5 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

Jaswanto by Jaswanto
June 28, 2026
in Liputan Khusus
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

Penampilan seniman Buleleng dalam peed aya (pawai) pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busana tradisional dalam gelaran Peed Aya Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, rombongan Duta Kabupaten Buleleng memasuki jalur pawai. Sekilas saja terlihat bahwa mereka datang bukan sekadar membawa pertunjukan, melainkan juga kisah tentang identitas masyarakat Bali Utara yang sebenarnya.

Lihatlah, di barisan depan tampak para pembawa identitas daerah mengenakan busana kuno khas Bali Utara. Setelah itu hadir Jegeg Bagus Buleleng dalam balutan Payasan Roko-Roko yang dipadukan dengan tenun endek khas Buleleng. Puluhan penari Tari Kembang Deeng kemudian bergerak serempak mengikuti irama Angklung Saih Pitu, warisan musik tujuh nada yang masih lestari di Bali Utara.

Namun, salah satu bagian paling memikat dari arak-arakan itu ialah ketika Tari Baris Sura Atma berkolaborasi dengan Burdah Pegayaman―salah satu desa mayoritas Islam yang teronggok di dataran tinggi Buleleng. Dua latar budaya berbeda bertemu dalam satu panggung: Baris Sura Atma merepresentasikan tradisi Hindu Bali, sementara Burdah tumbuh dari masyarakat Muslim yang telah lama menjadi bagian sejarah Buleleng.

Penampilan seniman Buleleng dalam peed aya (pawai) pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026

Kolaborasi itu bukan sekadar eksperimen artistik, tetapi mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Buleleng, tempat semangat menyama braya atau persaudaraan lintas perbedaan tumbuh dan mengakar. Tak heran jika penampilan tersebut berhasil menyita perhatian ribuan penonton.

Sebagai wilayah pelabuhan dan pintu masuk perdagangan dari utara, Buleleng sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, keberagaman bukanlah konsep baru bagi daerah ini. Kolaborasi Tari Baris Sura Atma dan Burdah Pegayaman mengingatkan bahwa identitas Buleleng dibangun bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan merawatnya.

Dalam konteks Indonesia yang kerap diuji intoleransi dan polarisasi sosial, pesan tersebut terasa semakin relevan. Seni menghadirkan cara yang lembut namun efektif untuk mengajarkan keberagaman. Penonton tidak perlu membaca teori panjang tentang toleransi. Mereka cukup menyaksikan dua tradisi berbeda tampil berdampingan dalam harmoni.

Seluruh garapan kolosal itu diberi judul Sang Jaratkaru. Dengan mengusung ikon Singa Ambara Raja, para seniman menghadirkan perjalanan artistik yang merepresentasikan kejayaan masa lalu sekaligus karakter masyarakat Buleleng hari ini. Keanggunan busana tradisi, nilai spiritual, semangat kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur dirangkai dalam satu narasi yang diiringi perkusi Gema Adi Merdangga. Semua itu tampak sebagai pertunjukan seni, namun jika dicermati lebih dalam, sekali lagi, yang sesungguhnya dipertontonkan Pemerintah Buleleng adalah karakter masyarakatnya sendiri.

Di tengah era ketika pembangunan sering diukur dari panjang jalan atau nilai investasi, seni budaya kerap dianggap urusan pinggiran. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan fondasi utama pembentuk watak masyarakat. Melalui seni, generasi muda belajar disiplin, menghormati leluhur, bekerja sama, menghargai perbedaan, dan memahami identitas dirinya.

Nilai-nilai tersebut tidak lahir dari slogan atau baliho. Ia tumbuh melalui proses latihan yang panjang, keterlibatan dalam kehidupan budaya, dan pengalaman berkesenian. Ketika seorang anak muda belajar menari atau menabuh gamelan, sesungguhnya ia tidak hanya mempelajari keterampilan artistik, tetapi juga belajar menjadi bagian dari komunitasnya.

Semangat itu terasa kuat dalam penampilan Duta Kabupaten Buleleng di PKB tahun ini. Seluruh unsur pawai—mulai dari busana, musik, tarian, simbol spiritual, hingga kolaborasi lintas budaya—disusun menjadi narasi utuh tentang jati diri Bali Utara. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, menegaskan hal tersebut. “Melalui garapan Sang Jaratkaru serta seluruh rangkaian pawai hari ini, kami berharap dapat menyampaikan pesan moral tentang bakti, kekuatan spiritual, dan keharmonisan sosial yang menjadi napas kehidupan masyarakat Bumi Panji Sakti,” katanya.

