10 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
in Ulas Pentas
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

Fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026 | Foto: Luciana Ferrero

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang pentas di sana telah ditunggu oleh dimensi panggung luas, latar belakang gapura tinggi besar menjulang dengan tatahan ornamen, dan backdrop dihias elemen estetik pada posisi penabuh yang sering sekali terlihat kontras dengan gapura utamanya bahkan seringkali mengalahkan pesona penabuh gong yang duduk di depannya.

Utami Evi Riyani dalam tulisannya “Menengok Persiapan Panggung Terbuka Ardha Candra, Tempat Pembukaan Pesta Kesenian Bali” yang diunggah pada laman web okezone.com menyatakan bahwa panggung terbuka ini, sebagai tempat pertunjukan utama, memiliki luas bangunan 7.200 meter persegi dengan kapasitas penonton sekiranya 7.000 orang. Panggung terbuka ini menjadi panggung pementasan utama yang di dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu dianggap menjadi tempat pertunjukan “sakral” nan bergengsi sehingga mereka yang berkesempatan unjuk pagelaran di sini selalu berusaha mati-matian untuk menunjukan performa maksimal, salah satunya yang masih menjadi primadona masyarakat adalah gong kebyar dewasa (GKD).

Pengalaman saya, pada tahun 2010-2014, selalu rutin hadir di panggung ini untuk memotret pagelaran gong kebyar saat PKB. Maklum, saat itu fotografi sedang naik daun di Bali dan saya salah satu yang bisa dikatakan fomo terlibat dalam hype-nya fotografi. Gong kebyar dewasa menjadi sasaran banyak bidikan fotografer pro maupun yang fomo seperti saya. Yang ditunggu-tunggu tentu saja materi fragmen tari dari gong kebyar dewasa dalam momentum mebarung.

Fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026 | Foto: Luciana Ferrero

Cerita yang digarap oleh masing-masing duta kabupaten/kota seputaran kisah epos hingga carangan dari Bharatayudha, Ramayana, Sutasoma, Babad, maupun folklore suatu desa. Fragmen tari yang menjadi materi pamungkas GKD kemudian banyak mengadopsi penggunaan properti tari yang mewah. Dari penambahan panggung, alat bantu serupa crane―agar penari dapat digantung seolah terbang―, kereta-kereta kuda, perahu-perahuan, gunung-gunungan, batu-batuan, pohon-pohonan, istana/rumah-rumahan, dan lain sebagainya, yang mendukung gelaran tersebut. Sehingga, sering sekali properti-properti yang dipergunakan berupaya untuk menaklukan luasnya dimensi panggung dan komposisi yang sesak, bahkan mencoba melawan dominasi gagahnya siluet gapura utama dan backdrop para penabuh dengan ornamen-ornamen Bali (yang menurut saya) dipaksakan hadir dalam ukuran besar pun dominasi warna emas.

Apa yang saya saksikan kemudian memberikan pandangan bahwa memang ada upaya untuk memenuhi panggung bergengsi ini ketika fragmen tari memberikan kesan kolosal pada gelaran, hingga menunjukan perkembangan kekinian suatu pagelaran dengan mempergunakan teknologi baik berupa video mapping, lighting set, properti pertunjukan mekanistik.

Ketika pertunjukan dimulai, antara penari, properti, dan latar panggung Ardha Candra seolah saling tumpang tindih menghadirkan dominasinya. Dalam hal ini, antara penari, properti, dan panggung berdiri secara fragmentasi, terpisah-pisah. Bisanya, di samping penari hadir dengan gerak tarinya dalam memainkan peran; properti hadir sekadar sebagai pendukung bagi para penari untuk menguatkan peran/figur itu, untuk menguatkan sisi naratif latar cerita, untuk membangun adegan atau mengilustrasikan adegan dalam cerita. Sejalan dengan pandangan Mabruri Pudyas Salim―dalam artikelnya “Apa Fungsi Properti Tari?” pada laman web Liputan6.com―bahwa properti tari adalah benda-benda atau alat yang digunakan untuk mendukung peragaan dalam pertunjukan seni tari, sebagai pendukung gerak, sebagai penguat simbolik.

Namun, saya menyaksikan ada kesan visual yang berbeda dari fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026. Saya mendapatkan kesan bahwa properti yang dirancang dan dipergunakan malam itu tidak hanya sebagai medium pendukung semata, melainkan juga sebagai suatu instalasi yang menjembatani antara penari dengan panggung, pun sekaligus hadir sebagai satu kesatuan visual yang instalatif.


Fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026 | Foto: Luciana Ferrero

Malam sebelumnya saya juga hadir di sana pada saat penabuh dan penari duta Kabupaten Karangasem melakukan geladi karena anak-anak saya dan ibunya ikut mendukung fragmen tari Gita Sarayu ini. Jarak pandang saya cukup dekat dengan panggung, penggunaan material sederhana seperti 5 buah kain putih panjang yang ditautkan pada ujung bambu penjor menjuntai ke bawah, kemudian sebuah anyaman daun kelapa menyerupai figur manusia yang dipergunakan penari yang diperebutkan dalam suatu adegan, sebuah tangga tinggi dari bambu, dan beberapa tambur (bedug) jelas terlihat.

Saya cukup penasaran sebenarnya dengan keseluruhan tampilan penggunaan properti tersebut―bahkan saya sempat menuju tribun panggung paling belakang. Tapi saya masih belum menemukan gambaran utuh tentang properti-properti ini akan bagaimana atau menyajikan apa atau memberikan efek apa. Hingga pada saat pementasan tiba, saya bergerak ke posisi agak tengah tribun paling belakang, mencoba mendapatkan visual yang lebih lebar dan menyeluruh dari gelaran fragmen tari ini. Properti-properti disetting sedemikian rupa, lighting mulai dihidupan menyesuaikan dengan konsep yang telah disepakati, dan apa yang saya saksikan adalah satu bentuk komposisi yang saling mengisi, saling mendukung satu dengan lainnya.

