26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
in Ulas Buku
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Sampul buku SNERAYUZA karya GM. Sukawidana

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya. SNERAYUZA: sajak-sajak Gm. Sukawidana termasuk jenis yang kedua.

Buku ini saya terima langsung sebagai hadiah dari sahabat penyair Gm. Sukawidana, di sela diskusi membaca perjalanan artistik perupa I Ketut Suwidiarta di 5 Cafe & Gallery, Denpasar. Saat itu saya belum mengetahui bahwa pengalaman membaca buku ini akan segera bertaut dengan kehilangan yang masih sangat baru: hanya sepekan sebelumnya, 10 Juli 2026, Made Budhiana berpulang pada usia 67 tahun.

Dada masih sesak ketika membuka halaman demi halaman.

Bukan semata karena puisi-puisi Gm. Sukawidana yang liris, melainkan karena seluruh tubuh buku ini dipenuhi jejak visual Budhiana. Cover hingga halaman-halaman dalam memuat karya dari berbagai periode kreatifnya. Tanpa disadari, buku ini menjelma seperti sebuah bibliografi visual, bahkan lebih tepat disebut autobiografi yang ditulis bukan dengan kalimat, melainkan dengan garis, arang, warna, tekstur, dan ruang kosong.¹

Yang pertama menyapa adalah sampulnya.

Huruf emas bertuliskan SNERAYUZA berdiri di atas gambar-gambar yang seperti belum selesai, tetapi justru karena itu terasa hidup. Sosok-sosok manusia, burung, tubuh yang terpotong, bidang-bidang geometris, arsiran hitam, warna merah yang samar, biru yang muncul sesekali, semuanya bergerak seperti ingatan yang tidak pernah benar-benar diam.

Cover itu bukan ilustrasi. Ia sudah merupakan sebuah puisi. Atau mungkin sebuah lukisan yang diam-diam sedang membaca sajak.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa buku ini bukan kumpulan puisi yang diberi gambar, dan bukan pula katalog lukisan yang diselipi puisi. Yang lahir adalah bentuk ketiga: puisi-rupa sekaligus rupa-puisi, dua disiplin yang saling memasuki wilayah satu sama lain hingga batas keduanya menghilang.²

Nama Snerayuza sendiri ternyata bukan sekadar judul. Ia adalah nama studio Budhiana.

Namun setelah membaca keseluruhan buku, studio itu perlahan kehilangan statusnya sebagai bangunan. Ia berubah menjadi metafora.

Pada halaman belakang tampak rumah itu bersama pepohonan, burung-burung, benda-benda, ruangan, halaman yang dipenuhi artefak. Seakan-akan seluruh studio sedang berkata bahwa ruang kerja seorang seniman sesungguhnya bukan tempat membuat karya, melainkan karya itu sendiri.

Studio menjadi sajak. Halaman menjadi lanskap. Pohon menjadi kalimat. Burung menjadi metafora. Benda-benda menjadi tanda baca.

Dalam sejarah seni modern, studio sering dipahami sebagai laboratorium kreativitas. Namun pada Budhiana, studio lebih menyerupai ekologi ingatan, tempat berbagai waktu, benda, perjalanan, dan pengalaman tinggal bersama.³

Saya melihat Budhiana sebagai perupa yang memilih arah yang berbeda. Sepulang dari pendidikan seni di Yogyakarta, banyak seniman Bali bergerak menuju pusat-pusat seni kontemporer yang semakin kosmopolitan. Budhiana justru melakukan gerak sebaliknya. Ia kem-Bali.

Tetapi kepulangannya bukan nostalgia. Ia membawa cara pandang baru terhadap Bali, terutama Bali bagian timur.

Di sanalah ia menggali situs-situs budaya, menjumpai desa-desa tua, mengumpulkan benda-benda, mendengar kisah-kisah yang nyaris hilang, dan menjadikan semuanya sebagai bahasa visual. Studio Snerayuza dipenuhi benda-benda hasil perjalanan itu. Topeng tua. Kayu lapuk. Artefak. Pecahan gerabah. Akar. Batu. Potongan logam.

