RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari Kabupaten Bangli dengan Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Kota Denpasar. Anak-anak itu sama-sama menunjukkan kepiawaian dalam parade gong kebyar di Pesta Kesenian Bali 2026.
Meskipun didominasi oleh penonton yang berasal dari Kota Denpasar, anak-anak sekaa gong dari Bangli tampak sangat percaya diri dan tidak kehilangan semangat di atas panggung.
Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti membawakan tiga materi garapan yakni Tabuh Pepanggulan, Tari Sekar Jagat dan juga Dolanan. Sekaa Santika Murti bisa dikatakan membawakan semua garapan dengan lascarya, dengan ketulusan hati serta meyakini panugrahan Hyang Dehe (manifestasi Tuhan yang berstana di Bukit Demulih-Bangli).

Ketiga materi dibawakan dengan lancar. Apalagi dengan spirit lokalan (sebunan), sekaa ini sangat dekat sekali dengan laku ritual yang biasanya dilaksanakan di Pucak Bukit Daha, Demulih. Kedekatan secara spiritual ini menjadikan nilai bonus bagi mereka. Di satu sisi, Mereka dapat tampil pada ajang bergengsi sekelas PKB, dan di sisi lainnya mereka membawakan spirit laku ritual Bukit Dehe ke audiens yang lebih luas.
Karya-karya yang dibawakan anak-anak dari Demulih itu memang mengkomparasikan kesadaran nilai kemuliaan dari Bukit Dehe itu dengan proses laku anak-anak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Melahirkan karya seni musikal sebanyak tiga karya sekaligus memang sesuatu yang tak mudah. Proses latihan (nuasen) dimulai Januari 2026, dan ini tergolong waktu yang relatif singkat untuk proses pengkaryaan di ajang PKB. Belum lagi terkendala teknis dan teknik dari anak-anak yang memang sangat belia untuk maju di pagelaran gong kebyar.
Namun melalui spirit lokalan (nyebun), karya-karya itu terlahir dengan menyenangkan dan sesuai harapan. Karya-karya itu adalah hasil perenungan bersama dari para pembina; Agus Adi Dharma dan Aditya Tresna Bayu yang menjadi mentor untuk pengrawit. Yudi Laksana dan Dwija Badranaya mentor untuk seni tari dan peran pada dolanan. Ni Putu Arini Eka Yanti sebagai mentor untuk tari penyambutan dibantu oleh Aswin Ananta sebagai stage manager yang menjadi eksekutor untuk nilai artistik dari masing-masing karya.
Semua pembina dan mentor itu berada dalam sebuah kapal yang dinahkodai oleh Jero Mangku Puseh I Nengah Darsana dan I Nyoman Susila yang sejak awal sudah bersiap untuk mengarungi samudera tanpa tepi dalam proses penggarapan itu.

Jero Mangku Puseh dan I Nyoman Susila adalah legenda seni yang dimiliki oleh Panjak Daha (begitu sebutan untuk warga yang tinggal di Demulih) ini menjadi dasar kesadaran untuk menjembatani generasi dulu, generasi kini dan generasi yang akan datang bahwa proses penuangan kepada anak-anak tentu tidak mudah. Seperti halnya dalam proses tersebut mentor memang benar-benar “berperang” melawan ego sentris dalam artian ekspetasi harus diselaraskan dengan sumber daya manusia yang ada. Ini merupakan refleksi Atma Kerti “jiwa suda parisudha”, di mana atman yang berstana dalam diri mendapatkan penyucian dari sebuah kesadaran proses sebagai laku spiritual.
Kesabaran, ketenangan dan membijaksanai diri selaras berjalan dengan proses penciptaan karya. “Berproses bersama anak-anak ini adalah salah satu metode saya untuk memurnikan jiwa itu sendiri“ begitu saya, Yudi Laksana, pembina dolanan sering bergumam berkali-kali.
Memang benar adanya di usia mereka yang rata-rata 8-12 tahun, anak-anak Santika Murti harus mendapat perhatian khusus. Dengan kondisi anak zaman sekarang yang sangat labil dan cendrung cepat bosan dengan ritme proses latihan monoton, menjadi PR bagi para mentor untuk mengelaborasikan proses latihan dengan kondisi anak-anak masa kini.
“Kita tidak sedang beradu panggung dengan daerah lain, tapi kita sedah menumbuhkan kesadaran untuk beradu dengan diri sendiri kemudian jiwa sebagai panggungnya!” Begitu kiranya pesan yang berulang kali dilontarkan Jero Mangku Puseh untuk menambah semangat bagi para mentor muda.

