21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
in Ulas Musik
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

Procol Harum | Gambar dibuat dengan bantuan AI

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirnya bersua dengan cakrawala yang tak kembali. Dalam balutan progresif rock yang megah dan melankolis, lagu ini bukan sekadar kisah pelaut, melainkan permenungan tentang nasib, risiko, dan batas terakhir kehidupan.

Esai ini berusaha menangkap spirit lirik tersebut: tentang laut sebagai metafora kehidupan, tentang keberangkatan yang selalu mengandung kemungkinan pulang; atau tenggelam dalam sunyi. Di sela refleksi itu, kita akan menengok beberapa musibah transportasi dalam sejarah Indonesia; peristiwa-peristiwa yang menjadikan “samudra” bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang duka kolektif.

Laut sebagai Takdir

Dalam “A Salty Dog”, laut bukan sekadar latar; ia adalah takdir. Ia luas, tak terduga, dan tak memihak. Para pelaut dalam lirik itu digambarkan lelah, kekurangan bekal, dan akhirnya pasrah pada badai. Mereka berangkat dengan tekad, tetapi berhadapan dengan kekuatan yang melampaui kendali manusia.

Begitulah kehidupan modern ia adalah pelayaran dengan teknologi sebagai kapal dan optimisme sebagai layar. Namun sejarah menunjukkan, betapapun canggih kapal atau pesawat, takdir selalu menyisakan ruang misteri.

Empat dekade silam, Indonesia berduka atas tenggelamnya KM Tampomas II pada 1981. Kapal penumpang itu terbakar di Laut Jawa sebelum akhirnya karam. Ratusan jiwa melayang. Para penumpang yang sebelumnya mungkin bercakap tentang keluarga dan tujuan pulang, mendadak dihadapkan pada kobaran api dan laut yang gelap. Seperti dalam lirik “A Salty Dog”, pelayaran berubah menjadi elegi.

Laut yang tadinya menjanjikan pertemuan berubah menjadi batas antara hidup dan mati.

Api, Air, dan Udara: Unsur-Unsur yang Menguji Kesombongan Manusia

Jika laut adalah simbol ketidakterdugaan, maka api dan udara adalah pengingat rapuhnya peradaban. Dalam tragedi KM Tampomas II, api menjadi awal kehancuran. Dalam banyak kecelakaan pesawat, udara ruang yang kita taklukkan dengan sains menjadi saksi jatuhnya harapan.

Kita mengenang berbagai kecelakaan pesawat yang mengguncang Indonesia, dari tragedi penerbangan komersial hingga pesawat militer. Setiap kali kabar “hilang kontak” terdengar, ada jeda sunyi yang sama seperti dalam lagu Procol Harum: jeda antara harapan dan kepastian pahit. Di ruang tunggu bandara, keluarga menatap layar informasi seperti pelaut menatap cakrawala, berharap bayangan kapal muncul kembali.

Demikian pula tragedi tabrakan kereta api di Bintaro pada 1987, dikenal sebagai Tragedi Bintaro. Dua rangkaian kereta bertabrakan, merenggut banyak nyawa. Rel yang seharusnya menjadi simbol keteraturan justru menjadi jalur maut. Di sana kita belajar: bahkan sistem yang tampak pasti pun menyimpan celah.

Dalam “A Salty Dog”, awak kapal digambarkan kelelahan, kehilangan arah. Bukankah itu juga metafora bagi sistem yang lalai, komunikasi yang terputus, atau keputusan yang terlambat? Tragedi transportasi kerap bukan semata takdir alam, melainkan pertemuan antara kelemahan manusia dan kerasnya dunia.

“Salty Dog”: Kesetiaan sampai Ajal

Secara idiomatik, “Salty Dog” berarti pelaut berpengalaman, seseorang yang telah lama ditempa garam laut. Namun dalam lagu ini, ia menjadi simbol kesetiaan: seseorang yang tetap setia pada panggilan laut meski tahu risikonya.

