30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
in Cerpen
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara tembakan masih berdenging di telinga Ipda Dimas, memekakkan, menggetarkan setiap urat saraf. Ia masih bisa merasakan dorongan kuat yang menerpanya tubuhnya detik itu juga. Sebuah desakan yang menyelamatkan nyawanya, namun merenggut nyawa orang yang paling ia hormati.

Kompol Baharudin.

Sang komandan jatuh tepat di hadapannya, tubuh kokoh itu menjadi tameng hidup bagi Dimas saat peluru tajam meluncur dari arah yang tak terduga. Operasi penggerebekan sarang narkoba yang seharusnya menjadi kemenangan gemilang berubah menjadi neraka yang mencekam. Dimas memeluk tubuh atasan yang mulai dingin, sementara sirene meraung-raung memecah kesunyian malam. Di matanya, bukan hanya seorang pemimpin yang gugur, melainkan seorang ayah, seorang panutan, yang rela mati demi anak buahnya.

Sejak hari itu, hidup Dimas berubah menjadi beban yang berat. Trauma tidak hanya datang dalam bentuk mimpi buruk, tetapi juga dalam bentuk tanggung jawab yang tak tertulis. Ia merasa berhutang nyawa. Maka, setiap kali waktu luang tiba, Dimas akan menyempatkan diri datang ke rumah duka, membawa sembako, atau sekadar menemani istri dan anak-anak almarhum. Bagi Dimas, menjaga mereka adalah satu-satunya cara untuk menenangkan hati yang gelisah. Namun, rasa bersalah itu tetap saja seperti duri yang tak bisa dicabut.

“Kau tidak perlu merasa bersalah, Dimas. Pak Baharudin melakukan itu karena keinginannya sendiri,” kata rekan sesama tim, namun kata-kata itu tak mampu mengobati luka di dada.

Penyelidikan kasus ini seharusnya berhenti saat tersangka utama tewas dalam baku tembak. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Data yang ditemukan tidak sinkron, aliran dana yang terputus secara misterius, dan kesan bahwa operasi malam itu bocor sebelum dimulai. Atasan memutuskan untuk membentuk tim investigasi khusus, dan Dimas dimasukkan ke dalamnya.

***

Di hari pertama rapat, Dimas bertemu dengannya.

Ipda Vani Angelin.

Polwan dengan tatapan tajam, postur tegap, dan senyum tipis yang tak pernah sampai ke mata. Vani dikenal sebagai penyelidik handal, cerdas, dan sangat dingin. Berbeda dengan Dimas yang bertindak mengikuti naluri dan emosi, Vani bergerak berdasarkan data, logika, dan perhitungan matang.

“Menurutmu operasi ini murni kegagalan taktis, atau ada unsur lain, Ipda Dimas?” tanya Vani di tengah rapat, suaranya tenang namun menohok.

Dimas mendongak, menatap wanita itu dengan tatapan menantang. “Yang jelas, Pak Baharudin gugur karena melindungi kami. Bagi saya, itu sudah cukup bukti bahwa situasi di luar kendali.”

“Dan bagi saya,” potong Vani santai sambil membalikkan berkas, “Situasi di luar kendali karena ada yang memanipulasi kendali itu sendiri.”

Awalnya, hubungan mereka layak api dan es. Dimas merasa Vani terlalu kaku dan kurang menghormati perasaan rekan seprofesi yang baru saja kehilangan sosok penting. Sebaliknya, Vani menganggap Dimas terlalu emosional dan subjektif, sehingga sulit melihat fakta yang tersembunyi. Namun, saat mereka mulai bekerja di lapangan, perlahan tembok kebekuan itu mulai mencair.

Mereka menyusuri kembali lokasi kejadian. Rumah mewah itu kini kosong, sunyi, dan menyeramkan. Debu beterbangan di antara sinar matahari yang menembus jendela pecah.

“Coba lihat ini,” Vani menunjuk sebuah peta tata letak bangunan yang mereka sita. “Menurut denah, jumlah kamar seharusnya dua puluh tujuh. Tapi saat kami hitung fisiknya, ada dua puluh delapan pintu.”

Dimas mengerutkan kening. “Maksudmu?”

“Ada satu kamar yang tidak tercatat secara administrasi. Kamar di ujung lorong paling dalam. Nomor 28.”

Jantung Dimas berdegup kencang. Ia ingat betul malam kejadian itu, ia tidak pernah melewati atau melihat pintu bernomor itu. Seolah-olah kamar itu memang sengaja disembunyikan dari pandangan, atau hanya muncul saat kondisi tertentu.

***

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap. Udara di sana terasa dingin dan pengap, berbau obat nyamuk dan sesuatu yang logam, mungkin darah kering. Di ujung sana, benar adanya, sebuah pintu kayu jati berukir sederhana dengan plat nomor kuning bertuliskan angka 28.

