30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
in Cerpen
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara tembakan masih berdenging di telinga Ipda Dimas, memekakkan, menggetarkan setiap urat saraf. Ia masih bisa merasakan dorongan kuat yang menerpanya tubuhnya detik itu juga. Sebuah desakan yang menyelamatkan nyawanya, namun merenggut nyawa orang yang paling ia hormati.

Kompol Baharudin.

Sang komandan jatuh tepat di hadapannya, tubuh kokoh itu menjadi tameng hidup bagi Dimas saat peluru tajam meluncur dari arah yang tak terduga. Operasi penggerebekan sarang narkoba yang seharusnya menjadi kemenangan gemilang berubah menjadi neraka yang mencekam. Dimas memeluk tubuh atasan yang mulai dingin, sementara sirene meraung-raung memecah kesunyian malam. Di matanya, bukan hanya seorang pemimpin yang gugur, melainkan seorang ayah, seorang panutan, yang rela mati demi anak buahnya.

Sejak hari itu, hidup Dimas berubah menjadi beban yang berat. Trauma tidak hanya datang dalam bentuk mimpi buruk, tetapi juga dalam bentuk tanggung jawab yang tak tertulis. Ia merasa berhutang nyawa. Maka, setiap kali waktu luang tiba, Dimas akan menyempatkan diri datang ke rumah duka, membawa sembako, atau sekadar menemani istri dan anak-anak almarhum. Bagi Dimas, menjaga mereka adalah satu-satunya cara untuk menenangkan hati yang gelisah. Namun, rasa bersalah itu tetap saja seperti duri yang tak bisa dicabut.

“Kau tidak perlu merasa bersalah, Dimas. Pak Baharudin melakukan itu karena keinginannya sendiri,” kata rekan sesama tim, namun kata-kata itu tak mampu mengobati luka di dada.

Penyelidikan kasus ini seharusnya berhenti saat tersangka utama tewas dalam baku tembak. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Data yang ditemukan tidak sinkron, aliran dana yang terputus secara misterius, dan kesan bahwa operasi malam itu bocor sebelum dimulai. Atasan memutuskan untuk membentuk tim investigasi khusus, dan Dimas dimasukkan ke dalamnya.

***

Di hari pertama rapat, Dimas bertemu dengannya.

Ipda Vani Angelin.

Polwan dengan tatapan tajam, postur tegap, dan senyum tipis yang tak pernah sampai ke mata. Vani dikenal sebagai penyelidik handal, cerdas, dan sangat dingin. Berbeda dengan Dimas yang bertindak mengikuti naluri dan emosi, Vani bergerak berdasarkan data, logika, dan perhitungan matang.

“Menurutmu operasi ini murni kegagalan taktis, atau ada unsur lain, Ipda Dimas?” tanya Vani di tengah rapat, suaranya tenang namun menohok.

Dimas mendongak, menatap wanita itu dengan tatapan menantang. “Yang jelas, Pak Baharudin gugur karena melindungi kami. Bagi saya, itu sudah cukup bukti bahwa situasi di luar kendali.”

“Dan bagi saya,” potong Vani santai sambil membalikkan berkas, “Situasi di luar kendali karena ada yang memanipulasi kendali itu sendiri.”

Awalnya, hubungan mereka layak api dan es. Dimas merasa Vani terlalu kaku dan kurang menghormati perasaan rekan seprofesi yang baru saja kehilangan sosok penting. Sebaliknya, Vani menganggap Dimas terlalu emosional dan subjektif, sehingga sulit melihat fakta yang tersembunyi. Namun, saat mereka mulai bekerja di lapangan, perlahan tembok kebekuan itu mulai mencair.

Mereka menyusuri kembali lokasi kejadian. Rumah mewah itu kini kosong, sunyi, dan menyeramkan. Debu beterbangan di antara sinar matahari yang menembus jendela pecah.

“Coba lihat ini,” Vani menunjuk sebuah peta tata letak bangunan yang mereka sita. “Menurut denah, jumlah kamar seharusnya dua puluh tujuh. Tapi saat kami hitung fisiknya, ada dua puluh delapan pintu.”

Dimas mengerutkan kening. “Maksudmu?”

“Ada satu kamar yang tidak tercatat secara administrasi. Kamar di ujung lorong paling dalam. Nomor 28.”

Jantung Dimas berdegup kencang. Ia ingat betul malam kejadian itu, ia tidak pernah melewati atau melihat pintu bernomor itu. Seolah-olah kamar itu memang sengaja disembunyikan dari pandangan, atau hanya muncul saat kondisi tertentu.

***

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap. Udara di sana terasa dingin dan pengap, berbau obat nyamuk dan sesuatu yang logam, mungkin darah kering. Di ujung sana, benar adanya, sebuah pintu kayu jati berukir sederhana dengan plat nomor kuning bertuliskan angka 28.

