22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
in Ulas Rupa
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

Karya Gus Sindhu | Foto-foto: Purwita Sukahet

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra

SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah karya seni, simbol ada tetapi menjadi tidak begitu penting. Wacana seni kontemporer hari ini lebih menitik beratkan pada persoalan pengalaman, apa yang didapatkan oleh pengunjung melalui interaksi tubuh mereka di dalam karya seni. Model seni imersif telah menunjukan hal itu, atau setidaknya karya-karya seni instalasi yang memungkinkan terjadinya interaksi oleh pengunjung seperti karya-karya Mella Jaarsma, atau Instalasi Nyoman Erawan. Pengunjung hadir dan dapat masuk atau mempergunakan karya instalasi tersebut layaknya fashion, atau setidaknya terlibat dalam suatu lingkungan secara riil. Lantas, apa yang membedakan karya seni yang dimaksud dengan karya yang dibuat oleh Ida Bagus Komang Sindu Putra (Gus Sindu)?

Tentu berbeda, meski sama dalam konteks capaian masa kininya (kontemporer) akan tetapi ia lebih menekankan pada wacana inklusivitas. Praktik seni inklusif pada pengertiannya mengutip dari “Art for Everyone” melalui laman web Art Access Victoria (artsaccess.com.au)  merupakan proses kreatif yang fleksibel yang menjamin akses setara terhadap seni bagi semua kelompok yang terpinggirkan termasuk penyandang disabilitas, penyandang masalah kesehatan jiwa, dan kaum tuli, baik sebagai penonton, seniman, maupun peserta. Dengan demikian semestinya memang tidak ada batas yang dibangun antara manusia dan karya seni karena di dalamnya tertanam sikap atau sistem terbuka serta mendorong keterlibatan atau keikutsertaan semua orang dan tanpa adanya diskriminasi.

Karya Gus Sindhu

Melalui wacana seni inklusif, Gus Sindhu menciptakan karya melalui kencenderungan pendekatan instalatif dengan tujuan-tujuan tertentu, dalam kasus ini adalah rabaan sehingga tekstur dibuat lebih massif, selain itu dimasukan juga unsur audio pada karya sehingga ketika permukaan karya yang dipenuhi berbagai model barik akan mengeluarkan suara. Barik yang dihadirkan pada karya-karya Gus Sindu di hadirkan dari material dasar penyusun karya itu sendiri maupun sengaja ditamhakan pada permukaan material, yang berasal dari material dasar misalkan hadir melalui efek tempaan pada pelat besi sehingga menghasilkan permukaan kasar berlubang maupun halus, sedangkan barik yang sengaja ditambahkan berasal dari berbagai material seperti potongan batang besi yang dilas pada permukaan plat maupun penerapan silicon, kayu, karet trailtop, spons, kain velboa dan bongkahan-bongkahan kecil batu lahar.

Karya-karya Gus Sindu yang dipamerkan di ruangan Kulidan Art Space ini meskipun menitik beratkan pada persoalan inklusivitas tentu saja tidak mengabaikan persoalan estetik yang melekat pada karya seni itu sendiri. Menyitir Suryajaya dalam Sejarah Estetika (2016) bahwa estetika sebagai filsafat seni merupakan pendekatan atas kesenian yang mengabstraksikan aspek-aspek partikular karya untuk sampai pada kesimpulan tentang masalah-masalah universal dalam kesenian. Bentuk utama yang dipilih oleh Gus Sindu adalah bundar dengan ketebalan kira-kira 10cm dengan rentang diameter 100cm, saya menduga bahwa bentuk bundar ini dipilih berdasarkan kenyamanan bidang yang ketika ia harus diraba dapat dilakukan dengan gerakan tangan melingkar, seolah menyajikan efek pola ketidak terbatasan itu sendiri. Barik-barik dihadirkan dengan pola titik, garis, dan dibuat juga lebih menonjol dengan berbagai ukuran panjang sehinggga selain diraba barik-barik pada karya dapat ditarik. Pola sususunannya mengingatkan kita pada pola dasar belajar nirmana, sederhananya susunan titik dan garis-garis, bermain kontras warna dari medium dengan permukaan karya sebagai latar belakangnya.

