda.

Tahun ini, ternyata Wahyu juga sedang meninjau area tugu singa yang akan dijadikan main stage Bulfest 2026. Ia rupanya diberi kesempatan bermain teater di Bulfest 2026.

”Aku mau mementaskan teater yang menceritakan tentang Nyoman Rai Srimben ibunda Soekarno nanti.” lanjutnya.

Ia datang di Praja Mandala Singa Ambara mencari inspirasi untuk pementasan teaternya. Mencoba merasakan aura masa lalu yang melekat di area itu.

Ada harapan bahwa festival seperti Bulfest menjadi kelanjutan dari apa yang mulai tumbuh di ruang publik ini. Ada hal-hal lama yang menurutnya dapat diperbarui, tanpa harus kehilangan identitasnya. Ada semangat untuk beradaptasi dengan zaman melalui kreativitas anak muda. Gagasan itu seolah bertemu dengan pembangunan titik nol.

Praja Muda Singa Ambara Raja, bukan hanya tentang nama dan simbol masa lalu. Namun, menjadi gambaran tentang semangat generasi muda yang berani membawa pembaruan.

Rasa Rindu yang Dibawa Pulang

Selain melihat Praja Manda Singa Ambara dan Bulfest sebagai ruang dan panggung kreatif bagi anak muda, Wahyu juga menyimpan alasan yang jauh lebih personal.

Wahyu merupakan pemuda yang kini tinggal di Denpasar. Jarak membuat Buleleng tidak lagi menjadi ruang yang setiap hari ia temui—seperti masa kuliahnya dulu. Ada bangunan, suasana, wajah-wajah yang akrab, dan tentu saja makanan yang sesekali hanya bisa ia rindukan dari jauh.

Karena itu, ketika berbicara tentang Bulfest, pikirannya tidak hanya tertuju pada panggung pertunjukan atau keramaian festival. Ingatannya justru melompat pada hal-hal sederhana yang terasa dekat dengan rumah. Salah satunya makanan.

Ia membayangkan akan kembali menemukan makanan yang selama ini akrab dengan lidahnya. Jukut buangit dan palem berisi udang menjadi dua sajian yang ikut hadir dalam bayangannya tentang Bulfest.

“Kalau dengar Bulfest, saya sebenarnya bukan cuma ingat acaranya. Saya juga ingat makanan. Jukut buangit, palem isi udang. Hal-hal seperti itu yang bikin saya kangen pulang,” ujar Wahyu.

Bagi Wahyu, kerinduan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari hal-hal kecil itulah rasa memiliki terhadap sebuah daerah sering kali tumbuh. Aroma makanan, rasa yang familiar, suasana ramai, dan perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki ingatan yang sama dapat membawa seseorang kembali pada rumah.

Merantau membuat hal-hal yang dahulu dianggap biasa menjadi sesuatu yang dirindukan.

Makanan yang dulu mudah ditemui, kini menjadi sesuatu yang dinanti ketika kesempatan pulang datang. Begitu pula suasana Buleleng ketika Bulfest berlangsung. Ada keramaian yang berbeda, ada pertemuan dengan kawan lama, dan ada perasaan seperti kembali menjadi bagian dari rumah yang sempat ditinggalkan.

“Kalau sudah di Denpasar, kadang kangen suasana di sini. Apalagi kalau sudah mendekati Bulfest. Rasanya ingin cepat pulang,” katanya.

Bulfest, bagi Wahyu, akhirnya bukan hanya tentang festival. Ia menjadi semacam penanda bahwa ada waktu tertentu ketika Buleleng kembali memanggil orang-orangnya pulang. Mereka yang tinggal di luar daerah datang kembali. Mereka yang menetap bertemu dengan kawan lama. Ruang-ruang kota kembali dipenuhi manusia, cerita, musik, makanan, dan berbagai ingatan.

Di situlah Bulfest memiliki makna yang lebih personal baginya.

Ia menanti bukan hanya apa yang akan berlangsung di atas panggung, tetapi juga apa yang akan ditemukan di antara keramaian. Mungkin bertemu teman lama. Mungkin menemukan kembali makanan yang sudah lama dirindukan. Atau sekadar duduk menikmati suasana Buleleng yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh kehidupan di kota tempatnya merantau.

“Nanti kalau Bulfest sudah mulai, rasanya seperti pulang. Ada makanan yang saya cari, ada suasananya, ada orang-orangnya. Itu yang saya tunggu,” ujar Wahyu.

Senja di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, sebelum panggung Bulfest dipasang | Foto: Puja

Cerita Wahyu menambah warna lain dalam penantian menuju Bulfest. Selain, melihat festival sebagai kelanjutan dari panggung-panggung kecil dan ruang kreativitas, Wahyu juga melihatnya sebagai jalan pulang.

Dua cara pandang itu bertemu pada satu hal yaitu ruang publik yang hidup dapat menciptakan ingatan.

Musik mungkin menjadi pintu masuk. Seni menjadi bagian dari perjalanannya. Literasi menjaga cerita masa lalu tetap hidup. Sementara makanan menghadirkan rasa yang membawa seseorang kembali pada rumah. Bulfest kemudian menjadi titik temu dari semuanya.

Di satu sisi, ada semangat untuk memperbarui ruang dan memberi tempat bagi kreativitas generasi muda. Di sisi lain, ada kerinduan untuk mempertahankan hal-hal yang membuat Buleleng tetap terasa sebagai rumah.

