28 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

Jaswanto by Jaswanto
June 28, 2026
in Liputan Khusus
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

Penampilan seniman Buleleng dalam peed aya (pawai) pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busana tradisional dalam gelaran Peed Aya Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, rombongan Duta Kabupaten Buleleng memasuki jalur pawai. Sekilas saja terlihat bahwa mereka datang bukan sekadar membawa pertunjukan, melainkan juga kisah tentang identitas masyarakat Bali Utara yang sebenarnya.

Lihatlah, di barisan depan tampak para pembawa identitas daerah mengenakan busana kuno khas Bali Utara. Setelah itu hadir Jegeg Bagus Buleleng dalam balutan Payasan Roko-Roko yang dipadukan dengan tenun endek khas Buleleng. Puluhan penari Tari Kembang Deeng kemudian bergerak serempak mengikuti irama Angklung Saih Pitu, warisan musik tujuh nada yang masih lestari di Bali Utara.

Namun, salah satu bagian paling memikat dari arak-arakan itu ialah ketika Tari Baris Sura Atma berkolaborasi dengan Burdah Pegayaman―salah satu desa mayoritas Islam yang teronggok di dataran tinggi Buleleng. Dua latar budaya berbeda bertemu dalam satu panggung: Baris Sura Atma merepresentasikan tradisi Hindu Bali, sementara Burdah tumbuh dari masyarakat Muslim yang telah lama menjadi bagian sejarah Buleleng.

Penampilan seniman Buleleng dalam peed aya (pawai) pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026

Kolaborasi itu bukan sekadar eksperimen artistik, tetapi mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Buleleng, tempat semangat menyama braya atau persaudaraan lintas perbedaan tumbuh dan mengakar. Tak heran jika penampilan tersebut berhasil menyita perhatian ribuan penonton.

Sebagai wilayah pelabuhan dan pintu masuk perdagangan dari utara, Buleleng sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, keberagaman bukanlah konsep baru bagi daerah ini. Kolaborasi Tari Baris Sura Atma dan Burdah Pegayaman mengingatkan bahwa identitas Buleleng dibangun bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan merawatnya.

Dalam konteks Indonesia yang kerap diuji intoleransi dan polarisasi sosial, pesan tersebut terasa semakin relevan. Seni menghadirkan cara yang lembut namun efektif untuk mengajarkan keberagaman. Penonton tidak perlu membaca teori panjang tentang toleransi. Mereka cukup menyaksikan dua tradisi berbeda tampil berdampingan dalam harmoni.

Seluruh garapan kolosal itu diberi judul Sang Jaratkaru. Dengan mengusung ikon Singa Ambara Raja, para seniman menghadirkan perjalanan artistik yang merepresentasikan kejayaan masa lalu sekaligus karakter masyarakat Buleleng hari ini. Keanggunan busana tradisi, nilai spiritual, semangat kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur dirangkai dalam satu narasi yang diiringi perkusi Gema Adi Merdangga. Semua itu tampak sebagai pertunjukan seni, namun jika dicermati lebih dalam, sekali lagi, yang sesungguhnya dipertontonkan Pemerintah Buleleng adalah karakter masyarakatnya sendiri.

Di tengah era ketika pembangunan sering diukur dari panjang jalan atau nilai investasi, seni budaya kerap dianggap urusan pinggiran. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan fondasi utama pembentuk watak masyarakat. Melalui seni, generasi muda belajar disiplin, menghormati leluhur, bekerja sama, menghargai perbedaan, dan memahami identitas dirinya.

Nilai-nilai tersebut tidak lahir dari slogan atau baliho. Ia tumbuh melalui proses latihan yang panjang, keterlibatan dalam kehidupan budaya, dan pengalaman berkesenian. Ketika seorang anak muda belajar menari atau menabuh gamelan, sesungguhnya ia tidak hanya mempelajari keterampilan artistik, tetapi juga belajar menjadi bagian dari komunitasnya.

Semangat itu terasa kuat dalam penampilan Duta Kabupaten Buleleng di PKB tahun ini. Seluruh unsur pawai—mulai dari busana, musik, tarian, simbol spiritual, hingga kolaborasi lintas budaya—disusun menjadi narasi utuh tentang jati diri Bali Utara. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, menegaskan hal tersebut. “Melalui garapan Sang Jaratkaru serta seluruh rangkaian pawai hari ini, kami berharap dapat menyampaikan pesan moral tentang bakti, kekuatan spiritual, dan keharmonisan sosial yang menjadi napas kehidupan masyarakat Bumi Panji Sakti,” katanya.

Janger Buleleng dengan karakter Buleleng yang sangat kuat di Pesta Kesenian Bali 2026

Di Buleleng, kata Wisandika, seni budaya tidak hanya dipahami sekadar sebagai hiburan atau tontonan wisata, pun diposisikan sebagai media pewarisan nilai, spiritualitas, dan harmoni sosial—unsur penting dalam pembangunan karakter masyarakat.

