6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 7, 2026
in Khas
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana justru meninggalkan jejak yang dalam: mengikuti workshop pertanian biodinamik yang diselenggarakan oleh Asosiasi Biodinamik Indonesia, dipandu tiga fasilitator perempuan luar biasa: Sayu Komang, Putri Mirayanti dan etha Widiyanto, sang arsitek yang “membelot” ke dunia pertanian. Di rumah dengan arsitektur  Bali yang asri, pembelajaran tentang tanah, kompos, dan ritme alam tidak hanya hadir sebagai pengetahuan teknis, tetapi sebagai pengalaman batin. Ada sesuatu yang terasa lebih besar dari sekadar praktik bertani: seolah bumi sedang “diajak berbicara kembali” setelah lama hanya diperlakukan sebagai objek produksi.

Dari titik inilah refleksi ini dimulai—bukan dari teori, tetapi dari pengalaman langsung menyentuh tanah, mendengar penjelasan tentang kehidupan mikro di dalamnya, dan menyaksikan bagaimana sebuah ladang dipahami sebagai organisme hidup yang utuh.

Pertanian sebagai Organisme Hidup: Perspektif Rudolf Steiner

Pemikiran Rudolf Steiner menjadi fondasi utama dalam pendekatan biodinamik. Steiner memandang pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sebuah organisme hidup yang saling terhubung: tanah, tanaman, hewan, manusia, air, dan lingkungan sekitar. Tidak ada unsur yang berdiri sendiri.

Dalam pandangan ini, tanah bukan benda mati, melainkan sistem kehidupan yang memiliki dinamika internal. Kesuburan tidak hanya ditentukan oleh input eksternal seperti pupuk kimia, tetapi oleh keseimbangan relasi di dalam ekosistem itu sendiri. Karena itu, praktik seperti kompos, rotasi tanaman, integrasi hewan, dan keberagaman hayati bukan sekadar teknik, tetapi cara menjaga “kesehatan” organisme pertanian.

Yang menarik, Steiner juga menempatkan pertanian dalam hubungan dengan ritme kosmis—pergerakan bulan, matahari, dan siklus alam. Walaupun aspek ini sering diperdebatkan dalam sains modern, inti gagasannya tetap relevan: alam tidak statis, tetapi ritmis, hidup, dan berkesadaran dalam dimensinya sendiri.

Syair untuk Para Petani: Jembatan antara Materi dan Roh

Dalam flyer workshop Biodinamik di Buruan Gianyar, sebuah syair Steiner terukir indah:

Carilah kehidupan materi yang benar-benar praktis,
tetapi carilah sedemikian rupa agar ia tidak membuatmu tumpul
terhadap Spirit yang aktif di dalamnya.

Carilah Spirit,
tetapi jangan mencarinya dalam gairah
untuk yang bersifat suprarasional atau di luar indra.

Carilah Spirit itu karena engkau ingin menerapkannya dengan tulus
dalam kehidupan praktis, di dunia nyata.

Beralihlah pada prinsip kuno:
materi tidak pernah tanpa Spirit,
Spirit juga tidak pernah tanpa materi.

Dengan cara demikian kita berkata:
kita akan melakukan segala sesuatu dalam terang Spirit.
Dan kita akan mencari terang itu
agar ia memberi kehangatan bagi kita
dalam aktivitas kehidupan kita yang praktis.

Syair ini bukan sekadar puisi, melainkan pernyataan filosofis. Ia menolak dikotomi antara materi dan roh. Steiner tidak mengajak manusia meninggalkan dunia praktis, tetapi justru masuk lebih dalam ke dalamnya dengan kesadaran yang lebih utuh.

Kalimat kuncinya—“materi tidak pernah tanpa roh, roh juga tidak pernah tanpa materi”—menjadi inti dari seluruh pendekatan biodinamik. Dunia tidak dibagi menjadi dua wilayah yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling menembus.

Dalam konteks pertanian, ini berarti bahwa aktivitas menanam, merawat, dan memanen bukan hanya kerja fisik, tetapi juga tindakan kesadaran. Petani tidak hanya bekerja dengan tanah, tetapi juga dengan kehidupan yang tidak selalu terlihat. Syair ini menolak spiritualitas yang lari dari dunia, sekaligus menolak materialisme yang kehilangan makna batin.

Buruan Gianyar dan Kesadaran Ekologis Bali

Pengalaman di Desa Buruan, Gianyar, memberikan konteks lokal yang kuat bagi pemahaman biodinamik. Bali sendiri memiliki warisan filosofis yang sangat dekat dengan prinsip ini melalui konsep Tri Hita Karana: harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dalam praktiknya, masyarakat Bali telah lama mengenal bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang relasi spiritual. Sistem subak, misalnya, bukan hanya sistem irigasi, tetapi juga sistem sosial-religius yang mengatur keseimbangan air, manusia, dan ritual.

