PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televisi itu hadir di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung. Bukan dibawakan oleh aktor profesional dari luar negeri, melainkan oleh anak-anak yang tergabung dalam Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) melalui pementasan ‘A Night of Broadway’.
Malam itu, panggung Giri Nata Mandala seolah berubah menjadi ruang tempat berbagai dunia bertemu. Dari jalanan Agrabah milik Aladdin, menara Rapunzel, dasar laut tempat Ariel bernyanyi, hingga kerajaan Arendelle yang diselimuti salju dalam kisah Frozen. Satu demi satu cerita hadir melalui nyanyian, tarian, dan akting yang dibawakan para siswa JAPA.
Penonton diajak mengikuti perjalanan yang terus berganti suasana. Setelah petualangan Aladdin, mereka dibawa memasuki kisah The Little Mermaid yang penuh warna. Tak lama kemudian, panggung menghadirkan semangat petualangan Moana, kisah perjuangan Annie, hingga cerita klasik Oliver Twist. Semua dipadukan dalam sebuah pertunjukan drama musikal yang mengalir.
Anak-anak itu tidak hanya bernyanyi. Mereka juga menari, berakting, dan memainkan karakter-karakter yang menuntut ekspresi serta penghayatan yang kuat. Setiap pemain berusaha menghadirkan versi terbaik dari tokoh yang mereka perankan. Tidak sedikit yang harus berganti kostum dan karakter dalam waktu singkat demi menjaga ritme pertunjukan tetap berjalan.


Di bawah arahan Artistic Director Heny Janawati, B.Mus., para siswa menjalani proses latihan yang tidak sederhana. Drama musikal merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang menuntut banyak kemampuan sekaligus. Seorang pemain tidak cukup hanya memiliki suara yang baik atau kemampuan menari yang memadai. Ia juga harus mampu berakting, memahami karakter, menjaga ekspresi, serta menyesuaikan diri dengan pemain lain di atas panggung.
Karena itu, keberhasilan pementasan tersebut tidak lahir dalam semalam. Di balik sorot lampu dan tepuk tangan penonton, terdapat proses panjang yang dijalani para siswa JAPA untuk menyatukan gerak, lagu, dialog, dan emosi menjadi sebuah pertunjukan yang utuh.
Meski sebagian besar pemain masih berusia muda, mereka tampil dengan penuh percaya diri. Di beberapa adegan, penonton terlihat larut mengikuti alur cerita yang dibawakan para pemain. Tawa terdengar saat adegan-adegan ringan muncul, sementara tepuk tangan beberapa kali mengiringi pergantian babak dan penampilan kelompok pemain di atas panggung.


Sehari sebelum pementasan berlangsung, dukungan datang dari sosok yang selama ini dikenal memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni kontemporer di Bali. Ibu Putri Suastini Koster hadir menyaksikan gladi resik ‘A Night of Broadway’ pada Jumat, 19 Juni 2026.
Sebagai pegiat seni kontemporer sekaligus penggagas Festival Seni Bali Jani (FSBJ), Putri Koster memberikan apresiasi atas semangat anak-anak yang tergabung di Janawati Academy dalam melestarikan seni pertunjukan kontemporer. Menurutnya, keberanian menghadirkan drama musikal seperti Broadway menunjukkan bahwa generasi muda mampu mengikuti perkembangan seni dunia.
Apresiasi tersebut disertai dengan undangan kepada siswa-siswi Janawati Academy untuk ikut mengisi dan memeriahkan Festival Seni Bali Jani pada tahun mendatang. Undangan itu menjadi bentuk dukungan terhadap upaya para siswa dan pengajar dalam mengembangkan seni pertunjukan kontemporer di Bali.


Kebanggaan serupa juga dirasakan oleh produser pertunjukan, Ketut Suarma. Menurutnya, pencapaian para siswa JAPA menjadi sesuatu yang patut diapresiasi karena mereka mampu membawakan Broadway dengan sangat baik, sesuatu yang selama ini lebih sering ditemui di luar negeri.
“Sangat bangga karena anak-anak Bali, khususnya anak-anak JAPA, mampu menampilkan Broadway ini dengan luar biasa, di mana biasanya Broadway hanya tampil di luar negeri,” ujarnya.
Ia mengatakan sejumlah penonton juga menyampaikan apresiasi setelah pertunjukan berakhir. Mereka merasa tidak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri untuk menikmati nuansa Broadway karena pengalaman tersebut kini dapat disaksikan di Bali.
Meski demikian, menghadirkan Broadway di Bali bukan perkara mudah. Ketut Suarma mengakui terdapat banyak tantangan dalam proses produksinya. Mulai dari persiapan artistik, kebutuhan teknis, hingga pembinaan kemampuan para pemain agar mampu memenuhi tuntutan sebuah drama musikal.


Namun seluruh tantangan itu seolah terbayar ketika pertunjukan mencapai akhir. Tepuk tangan panjang yang memenuhi ruangan menjadi penanda bahwa usaha dan kerja keras para pemain berhasil sampai kepada penonton.
Pementasan tahun ini juga memiliki arti tersendiri karena merupakan penyelenggaraan ‘A Night of Broadway’ yang kelima. Artinya, program ini bukan sekadar pertunjukan tahunan, melainkan bagian dari proses panjang membangun ekosistem seni pertunjukan bagi generasi muda Bali.
Malam itu, yang disaksikan penonton bukan sekadar pertunjukan drama musikal. Mereka menyaksikan bagaimana anak-anak JAPA menghidupkan kisah-kisah yang dikenal di seluruh dunia dengan cara mereka sendiri. Dan ketika pertunjukan akhirnya ditutup, yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang Aladdin, Rapunzel, atau Elsa, melainkan keyakinan bahwa panggung seni Bali akan selalu memiliki generasi baru yang siap melanjutkan cerita. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























