PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati. Maka dari itu, pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” di Palembang hendak menawarkan wacana kepada khalayak luas bahwa ada sebuah upaya mendobrak iklim kesenian di nusantara; upaya yang penulis rasa bukan sebuah kenihilan. Sebab, karya yang disajikan bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi.
Ferdian Semai selaku perupa yang karyanya direspon oleh Dahlia Rasyad sendiri, bukan yang tiba-tiba muncul di iklim kesenian maupun budaya. Ia sejak tahun 90-an sudah aktif berkegiatan dengan Teater Potlot melalui pendekatan teks-teks lingkungan dan budaya.
Karya-karya terbaru yang telah Ferdi garap diantaranya adalah “Merawat Sungai Dari Dapur Ibu”, “Antropogenik”, dan “Rahim Sungai Musi”. Dari judul-judul pertunjukan yang coba dihidangkan ini, kita mendapati kedekatan Ferdi dengan alam tidak terjadi begitu saja, seperti yang sudah penulis bahas di Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang.
Sementara Dahlia Rasyad sendiri tidak datang tiba-tiba lalu menuliskan puisi, meski ia lebih dikenal sebagai seorang prosais. Pada 2014, novelnya “Perempuan yang Memetik Mawar” mendapat penghargaan untuk Karya Sastra Terbaik oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Pada 2016, Dahlia terpilih menjadi “Penulis Emerging Ubud Writers & Readers Festival”. Menariknya, Dahlia juga diam-diam menuliskan puisi, tapi tidak pernah dipublikasikan dalam bentuk buku maupun daring. Pada pameran Ferdi inilah, pertama kalinya puisi Dahlia Rasyad dibaca oleh khalayak.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam diskusi minggu ke-3 yang tersaji pada 28 Juni 2026 di Roemah Tumbuh Kembang, Plaju, penulis sendiri memiliki pengalaman visual ketika melihat gambar-gambar Ferdi. Sesuatu yang berangkat dari tumpukan memori, terbesit bersinggungan ketika Asmaran Dani selaku kurator menunjukkan gambar Ferdi. Penulis membayangkan sedang tersedot ke hippocampus sendiri, lalu masuk ke dalam serial televisi yang sedang memutar adegan di Hawkins pada Stranger Things, lalu lamat-lamat memasuki dunia terbalik yang dikenal sebagai The Upside Down—sebuah dimensi alternatif yang ada secara paralel dengan dunia manusia. Menjadi menariknya di dalam serial itu, kelompok diskusi yang dinamai Hellfire Club dirian Eddie Munson ini mirip dengan pola diskusi minggu ke-3 Opus Sastra.
Hellfire Club sendiri dianggap sebagai kelompok orang aneh atau outcast di sekolahnya, tapi penulis tidak ingin meromantisasi kata outcast itu sendiri, seolah-olah sastra dan seni tidak menarik hari ini. Tidak, tidak. Penulis ingin menggambarkan suasana meja saat itu seperti para pencinta permainan role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di SMA Hawkins. Sebab, Dahlia Rasyad sendiri selaku penulis puisi berhalangan hadir. Penulis membayangkan Dahlia Rasyad sedang berada di The Upside Down dan hendak dicari tahu eksistensi puisinya, sebab yang ada pada muka meja Opus Sastra sendiri adalah puisinya. Dahlia Rasyad bisa saja di The Right Side Up (dunia nyata), sementara puisinya masih harus dicari tahu eksistensi teksnya.

Diskusi terjadi setelah langit gelap, persis berada di suasana Hawkins, bedanya gambar-gambar Ferdi menemani kami seakan-akan itu adalah sulur-sulur hidup yang menjerat satu sama lain. Gambar itu tidak mati sebagai gambar, Ferdi sebagai perupa sendiri keluar dari tubuhnya dan melebur menjadi anggota diskusi dan kadang-kadang seperti Vecna yang memainkan sulur-sulur di dinding pameran untuk menggerakkan Hive Mind (pikiran kolektif). Ketika salah satu anggota diskusi terinjak sulur-sulur Vecna, Ferdi tak segan menjadi Vecna yang memereteli alam bawah sadar anggota diskusi. Ia tak segan menampilkan kilasan-kilasan peristiwa anggota diskusi, ia seperti Demogorgon langsung mengetahui posisi eksistensi teks. Psikoanalisis yang ditawarkan Ferdi, bak Vecna yang terhubung dengan sulur-sulur dan Dahlia Rasyad sendiri sedang terikat pada sulur-sulur yang Ferdi gunakan di diskusi minggu ke-3.
Ia menanggalkan status sebagai perupa yang sedang berpameran, ia menjadi anggota diskusi yang juga mencambuk-cambuk dengan sulur-sulur di ruangan, kaki meja dan kursi yang kawan-kawan Opus Sastra duduki. Mau tidak mau, anggota diskusi mengikuti pola main yang dilakukan Ferdi. Mau tidak mau, sulur-sulur itu dihayati tidak dilawan. Seperti Will yang awalnya terjerat dengan sulur-sulur Vecna, menjadi kekuatan sendiri ketika ia dapat mengendalikan jalannya permainan Vecna sendiri. Asmaran Dani beberapa kali menjadi Will yang menentang sulur-sulur Ferdi. Namun, ia makin terjerat dan tersesat di The Upside Down. Ketika Asmaran Dani menghayati apa yang sedang ingin dilakukan Ferdi, sulur-sulur yang menjeratnya melonggar dan menjadi serangan balik yang cukup berarti dan membuka jalannya diskusi ke arah yang menarik. Tidak lagi dikuasai oleh aktor utama Vecna sendiri yakni Ferdi, namun meluas menjadi ruang Hellfire Club.

Pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra menjadi jalan yang terjal, beberapa kali pertarungan terjadi persis game (RPG) mempertanyakan eksistensi teks. Apakah pas digunakan, tepat, dan sesuai dengan gambar yang dihidangkan. Satu baris puisi dari Dahlia Rasyad menjadi perdebatan panjang: membuatku melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu.
Menurut Ferdi, puisi Dahlia Rasyad sangat baik dalam konteks penghayatan. Tapi ada sesuatu yang tidak dapat memuaskan Ferdi pada bagian “melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu”, menurutnya pada bagian itu bergeser dari makna awal. Sejak awal kami menghayati pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra pun tidak terganggu, dan merasa ada tarik-menarik dengan gambar yang disajikan Ferdi. Tetapi, ketika di bagian itu Ferdi memulai memainkan sulur-sulurnya untuk memecut api diskusi. Terjadilah perdebatan, Sultan seorang penulis muda gen-Z tidak sepakat. Menurutnya setiap penulis bebas menginterpretasikan puisinya ke arah mana saja. Lalu, Eko Saputra selaku pembaca puisi melirik tajam ke arah Sultan. Ferdi masih berdiam, menunggu momen yang pas untuk membalas serangan Sultan. Terjadi percakapan panjang memutar-mutar persis sedang berada dalam The Upside Down mencari jalan kembali.
Lalu, Ferdi kembali memecut menggunakan sulur-sulurnya. “Apakah pohon besar itu adalah seonggok daging?” Ferdi menunjuk gambar yang direspon oleh Dahlia Rasyad, dan melanjutkan, “Sungai yang mengalir itu adalah pisang-pisang dan lavender di gambar ini?” Semua diam. Tapi tidak benar-benar hening, dialog terjadi terlihat dari banyak pasang mata yang siap menyambar sulur-sulur Ferdi.

Asmaran Dani membongkar satu peristiwa, layaknya ia berubah menjadi Dustin ketika berkumpul di Hellfire memberi fakta bahwa Dahlia Rasyad sendiri sudah lama menulis puisi itu. Puisi yang telah lama ditulisnya ini terinspirasi dari Neruda, Asmaran Dani membongkar isi chat:
DAHLIA RASYAD
Ada puisi Neruda judulnya “And Because Love Battles” yang pernah menginspirasi Mbak membuat sebuah puisi tentang pohon. Tapi puisi Mbak tidak sepanjang dan sebagus Neruda di puisi itu. Gara-gara pohon juga Mbak menyukai Neruda yang sebelumnya belum Mbak baca.
Asmaran Dani membacakan pesan ini, dan membuat suasana menjadi lebih cair. Kepanikan seperti The Upside Down pada puisi Dahlia Rasyad menjadi The Right Side Up, semuanya seperti lega bahwa keujungan dari perdebatan ini adalah kenihilan. Asmaran Dani melanjutkan membaca pesan:
DAHLIA RASYAD
Puisi saya sangat-sangat pendek dan bisa dibilang terinspirasi dari makhluk yang bernama pohon, itu foto pohonnya dikasih seorang kawan di Australia waktu ia menjajal hutan Tasmania.
Setelah semua selesai mendengar pembacaan pesan oleh Asmaran Dani, termasuk Ferdi sendiri yang dari awal diskusi berlaku seperti Vecna dengan sulur-sulurnya menarik napas panjang dan menutup diskusi dengan “Tuhan adalah bumi, bumi adalah kebun, kebun adalah pohon, itulah puisi Dahlia Rasyad,” tutup Ferdian Semai, lamat-lamat melepas sulur-sulur yang sejak tadi mengikat kursi, bawah meja dan ruangan diskusi yang telah diubahnya menjadi area role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di Plaju, Palembang. [T]
Palembang, 29 Juni 2026





