Janger Buleleng dengan karakter Buleleng yang sangat kuat di Pesta Kesenian Bali 2026

Di Buleleng, kata Wisandika, seni budaya tidak hanya dipahami sekadar sebagai hiburan atau tontonan wisata, pun diposisikan sebagai media pewarisan nilai, spiritualitas, dan harmoni sosial—unsur penting dalam pembangunan karakter masyarakat.

Di antara para peserta pawai terdapat Linda, penari muda yang untuk pertama kalinya tampil sebagai bagian dari Duta Kabupaten Buleleng.

“Ini pertama kalinya saya tampil di PKB. Rasanya campur aduk antara gugup, bangga, dan bahagia karena bisa mewakili Buleleng. Semoga seni budaya Buleleng semakin lestari dan dikenal luas,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan mengapa seni budaya tetap penting bagi masa depan daerah.

Seni yang Membangun Karakter

Selain itu, Buleleng juga mengajak penonton merenungkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri melalui garapan Baleganjur berjudul Seet Wangsul. Karya yang dipentaskan di Panggung Terbuka Ardha Candra pada Kamis, 18 Juni 2026 itu terinspirasi dari ritual sakral Bebayuhan Sanan Empeg yang masih hidup di Desa Anturan.

Komposer Komang Trisna Ardiana menjelaskan bahwa karya tersebut berangkat dari filosofi kain tenun wangsul yang ditenun tanpa sambungan. “Kain wangsul menjadi simbol keutuhan dan kesinambungan kehidupan,” katanya.

Konsep keutuhan itu diterjemahkan ke dalam bahasa musik. Dentuman kendang, ceng-ceng, dan gong membangun narasi tentang perjalanan manusia sejak kelahiran, menghadapi berbagai tantangan, menjalani penyucian, hingga mencapai keseimbangan batin. Melalui karya ini, para seniman Buleleng mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang cara manusia memahami dirinya sendiri, menghadapi kehilangan, dan menemukan kembali keseimbangan hidup.

Dawang-dawang dari Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026

Sementara itu, pembangunan karakter juga hadir melalui isu lingkungan. Hal tersebut terlihat ketika Komunitas Seni Rare Kual yang tampil dengan garapan ngelawang berjudul Wewaler―yang tampil berbeda dengan mengangkat tradisi lokal Medawang-Dawang sebagai identitas utama. Karya ini mengangkat kisah tentang hubungan manusia dengan alam: hutan yang ditebang, habitat satwa yang hilang, serta dampak yang akhirnya kembali dirasakan manusia. Pementasan berlangsung di kawasan Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (19/6/2026).

Konseptor sekaligus pembina komunitas, Ngurah Indra Wijaya, menjelaskan bahwa Wewaler merupakan bentuk nasihat dan larangan yang diwariskan leluhur. “Ketika hutan dirusak dan habitat satwa dihilangkan, dampaknya pada akhirnya kembali dirasakan manusia sendiri,” ujarnya.

Melalui cerita, simbol, musik, dan pertunjukan, pesan lingkungan disampaikan secara sederhana dan membumi. Kearifan lokal Bali yang telah lama mengajarkan penghormatan terhadap alam diterjemahkan kembali untuk menjawab tantangan masa kini. Yang tak kalah penting, garapan ini melibatkan sekitar 65 seniman cilik dan remaja. Mereka tidak hanya belajar menari dan tampil di depan publik, tetapi juga memahami bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab setiap orang. Jika Sang Jaratkaru mengajarkan harmoni sosial, maka Wewaler mengingatkan bahwa manusia hanya dapat hidup baik jika menjaga keseimbangan dengan alam.

Pembangunan karakter juga berlangsung melalui sesuatu yang tak diduga, yakni seni cara berpakaian. Dalam Utsawa Busana Adat Khas Kabupaten/Kota, Minggu, 21 Juni 2026, Duta Kabupaten Buleleng menampilkan beragam busana adat―dari busana payas ningrat Buleleng, busana khas Desa Bali Mula Sidetapa, busana Pecalang Buleleng, serta busana yang digunakan dalam tradisi memukur dan Ngadegang Bubur Dewata―yang sarat nilai sejarah dan filosofi. Setiap detail busana bukan hanya menunjukkan keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan karakter budaya masyarakat Bali Utara.

“Payas pengantin tetap kami tampilkan karena itu merupakan identitas daerah yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Selain itu kami juga menampilkan busana desa Bali Mula yang masih lestari hingga saat ini,” ujar Koordinator Parade Busana Adat Kabupaten Buleleng Nyonya Karnadi Parwati Panji.

Payas Buleleng

Sedangkan Sekretaris Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng Ny. Hermawati Supriatna menegaskan bahwa keikutsertaan Buleleng dalam parade tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga sekaligus mempromosikan warisan budaya. Busana adat sesungguhnya merupakan media pendidikan budaya yang efektif. Melalui busana, generasi muda belajar memahami nilai estetika, kesopanan, sejarah, hingga pandangan hidup leluhurnya.

