“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.”
PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja Kita Belajar”, dan cukup terkejut dengan pembukaan yang menelanjangi Jogja dari sisi yang sebelumnya jarang sekali ditampilkan soal Jogja. Sejak awal, ketika lirik lagu “Di Jogja Kita Belajar” dikumandangkan, lagu itu seakan bergentayangan di kantin kampus, warung kopi, kamar kos, dan jembatan dengan view senja. Ketika Jogja diromantisasi dengan hal-hal yang nyeni, ngebudaya dan ngilmu, Umar Haen menggambar Jogja dengan potret yang terang benderang, visualnya tidak difilter menggunakan AI yang dapat memoles itu menjadi tampak sempurna. Ia berani keluar menjadi distorted mirror, sebuah cermin retak yang memantulkan wujud berbeda dari yang digambarkan banyak orang tentang Jogja itu sendiri.
Meski saat pertama kali kenal lagu Umar Haen pada 2019, yang saat itu baru tamat dari aktivitas sekolah yang tahun menahun menyiksa, aku sebagai pendengar hanya menikmati lagu yang saban diputar terus di tongkrongan, pada tahun 2020 lagu itu makin terdengar dinyanyikan menggunakan gitar kopong dan jimbe. Cukup mengasyikkan melihat realitas Jogja melalui musik, mendedangkannya begitu jujur dengan gaya yang ekspresif. Tentu, pikiran liarku ingin sekali menikmati suasana Jogja semacam itu. Tapi, sampai hari ini. Jogja hanya menjadi tempat singgah, yang saya tahu tentang Jogja sama seperti yang orang dengar tentang Jogja melalui wisatawan dan artikel di internet.
Ketika mendengar lagu Umar Haen, yang pada lagu-lagunya memainkan lirik tentang kritik sosial, isu lingkungan, dan kebijakan negara, aku dan orang-orang merasa lebih dekat kepada Jogja—Umar Haen berhasil mendekatkan itu kepada pendengar. Ia mampu memainkan lagu dengan begitu ekspresif dan deklamatif, meski cara bernyanyinya sederhana ia mampu memainkan dinamika yang tahu kapan harus menyanyi lirih kontemplatif, dan kapan harus menaikkan tempo serta tekanan vokal dengan gayanya yang membara deklamatif pada lagu-lagu kritik.
Umar Haen seperti abang-abangan tongkrongan, yang sedang bercerita tentang kehidupan masa mudanya di Jogja. Tentang gerakan, tentang kenakalan, juga spirit kritis yang terasa di setiap lagunya. Dengan petikan gitar kopong yang ritmis, penuh daya pikat naratif namun selalu saja organik.
Jika pada album pertama “Gumam Sepertiga Malam” ia banyak berbicara tentang pergulatan di masa muda sebagai mahasiswa, pada album kedua “Busa Sabun Masuk ke Mata”, menunjukkan cara transisi yang begitu matang. Ketika pada album pertama ia lantang dan deklaratif, pada album kedua ia terlihat begitu dewasa. Umar Haen menjelaskan persoalan dengan cara-cara yang akrab, cara-cara yang justru jarang sekali disentuh, ia mempreteli kenaikan ekonomi tidak dengan cara-cara yang tinggi. Ia menyoroti kenaikan harga sabun bayi, bensin kopi, pulsa, popok dan kenaikan pajak. Pada lirik lagu “Sabun” di album teranyarnya:
Masih terheran dengan harga sabun bayi
Kenapa bisa tiga kali lebih tinggi?
Ya sudah hemat, yang penting kamu
Tak kurang gizi
Ya sabun, ya popok, ya kopi, ya gula,
ya bensin, ya minyak, ya pajak, ya pulsa
Naik lagi.
Pada bagian ini, Umar Haen menggambarkan begitu ciamik. Ibarat sebuah film series, ia menciptakan klimaks di setiap akhir akhir series. Bahkan, klimaks pada lagu “Sabun” ini tidak hanya sekali. Klimaksnya hadir berulang kali di setiap akhir kalimat, menunjukkan kekhasan gaya bercerita Umar Haen menempatkan rentetan kata “ya” pada daftar kebutuhan pokok sebagai sebuah kecemasan.