Di antara para peserta pawai terdapat Linda, penari muda yang untuk pertama kalinya tampil sebagai bagian dari Duta Kabupaten Buleleng.

“Ini pertama kalinya saya tampil di PKB. Rasanya campur aduk antara gugup, bangga, dan bahagia karena bisa mewakili Buleleng. Semoga seni budaya Buleleng semakin lestari dan dikenal luas,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan mengapa seni budaya tetap penting bagi masa depan daerah.

Seni yang Membangun Karakter

Selain itu, Buleleng juga mengajak penonton merenungkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri melalui garapan Baleganjur berjudul Seet Wangsul. Karya yang dipentaskan di Panggung Terbuka Ardha Candra pada Kamis, 18 Juni 2026 itu terinspirasi dari ritual sakral Bebayuhan Sanan Empeg yang masih hidup di Desa Anturan.

Komposer Komang Trisna Ardiana menjelaskan bahwa karya tersebut berangkat dari filosofi kain tenun wangsul yang ditenun tanpa sambungan. “Kain wangsul menjadi simbol keutuhan dan kesinambungan kehidupan,” katanya.

Konsep keutuhan itu diterjemahkan ke dalam bahasa musik. Dentuman kendang, ceng-ceng, dan gong membangun narasi tentang perjalanan manusia sejak kelahiran, menghadapi berbagai tantangan, menjalani penyucian, hingga mencapai keseimbangan batin. Melalui karya ini, para seniman Buleleng mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang cara manusia memahami dirinya sendiri, menghadapi kehilangan, dan menemukan kembali keseimbangan hidup.

Dawang-dawang dari Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026

Sementara itu, pembangunan karakter juga hadir melalui isu lingkungan. Hal tersebut terlihat ketika Komunitas Seni Rare Kual yang tampil dengan garapan ngelawang berjudul Wewaler―yang tampil berbeda dengan mengangkat tradisi lokal Medawang-Dawang sebagai identitas utama. Karya ini mengangkat kisah tentang hubungan manusia dengan alam: hutan yang ditebang, habitat satwa yang hilang, serta dampak yang akhirnya kembali dirasakan manusia. Pementasan berlangsung di kawasan Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (19/6/2026).

Konseptor sekaligus pembina komunitas, Ngurah Indra Wijaya, menjelaskan bahwa Wewaler merupakan bentuk nasihat dan larangan yang diwariskan leluhur. “Ketika hutan dirusak dan habitat satwa dihilangkan, dampaknya pada akhirnya kembali dirasakan manusia sendiri,” ujarnya.

Melalui cerita, simbol, musik, dan pertunjukan, pesan lingkungan disampaikan secara sederhana dan membumi. Kearifan lokal Bali yang telah lama mengajarkan penghormatan terhadap alam diterjemahkan kembali untuk menjawab tantangan masa kini. Yang tak kalah penting, garapan ini melibatkan sekitar 65 seniman cilik dan remaja. Mereka tidak hanya belajar menari dan tampil di depan publik, tetapi juga memahami bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab setiap orang. Jika Sang Jaratkaru mengajarkan harmoni sosial, maka Wewaler mengingatkan bahwa manusia hanya dapat hidup baik jika menjaga keseimbangan dengan alam.

Pembangunan karakter juga berlangsung melalui sesuatu yang tak diduga, yakni seni cara berpakaian. Dalam Utsawa Busana Adat Khas Kabupaten/Kota, Minggu, 21 Juni 2026, Duta Kabupaten Buleleng menampilkan beragam busana adat―dari busana payas ningrat Buleleng, busana khas Desa Bali Mula Sidetapa, busana Pecalang Buleleng, serta busana yang digunakan dalam tradisi memukur dan Ngadegang Bubur Dewata―yang sarat nilai sejarah dan filosofi. Setiap detail busana bukan hanya menunjukkan keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan karakter budaya masyarakat Bali Utara.

“Payas pengantin tetap kami tampilkan karena itu merupakan identitas daerah yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Selain itu kami juga menampilkan busana desa Bali Mula yang masih lestari hingga saat ini,” ujar Koordinator Parade Busana Adat Kabupaten Buleleng Nyonya Karnadi Parwati Panji.

Payas Buleleng

Sedangkan Sekretaris Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng Ny. Hermawati Supriatna menegaskan bahwa keikutsertaan Buleleng dalam parade tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga sekaligus mempromosikan warisan budaya. Busana adat sesungguhnya merupakan media pendidikan budaya yang efektif. Melalui busana, generasi muda belajar memahami nilai estetika, kesopanan, sejarah, hingga pandangan hidup leluhurnya.

Di era globalisasi seperti saat ini, ketika berbagai tren fesyen mudah diakses melalui media sosial, pengetahuan tentang busana tradisional menjadi semakin penting. Bukan untuk menolak perubahan, melainkan agar masyarakat tetap memiliki kesadaran terhadap akar budayanya. Karena itu, parade busana adat bukan sekadar peragaan pakaian tradisional. Ia adalah peragaan identitas.