Di era globalisasi seperti saat ini, ketika berbagai tren fesyen mudah diakses melalui media sosial, pengetahuan tentang busana tradisional menjadi semakin penting. Bukan untuk menolak perubahan, melainkan agar masyarakat tetap memiliki kesadaran terhadap akar budayanya. Karena itu, parade busana adat bukan sekadar peragaan pakaian tradisional. Ia adalah peragaan identitas.

Selain itu, pada 22 Juni 2026, saat kalangan Ayodya Taman Budaya Bali dipenuhi penonton, Sanggar Seni Nong Nong Kling Buleleng membawakan lakon drama gong Mantri Bongol. Selama dua setengah jam, penonton―meski sebagian besar merupakan generasi yang tumbuh bersama kejayaan drama gong pada dekade 1970-an dan 1980-an―diajak mengikuti kisah kerajaan yang sarat intrik, kritik sosial, humor, dan pesan moral.

Menariknya, para pemain yang terlibat merupakan anak, cucu, menantu, dan kerabat para pemain legendaris Drama Gong Puspa Anom Banyuning. Dengan kata lain, yang tampil bukan hanya sebuah kelompok kesenian, melainkan mata rantai pewarisan budaya.

Menjaga Relevansi di Tengah Perubahan Zaman

Ketua Sanggar Nong Nong Kling, Nyoman Suardika atau Mang Epo, menyadari tantangan terbesar seni tradisi saat ini adalah menjaga relevansinya di tengah perubahan zaman. “Di Buleleng, hanya sanggar kami yang masih mampu menampilkan drama gong dengan ciri khas Buleleng,” ujarnya. Karena itu mereka menghadirkan sentuhan kekinian melalui tata panggung yang lebih dinamis, tata cahaya yang lebih kuat, dan akting yang lebih hidup tanpa meninggalkan pakem tradisi. Di sinilah pelajaran penting tentang karakter ditemukan. Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang menolak perubahan, melainkan mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Drama gong Buleleng yang berbeda dengan gaya drama gong dari kabupaten lain di Bali

Lakon Mantri Bongol sendiri mengangkat tema fitnah, ambisi, kesetiaan, penderitaan, hingga kemenangan kebenaran. Penonton diajak merenung tanpa merasa digurui. Menurut Mang Epo, konsep dharma dan adharma dalam drama gong tidak selalu diwakili tokoh tertentu. “Kami menempatkan pencarian kebenaran di dalam alur cerita, bukan pada tokoh tertentu,” terangnya. Pandangan itu menjadi metafora bahwa karakter tidak terbentuk dalam satu peristiwa besar, melainkan melalui perjalanan panjang, pengalaman, dan proses menemukan kebenaran.

Sampai di sini, jika kita dicermati, seluruh penampilan Duta Kabupaten Buleleng di PKB 2026 membentuk satu narasi utuh tentang pembangunan karakter masyarakat. Buktinya, Sang Jaratkaru jelas mengajarkan keberagaman dan kebersamaan. Mantri Bongol menegaskan pentingnya menjaga tradisi dan mencari kebenaran. Wewaler menumbuhkan kesadaran ekologis. Seet Wangsul menghadirkan refleksi spiritual. Sementara Utsawa Busana Adat memperkuat kesadaran identitas budaya.

Kelima unsur tersebut menjadi fondasi penting bagi masyarakat yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap perubahan, peduli lingkungan, menjunjung harmoni sosial, dan memiliki kedalaman spiritual.

PKB memang hanya berlangsung beberapa minggu setiap tahun. Namun pengalaman yang diperoleh para seniman muda selama proses latihan dan pementasan dapat membekas seumur hidup. Mereka belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta kebanggaan menjadi bagian dari Buleleng.

Penampilan baleganjur Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026

Sungguh, terang sudah bahwa pembangunan karakter manusia tidak selalu berlangsung di ruang kelas, barak militer, atau kantor pemerintahan. Ia juga bisa tumbuh di sanggar seni, balai banjar, di tengah denting gamelan, atau di balik kostum tari yang dikenakan dengan penuh kebanggaan. Seni budaya menghubungkan manusia dengan identitasnya. Dan selama hubungan itu tetap terjaga, karakter Buleleng akan terus hidup, tumbuh, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

by Jaswanto
October 29, 2026
0
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

Read moreDetails

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

by Jaswanto
October 28, 2026
0
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

Read moreDetails

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

by Jaswanto
October 26, 2026
0
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

Read moreDetails

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

by Jaswanto
October 24, 2026
0
Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

Read moreDetails

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

by Jaswanto
June 29, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

Read moreDetails

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co