25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum Indonesia, yaitu apakah penahanan adalah keharusan, ataukah hanya instrumen luar biasa yang digunakan secara proporsional?

Pertanyaan ini relevan dalam kasus Roy Suryo dan dr. Tifa yang tersangkut perkara tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Setelah melalui proses penyidikan dan pelimpahan perkara ke kejaksaan, keduanya dilaporkan memperoleh penangguhan penahanan dengan jaminan keluarga, kuasa hukum, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Pada satu sisi, keputusan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari penghormatan terhadap hak tersangka. Dalam negara hukum, seseorang tidak boleh diperlakukan sebagai orang bersalah sebelum ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Penahanan bukan hukuman awal, melainkan tindakan pembatasan kebebasan yang seharusnya digunakan hanya apabila benar-benar diperlukan, yaitu untuk mencegah pelarian, penghilangan barang bukti, pengulangan tindak pidana, atau gangguan serius terhadap proses peradilan.

Namun, pada sisi lain, penangguhan penahanan dalam perkara yang sangat politis dan mendapat perhatian publik luas tidak boleh berhenti pada alasan administratif. Keputusan itu harus dapat dijelaskan secara terbuka, terukur, dan konsisten. Di sinilah persoalan utamanya, yaitu bukan semata-mata apakah Roy Suryo dan dr. Tifa layak ditahan atau tidak, melainkan apakah standar yang sama juga tersedia bagi setiap warga negara dengan perkara serupa?.

Penahanan Bukan Balas Dendam Negara

Secara teoritis, hukum acara pidana modern berdiri di antara dua kepentingan besar. Pertama, pendekatan crime control, yaitu kebutuhan negara untuk menindak kejahatan secara cepat, tegas, dan efektif (Hughes, 1998). Kedua, pendekatan due process of law, yaitu kewajiban negara melindungi hak individu dari tindakan aparat yang berlebihan, sewenang-wenang, atau tidak proporsional (Barnett & Bernick, 2019).

Dalam perspektif due process, penahanan sebelum persidangan harus dipandang sebagai pengecualian, bukan kebiasaan (Miller & Guggenheim, 1990a). Negara memang memiliki kewenangan untuk menahan tersangka, tetapi kewenangan itu harus dibatasi oleh alasan objektif, proporsionalitas, dan pengawasan yang dapat diuji.

Karena itu, penangguhan penahanan pada dasarnya bukan tindakan yang otomatis salah. Bahkan, dalam banyak perkara, penangguhan dapat menjadi pilihan yang lebih manusiawi, khususnya apabila tersangka kooperatif, memiliki alamat jelas, hadir dalam pemeriksaan, tidak berpotensi menghilangkan barang bukti, dan terdapat penjamin yang bertanggung jawab.

Masalah muncul ketika kebijakan tersebut tampak hanya mudah diperoleh oleh mereka yang memiliki akses sosial, jaringan politik, kuasa hukum kuat, atau dukungan tokoh publik. Hukum tidak boleh menciptakan kesan bahwa kebebasan sebelum sidang dapat dinegosiasikan berdasarkan popularitas, pengaruh, atau kemampuan menghadirkan penjamin terkenal.

Keadilan Tidak Cukup Dilakukan, Tetapi Harus Terlihat Dilakukan

Teori procedural justice dari Tom R. Tyler menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya menilai hukum dari hasil akhirnya, tetapi juga dari cara hukum itu dijalankan (Tyler, 1988). Orang cenderung lebih menerima keputusan yang tidak menguntungkan sekalipun apabila mereka merasa prosesnya adil, transparan, tidak diskriminatif, dan memberi ruang bagi semua pihak untuk didengar.

Dalam konteks ini, Kejaksaan dan aparat penegak hukum perlu menyadari bahwa perkara publik tidak hanya diuji di ruang sidang, tetapi juga di ruang kepercayaan masyarakat.

Apabila penangguhan penahanan diberikan, publik berhak mengetahui pertimbangan dasarnya secara proporsional, yaitu apakah karena kondisi kesehatan, kooperatif dalam proses hukum, adanya jaminan yang cukup, rendahnya risiko melarikan diri, telah diamankannya barang bukti, atau karena alasan hukum lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penjelasan tersebut penting agar masyarakat tidak membangun kesimpulan sendiri bahwa hukum bekerja berbeda terhadap tokoh terkenal dan warga biasa. Sebab, ketidakjelasan bukan hanya menimbulkan kritik. Ketidakjelasan dapat berubah menjadi krisis legitimasi.

