26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
in Ulas Buku
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Sampul buku SNERAYUZA karya GM. Sukawidana

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya. SNERAYUZA: sajak-sajak Gm. Sukawidana termasuk jenis yang kedua.

Buku ini saya terima langsung sebagai hadiah dari sahabat penyair Gm. Sukawidana, di sela diskusi membaca perjalanan artistik perupa I Ketut Suwidiarta di 5 Cafe & Gallery, Denpasar. Saat itu saya belum mengetahui bahwa pengalaman membaca buku ini akan segera bertaut dengan kehilangan yang masih sangat baru: hanya sepekan sebelumnya, 10 Juli 2026, Made Budhiana berpulang pada usia 67 tahun.

Dada masih sesak ketika membuka halaman demi halaman.

Bukan semata karena puisi-puisi Gm. Sukawidana yang liris, melainkan karena seluruh tubuh buku ini dipenuhi jejak visual Budhiana. Cover hingga halaman-halaman dalam memuat karya dari berbagai periode kreatifnya. Tanpa disadari, buku ini menjelma seperti sebuah bibliografi visual, bahkan lebih tepat disebut autobiografi yang ditulis bukan dengan kalimat, melainkan dengan garis, arang, warna, tekstur, dan ruang kosong.¹

Yang pertama menyapa adalah sampulnya.

Huruf emas bertuliskan SNERAYUZA berdiri di atas gambar-gambar yang seperti belum selesai, tetapi justru karena itu terasa hidup. Sosok-sosok manusia, burung, tubuh yang terpotong, bidang-bidang geometris, arsiran hitam, warna merah yang samar, biru yang muncul sesekali, semuanya bergerak seperti ingatan yang tidak pernah benar-benar diam.

Cover itu bukan ilustrasi. Ia sudah merupakan sebuah puisi. Atau mungkin sebuah lukisan yang diam-diam sedang membaca sajak.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa buku ini bukan kumpulan puisi yang diberi gambar, dan bukan pula katalog lukisan yang diselipi puisi. Yang lahir adalah bentuk ketiga: puisi-rupa sekaligus rupa-puisi, dua disiplin yang saling memasuki wilayah satu sama lain hingga batas keduanya menghilang.²

Nama Snerayuza sendiri ternyata bukan sekadar judul. Ia adalah nama studio Budhiana.

Namun setelah membaca keseluruhan buku, studio itu perlahan kehilangan statusnya sebagai bangunan. Ia berubah menjadi metafora.

Pada halaman belakang tampak rumah itu bersama pepohonan, burung-burung, benda-benda, ruangan, halaman yang dipenuhi artefak. Seakan-akan seluruh studio sedang berkata bahwa ruang kerja seorang seniman sesungguhnya bukan tempat membuat karya, melainkan karya itu sendiri.

Studio menjadi sajak. Halaman menjadi lanskap. Pohon menjadi kalimat. Burung menjadi metafora. Benda-benda menjadi tanda baca.

Dalam sejarah seni modern, studio sering dipahami sebagai laboratorium kreativitas. Namun pada Budhiana, studio lebih menyerupai ekologi ingatan, tempat berbagai waktu, benda, perjalanan, dan pengalaman tinggal bersama.³

Saya melihat Budhiana sebagai perupa yang memilih arah yang berbeda. Sepulang dari pendidikan seni di Yogyakarta, banyak seniman Bali bergerak menuju pusat-pusat seni kontemporer yang semakin kosmopolitan. Budhiana justru melakukan gerak sebaliknya. Ia kem-Bali.

Tetapi kepulangannya bukan nostalgia. Ia membawa cara pandang baru terhadap Bali, terutama Bali bagian timur.

Di sanalah ia menggali situs-situs budaya, menjumpai desa-desa tua, mengumpulkan benda-benda, mendengar kisah-kisah yang nyaris hilang, dan menjadikan semuanya sebagai bahasa visual. Studio Snerayuza dipenuhi benda-benda hasil perjalanan itu. Topeng tua. Kayu lapuk. Artefak. Pecahan gerabah. Akar. Batu. Potongan logam.

