TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busana tradisional dalam gelaran Peed Aya Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, rombongan Duta Kabupaten Buleleng memasuki jalur pawai. Sekilas saja terlihat bahwa mereka datang bukan sekadar membawa pertunjukan, melainkan juga kisah tentang identitas masyarakat Bali Utara yang sebenarnya.
Lihatlah, di barisan depan tampak para pembawa identitas daerah mengenakan busana kuno khas Bali Utara. Setelah itu hadir Jegeg Bagus Buleleng dalam balutan Payasan Roko-Roko yang dipadukan dengan tenun endek khas Buleleng. Puluhan penari Tari Kembang Deeng kemudian bergerak serempak mengikuti irama Angklung Saih Pitu, warisan musik tujuh nada yang masih lestari di Bali Utara.
Namun, salah satu bagian paling memikat dari arak-arakan itu ialah ketika Tari Baris Sura Atma berkolaborasi dengan Burdah Pegayaman―salah satu desa mayoritas Islam yang teronggok di dataran tinggi Buleleng. Dua latar budaya berbeda bertemu dalam satu panggung: Baris Sura Atma merepresentasikan tradisi Hindu Bali, sementara Burdah tumbuh dari masyarakat Muslim yang telah lama menjadi bagian sejarah Buleleng.

Kolaborasi itu bukan sekadar eksperimen artistik, tetapi mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Buleleng, tempat semangat menyama braya atau persaudaraan lintas perbedaan tumbuh dan mengakar. Tak heran jika penampilan tersebut berhasil menyita perhatian ribuan penonton.
Sebagai wilayah pelabuhan dan pintu masuk perdagangan dari utara, Buleleng sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, keberagaman bukanlah konsep baru bagi daerah ini. Kolaborasi Tari Baris Sura Atma dan Burdah Pegayaman mengingatkan bahwa identitas Buleleng dibangun bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan merawatnya.
Dalam konteks Indonesia yang kerap diuji intoleransi dan polarisasi sosial, pesan tersebut terasa semakin relevan. Seni menghadirkan cara yang lembut namun efektif untuk mengajarkan keberagaman. Penonton tidak perlu membaca teori panjang tentang toleransi. Mereka cukup menyaksikan dua tradisi berbeda tampil berdampingan dalam harmoni.
Seluruh garapan kolosal itu diberi judul Sang Jaratkaru. Dengan mengusung ikon Singa Ambara Raja, para seniman menghadirkan perjalanan artistik yang merepresentasikan kejayaan masa lalu sekaligus karakter masyarakat Buleleng hari ini. Keanggunan busana tradisi, nilai spiritual, semangat kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur dirangkai dalam satu narasi yang diiringi perkusi Gema Adi Merdangga. Semua itu tampak sebagai pertunjukan seni, namun jika dicermati lebih dalam, sekali lagi, yang sesungguhnya dipertontonkan Pemerintah Buleleng adalah karakter masyarakatnya sendiri.
Di tengah era ketika pembangunan sering diukur dari panjang jalan atau nilai investasi, seni budaya kerap dianggap urusan pinggiran. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan fondasi utama pembentuk watak masyarakat. Melalui seni, generasi muda belajar disiplin, menghormati leluhur, bekerja sama, menghargai perbedaan, dan memahami identitas dirinya.
Nilai-nilai tersebut tidak lahir dari slogan atau baliho. Ia tumbuh melalui proses latihan yang panjang, keterlibatan dalam kehidupan budaya, dan pengalaman berkesenian. Ketika seorang anak muda belajar menari atau menabuh gamelan, sesungguhnya ia tidak hanya mempelajari keterampilan artistik, tetapi juga belajar menjadi bagian dari komunitasnya.
Semangat itu terasa kuat dalam penampilan Duta Kabupaten Buleleng di PKB tahun ini. Seluruh unsur pawai—mulai dari busana, musik, tarian, simbol spiritual, hingga kolaborasi lintas budaya—disusun menjadi narasi utuh tentang jati diri Bali Utara. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, menegaskan hal tersebut. “Melalui garapan Sang Jaratkaru serta seluruh rangkaian pawai hari ini, kami berharap dapat menyampaikan pesan moral tentang bakti, kekuatan spiritual, dan keharmonisan sosial yang menjadi napas kehidupan masyarakat Bumi Panji Sakti,” katanya.


