25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
June 24, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu menyebutkan orang kini hidup di era “25 Years of Autocratization”. Jumlah negara otoriter sekarang malah lebih banyak dari negara demokrasi.

Terjadi tarik-menarik antara otokratisasi dan demokrasi yang mengalami tren kemunduruan. Indikatornya, di tahun 2024-2025 jumlah penduduk yang hidup di rezim otoriter berjumlah 72% dari populasi dunia, tertinggi sejak 1978. Jumlah negara demokrasi 88, sedangkan yang otokrasi 91 negara. Negara yang semakin otoriter menjadi 45 negara, bahkan 27 negara yang dulunya demokrasi kini jatuh jadi otoriter.

Bukan tanpa sebab. Otokrasi yang cenderung otoriter ini menempatkan pemerintah dan para penguasa di tingkat pusat maupun daerah melakukan pengawasan yang ketat terhadap berbagai aspek kehidupan rakyatnya. Kebebasan berekspresi, baik di depan umum maupun melalui media, dibatasi dan sarat intimidasi.

Pemilihan umum (pemilu) yang semestinya menjadi indikator sehatnya demokrasi, acapkali sekadar menjadi legitimasi penguasa yang otoriter. Pelayahagunaan sumber daya negara kerap mewarnai setiap pemilu di negara-negara otoriter, entah itu fasilitas negara yang digunakan untuk sarana kampanye maupun mobilisasi aparatur negara.

Bahkan Amerika Serikat yang secara struktural merupakan negara demokrasi liberal kini mengalami krisis dan kemunduran demokrasi. Hal ini ditandai dengan polarisasi politik yang tajam, pengaruh uang dalam politik, keraguan terhadap hasil pemilu, dan kepercayaan publik yang rendah terhadap pemerintah.

Posisi Indonesia

Membaca demokrasi di Indonesia tak jauh dari hasil laporan V-Dem. Demokrasi Indonesia saat ini berada di posisi grey zone, antara maju dan mundur, antara demokrasi dan otokrasi. Indonesia di posisi abu-abu, tidak sepenuhnya demokrasi, namun juga belum otoriter tertutup. Pemimpin hasil pemilu cenderung otoriter dan sensitif terhadap kritik.

Kecenderungan kemunduran demokrasi di dunia turut pula mewarnai Indonesia. Ruang diskusi publik seolah menjadi ruang bisik-bisik yang penuh kehati-hatian. Kritik atas kebijakan rezim dianggap tak nasionalis; bukan hanya membuat rezim berang, tapi para pendukung rezim pun ikut beringas membubarkan diskusi kritis itu.

Bahkan perguruan tinggi yang mestinya berdiri paling depan untuk membangun demokrasi larut dalam ruang abu-abu. Sebuah acara nonton bareng (nobar) pemutaran film “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono di kampus Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 7 Mei 2026 dibubarkan pihak rektorat dengan alasan kondusivitas. Hal serupa terjadi di kampus dan daerah lain yang dibubarkan pihak kampus maupun aparat keamanan. Bukankah kampus selayaknya diposisikan diri sebagai pengawal demokrasi dan kebebasan berekspresi?

Pemilu legislatif maupun eksekutif selalu diwarnai kontroversi dan isu kecurangan, politik uang, penggelembungan suara, dan isu lain. Transparansi hasil pemilu juga selalu dipertanyakan. Akhirnya, pemilu bukan lagi menjadi kompetisi yang sehat untuk menghasilkan pemimpin yang demokratis, tetapi instrumen politik untuk memproduksi rezim yang otoriter.

Namun di tengah demokrasi yang abu-abu itu, partisipasi politik secara digital rakyat Indonesia cukup besar. Apalagi Indonesia menjadi salah satu negara pengguna media sosial terbesar di dunia. Demokrasi digital dilakukan rakyat secara langsung lewat dunia maya. Isu-isu seperti transparansi, politik dinasti, lingkungan, dan hak asasi manusia ramai dibicarakan di media sosial.

Generasi Z dan kelas menengah kritis sepertinya sangat meyakini bahwa demokrasi Indonesia memang abu-abu. Ada rutinitas pemilu lima tahunan, tapi kualitasnya diragukan. Pemerintahan bungkusnya demokrasi, tetapi isinya perilaku aparat yang otoriter.