Sejak awal, kain panjang pada bambu penjor hadir di panggung dengan latar siluet megah gapura utama Ardha Candra. Sedangkn tangga besar dan tinggi juga disetting di sisi selatan gapura dengan arah menyerong ke barat laut. Efek kain yang dihembus angin dan warna tata lampu turut membangun suasana, kain itu dapat berpindah tempat maju-mundur dan dapat diatur lepas dari kaitannya pada ujung bambu, menyesuaikan dengan alur cerita.


Fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026 | Foto: Luciana Ferrero

Saya cukup terkejut ketika penari mulai masuk dalam panggung, bergerak, membentuk komposisi, menghilang, berganti penari lainnya, kehadiran properti dan penari pada panggung serupa medium rupa pada permukaan kanvas, bergerak membentuk posisi. Tubuh-properti-komposisi dan ini bukan hanya sekadar pertunjukan fragmen tari, tetapi lebih kepada gelaran yang juga mempertimbangkan visual. Sehingga, bagi saya, apa yang dihadirkan adalah sebuah gelaran fragmen tari instalatif. Properti terlihat menjadi lebih site-specific yang berarti properti tari sebagai bagian instalasi dibuat atau dihadirkan dengan pertimbangan lokasi tertentu, sehingga area pagelaran dianggap sebagai bagian dari karya seni tersebut, yang kemudian mengubah cara kita memandang lingkungan sekitarnya.

Karya seni instalasi, menyitir Mikke Susanto dalam Diksi Rupa (2011), menempatkan seni instalasi sebagai deskripsi atas perkembangan lebih lanjut dari salah satu teknik seni rupa, yaitu asemblasi, unsur peristiwa atau tepatnya proses kejadian suatu peristiwa telah dianggap sebagai representasi. Secara kebentukan, seni instalasi masih merupakan sebuah seni yang mengalami banyak perkembangan, mulai dari ekspresi hingga pada tingkat praksisnya.

Pada dasarnya, saya memandang bahwa karya seni instalasi adalah karya yang mengisi ruang dan waktu pada waktu tertentu (temporer) dan memberikan ruang dialog yang luas bagi audiens, dan pada beberapa kasus memberikan pengalaman imersif kepada audiens. Dengan kata lain, seni instalasi tidak hanya memenuhi tempat melainkan suatu bentuk pengalaman atas kehadiran objek dan ruang sehingga terjadi pertautan antara manusia, objek, dan latar tempatnya dalam suatu gagasan atau wacana.

Properti Fragmen Tari Gita Sarayu | Foto: Luciana Ferrero


Fragmen tari berjudul Gita Sarayu oleh Desa Selat sebagai duta Kabupaten Karangasem pada Kamis malam, 9 Juli 2026 | Foto: Luciana Ferrero

Mengutip juga tentang karakteristik seni instalasi dari Irish Museum of Modern Art (IMMA) “What is Instalation Art” yang menyebutkan bahwa seni instalasi adalah istilah luas yang mencakup berbagai praktik seni yang melibatkan penempatan atau penataan objek di dalam suatu ruang, di mana keseluruhan objek dan ruang tersebut membentuk karya seni itu sendiri. Seni instalasi terus dibentuk dan dipengaruhi oleh perkembangan di berbagai bidang dan disiplin ilmu lainnya. Unsur-unsur performatif dalam seni instalasi telah dipengaruhi oleh perkembangan teater dan tari avant-garde; demikian pula, perkembangan dalam arsitektur dan desain interior terus memengaruhi pertimbangan mengenai penggunaan serta peruntukan ruang publik dan privat.

Dengan demikian, apa yang dihadirkan oleh para kreator dan tim artistik fragmen tari Desa Selat, Karangsem (Gus De Homa, Dayu Arya Satyani, I Wayan Gede Rikiana Adiputra, Aditya Guna Eka Putra, Dayu Prihandari, Gus Sena, Arya Krisna, Ria Andayani, Gus Mame, Thaly Titi Kasih, Dayu Mang Ana, Pengangge Art, Jojo, Janu Janardana, Ruang Tumbuh Bumi Bajra), dan penabuh dari Sekaa Gong Yowana Widya Sandhi Swara, Desa Duda, Selat, Karangasem, sebagai duta gong kebyar dewasa Kabupaten Karangasem pada Pesta Kesenian Bali kali ini, bisa dibilang sebagai sebuah bentuk karya seni fragmen tari yang memberikan kesan kuat, performatif, sekaligus menyajikan visual (seni) instalatif pada propertinya dalam satu kesatuan kompleksitas pertunjukan fragmen tari gong kebyar masa kini (kontemporer)― sebuah pagelaran yang menghadirkan komposisi musikal, gambelan, vokal, penari, properti, dan latar tempat pertunjukan serta capaian visual yang secara keseluruhan saling mengisi dan saling memberi dalam satu momentum ruang waktu. Tentunya, sekali lagi, bahwa ini adalah sudut pandang yang subjektif dari sisi (seni) rupa, apabila ada yang berkenan memberikan pandangan lainnya, dipersilakan.[T]

Pohmanis, 11 Juli 2026

Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Jaswanto

Tags: Desa SelatGita SarayukarangasemPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026Sekaa Gong Yowana Widya Sandhi Swara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari "Pemurtian Sunda Upasunda" Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co