Panggung besar boleh membawa sesuatu yang baru. Tetapi di bawahnya tetap ada cerita lama yang ingin dirawat.

Malam semakin larut di Praja Mandala Singa Ambara Raja. Musik dari panggung kecil masih terdengar. Anak-anak muda belum sepenuhnya beranjak. Ada yang masih berbincang, ada yang menikmati pertunjukan, ada pula yang sekadar duduk dan memandang suasana.

Wahyu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kawasan itu yang masih memikirkan hal-hal yang telah kami obrolkan barusan.

Bulfest 2026 dan Upaya Menguripkan Kembali Rasa Buleleng

“Bulfest ini menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus promosi potensi lokal Buleleng,” ucap Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra saat jumpa pers Bulfest 2026, Jumat 14 Agustus 2026, tak jauh dari kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Soenda Ketjil.

Ketika Singaraja menjadi salah satu pusat perdagangan dan pemerintahan di Bali. Jejaknya masih bisa ditemui di kawasan kota lama, bangunan bersejarah, dan tradisi yang tetap hidup di tengah masyarakat Bali Utara. Tahun ini, jejak itu coba dihidupkan kembali lewat tema besar Uriping Rasa yatu menghidupkan kembali rasa, cerita, dan identitas Buleleng.

Sutjidra pun menegaskan napas festival tahun ini ditujukan untuk merawat memori kolektif warganya.

“Kita harus mengingat perjalanan panjang Buleleng, termasuk warisan masa lalu,” ujarnya, sembari menambahkan bahwa warisan itulah yang akan diadopsi ke dalam seluruh rangkaian Bulfest.

Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra memaparkan pelaksanaan Bulfest dalam jumpa pers | Foto: Puja

Kemudian warisan tempo dulu Singaraja dikemas dengan tema Uriping Rasa berarti menghidupkan kembali rasa, cerita, dan identitas Buleleng. Menggunakan konsep immersive experience, pengunjung tidak hanya diajak bernostalgia menonton layar tancap 35 milimeter, tapi masuk ke suasana Buleleng tempo dulu lewat seni, kuliner, sejarah, dan aktivitas warga sehari-hari.

Perjalanan Pendek Menyusuri Tiga Wajah Buleleng

Untuk yang baru pertama datang Bulfest 2026, pengunjung mulai beranjak dari Zona

A. Dari kawasan Tugu Singa Ambara Raja, langkah akan membawa pengunjung menuju Jalan Ngurah Rai, Gedung Laksmi Graha, Gedung Galei SAR, hingga halaman parkir BKAD/Bapenda. Di sinilah suasana Buleleng tempo dulu paling terasa.

Pasar Tempo Dulu,layar tancap seluloid, photo corner, dagang patokan, dan permainan rakyat tradisional akan mengisi kawasan ini. Kuliner khas Bali Utara dan produk UMKM juga dapat ditemui di sejumlah titik. Kalau ingin mengenal Buleleng dari cerita masa lalunya, kawasan ini menjadi tempat yang tepat untuk memulai.

Dari Zona A, perjalanan kemudian bisa diteruskan menuju Zona B. Suasananya mulai berubah. Kawasan Kantor DPRD, Jalan Veteran, hingga taman hijau Rumah Jabatan Bupati Buleleng akan menjadi ruang yang lebih dekat dengan kreativitas hari ini. Musik band dan DJ, creative market, mural dan graffiti, community showcase, creative workshop, permainan interaktif, serta Buleleng Digital Expo akan mengambil tempat di sini.

Jika Zona A mengajak pengunjung menengok apa yang pernah hidup di Buleleng, Zona B memperlihatkan apa yang sedang dikerjakan masyarakatnya hari ini.

Perjalanan belum selesai. Bergerak ke arah Zona C, suasananya kembali bergeser. Kawasan Patung Catus Pata, Sasana Budaya, dan Jalan Veteran Timur menjadi ruang bagi kesenian dan kebudayaan Buleleng.

Pertunjukan seni tradisi, parade komunitas budaya, demonstrasi kesenian khas Buleleng, lokakarya seni tradisional, UMKM, dan galeri seni Buleleng akan hadir di kawasan ini. Di sini pengunjung dapat berhenti lebih lama untuk melihat bagaimana kesenian yang diwariskan dari generasi ke generasi masih mendapat ruang di tengah kota.

“Pengunjung kami ajak menikmati festival dari satu kawasan ke kawasan lainnya, sehingga bisa merasakan langsung cerita dan suasana Buleleng,” kata Nyoman Sutjidra.

Kehadiran 105 UMKM dan lebih dari 60 grup pengisi acara, mulai dari sanggar kesenian tradisional hingga grup musik modern, membuat suasana tempo dulu itu terasa semakin hidup. Bagi mereka yang pernah melewati masa tersebut, Bulfest bisa nostalgia menjadi perjalanan kecil untuk mengingat kembali rasa, bunyi, dan suasana yang pernah akrab. Sementara bagi mereka yang lahir jauh setelahnya, festival ini menjadi kesempatan untuk menikmati seperti apa rasanya berada di Buleleng pada masa yang mungkin hanya mereka dengar dari cerita orang tua.

Seluruh rangkaian Bulfest dirancang untuk menarik wisatawan dan pengunjung. Bulfest boleh molek di mata, tetapi yang lebih penting, mampukah ia menguripkan rasa di hati mereka? [T]

Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Next Post

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co