Semuanya tidak diperlakukan sebagai koleksi, tetapi sebagai sesama penghuni ruang kreatif. Dalam pengertian tertentu, Budhiana sedang membangun apa yang kini disebut para pemikir budaya sebagai material memory, bahwa benda menyimpan pengalaman sejarah dan ikut membentuk cara manusia berpikir.⁴

Di sinilah peran Gm. Sukawidana menjadi sangat penting. Ia tidak menjelaskan lukisan Budhiana. Ia tidak menerjemahkan visual menjadi bahasa. Sebaliknya, ia tinggal cukup lama di dalam dunia visual itu hingga puisi-puisinya tumbuh dari dalamnya.

Puisi-puisi dalam SNERAYUZA terasa seperti bayangan yang mengikuti gerak lukisan. Kadang lebih sunyi. Kadang lebih lirih. Kadang hanya beberapa kata.

Namun justru kesederhanaan itu memungkinkan pembaca memasuki ruang yang sama dengan Budhiana.

Hubungan penyair dan pelukis dalam buku ini mengingatkan pada tradisi ekfrasis, yakni puisi yang lahir dari karya visual. Bedanya, Gm. Sukawidana tidak mendeskripsikan gambar, melainkan menyerap atmosfernya. Ia membiarkan puisi menjadi gema dari garis-garis Budhiana.⁵

Keutuhan buku ini semakin terasa melalui rancangan visual SR. Alwi. Desainnya memberi ruang napas. Tidak ada halaman yang berteriak. Puisi dan gambar saling menghormati. Tipografi, ruang kosong, ritme halaman, semuanya bekerja seperti komposisi musik. Desain tidak menjadi bingkai. Ia menjadi bagian dari puisi itu sendiri.

Saya dapat katakana, buku ini tampil sebagai objek seni (artist’s book), bukan sekadar media cetak. Tradisi semacam ini telah lama berkembang dalam seni kontemporer dunia, ketika buku diperlakukan sebagai ruang artistik yang utuh, bukan hanya wadah teks.⁶

Membaca SNERAYUZA setelah kepergian Budhiana menghadirkan pengalaman yang berbeda. Setiap gambar menjadi perjumpaan terakhir. Setiap arsiran terasa seperti denyut tangan yang kini telah berhenti. Namun anehnya, justru di situlah Budhiana terasa paling hidup. Ia masih berbicara melalui garis. Melalui burung. Melalui rumah. Melalui pepohonan. Melalui studio yang telah berubah menjadi puisi.

Barangkali memang demikian cara seorang seniman tinggal setelah tubuhnya pergi. Ia tidak tinggal di museum. Ia tinggal dalam cara kita memandang dunia. Dan SNERAYUZA adalah salah satu rumah tempat Made Budhiana akan terus menetap. Terimakasi sahabat Gm. Sukawidana, telah mendedikasikan SNERAYUZA dalam sajak-sajakmu.[T]

Catatan Kaki:

  1. Jacques Derrida. (1995). Archive Fever: A Freudian Impression. University of Chicago Press; I Nyoman Darma Putra. (2011). A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. KITLV Press.
  2. W. J. T. Mitchell. (1994). Picture Theory. University of Chicago Press; Gotthold Ephraim Lessing. (1766/1984). Laocoön: An Essay upon the Limits of Painting and Poetry.
  3. Gaston Bachelard. (1958/1994). The Poetics of Space. Beacon Press; Yi-Fu Tuan. (1977). Space and Place. University of Minnesota Press.
  4. Tim Ingold. (2013). Making: Anthropology, Archaeology, Art and Architecture. Routledge; Bruno Latour. (2005). Reassembling the Social. Oxford University Press.
  5. James A. W. Heffernan. (1993). Museum of Words: The Poetics of Ekphrasis from Homer to Ashbery. University of Chicago Press.
  6. Johanna Drucker. (2004). The Century of Artists’ Books. Granary Books; Clive Phillpot. (1998). Booktrek: Selected Essays on Artists’ Books.
  7. Adrian Vickers. (2012). Bali: A Paradise Created. Tuttle Publishing; Michel Picard. (1996). Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture. Archipelago Press.

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Gm. SukawidanaSNERAYUZA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co