Di Buleleng, kata Wisandika, seni budaya tidak hanya dipahami sekadar sebagai hiburan atau tontonan wisata, pun diposisikan sebagai media pewarisan nilai, spiritualitas, dan harmoni sosial—unsur penting dalam pembangunan karakter masyarakat.
Di antara para peserta pawai terdapat Linda, penari muda yang untuk pertama kalinya tampil sebagai bagian dari Duta Kabupaten Buleleng.
“Ini pertama kalinya saya tampil di PKB. Rasanya campur aduk antara gugup, bangga, dan bahagia karena bisa mewakili Buleleng. Semoga seni budaya Buleleng semakin lestari dan dikenal luas,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan mengapa seni budaya tetap penting bagi masa depan daerah.
Seni yang Membangun Karakter
Selain itu, Buleleng juga mengajak penonton merenungkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri melalui garapan Baleganjur berjudul Seet Wangsul. Karya yang dipentaskan di Panggung Terbuka Ardha Candra pada Kamis, 18 Juni 2026 itu terinspirasi dari ritual sakral Bebayuhan Sanan Empeg yang masih hidup di Desa Anturan.
Komposer Komang Trisna Ardiana menjelaskan bahwa karya tersebut berangkat dari filosofi kain tenun wangsul yang ditenun tanpa sambungan. “Kain wangsul menjadi simbol keutuhan dan kesinambungan kehidupan,” katanya.
Konsep keutuhan itu diterjemahkan ke dalam bahasa musik. Dentuman kendang, ceng-ceng, dan gong membangun narasi tentang perjalanan manusia sejak kelahiran, menghadapi berbagai tantangan, menjalani penyucian, hingga mencapai keseimbangan batin. Melalui karya ini, para seniman Buleleng mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang cara manusia memahami dirinya sendiri, menghadapi kehilangan, dan menemukan kembali keseimbangan hidup.

Sementara itu, pembangunan karakter juga hadir melalui isu lingkungan. Hal tersebut terlihat ketika Komunitas Seni Rare Kual yang tampil dengan garapan ngelawang berjudul Wewaler―yang tampil berbeda dengan mengangkat tradisi lokal Medawang-Dawang sebagai identitas utama. Karya ini mengangkat kisah tentang hubungan manusia dengan alam: hutan yang ditebang, habitat satwa yang hilang, serta dampak yang akhirnya kembali dirasakan manusia. Pementasan berlangsung di kawasan Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (19/6/2026).
Konseptor sekaligus pembina komunitas, Ngurah Indra Wijaya, menjelaskan bahwa Wewaler merupakan bentuk nasihat dan larangan yang diwariskan leluhur. “Ketika hutan dirusak dan habitat satwa dihilangkan, dampaknya pada akhirnya kembali dirasakan manusia sendiri,” ujarnya.
Melalui cerita, simbol, musik, dan pertunjukan, pesan lingkungan disampaikan secara sederhana dan membumi. Kearifan lokal Bali yang telah lama mengajarkan penghormatan terhadap alam diterjemahkan kembali untuk menjawab tantangan masa kini. Yang tak kalah penting, garapan ini melibatkan sekitar 65 seniman cilik dan remaja. Mereka tidak hanya belajar menari dan tampil di depan publik, tetapi juga memahami bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab setiap orang. Jika Sang Jaratkaru mengajarkan harmoni sosial, maka Wewaler mengingatkan bahwa manusia hanya dapat hidup baik jika menjaga keseimbangan dengan alam.
Pembangunan karakter juga berlangsung melalui sesuatu yang tak diduga, yakni seni cara berpakaian. Dalam Utsawa Busana Adat Khas Kabupaten/Kota, Minggu, 21 Juni 2026, Duta Kabupaten Buleleng menampilkan beragam busana adat―dari busana payas ningrat Buleleng, busana khas Desa Bali Mula Sidetapa, busana Pecalang Buleleng, serta busana yang digunakan dalam tradisi memukur dan Ngadegang Bubur Dewata―yang sarat nilai sejarah dan filosofi. Setiap detail busana bukan hanya menunjukkan keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan karakter budaya masyarakat Bali Utara.
“Payas pengantin tetap kami tampilkan karena itu merupakan identitas daerah yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Selain itu kami juga menampilkan busana desa Bali Mula yang masih lestari hingga saat ini,” ujar Koordinator Parade Busana Adat Kabupaten Buleleng Nyonya Karnadi Parwati Panji.