Karya-karya Gus Sindhu

Satu karya instalasi dan satu karya dengan bentuk dasar persegi panjang juga ditampilkan pada pameran ini. Karya persegi panjang yang di dalamnya terdapat budaran kain velboa (berbulu imitasi) sepertinya tidak hanya untuk diraba, melainkan dapat dirasakan kenyamanannya dengan disandarkan, mengingat anak-anak yang saya ajak berkunjung melakukan hal itu, pada bagian sisi kanan dan kirinya membentang barik-barik serupa hamparan lanskap warna gelap atau dark colorfield.

Pada karya instalasi berwarna hitam dalam bentuk abstrak setinggi kurang lebih 200cm berjudul “Tumbuh dari Dalam” lebih memberikan ruang seluas-luasnya untuk dieksplorasi melalui sentuhan, rabaan, bahkan pelukan, karya dengan medium campuran ini seperti fiber, spons ati, karet, silikon, memungkinkan sensasi ketika menyentuh permukaannya atau mungkin mencoba menarik-narik silikonnya, hal itu dikarenakan permukaan dan tekstur yang kenyal. Sejalan pada pernyataan Gus Sindu sendiri dalam pengantar pamerannya bahwa “rupa )dalam konteks karya seni) dipahami sebagai sesuatu yang dapat didekati, disentuh, ditelusuri, didengar, dan dialami oleh tubuh.”

Berhadapan pada karya-karya Gus Sindu melalui tajuk utamanya yaitu Sparsa Rupa membuat saya kemudian berfikir bahwa: 1) Bila karya ini lahir dari rahim riset akademik maka sepantasnya untuk mengetahui (hasilnya) tanggapan pengalaman kawan-kawan disabilitas atau kawan-kawan yang memiliki persoalan gangguan mental? 2) Mungkinkah karya ini akan berkembang menjadi sebuah bentuk produk terapi (seni) sehingga tidak terhenti pada ranah estetik dan ruang pameran semata melainkan menajamkan sisi tujuan inklusivitasnya? 3) oleh karena batasan antara audiens dan pengunjung pada karya ini dihilangkan, terlebih ketika interaksi terjadi akan sangat sulit untuk menjaga keutuhan karya sebab barik2 yang menonjol maupun lekat pada karya dapat ditarik-tarik, bahkan beberapa sampai terlepas, apakah hal ini dibenarkan dari sudut pandang pencipta atau bagaimana menanggapinya?

Karya-karya Gus Sindhu

Setidaknya itu yang ada dipikiran saya ketika berhadapan dengan karya-karya Gus Sindu dan mengamati asiknya anak-anak saya meraba-raba, memencet, menarik-narik, menekan-nekan 10 karya yang dipamerkan. Tentang dunia seni yang inklusif mengutip laman web disasterhealingresources.org pada tajuk “Inclusive & Adaptive Arts” bahwa Seni Inklusif merayakan perbedaan kita dan mengakui kontribusi penyandang disabilitas dengan menjunjung tinggi inklusivitas, representasi, keberagaman, dan aksesibilitas. Kembali pada kalimat kutipan dari Niti Sastra di awal, bahwa sebagai manusia jangan sampai tidak memiliki kerabat, upayakan juga untuk mendapatkan yang utama. Kulitas utama kekerabatan adalah bentuk kekerabatan yang saling memahami kebutuhan, saling menjaga satu dengan lainnya, sebab di dalam seni inklusif itu sendiri ada satu kunci yaitu membuka dialog antara komunitas dan masyarakat luas. Selamat Gus Sindu! [T]

Pohmanis, 7 Juli 2026

Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Next Post

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co