Selain itu, pada 22 Juni 2026, saat kalangan Ayodya Taman Budaya Bali dipenuhi penonton, Sanggar Seni Nong Nong Kling Buleleng membawakan lakon drama gong Mantri Bongol. Selama dua setengah jam, penonton―meski sebagian besar merupakan generasi yang tumbuh bersama kejayaan drama gong pada dekade 1970-an dan 1980-an―diajak mengikuti kisah kerajaan yang sarat intrik, kritik sosial, humor, dan pesan moral.

Menariknya, para pemain yang terlibat merupakan anak, cucu, menantu, dan kerabat para pemain legendaris Drama Gong Puspa Anom Banyuning. Dengan kata lain, yang tampil bukan hanya sebuah kelompok kesenian, melainkan mata rantai pewarisan budaya.

Menjaga Relevansi di Tengah Perubahan Zaman

Ketua Sanggar Nong Nong Kling, Nyoman Suardika atau Mang Epo, menyadari tantangan terbesar seni tradisi saat ini adalah menjaga relevansinya di tengah perubahan zaman. “Di Buleleng, hanya sanggar kami yang masih mampu menampilkan drama gong dengan ciri khas Buleleng,” ujarnya. Karena itu mereka menghadirkan sentuhan kekinian melalui tata panggung yang lebih dinamis, tata cahaya yang lebih kuat, dan akting yang lebih hidup tanpa meninggalkan pakem tradisi. Di sinilah pelajaran penting tentang karakter ditemukan. Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang menolak perubahan, melainkan mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Drama gong Buleleng yang berbeda dengan gaya drama gong dari kabupaten lain di Bali

Lakon Mantri Bongol sendiri mengangkat tema fitnah, ambisi, kesetiaan, penderitaan, hingga kemenangan kebenaran. Penonton diajak merenung tanpa merasa digurui. Menurut Mang Epo, konsep dharma dan adharma dalam drama gong tidak selalu diwakili tokoh tertentu. “Kami menempatkan pencarian kebenaran di dalam alur cerita, bukan pada tokoh tertentu,” terangnya. Pandangan itu menjadi metafora bahwa karakter tidak terbentuk dalam satu peristiwa besar, melainkan melalui perjalanan panjang, pengalaman, dan proses menemukan kebenaran.

Sampai di sini, jika kita dicermati, seluruh penampilan Duta Kabupaten Buleleng di PKB 2026 membentuk satu narasi utuh tentang pembangunan karakter masyarakat. Buktinya, Sang Jaratkaru jelas mengajarkan keberagaman dan kebersamaan. Mantri Bongol menegaskan pentingnya menjaga tradisi dan mencari kebenaran. Wewaler menumbuhkan kesadaran ekologis. Seet Wangsul menghadirkan refleksi spiritual. Sementara Utsawa Busana Adat memperkuat kesadaran identitas budaya.

Kelima unsur tersebut menjadi fondasi penting bagi masyarakat yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap perubahan, peduli lingkungan, menjunjung harmoni sosial, dan memiliki kedalaman spiritual.

PKB memang hanya berlangsung beberapa minggu setiap tahun. Namun pengalaman yang diperoleh para seniman muda selama proses latihan dan pementasan dapat membekas seumur hidup. Mereka belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta kebanggaan menjadi bagian dari Buleleng.

Penampilan baleganjur Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026

Sungguh, terang sudah bahwa pembangunan karakter manusia tidak selalu berlangsung di ruang kelas, barak militer, atau kantor pemerintahan. Ia juga bisa tumbuh di sanggar seni, balai banjar, di tengah denting gamelan, atau di balik kostum tari yang dikenakan dengan penuh kebanggaan. Seni budaya menghubungkan manusia dengan identitasnya. Dan selama hubungan itu tetap terjaga, karakter Buleleng akan terus hidup, tumbuh, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hikayat Tuak

by Jaswanto
May 30, 2026
0
Hikayat Tuak

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun...

Read moreDetails

Ritual Menanam Beras Merah

by Jaswanto
May 28, 2026
0
Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

Read moreDetails

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

by Jaswanto
May 15, 2026
0
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

Read moreDetails

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

by Jaswanto
April 14, 2026
0
Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 berlangsung sepanjang Maret dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas....

Read moreDetails

Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

by Jaswanto
March 20, 2026
0
Kisah Hari Raya Nyepi Umat Hindu di Surabaya

“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan
Liputan Khusus

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

by Jaswanto
June 28, 2026
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
Bulan Juni Milik Empat Presiden
Esai

Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi
Esai

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa...

by Agung Sudarsa
June 28, 2026
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan
Esai

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin...

by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi
Esai

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua...

by Doni Sugiarto Wijaya
June 28, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NGANDANG NGANJUH: ‘Unconscious Incompetence’ dalam Masyarakat Bali —Renungan Malam Kuningan

Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong...

by Sugi Lanus
June 27, 2026
Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan
Esai

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten,...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Takut Galungan
Dongeng

Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu
Puisi

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

by Andi Wirambara
June 27, 2026
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?
Esai

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

by Agung Sudarsa
June 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co