Membaca dinamika politik kekinian, sebenarnya Indonesia masih mampu menjaga demokrasi yang baik. Itu tampak dari pemilu dan pergantian rezim yang damai tanpa pertumpahan darah. Sayangnya, demokrasi menjadi abu-abu ketika politik uang begitu mahal.

 Modal ekonomi untuk menjadi calon anggota legislatif maupun kepala daerah begitu tinggi, sehingga hanya elit dan oligarki yang dapat maju. Bantuan sosial (bansos) kerap menjadi cara untuk mobilisasi massa. Dinasti politik bukan hanya ada di pusat pemerintahan, tetapi juga di daerah. Demokrasi menjadi semacam sirkulasi keluarga, bukan kontestasi gagasan.

Salah satu ciri demokrasi adalah kebebasan rakyat untuk melakukan kritik tanpa rasa takut. Namun demokrasi itu dikunci pelan-pelan hingga menjadi abu-abu. Penguasa secara verbal memang menyatakan siap dikritik, tetapi Undang-Undang ITE memiliki pasal karet untuk membungkam kritik dengan tudingan pencemaran nama baik. Tidak sedikit pula aktivis, jurnalis, dan netizen yang dipolisikan lantaran kritik.

Lembaga yang diharapkan mampu sebagai penyeimbang demokrasi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mahkamah Konstitusi (MK), dan Dewan Perwakilan Rakyat(DPR) sengaja dilemahkan untuk kepentingan kekuasaan. Kewenangan KPK membuat lembaga antirasuah itu jalan di tempat dengan indeks persepsi korupsi yang stagnan. Hakim MK cacat etik dan terafiliasi politik kekuasaan. Sedangkan kinerja DPR minim partisipasi publik, karena lebih loyal kepada partai ketimbang rakyat.

Menjaga Marwah Demokrasi

Demokrasi Indonesia tak boleh dibiarkan abu-abu. Perlu upaya untuk menjaga marwah demokrasi agar menjadi lebih sehat. Tidak kebablasan liberal, dan dijaga agar tidak terjerumus ke dalam otokrasi yang otoriter.

Elite politik memiliki andil besar dalam menjaga marwah demokrasi sekaligus mengembalikan marwah lembaga penyeimbang. Diperlukan penguatan lembaga-lembaga seperti KPK, MK, dan KY. Ketiga lembaga ini harus terbebas dari afiliasi partai politik. Begitu pula DPR, perlu mereformasi diri. Uji publik setiap produk perundangan wajib dilakukan, sehingga setiap undang-undang yang dihasilkan tidak lagi digugat ke MK setelah disahkan.

Pemilu yang murah, transparan, dan adil menjadi taruhan dalam menjaga marwah demokrasi. Biaya politik saat ini masih mahal bagi orang yang akan melaju ke kursi legislatif dan eksekutif. Netralitas ASN, TNI, dan Polri dalam pemilu perlu terus dipantau. Jika memang terjadi pelanggaran harus ada tindakan tegas. Bansos yang sering menjadi amunisi menjelang pemilu harus dilarang.

Rakyat pun perlu ikut menjaga dan mengawal marwah demokrasi. Media sosial yang akrab di genggaman rakyat perlu dimanfaatkan untuk mengkomunikasikan kedewasaan politik, melawan politisasi SARA, menolak politik uang, dan memilih kandidat yang tidak cacat moral. Rakyat harus naik derajatnya dari konsumen demokrasi ke produsen demokrasi. Jika tidak, maka oligarki akan bertepuk tangan.

Ke depan, demokrasi digital dapat berperan penting bagi generasi Z. Rakyat Indonesia yang diwakili generasi Z dan milenial dapat berperan sebagai “Bawaslu digital” maupun “KPK digital”. Mereka yang berkiprah dalam homeless media harus tetap bersikap kritis untuk menjaga marwah demokrasi. Mereka harus tetap independen tanpa terkooptasi oleh Indonesia New Media Forum (INMF) maupun Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah.

Semua berharap demokrasi di Indonesia tidak mati, meskipun barangkali kini sedang sekarat dan berada di ruang ICU dengan diagnosis otokrasi dan oligarki stadium dua. Namun demokrasi masih bisa diselamatkan bila seluruh rakyat sepakat memasang infus keadilan, oksigen kritik, dan operasi oligarki. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Duri Akar dan “Sungga”

Next Post

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co