Sedangkan Sekretaris Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng Ny. Hermawati Supriatna menegaskan bahwa keikutsertaan Buleleng dalam parade tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga sekaligus mempromosikan warisan budaya. Busana adat sesungguhnya merupakan media pendidikan budaya yang efektif. Melalui busana, generasi muda belajar memahami nilai estetika, kesopanan, sejarah, hingga pandangan hidup leluhurnya.
Di era globalisasi seperti saat ini, ketika berbagai tren fesyen mudah diakses melalui media sosial, pengetahuan tentang busana tradisional menjadi semakin penting. Bukan untuk menolak perubahan, melainkan agar masyarakat tetap memiliki kesadaran terhadap akar budayanya. Karena itu, parade busana adat bukan sekadar peragaan pakaian tradisional. Ia adalah peragaan identitas.
Selain itu, pada 22 Juni 2026, saat kalangan Ayodya Taman Budaya Bali dipenuhi penonton, Sanggar Seni Nong Nong Kling Buleleng membawakan lakon drama gong Mantri Bongol. Selama dua setengah jam, penonton―meski sebagian besar merupakan generasi yang tumbuh bersama kejayaan drama gong pada dekade 1970-an dan 1980-an―diajak mengikuti kisah kerajaan yang sarat intrik, kritik sosial, humor, dan pesan moral.
Menariknya, para pemain yang terlibat merupakan anak, cucu, menantu, dan kerabat para pemain legendaris Drama Gong Puspa Anom Banyuning. Dengan kata lain, yang tampil bukan hanya sebuah kelompok kesenian, melainkan mata rantai pewarisan budaya.
Menjaga Relevansi di Tengah Perubahan Zaman
Ketua Sanggar Nong Nong Kling, Nyoman Suardika atau Mang Epo, menyadari tantangan terbesar seni tradisi saat ini adalah menjaga relevansinya di tengah perubahan zaman. “Di Buleleng, hanya sanggar kami yang masih mampu menampilkan drama gong dengan ciri khas Buleleng,” ujarnya. Karena itu mereka menghadirkan sentuhan kekinian melalui tata panggung yang lebih dinamis, tata cahaya yang lebih kuat, dan akting yang lebih hidup tanpa meninggalkan pakem tradisi. Di sinilah pelajaran penting tentang karakter ditemukan. Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang menolak perubahan, melainkan mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Lakon Mantri Bongol sendiri mengangkat tema fitnah, ambisi, kesetiaan, penderitaan, hingga kemenangan kebenaran. Penonton diajak merenung tanpa merasa digurui. Menurut Mang Epo, konsep dharma dan adharma dalam drama gong tidak selalu diwakili tokoh tertentu. “Kami menempatkan pencarian kebenaran di dalam alur cerita, bukan pada tokoh tertentu,” terangnya. Pandangan itu menjadi metafora bahwa karakter tidak terbentuk dalam satu peristiwa besar, melainkan melalui perjalanan panjang, pengalaman, dan proses menemukan kebenaran.
Sampai di sini, jika kita dicermati, seluruh penampilan Duta Kabupaten Buleleng di PKB 2026 membentuk satu narasi utuh tentang pembangunan karakter masyarakat. Buktinya, Sang Jaratkaru jelas mengajarkan keberagaman dan kebersamaan. Mantri Bongol menegaskan pentingnya menjaga tradisi dan mencari kebenaran. Wewaler menumbuhkan kesadaran ekologis. Seet Wangsul menghadirkan refleksi spiritual. Sementara Utsawa Busana Adat memperkuat kesadaran identitas budaya.
Kelima unsur tersebut menjadi fondasi penting bagi masyarakat yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap perubahan, peduli lingkungan, menjunjung harmoni sosial, dan memiliki kedalaman spiritual.
PKB memang hanya berlangsung beberapa minggu setiap tahun. Namun pengalaman yang diperoleh para seniman muda selama proses latihan dan pementasan dapat membekas seumur hidup. Mereka belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta kebanggaan menjadi bagian dari Buleleng.


Sungguh, terang sudah bahwa pembangunan karakter manusia tidak selalu berlangsung di ruang kelas, barak militer, atau kantor pemerintahan. Ia juga bisa tumbuh di sanggar seni, balai banjar, di tengah denting gamelan, atau di balik kostum tari yang dikenakan dengan penuh kebanggaan. Seni budaya menghubungkan manusia dengan identitasnya. Dan selama hubungan itu tetap terjaga, karakter Buleleng akan terus hidup, tumbuh, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.






![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula3-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula2-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula1-360x180.jpeg)





