Bahaya Jika Standar Penangguhan Tidak Konsisten

Jika pola penangguhan penahanan dibiarkan tanpa ukuran yang jelas dan tanpa komunikasi publik yang memadai, setidaknya terdapat beberapa masalah hukum yang serius.

Pertama, muncul risiko pelanggaran prinsip equality before the law. Konstitusi menempatkan setiap warga negara pada kedudukan yang sama di hadapan hukum. Artinya, seorang figur publik, pejabat, aktivis, akademisi, buruh, mahasiswa, maupun warga biasa seharusnya diuji dengan standar yang sama ketika meminta penangguhan penahanan.

Apabila seorang tersangka dengan dukungan sosial kuat lebih mudah memperoleh penangguhan, sementara tersangka lain dalam perkara serupa tetap ditahan tanpa alasan yang jelas, maka hukum berpotensi dipandang bukan sebagai instrumen keadilan, melainkan sebagai instrumen seleksi sosial.

Kedua, terdapat risiko terganggunya integritas pembuktian. Dalam perkara yang berkaitan dengan informasi elektronik, dugaan manipulasi dokumen, narasi digital, dan opini publik, barang bukti memang tidak selalu berbentuk fisik. Barang bukti dapat berupa akun media sosial, komunikasi digital, perangkat elektronik, dokumen, rekaman, unggahan, hingga jejaring penyebaran informasi.

Jika penangguhan tidak disertai syarat yang ketat, seperti larangan menghubungi saksi tertentu, pembatasan aktivitas digital terkait perkara, kewajiban lapor, atau larangan melakukan tindakan yang berpotensi memengaruhi proses persidangan, maka risiko tekanan terhadap saksi dan pembentukan opini publik yang mengganggu independensi peradilan tetap terbuka.

Ketiga, terdapat risiko pengulangan atau eskalasi narasi. Perkara yang berangkat dari tudingan di ruang publik memiliki karakter berbeda dengan perkara biasa. Narasi dapat terus hidup, diperbanyak, dipotong, dimanipulasi, dan disebarkan kembali dalam hitungan menit. Karena itu, kebebasan tersangka selama masa proses hukum harus disertai tanggung jawab untuk tidak memperkeruh situasi, tidak menyerang pihak lain, dan tidak membangun pengadilan opini.

Keempat, terdapat risiko preseden buruk dalam penegakan hukum. Ketika masyarakat melihat bahwa penangguhan penahanan mudah diberikan dalam perkara tertentu, sedangkan kasus lain dengan ancaman pidana serupa diperlakukan lebih keras, publik akan mempertanyakan konsistensi aparat. Ketika konsistensi hilang, kepatuhan terhadap hukum ikut melemah.

Studi Kasus

Debat mengenai penahanan prapersidangan bukan hanya terjadi di Indonesia. Berbagai penelitian di banyak negara menunjukkan bahwa penahanan sebelum putusan pengadilan dapat menghasilkan dampak sosial berat, antara lain; kehilangan pekerjaan, gangguan pendidikan, keretakan keluarga, hilangnya penghasilan, serta stigma sosial, bahkan ketika seseorang pada akhirnya tidak dinyatakan bersalah (Digard & Swavola, 2019).

Artinya, penahanan tidak boleh digunakan semata-mata untuk menunjukkan ketegasan negara.

Namun, pengalaman di banyak negara juga memperlihatkan sisi sebaliknya. Ketika pembebasan atau penangguhan dilakukan tanpa penilaian risiko yang memadai, sistem peradilan dapat menghadapi masalah ketidakhadiran tersangka, intimidasi terhadap saksi, penghilangan bukti, dan pengulangan tindak pidana (Miller & Guggenheim, 1990b).

Karena itu, kuncinya bukan “selalu tahan” atau “selalu tangguhkan”. Kuncinya adalah penilaian risiko individual yang objektif.

Dalam kasus berprofil tinggi seperti perkara Roy Suryo dan dr. Tifa, penilaian risiko semestinya lebih cermat karena dampaknya tidak hanya menyangkut dua orang tersangka, tetapi juga menyangkut martabat institusi, stabilitas opini publik, perlindungan terhadap saksi, dan kepercayaan masyarakat kepada hukum.

