16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
in Khas
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Kegiatan FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali | Foto: I Nyoman Mariyana, 2026

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan

Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) diselenggarakan sebagai forum ilmiah untuk merekonstruksi sejarah perkembangan pariwisata Bali melalui pendekatan historis, budaya, dan kebijakan. FGD menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang sejarah, kebudayaan, dan kepariwisataan Bali, yaitu Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), Sugi Lanus, dan Ida Bagus Ngurah Wijaya. Data hasil diskusi kemudian dikonfirmasi dengan berbagai sumber tertulis, antara lain arsip kolonial, karya Adrian Vickers (1989), Michel Picard (1996), Miguel Covarrubias (1937), dokumen SKETO, catatan perjalanan Rabindranath Tagore, serta dokumentasi mengenai Walter Spies dan perkembangan awal pariwisata Bali.

Triangulasi antara data lisan dan sumber tertulis menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang bertahap, dimulai dari terbentuknya jaringan promosi wisata kolonial pada awal abad ke-20, berkembang melalui diplomasi budaya pada tahun 1927, hingga dilembagakan sebagai Pariwisata Budaya pada dekade 1970-an.

1. Tahun 1927 sebagai Momentum Awal Internasionalisasi Kepariwisataan Budaya Bali

Dalam FGD, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menjelaskan bahwa gagasan penyusunan kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) berangkat dari diskusi bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia dan Gubernur Bali. Menurutnya, tahun 1927 merupakan titik balik yang layak dijadikan tonggak sejarah karena pada tahun tersebut Bali mulai dikenal secara luas sebagai destinasi budaya dunia melalui kedatangan tokoh-tokoh seni dan intelektual internasional.

Dalam FGD yang dilaksanakan di ISI BALI, Cok Ace menyebutkan: “Kami melihat bahwa tahun 1927 merupakan momentum penting karena sejak saat itu Bali mulai dikenal dunia melalui tokoh-tokoh seperti Walter Spies. Dari sinilah kemudian muncul gagasan untuk menandai 100 tahun perjalanan pariwisata Bali pada tahun 2027.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut memiliki dasar historis yang kuat. Adrian Vickers (1989) menjelaskan bahwa Walter Spies menetap di Ubud pada tahun 1927 dan menjadi salah satu tokoh yang menghubungkan seni tradisional Bali dengan jaringan seni internasional. Melalui kedekatannya dengan keluarga Puri Ubud, terutama Tjokorda Gde Agung Sukawati, Walter Spies memperkenalkan pendekatan artistik baru tanpa menghilangkan karakter estetika Bali. Bersama Rudolf Bonnet, I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kobot, dan sejumlah pelukis lainnya, ia kemudian menjadi penggerak lahirnya organisasi Pita Maha pada tahun 1936.

Sebagaimana dinyatakan Adrian Vickers (1989, hlm. 108):

“Spies encouraged Balinese artists to explore new compositions and naturalistic representations while maintaining indigenous aesthetic principles.”

Petikan tersebut menunjukkan bahwa peran Walter Spies bukan sebagai pencipta seni Bali modern, melainkan sebagai fasilitator yang mempertemukan tradisi lokal dengan perkembangan seni internasional.

Analisis ini menunjukkan bahwa tahun 1927 bukan sekadar menandai kedatangan seorang pelukis Eropa, tetapi merupakan awal terbentuknya jejaring budaya internasional yang mengangkat citra Bali sebagai destinasi seni dan budaya. Dengan demikian, perkembangan pariwisata Bali pada fase awal lebih tepat dipahami sebagai hasil dari diplomasi budaya daripada pembangunan industri pariwisata dalam pengertian modern.

2. Rabindranath Tagore dan Penguatan Citra Bali sebagai Pulau Kebudayaan

Perspektif tersebut diperkuat oleh paparan Sugi Lanus, yang menguraikan perjalanan Rabindranath Tagore ke Bali pada tahun 1927. Menurutnya, perjalanan tersebut berlangsung sejak 26 Agustus hingga awal September 1927, dimulai dari Bangli, Karangasem, Gianyar, Tampaksiring, Gunung Kawi, Badung, Ubud, Munduk, hingga Singaraja.

Petikan wawancara Sugi Lanus

“Tagore datang ke Bali bukan sebagai wisatawan biasa. Ia datang untuk belajar kebudayaan Bali. Dalam perjalanan itu ia mengunjungi Puri Bangli, Karangasem, Gianyar, Badung, hingga Ubud dan berdialog dengan para raja Bali.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Sugi Lanus juga menjelaskan bahwa pada tanggal 3–4 September 1927, Tagore diterima di Puri Ubud oleh Tjokorda Gde Raka Sukawati. Selanjutnya ia melanjutkan perjalanan menuju Munduk dan Singaraja sebelum meninggalkan Bali.