Semuanya tidak diperlakukan sebagai koleksi, tetapi sebagai sesama penghuni ruang kreatif. Dalam pengertian tertentu, Budhiana sedang membangun apa yang kini disebut para pemikir budaya sebagai material memory, bahwa benda menyimpan pengalaman sejarah dan ikut membentuk cara manusia berpikir.⁴

Di sinilah peran Gm. Sukawidana menjadi sangat penting. Ia tidak menjelaskan lukisan Budhiana. Ia tidak menerjemahkan visual menjadi bahasa. Sebaliknya, ia tinggal cukup lama di dalam dunia visual itu hingga puisi-puisinya tumbuh dari dalamnya.

Puisi-puisi dalam SNERAYUZA terasa seperti bayangan yang mengikuti gerak lukisan. Kadang lebih sunyi. Kadang lebih lirih. Kadang hanya beberapa kata.

Namun justru kesederhanaan itu memungkinkan pembaca memasuki ruang yang sama dengan Budhiana.

Hubungan penyair dan pelukis dalam buku ini mengingatkan pada tradisi ekfrasis, yakni puisi yang lahir dari karya visual. Bedanya, Gm. Sukawidana tidak mendeskripsikan gambar, melainkan menyerap atmosfernya. Ia membiarkan puisi menjadi gema dari garis-garis Budhiana.⁵

Keutuhan buku ini semakin terasa melalui rancangan visual SR. Alwi. Desainnya memberi ruang napas. Tidak ada halaman yang berteriak. Puisi dan gambar saling menghormati. Tipografi, ruang kosong, ritme halaman, semuanya bekerja seperti komposisi musik. Desain tidak menjadi bingkai. Ia menjadi bagian dari puisi itu sendiri.

Saya dapat katakana, buku ini tampil sebagai objek seni (artist’s book), bukan sekadar media cetak. Tradisi semacam ini telah lama berkembang dalam seni kontemporer dunia, ketika buku diperlakukan sebagai ruang artistik yang utuh, bukan hanya wadah teks.⁶

Membaca SNERAYUZA setelah kepergian Budhiana menghadirkan pengalaman yang berbeda. Setiap gambar menjadi perjumpaan terakhir. Setiap arsiran terasa seperti denyut tangan yang kini telah berhenti. Namun anehnya, justru di situlah Budhiana terasa paling hidup. Ia masih berbicara melalui garis. Melalui burung. Melalui rumah. Melalui pepohonan. Melalui studio yang telah berubah menjadi puisi.

Barangkali memang demikian cara seorang seniman tinggal setelah tubuhnya pergi. Ia tidak tinggal di museum. Ia tinggal dalam cara kita memandang dunia. Dan SNERAYUZA adalah salah satu rumah tempat Made Budhiana akan terus menetap. Terimakasi sahabat Gm. Sukawidana, telah mendedikasikan SNERAYUZA dalam sajak-sajakmu.[T]

Catatan Kaki:

  1. Jacques Derrida. (1995). Archive Fever: A Freudian Impression. University of Chicago Press; I Nyoman Darma Putra. (2011). A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. KITLV Press.
  2. W. J. T. Mitchell. (1994). Picture Theory. University of Chicago Press; Gotthold Ephraim Lessing. (1766/1984). Laocoön: An Essay upon the Limits of Painting and Poetry.
  3. Gaston Bachelard. (1958/1994). The Poetics of Space. Beacon Press; Yi-Fu Tuan. (1977). Space and Place. University of Minnesota Press.
  4. Tim Ingold. (2013). Making: Anthropology, Archaeology, Art and Architecture. Routledge; Bruno Latour. (2005). Reassembling the Social. Oxford University Press.
  5. James A. W. Heffernan. (1993). Museum of Words: The Poetics of Ekphrasis from Homer to Ashbery. University of Chicago Press.
  6. Johanna Drucker. (2004). The Century of Artists’ Books. Granary Books; Clive Phillpot. (1998). Booktrek: Selected Essays on Artists’ Books.
  7. Adrian Vickers. (2012). Bali: A Paradise Created. Tuttle Publishing; Michel Picard. (1996). Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture. Archipelago Press.

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Gm. SukawidanaSNERAYUZA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

Next Post

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails
Next Post
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Bali di Persimpangan Kesadaran ------Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co