Penangguhan Harus Disertai Syarat Tegas

Penangguhan penahanan tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Agar tidak menjadi preseden buruk, aparat penegak hukum perlu memastikan adanya syarat yang jelas dan dapat diawasi, antara lain:

  1. kewajiban lapor secara berkala;
  2. kewajiban hadir dalam setiap agenda pemeriksaan dan persidangan;
  3. larangan melarikan diri atau bepergian tanpa izin;
  4. larangan menghubungi, memengaruhi, atau menekan saksi;
  5. larangan menghilangkan, mengubah, atau menyebarkan ulang materi yang menjadi objek perkara;
  6. larangan membuat pernyataan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum atau memengaruhi independensi pengadilan;
  7. pencabutan penangguhan apabila syarat dilanggar.

Syarat semacam ini bukan bentuk kriminalisasi terhadap kebebasan berpendapat. Justru ini adalah mekanisme untuk menjaga keseimbangan antara hak tersangka dan kepentingan proses peradilan.

Kebebasan berpendapat adalah hak konstitusional. Namun, kebebasan tersebut tidak identik dengan kebebasan menyebarkan tuduhan yang belum terbukti, merendahkan martabat seseorang, atau mendorong publik mempercayai suatu kesimpulan sebelum diuji secara hukum dan ilmiah.

Menjaga Hukum dari Dua Ekstrem

Publik tidak boleh terjebak dalam dua ekstrem.

Ekstrem pertama adalah pandangan bahwa setiap tersangka harus ditahan agar hukum terlihat tegas. Pandangan ini berbahaya karena dapat mengubah penahanan menjadi penghukuman sebelum putusan pengadilan.

Ekstrem kedua adalah pandangan bahwa setiap penangguhan penahanan adalah bentuk kemenangan atau pembenaran terhadap tersangka. Pandangan ini juga keliru. Penangguhan penahanan bukan putusan bebas, bukan penghentian penyidikan, bukan penghapusan perkara, dan bukan pembuktian bahwa seseorang tidak bersalah (Libus, 1982).

Penangguhan hanyalah keputusan prosedural selama proses hukum berjalan.

Karena itu, ukuran keberhasilan perkara ini bukan terletak pada apakah Roy Suryo dan dr. Tifa berada di dalam atau di luar tahanan. Ukurannya adalah apakah persidangan nanti berlangsung adil, terbuka, berbasis bukti, bebas tekanan politik, dan menghasilkan putusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Penutup

Kasus ini harus menjadi pengingat bahwa hukum tidak boleh bekerja berdasarkan kemarahan publik, afiliasi politik, atau kekuatan jaringan sosial. Hukum juga tidak boleh tunduk pada tekanan massa, opini media sosial, maupun status seseorang di ruang publik.

Penangguhan penahanan dapat dibenarkan secara hukum apabila didasarkan pada pertimbangan yang objektif, proporsional, dan dapat diuji. Namun, apabila kebijakan itu diterapkan tanpa standar yang transparan dan konsisten, maka yang dipertaruhkan bukan hanya satu perkara, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap negara hukum.

Dalam demokrasi, keadilan bukan sekadar tentang siapa yang ditahan dan siapa yang dibebaskan. Keadilan adalah kepastian bahwa setiap orang, baik terkenal atau tidak, kuat atau lemah, kaya atau miskin, yang diperlakukan dengan ukuran hukum yang sama.

Karena itu, penangguhan penahanan harus tetap diawasi. Bukan untuk menghakimi tersangka sebelum sidang, melainkan untuk memastikan bahwa hukum tidak berubah menjadi privilese bagi mereka yang memiliki nama, jaringan, dan panggung. [T]

Referensi

Barnett, R. E., & Bernick, E. D. (2019). No arbitrary power: An originalist theory of the due process of law. William & Mary Law Review, 60(5), 1599.

Digard, L., & Swavola, E. (2019). Justice denied: The harmful and lasting effects of pretrial detention. Vera Evidence Brief. New York: Vera Institute of Justice.

Hughes, G. (1998). Understanding crime prevention. McGraw-Hill Education (UK).

Libus, I. (1982). The Presumption of Innocence and Termination of Proceedings in Criminal Cases (Acquittal). Soviet Law and Government, 21(1), 50–67.

Miller, M., & Guggenheim, M. (1990a). Pretrial detention and punishment. Minnesota Law Review, 75(2), 335.

Miller, M., & Guggenheim, M. (1990b). Pretrial detention and punishment. Minnesota Law Review, 75(2), 335.

Tyler, T. R. (1988). What is procedural justice?: Criteria used by citizens to assess the fairness of legal procedures. Law & society review, 22(1), 103–135.

Tags: hukum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

Next Post

Duri Akar dan “Sungga”

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails
Next Post
Duri Akar dan “Sungga”

Duri Akar dan “Sungga”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co