6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
in Ulas Rupa
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

Karya Gus Sindhu | Foto-foto: Purwita Sukahet

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra

SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah karya seni, simbol ada tetapi menjadi tidak begitu penting. Wacana seni kontemporer hari ini lebih menitik beratkan pada persoalan pengalaman, apa yang didapatkan oleh pengunjung melalui interaksi tubuh mereka di dalam karya seni. Model seni imersif telah menunjukan hal itu, atau setidaknya karya-karya seni instalasi yang memungkinkan terjadinya interaksi oleh pengunjung seperti karya-karya Mella Jaarsma, atau Instalasi Nyoman Erawan. Pengunjung hadir dan dapat masuk atau mempergunakan karya instalasi tersebut layaknya fashion, atau setidaknya terlibat dalam suatu lingkungan secara riil. Lantas, apa yang membedakan karya seni yang dimaksud dengan karya yang dibuat oleh Ida Bagus Komang Sindu Putra (Gus Sindu)?

Tentu berbeda, meski sama dalam konteks capaian masa kininya (kontemporer) akan tetapi ia lebih menekankan pada wacana inklusivitas. Praktik seni inklusif pada pengertiannya mengutip dari “Art for Everyone” melalui laman web Art Access Victoria (artsaccess.com.au)  merupakan proses kreatif yang fleksibel yang menjamin akses setara terhadap seni bagi semua kelompok yang terpinggirkan termasuk penyandang disabilitas, penyandang masalah kesehatan jiwa, dan kaum tuli, baik sebagai penonton, seniman, maupun peserta. Dengan demikian semestinya memang tidak ada batas yang dibangun antara manusia dan karya seni karena di dalamnya tertanam sikap atau sistem terbuka serta mendorong keterlibatan atau keikutsertaan semua orang dan tanpa adanya diskriminasi.

Karya Gus Sindhu

Melalui wacana seni inklusif, Gus Sindhu menciptakan karya melalui kencenderungan pendekatan instalatif dengan tujuan-tujuan tertentu, dalam kasus ini adalah rabaan sehingga tekstur dibuat lebih massif, selain itu dimasukan juga unsur audio pada karya sehingga ketika permukaan karya yang dipenuhi berbagai model barik akan mengeluarkan suara. Barik yang dihadirkan pada karya-karya Gus Sindu di hadirkan dari material dasar penyusun karya itu sendiri maupun sengaja ditamhakan pada permukaan material, yang berasal dari material dasar misalkan hadir melalui efek tempaan pada pelat besi sehingga menghasilkan permukaan kasar berlubang maupun halus, sedangkan barik yang sengaja ditambahkan berasal dari berbagai material seperti potongan batang besi yang dilas pada permukaan plat maupun penerapan silicon, kayu, karet trailtop, spons, kain velboa dan bongkahan-bongkahan kecil batu lahar.

Karya-karya Gus Sindu yang dipamerkan di ruangan Kulidan Art Space ini meskipun menitik beratkan pada persoalan inklusivitas tentu saja tidak mengabaikan persoalan estetik yang melekat pada karya seni itu sendiri. Menyitir Suryajaya dalam Sejarah Estetika (2016) bahwa estetika sebagai filsafat seni merupakan pendekatan atas kesenian yang mengabstraksikan aspek-aspek partikular karya untuk sampai pada kesimpulan tentang masalah-masalah universal dalam kesenian. Bentuk utama yang dipilih oleh Gus Sindu adalah bundar dengan ketebalan kira-kira 10cm dengan rentang diameter 100cm, saya menduga bahwa bentuk bundar ini dipilih berdasarkan kenyamanan bidang yang ketika ia harus diraba dapat dilakukan dengan gerakan tangan melingkar, seolah menyajikan efek pola ketidak terbatasan itu sendiri. Barik-barik dihadirkan dengan pola titik, garis, dan dibuat juga lebih menonjol dengan berbagai ukuran panjang sehinggga selain diraba barik-barik pada karya dapat ditarik. Pola sususunannya mengingatkan kita pada pola dasar belajar nirmana, sederhananya susunan titik dan garis-garis, bermain kontras warna dari medium dengan permukaan karya sebagai latar belakangnya.