Ketika biodinamik diperkenalkan dalam konteks ini, ia tidak hadir sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing. Ia justru beresonansi dengan kearifan lokal yang sudah ada. Tanah yang sehat, air yang bersih, dan ritual yang menjaga keseimbangan menjadi satu kesatuan makna.

Di Buruan, pengalaman belajar pertanian biodinamik, dan pengamatan tanah terasa seperti percakapan antara pengetahuan modern-spiritual dari Steiner dan kebijaksanaan lokal Bali yang sudah lama hidup dalam praktik sehari-hari.

Titik Temu dengan Pancamaya Kosha dan Kesadaran Holistik

Dalam perspektif yang lebih luas, pengalaman ini juga dapat dibaca melalui kerangka Pancamaya Kosha dalam tradisi Vedanta: lima lapisan keberadaan manusia, dari fisik hingga spiritual.

Tanah yang sehat berhubungan langsung dengan annamaya kosha (tubuh fisik) manusia karena menjadi sumber pangan. Namun kualitas tanah juga memengaruhi pranamaya kosha (energi vital) melalui kualitas makanan yang dikonsumsi. Lebih jauh lagi, cara manusia memperlakukan tanah mencerminkan kondisi manomaya kosha (pikiran) dan vijnanamaya kosha (kebijaksanaan).

Dengan demikian, pertanian biodinamik bukan hanya urusan agrikultur, tetapi juga pendidikan kesadaran. Ia mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan tanah adalah cermin dari hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Di titik ini, pemikiran Steiner bertemu dengan pendekatan kesehatan holistik yang sering dikembangkan dalam tradisi yoga dan ajaran tokoh seperti Guruji Anand Krishna, di mana kesehatan tidak dipisahkan dari kesadaran, etika, dan cara hidup.

Menanam sebagai Tindakan Kesadaran: Menuju Edukasi Ekologis Baru

Dari seluruh pengalaman di Buruan Gianyar, muncul satu kesimpulan reflektif: menanam bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga tindakan kesadaran. Pertanian dapat menjadi ruang pendidikan jiwa, bukan hanya produksi pangan.

Konsep ini membuka kemungkinan bagi pengembangan model seperti Edu Wisata berbasis pertanian, di mana pertanian, spiritualitas, dan pendidikan ekologis dapat disatukan. Pengunjung tidak hanya belajar cara menanam, tetapi juga cara “mendengarkan bumi”.

Dalam kerangka ini, biodinamik bukan sekadar metode pertanian alternatif, tetapi sebuah cara pandang: bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa atasnya. Dan ketika kesadaran ini tumbuh, hubungan manusia dengan bumi berubah dari eksploitasi menjadi partisipasi.

Namun di tengah idealisme tersebut, muncul persoalan nyata yang tidak bisa diabaikan: alih fungsi lahan pertanian yang terus terjadi di Bali, termasuk di Gianyar. Tekanan ekonomi, pariwisata, dan investasi properti perlahan mengubah sawah menjadi vila, hotel, dan bangunan komersial. Pertanian semakin kehilangan daya tarik bukan hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga karena melemahnya makna kultural dan spiritual dari bertani.

Dalam konteks ini, muncul pertanyaan penting: apakah praktik biodinamik dapat membantu menekan laju alih fungsi lahan? Jawabannya tidak tunggal, tetapi membuka kemungkinan yang signifikan. Biodinamik dapat meningkatkan nilai pertanian bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara budaya, pendidikan, dan spiritual. Jika pertanian dipahami sebagai ruang kesadaran—bukan sekadar produksi—maka ia berpotensi kembali menjadi pilihan hidup yang bermartabat.

Apalagi jika dikembangkan dalam bentuk edukasi, wisata berbasis kesadaran, dan ekonomi lokal yang berkelanjutan, pertanian dapat memperoleh posisi baru dalam masyarakat. Namun demikian, pendekatan ini tidak cukup berdiri sendiri. Ia tetap membutuhkan dukungan kebijakan tata ruang yang kuat, insentif ekonomi yang adil bagi petani, serta kesadaran kolektif masyarakat agar tanah tidak terus tunduk pada logika pasar jangka pendek.

Syair Steiner yang terukir dalam flyer workshop itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar teks. Ia menjadi semacam pengingat halus: bahwa dalam setiap aktivitas paling sederhana—mengolah tanah, menyiram tanaman, atau memanen hasil bumi—selalu ada ruang bagi kehadiran kesadaran.

Dan di situlah inti paling dalam dari seluruh pengalaman ini: bahwa bumi tidak hanya untuk diolah, tetapi juga untuk didengarkan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Tags: biodinamikpertanianpetani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

Next Post

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co