Pintu itu terkunci rapat. Namun bukan Vani namanya jika sekadar berdiri diam. Dengan keahliannya, atau mungkin dengan bantuan alat yang ia bawa, bunyi klik terdengar jelas. Pintu terbuka pelan, berdecit memekakkan telinga.

Apa yang mereka lihat di dalamnya bukanlah gudang atau ruang simpan barang biasa. Ruangan itu luas, dilengkapi dengan peralatan pemantauan canggih, layar monitor yang masih menyimpan rekaman, dan tumpukan dokumen rahasia. Di dinding, tergambar skema jaringan yang sangat rapi, menghubungkan nama-nama bandar dengan logo-logo perusahaan ternama, dan yang paling mengejutkan, terdapat simbol-simbol yang mengarah ke oknum berpakaian seragam.

“Jadi dugaanmu benar,” bisik Dimas, matanya menelusuri setiap detail. “Ada ‘kutu’ di dalam tubuh kita sendiri. Mereka yang menjual informasi, mereka yang merancang jebakan.”

Vani mendekati sebuah meja, mengambil sebuah map tebal. “Operasi malam itu bukan gagal, Dimas. Itu memang dirancang untuk gagal. Pak Baharudin tahu terlalu banyak, dan dia menjadi ancaman bagi mereka.”

Darah Dimas mendidih. Marah, kecewa, dan rasa sakit bercampur menjadi satu. Jadi kematian sang komandan bukan sekadar nasib buruk dalam tugas, melainkan pembunuhan terencana!

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan satu atau dua orang, melainkan rombongan.

“Kita kedatangan tamu,” kata Vani cepat, ia langsung menarik pistol dari sarungnya. Dimas melakukan hal yang sama.

Pintu kamar 28 ditendang terbuka lebar. Beberapa pria bersenjata lengkap menerobos masuk, namun bukan seragam polisi, melainkan preman bayaran yang bekerja untuk jaringan itu.

“Habisi mereka!” teriak salah satu pria itu.

DAR! DAR! DAR!

Suara tembakan kembali berkumandang, kali ini di dalam ruangan sempit itu. Dimas dan Vani bertarung bahu-membahu. Dimas dengan gaya bertarungnya yang agresif dan penuh tenaga, sementara Vani bergerak lincah, presisi, dan dingin. Mereka saling melindungi punggung satu sama lain. Di tengah hujan peluru, di antara asap mesiu dan debu yang beterbangan, terjalin sebuah kepercayaan yang kokoh.

“Ambil datanya, Van! Aku tutupin!” teriak Dimas sambil melepaskan tembakan perlindungan.

“Gak ada gunanya kalau lo mati, Dim!” balas Vani, ia melempar granat kejut yang membuat musuh-musuh mereka tersentak.

Mereka berhasil mundur perlahan, membawa bukti-bukti krusial itu. Aksi tembak-menembak itu sengit, nyaris merenggut nyawa mereka, namun entah bagaimana, keberuntungan ada di pihak mereka. Mereka berhasil lolos dari sarang iblis itu, membawa rahasia besar yang selama ini terkunci mati di Balik Kamar 28.

***

Malam harinya, di atap kantor polisi, angin malam berhembus kencang. Dimas dan Vani duduk bersisian, memandang lampu-lampu kota Surabaya yang gemerlap. Luka memar di wajah mereka belum sembuh, napas mereka masih terdengar berat, namun hati mereka terasa lebih lega.

“Terima kasih,” kata Dimas pelan. “Kalau tidak ada lo, mungkin gue sudah hancur karena emosi sendiri.”

Vani menoleh, tersenyum. Kali ini senyumnya tulus, hangat, melelehkan es di hatinya. “Gue juga harus terima kasih. Lo mengajarkan gue kalau di balik tugas dan aturan, ada kemanusiaan yang harus diperjuangkan. Lo setia kawan, Dim. Itu langka.”

Dimas menatap wajah wanita itu di bawah cahaya rembulan. Rasa hormat yang tadinya ada, kini bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat, sesuatu yang disebut cinta. Tidak terucap, tidak perlu terburu-buru. Mereka tahu, perjalanan masih panjang. Musuh mereka bukan orang sembarangan, mereka adalah hantu-hantu yang bersembunyi di balik jubah kebenaran.

“Tugas kita belum selesai, Van,” ujar Dimas.

“Belum,” jawab Vani mantap. “Tapi kita akan selesaikan. Bersama-sama.”

Mereka telah membuka pintu kamar 28, menguak tabir gelap pengkhianatan, dan kini mereka siap untuk menuntaskan balas dendam demi kehormatan Kompol Baharudin. Dan di tengah dunia yang penuh kejahatan dan kebohongan itu, mereka menemukan satu hal yang nyata: kebersamaan. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Next Post

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co