Berpores bagaikan menapaki tangga-tangga kecil menuju puncak Bukit Daha. Di setiap hentakan kaki dari anak tangga pertama, begitulah para mentor memvisualisasikannya ke dalam proses pengkaryaan. Setiap langkahnya memiliki cerita dan studi kasus yang beragam. Terkadang pada pertengahan menuju puncak bukit, para mentor harus menoleh ke belakang untuk memastikan apakah tidak ada jejak kaki yang menodai ekosistem tumbuhan yang hidup di sekitarnya.
Seni menyoal terhadap ekosistem yang hidup dan berkembang, pun demikian sama halnya dengan pengkaryaan. tidak hanya berkarya menyukseskan tugas yang diberikan kepada sekha, tetapi bagaimana menjaga elektabilitas dan ekosistem seni yang perlu hidup dan berkembang agar kehidupan berkesenian menjadi harmonis.
Bukit Daha mengajarkan banyak hal tentang keseimbangan. Ia tidak pernah tergesa-gesa menunjukkan puncaknya kepada setiap pejalan. Ada jalan yang menanjak, ada jalan yang licin ketika hujan turun, ada pula jalan yang mengharuskan untuk berhenti sejenak untuk mengatur langkah. Begitu pula proses yang dijalani anak-anak Santika Murti. Tidak semua materi dapat mereka serap dalam satu kali pertemuan. Ada yang harus diulang berkali-kali, ada yang harus dipelajari melalui pendekatan yang berbeda, bahkan ada yang harus dipahami melalui pengalaman bermain bersama sebelum akhirnya mampu diterjemahkan menjadi sebuah ekspresi seni di atas panggung.

Dalam perjalanan tersebut, para mentor menyadari bahwa keberhasilan bukanlah ketika anak-anak mampu memainkan tabuh dengan sempurna ataupun menarikan gerak dengan presisi semata. Keberhasilan sejati hadir ketika mereka mulai mengenal makna kebersamaan, belajar menghormati teman satu barungan, memahami pentingnya disiplin waktu, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekha yang mereka cintai. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi dari kemuliaan Bukit Dehe, sebuah kesadaran yang diwariskan secara turun-temurun melalui laku, bukan hanya melalui tutur.
Spirit Lokalan (nyebun) yang menjadi ruh dari pengkaryaan perlahan menjelma menjadi energi kolektif. Anak-anak yang pada awalnya datang karena ajakan orang tua atau teman sebaya, lambat laun menemukan ruang bermain sekaligus ruang belajar yang menyenangkan. Tawa mereka di sela-sela latihan, canda yang kadang memecah konsentrasi, hingga tangis kecil ketika merasa kesulitan mengikuti materi, semuanya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan menuju panggung Ardha Candra.
Setiap dinamika tersebut membentuk ikatan emosional yang kuat antara pembina dan anak-anak, antara generasi yang menuntun dan generasi yang sedang bertumbuh.
Pada akhirnya, ketika lampu panggung menyala dan tabuh pertama mulai ditabuhkan, sesungguhnya yang ditampilkan bukan hanya sebuah karya seni. Yang hadir di hadapan penonton adalah akumulasi dari proses panjang, doa-doa yang dipanjatkan, ketulusan para pembina, dukungan masyarakat, serta jejak spiritual Bukit Daha yang menyertai setiap langkah mereka. Karya yang dipersembahkan menjadi medium untuk menyampaikan bahwa kesenian bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang mengajarkan manusia untuk mengenali dirinya sendiri.

Kesadaran Atma Kerti yang menjadi benang merah dalam perjalanan ini menemukan bentuknya melalui proses. Jiwa yang disucikan bukanlah jiwa yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan jiwa yang terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus berjalan dengan ketulusan. Sebagaimana anak-anak Santika Murti yang menapaki tangga-tangga kecil menuju puncak Bukit Daha, demikian pula kita sedang menapaki perjalanan yang sama menuju puncak kesadaran, selangkah demi selangkah, dengan penuh sraddha dan bhakti terhadap warisan nilai yang telah dititipkan oleh para leluhur.
Maka, PKB ke-48 Tahun 2026 bukan semata-mata menjadi ruang kompetisi ataupun ruang unjuk kemampuan. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ruang tempat nilai-nilai luhur Bukit Dehe kembali dibunyikan melalui gamelan, digerakkan melalui tari, dan dituturkan melalui dolanan. Sebuah pengingat bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kemenangan, tetapi dari ketulusan menjalani proses yang dilakukan bersama-sama. [T]

Penulis: Yudi Laksana
Editor: Adnyana Ole






