Pintu itu terkunci rapat. Namun bukan Vani namanya jika sekadar berdiri diam. Dengan keahliannya, atau mungkin dengan bantuan alat yang ia bawa, bunyi klik terdengar jelas. Pintu terbuka pelan, berdecit memekakkan telinga.

Apa yang mereka lihat di dalamnya bukanlah gudang atau ruang simpan barang biasa. Ruangan itu luas, dilengkapi dengan peralatan pemantauan canggih, layar monitor yang masih menyimpan rekaman, dan tumpukan dokumen rahasia. Di dinding, tergambar skema jaringan yang sangat rapi, menghubungkan nama-nama bandar dengan logo-logo perusahaan ternama, dan yang paling mengejutkan, terdapat simbol-simbol yang mengarah ke oknum berpakaian seragam.

“Jadi dugaanmu benar,” bisik Dimas, matanya menelusuri setiap detail. “Ada ‘kutu’ di dalam tubuh kita sendiri. Mereka yang menjual informasi, mereka yang merancang jebakan.”

Vani mendekati sebuah meja, mengambil sebuah map tebal. “Operasi malam itu bukan gagal, Dimas. Itu memang dirancang untuk gagal. Pak Baharudin tahu terlalu banyak, dan dia menjadi ancaman bagi mereka.”

Darah Dimas mendidih. Marah, kecewa, dan rasa sakit bercampur menjadi satu. Jadi kematian sang komandan bukan sekadar nasib buruk dalam tugas, melainkan pembunuhan terencana!

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan satu atau dua orang, melainkan rombongan.

“Kita kedatangan tamu,” kata Vani cepat, ia langsung menarik pistol dari sarungnya. Dimas melakukan hal yang sama.

Pintu kamar 28 ditendang terbuka lebar. Beberapa pria bersenjata lengkap menerobos masuk, namun bukan seragam polisi, melainkan preman bayaran yang bekerja untuk jaringan itu.

“Habisi mereka!” teriak salah satu pria itu.

DAR! DAR! DAR!

Suara tembakan kembali berkumandang, kali ini di dalam ruangan sempit itu. Dimas dan Vani bertarung bahu-membahu. Dimas dengan gaya bertarungnya yang agresif dan penuh tenaga, sementara Vani bergerak lincah, presisi, dan dingin. Mereka saling melindungi punggung satu sama lain. Di tengah hujan peluru, di antara asap mesiu dan debu yang beterbangan, terjalin sebuah kepercayaan yang kokoh.

“Ambil datanya, Van! Aku tutupin!” teriak Dimas sambil melepaskan tembakan perlindungan.

“Gak ada gunanya kalau lo mati, Dim!” balas Vani, ia melempar granat kejut yang membuat musuh-musuh mereka tersentak.

Mereka berhasil mundur perlahan, membawa bukti-bukti krusial itu. Aksi tembak-menembak itu sengit, nyaris merenggut nyawa mereka, namun entah bagaimana, keberuntungan ada di pihak mereka. Mereka berhasil lolos dari sarang iblis itu, membawa rahasia besar yang selama ini terkunci mati di Balik Kamar 28.

***

Malam harinya, di atap kantor polisi, angin malam berhembus kencang. Dimas dan Vani duduk bersisian, memandang lampu-lampu kota Surabaya yang gemerlap. Luka memar di wajah mereka belum sembuh, napas mereka masih terdengar berat, namun hati mereka terasa lebih lega.

“Terima kasih,” kata Dimas pelan. “Kalau tidak ada lo, mungkin gue sudah hancur karena emosi sendiri.”

Vani menoleh, tersenyum. Kali ini senyumnya tulus, hangat, melelehkan es di hatinya. “Gue juga harus terima kasih. Lo mengajarkan gue kalau di balik tugas dan aturan, ada kemanusiaan yang harus diperjuangkan. Lo setia kawan, Dim. Itu langka.”

Dimas menatap wajah wanita itu di bawah cahaya rembulan. Rasa hormat yang tadinya ada, kini bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat, sesuatu yang disebut cinta. Tidak terucap, tidak perlu terburu-buru. Mereka tahu, perjalanan masih panjang. Musuh mereka bukan orang sembarangan, mereka adalah hantu-hantu yang bersembunyi di balik jubah kebenaran.

“Tugas kita belum selesai, Van,” ujar Dimas.

“Belum,” jawab Vani mantap. “Tapi kita akan selesaikan. Bersama-sama.”

Mereka telah membuka pintu kamar 28, menguak tabir gelap pengkhianatan, dan kini mereka siap untuk menuntaskan balas dendam demi kehormatan Kompol Baharudin. Dan di tengah dunia yang penuh kejahatan dan kebohongan itu, mereka menemukan satu hal yang nyata: kebersamaan. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Next Post

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co