Di bagian akhir, ia memberi jeda dalam bernyanyi menimbulkan dampak sarkas yang sudah terasa berada di titik jenuh, alih-alih marah, ia menyindir tajam dengan gaya satire sebelum berada pada bagian akhir kalimat “naik lagi”. Tentu permainan lirik semacam ini adalah gaya khas Umar Haen, ia selalu saja dapat mengungkapkan puncak ironi sosial dengan begitu sederhana. Alih-alih menyorot dolar yang melambung tinggi, ia menyorot hal yang lebih dekat dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Membuat lagu ini dapat hadir pada orang yang tidak punya pemahaman ekonomi sekalipun, tetapi ikut tertampar dengan kenaikan harga di segala sektor.
Tiap melihat berita
Bak busa masuk ke mata
Bintang berapa pengalaman WNI-mu hari ini?
Bintang limakah atau maksimal cuma bintang satu?
Tangan-tangan mereka kasar dan kaku
Takkan mungkin
Takkan mampu
Selembut ibu
*
Bintang berapa pengalaman WNI-mu hari ini?
Seperti yang saya tuliskan di judul ini, “Filosofi Sabun ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih”, Umar Haen pada bagian lirik ini menunjukkan kecakapannya dalam menulis lirik. Ia tidak hanya menulis lirik, tetapi menyelipkan kekhasan pemikiran yang mengarah ke filosofi. Sudah sangat jelas di judul album teranyarnya “Busa Sabun Masuk ke Mata”, semakin kita menyelami isi berita semakin perih di mata. Itulah, akar permasalahan yang ingin disampaikan Umar Haen.
Ia bermain-main dengan simbol yang berhasil menarik perhatian pendengar musik, apalagi dengan tampilan visual artwork-nya yang kontemporer menggandeng Galih Johar. Kolaborasi ini memperluas narasi album, menjadikan elemen visual dan lagu tidak terpisahkan. Pendengar menikmati Busa Sabun Masuk ke Mata, begitu terasa dengan visual artwork bikinan Galih Johar yang mempertemukan bahasa dan visual menjadi pengalaman artistik bagi pendengar.
Dengan keadaan sosial hari ini, Umar Haen mengungkapkannya dengan album “Busa Sabun Masuk ke Mata”. Barangkali semua orang pernah mengalami hal serupa, perih rasanya ketika busa sabun masuk ke mata, apalagi jika kita kucek berulang kali. Begitulah Umar Haen menggambarkan keadaan hari ini, meski perih, kita berulang kali hendak menyambangi keperihan itu. Dikucek dengan maksud menghilangkan perih, yang kita dapatkan malah semakin perih. Penggambaran yang sangat ironis tentang keadaan sosial hari ini, jika kita tidak mendengar betul-betul akan menganggap lagu ini sebagai sebuah lagu komedi; alih-alih sebagai lagu kritis.
Bagi yang mengenal Umar Haen pada lagu-lagunya di album pertama, tentu sedikit terkejut dengan peralihan Umar Haen dalam lirik-liriknya. Memang secara rasa, tetap sama. Tetapi cara ia menyajikan album keduanya kali ini dengan berbeda: ada kemirisan di balik komedi, ada ironi di balik simbol-simbol yang dekat. Inilah Umar Haen, peralihannya dalam berkesenian turut dipengaruhi dari cara hidupnya hari-hari. Alhasil ia bermusik tidak serta merta untuk menyenangkan dan target pasar semata, ia benar-benar hidup di lirik yang dibuatnya. Bahkan pada postingan instagramnya, ia tidak gengsi memposting sebuah reels dengan kalimat “Tinggal di Yogyakarta dari 2012-2026. Pindah kontrakan sampai 6 kali. Normal kan ya? Ucapkan selamat jalan istana sewaan.” Pada reels itu tertampil perabotan rumah yang diangkut menggunakan mobil pick up, dengan lagunya berjudul “Kardus”.
“Ucapkan selamat jalan istana sewaan,
yang harganya naik tak punya perasaan”
Setelah melihat itu, kita tidak hanya mengetahui sisi Jogja yang humanis dan begitu kharismatik tentang; pendidikan, budaya juga nyeninya. Di dalam lagu-lagu Umar Haen, kita menemukan Jogja dalam pakaian yang berbeda. Ia Jogja yang saya rasa tak jauh beda, dengan semua tanah yang mahal di nusantara. Ia Jogja sama saja, cara meromantismenya saja berbeda. Dan Umar Haen tidak meromantisasi Jogja dengan begitu, ia menggambar ironi dan terus begitu. Meski hari ini terdengar lebih dewasa dan komedi, itulah filosofi yang hendak dibawakannya. [T]
Penulis: Mahesa Putra
Editor: Adnyana Ole




![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-360x180.png)

