Karya-karya Gus Sindhu

Satu karya instalasi dan satu karya dengan bentuk dasar persegi panjang juga ditampilkan pada pameran ini. Karya persegi panjang yang di dalamnya terdapat budaran kain velboa (berbulu imitasi) sepertinya tidak hanya untuk diraba, melainkan dapat dirasakan kenyamanannya dengan disandarkan, mengingat anak-anak yang saya ajak berkunjung melakukan hal itu, pada bagian sisi kanan dan kirinya membentang barik-barik serupa hamparan lanskap warna gelap atau dark colorfield.

Pada karya instalasi berwarna hitam dalam bentuk abstrak setinggi kurang lebih 200cm berjudul “Tumbuh dari Dalam” lebih memberikan ruang seluas-luasnya untuk dieksplorasi melalui sentuhan, rabaan, bahkan pelukan, karya dengan medium campuran ini seperti fiber, spons ati, karet, silikon, memungkinkan sensasi ketika menyentuh permukaannya atau mungkin mencoba menarik-narik silikonnya, hal itu dikarenakan permukaan dan tekstur yang kenyal. Sejalan pada pernyataan Gus Sindu sendiri dalam pengantar pamerannya bahwa “rupa )dalam konteks karya seni) dipahami sebagai sesuatu yang dapat didekati, disentuh, ditelusuri, didengar, dan dialami oleh tubuh.”

Berhadapan pada karya-karya Gus Sindu melalui tajuk utamanya yaitu Sparsa Rupa membuat saya kemudian berfikir bahwa: 1) Bila karya ini lahir dari rahim riset akademik maka sepantasnya untuk mengetahui (hasilnya) tanggapan pengalaman kawan-kawan disabilitas atau kawan-kawan yang memiliki persoalan gangguan mental? 2) Mungkinkah karya ini akan berkembang menjadi sebuah bentuk produk terapi (seni) sehingga tidak terhenti pada ranah estetik dan ruang pameran semata melainkan menajamkan sisi tujuan inklusivitasnya? 3) oleh karena batasan antara audiens dan pengunjung pada karya ini dihilangkan, terlebih ketika interaksi terjadi akan sangat sulit untuk menjaga keutuhan karya sebab barik2 yang menonjol maupun lekat pada karya dapat ditarik-tarik, bahkan beberapa sampai terlepas, apakah hal ini dibenarkan dari sudut pandang pencipta atau bagaimana menanggapinya?

Karya-karya Gus Sindhu

Setidaknya itu yang ada dipikiran saya ketika berhadapan dengan karya-karya Gus Sindu dan mengamati asiknya anak-anak saya meraba-raba, memencet, menarik-narik, menekan-nekan 10 karya yang dipamerkan. Tentang dunia seni yang inklusif mengutip laman web disasterhealingresources.org pada tajuk “Inclusive & Adaptive Arts” bahwa Seni Inklusif merayakan perbedaan kita dan mengakui kontribusi penyandang disabilitas dengan menjunjung tinggi inklusivitas, representasi, keberagaman, dan aksesibilitas. Kembali pada kalimat kutipan dari Niti Sastra di awal, bahwa sebagai manusia jangan sampai tidak memiliki kerabat, upayakan juga untuk mendapatkan yang utama. Kulitas utama kekerabatan adalah bentuk kekerabatan yang saling memahami kebutuhan, saling menjaga satu dengan lainnya, sebab di dalam seni inklusif itu sendiri ada satu kunci yaitu membuka dialog antara komunitas dan masyarakat luas. Selamat Gus Sindu! [T]

Pohmanis, 7 Juli 2026

Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Next Post

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails
Next Post
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co