Data tersebut sesuai dengan dokumentasi perjalanan Tagore yang dihimpun dalam arsip keluarga, dokumentasi SKETO, dan kajian sejarah perjalanan Tagore di Bali. Dalam catatan perjalanannya, Tagore menulis bahwa Bali merupakan masyarakat yang mampu memadukan kehidupan spiritual dengan ekspresi seni sehari-hari. Ia tidak hanya mengamati tari, gamelan, dan arsitektur pura, tetapi juga menyaksikan bagaimana nilai-nilai budaya hidup dalam aktivitas masyarakat.

Salah satu catatan menarik yang disampaikan Sugi Lanus adalah kebiasaan tamu-tamu Belanda yang membawa kursi lipat sendiri karena belum terbiasa duduk bersila seperti masyarakat Bali. Detail tersebut memperlihatkan adanya proses negosiasi budaya antara masyarakat lokal dengan tamu-tamu asing pada masa kolonial.

Analisis terhadap perjalanan Tagore menunjukkan bahwa kunjungan tokoh dunia tersebut memberikan legitimasi intelektual terhadap citra Bali sebagai pulau kebudayaan (Island of Culture). Kehadiran seorang penerima Hadiah Nobel Sastra tidak hanya meningkatkan perhatian dunia terhadap Bali, tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai ruang dialog lintas budaya yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perkembangan pariwisata budaya.

3. Dari Sanur Menuju Pariwisata Budaya Bali

Sementara itu, Ida Bagus Ngurah Wijaya memaparkan perkembangan kelembagaan pariwisata Bali setelah Indonesia merdeka. Menurutnya, kawasan Sanur memiliki posisi penting sebagai salah satu destinasi wisata pertama yang berkembang secara terencana.

Ida Bagus Ngurah Wijaya menyampaikan : “Sanur menjadi embrio perkembangan pariwisata modern Bali. Setelah kemerdekaan, jalur kedatangan wisatawan mulai berkembang dari Singaraja menuju Sanur hingga akhirnya dibangun Hotel Bali Beach sebagai simbol pariwisata internasional Indonesia.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut sejalan dengan kajian Michel Picard (1996), yang menjelaskan bahwa pembangunan Hotel Bali Beach pada dekade 1960-an merupakan tonggak penting dalam transformasi pariwisata Bali menuju industri modern. Hotel tersebut dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno sebagai simbol keterbukaan Indonesia terhadap wisatawan internasional.

Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya menjelaskan bahwa pada tahun 1970 Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pembatasan tinggi bangunan hotel agar tidak melebihi tinggi pohon kelapa. Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap lanskap budaya Bali.

Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1974, ketika Pemerintah Daerah Bali menetapkan paradigma Pariwisata Budaya, yaitu model pembangunan pariwisata yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai tiga pilar utama pembangunan. Konsep tersebut kemudian dilembagakan dalam berbagai kebijakan pembangunan daerah dan hingga kini menjadi identitas utama pariwisata Bali.

Apabila ketiga narasumber dikaji secara komparatif, tampak adanya kesinambungan sejarah perkembangan pariwisata Bali.

Tahap pertama merupakan fase embrional (1908–1927). Pada periode ini telah terbentuk biro perjalanan kolonial di Hindia Belanda, seperti Vereeniging Toeristenverkeer (1908), yang mulai mempromosikan Bali kepada wisatawan Eropa. Infrastruktur promosi tersebut menjadi fondasi awal bagi kunjungan ke Bali.

Tahap kedua adalah fase internasionalisasi budaya (1927–1939). Kedatangan Walter Spies, Rabindranath Tagore, Miguel Covarrubias, Margaret Mead, Gregory Bateson, dan Rudolf Bonnet membentuk citra Bali sebagai pusat seni dan kebudayaan dunia. Pada masa ini, promosi Bali tidak lagi bertumpu pada eksotisme alam semata, tetapi pada kekayaan budaya, seni pertunjukan, dan kehidupan masyarakatnya.

Tahap ketiga merupakan fase pembangunan nasional (1950–1974). Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai membangun infrastruktur kepariwisataan, terutama di kawasan Sanur, dengan dukungan Presiden Soekarno. Pembangunan Hotel Bali Beach menjadi simbol keterbukaan Bali terhadap wisatawan internasional.

Tahap keempat adalah fase institusionalisasi Pariwisata Budaya (1974–sekarang). Pemerintah Provinsi Bali menetapkan konsep Pariwisata Budaya sebagai paradigma pembangunan, yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Paradigma ini kemudian menjadi identitas khas Bali dibandingkan destinasi wisata lainnya.

Secara keseluruhan, hasil FGD memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang berlangsung bertahap dan melibatkan interaksi antara masyarakat lokal, kerajaan-kerajaan Bali, intelektual internasional, serta kebijakan pemerintah. Tahun 1927 memiliki makna simbolik yang kuat karena menandai terbentuknya jaringan budaya global melalui kehadiran Walter Spies dan Rabindranath Tagore. Momentum inilah yang menjadi dasar argumentasi untuk menetapkan periode 1927–2027 sebagai satu abad perjalanan kepariwisataan Bali. [T]

Tags: Pariwisatapariwisata balipariwisata budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Next Post

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
0
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

Read moreDetails

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

Read moreDetails

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co