26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Azhari M. Latief by Azhari M. Latief
June 24, 2026
in Esai
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Azhari M. Latief

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialog itu di televisi, dan belakangan, ramai dikonsumsi dalam bentuk siniar-siniar. Di mana-mana pola yang sama diulang: dua pihak yang berbeda pandangan diundang, dipertemukan, dan dibiarkan berdebat panjang lebar.

Atas nama demokrasi pula, dialog-dialog semacam itu diberi panggung yang luas dan ditonton banyak orang, tanpa seorang pun benar-benar tahu ujungnya akan bermuara ke mana. Apa yang kita tahu: dialog yang acap banjir kata-kata makian itu; yang konon dianggap sebagai jantung demokrasi; kini mengalami pergesaran makna menjadi hiburan. Pergeseran makna inilah yang kemudian ramai disebut dengan satu istilah yang catchy: Talkshow.

Di dalam Talkshow, dialog diesensialisasi sebagai pangkal dan ujung dari demokrasi. Setiap orang yang mendaku diri sebagai pro-demokrasi, maka ia harus menyediakan diri untuk berdialog dengan siapa saja yang memiliki pendapat yang berbeda, bagi pihak ini, dialog bersinonim dengan kata demokrasi; sebaliknya, bagi siapapun yang menolak dialog, maka ia bisa dikategorikan sebagai kontra-demokrasi, ‘memalukan’, dan tuduhan-tuduhan negatif lainnya.

Dialog Non-Deliberatif

Padahal, terdapat berbagai syarat agar sebuah dialog dapat disebut demokratis. Pelajaran ini banyak dijelaskan oleh Habermas (2007): supaya dapat disebut demokratis, sebuah dialog harus memenuhi kondisi-kondisi komunikatif yang setara dan bebas dominasi, setelah kondisi-kondisi terpenuhi, barulah sebuah konsensus dihasilkan, dan menjadi legitim peserta dialog.  Bahkan Horkheimer, kolega Habermas, lebih radikal lagi, ia menyebut, agar sebuah dialog dapat disebut demokratis, ia harus mengutamakan sikap kritis—dan tidak hanya kritis, ia harus berorientasi pada emansipasi.

Konsekuensi atas penjelasan teoretis ini adalah bahwa tidak semua dialog dapat disebut demokratis, dan lebih jauh, dialog tidak bisa diapahami secara banal sebagai faktor esensial bagi demokrasi. Ia hanya merupakan syarat perlu yang bisa ditangguhkan justru untuk mencapai tujuan-tujuan demokratis. Dengan cara inilah kita bisa memahami penolakan Tan Malaka untuk ‘dialog’/negosisasi terhadap ‘pencuri di rumah sendiri’ sebagai etos demokratis.

Dalam konteks penolakan itu, Tan Malaka. bukannya tidak demokratis, ia justru paham betul bahwa dialog yang akan berlangsung tidak membawanya pada tujuan-tujuan demokratis, yakni kesetaraan, maka dari itu, Tan Malaka tidak sah disebut sebagai aktor kontra-demokratis hanya karena menolak dialog.

Persis lewat konteks yang amat spesifik inilah kita bisa memahami penolakan Mahasiswa atas dialog yang dilesenggarakan para menteri di Universitas Gajah Mada. Penolakan ini tidak bisa langsung diatribusikan sebagai aksi merusak demokrasi, melalui tulisan ini akan ditunjukkan bagaimana aksi intervensi itu justru adalah upaya ‘menyelematkan’ demokrasi jatuh ke dalam banalitas dialog.

Demokrasi Cuci Piring

Peristiwa penolakan atas dialog tersebut terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tepatnya di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), pada Senin malam, 15 Juni 2026. Forum diskusi publik bertajuk Kopdar Bareng Mas Dar dengan tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” itu menghadirkan tiga pejabat negara: Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Di tengah berlangsungnya acara, sekelompok mahasiswa datang mengintervensi hingga forum itu buyar. Mereka menguasai panggung dan mendesak ketiga pejabat itu pergi. Di tengah situasi yang kacau itu, seorang host acara mengangkat pengeras suara dan berteriak: “kalau kalian pro-demokrasi, ayo kita dialog!”

Teriakan itu, tanpa ia sadari, menjadi contoh sempurna apa yang sedang kita persoalkan: bahwa dialog telah merasuk begitu dalam sehinga kita menyebutnya sebagai sinonim demokrasi, sehingga seruan untuk berdialog dianggap sudah cukup sebagai pembuktian diri demokratis—tanpa perlu mempersoalkan siapa yang bicara, dalam kondisi apa, dan untuk tujuan apa. Dialog bukan lagi alat menuju demokrasi, tetapi dialog diangap telah menjadi substansi demokrasi itu sendiri.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Pemerintahan hari ini tidak kekurangan dialog. Pemerintah justru tampak gemar menyelenggarakannya, misalnya mengundang jurnalis untuk berbicara langsung dengan Presiden, akan tetapi, dialog itu seringkali dihadirkan ketika ‘sesuatu’ sudah selesai diputuskan: UU TNI direvisi tanpa konsultasi publik yang memadai, UU Polri, Program Makan Bergizi Gratis, baru memulai diskusi secara serius setelah korupsi meledak dan mahasiswa turun ke jalan, pejabat-pejabat negara merasa perlu “berdialog.”

Koperasi Desa Merah Putih didirikan dengan kerangka yang sudah baku, lalu warga diundang “berdiskusi” tentangnya. Dalam semua kasus ini, dialog tidak muncul sebagai prasyarat kebijakan, dialog justru sebagai prosedur penutupnya. Bukan untuk mendengar, melainkan untuk menebalkan kebenaran versi kekuasaan terkait ha-hal yang sudah diputuskan.

Maka, sangat bisa dipahami bahwa forum Kopdar Bareng Mas Dar di UGM itu, secara kritis dibaca dalam terang perspektif yang sangat spesifik ini. Acara itu, pada akhirnya bukan dialog, ia sosialisasi yang mengenakan kostum dialog. Herman & Chomsky (2008)punya istilah yang relevan menggambarkan praktik semacam ini sebagai Manufacturing Concent:  di mana dialog digunakan bukan lagi dipakai mencapai kesepahaman, melainkan untuk mengamankan tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ketika host berteriak “kalau kalian pro-demokrasi, ayo kita dialog menutup kesimpulan itu.

Tulisan ini tidak berpretensi untuk meniadakan dialog sama sekali—dialog justru sangat penting, dengan catatan ia harus ditempatkan di awal, sebagai fondasi bagi sebuah kebijakan yang bermakna. Dalam dialog yang memadai, semua pihak dimungkinkan untuk mengeksplorasi gagasan secara bebas tanpa sumbatan, dan secara aktif ikut menentukan arah kebijakan sebelum menjadi keputusan.

Akan tetapi, yang kerap terjadi justru sebaliknya, dialog di tempatkan di ujung pesta, ketika pesta sendiri, sebagai kesempatan berbagi ruang secara demokratis sudah selesai dan hanya menyisakan piring kotor. Dalam konteks ini, dialog dengan publik diperlakukan tidak lebih dari kegiatan cuci piring; terlibat dalam diskursus memang, tetapi ya, cuma cuci piring; dan wajar tidak semua orang mau ‘hanya’ menjadi petugas cuci piring. [T]

Penulis: Azhari M. Latief
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Azhari M. Latief

Azhari M. Latief

Staf Pengajar Program Studi Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU)

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co