Procol Harum | Ilustrasi dibuat dengan AI

Begitulah para awak kapal penghubung antarpulau, para masinis, pilot, teknisi, dan pekerja transportasi lainnya. Mereka tahu bahaya mengintai, tetapi tetap berangkat. Ada keberanian sunyi dalam rutinitas itu. Mereka bukan pahlawan dalam sorotan, melainkan dalam keberangkatan sehari-hari.

Setiap kali kapal kecil berlayar di perairan Nusantara yang luas, menghubungkan pulau-pulau terpencil, ia membawa bukan hanya penumpang, tetapi juga doa-doa. Indonesia sebagai negara kepulauan hidup dari pelayaran. Maka setiap musibah laut bukan sekadar kecelakaan; ia adalah retakan dalam jantung kebangsaan.

“A Salty Dog” seperti menyanyikan penghormatan bagi mereka yang “hilang di laut selamanya”. Dalam konteks Indonesia, lagu itu terasa seperti doa bagi para korban yang jasadnya tak pernah ditemukan, lautnya menjadi makam.

Kesunyian sebagai Warisan

Salah satu kekuatan lagu ini adalah kesunyiannya. Meski diiringi aransemen orkestra yang megah, ada ruang hening yang mengendap di antara bait-baitnya. Kesunyian itulah yang tersisa setelah tragedi.

Setelah kapal tenggelam, setelah pesawat jatuh, setelah rel dibersihkan dari puing, yang tinggal adalah sunyi di rumah-rumah. Kursi kosong di meja makan. Seragam kerja yang tak lagi dikenakan. Tiket perjalanan yang tak sempat dipakai.

Kesunyian ini bukan hanya milik keluarga korban, tetapi juga milik bangsa. Setiap tragedi transportasi menyisakan trauma kolektif. Ia menantang kita untuk bertanya: sudahkah kita belajar? Sudahkah kita memperbaiki? Atau kita hanya melanjutkan pelayaran dengan ingatan yang perlahan pudar?

Dalam kerangka filosofis, kematian dalam perjalanan adalah simbol keterbatasan manusia modern. Kita membangun kapal lebih besar, pesawat lebih cepat, rel lebih panjang namun tak pernah sepenuhnya menguasai risiko. Modernitas memberi kita ilusi kendali, tetapi tragedi memecahkannya.

Pelayaran Hidup dan Keberanian yang Rapuh

Pada akhirnya, “A Salty Dog” bukan tentang laut saja. Ia tentang hidup itu sendiri. Kita semua adalah pelaut di samudra waktu. Kita berangkat dengan impian, membawa bekal keyakinan, namun tak pernah tahu badai mana yang menunggu.

Musibah transportasi mengingatkan bahwa setiap keberangkatan mengandung kemungkinan akhir. Namun, seperti para pelaut dalam lagu itu, manusia tetap berangkat. Ada keberanian dalam tindakan itu keberanian yang rapuh, tetapi nyata.

Barangkali makna terdalam lagu ini bukanlah pesimisme, melainkan penghormatan. Penghormatan kepada mereka yang berani hidup meski tahu risiko, kepada mereka yang bekerja di jalur-jalur sunyi, dan kepada mereka yang tak kembali.

Setiap kali kapal berlayar, pesawat lepas landas, atau kereta meninggalkan stasiun, ada doa tak terucap: semoga perjalanan ini bukan pelayaran terakhir.

Dan jika suatu hari ia menjadi yang terakhir, semoga ia dikenang seperti “A Salty Dog”, sebagai kisah keberanian di tengah badai, sebagai elegi bagi jiwa-jiwa yang setia pada perjalanan sampai akhir.

Antara Cakrawala dan Doa

Lagu ”A Salty Dog” menutup dengan rasa pasrah yang agung. Bukan kepasrahan yang lemah, melainkan kesadaran akan batas. Dalam konteks tragedi transportasi, kesadaran ini penting: bahwa teknologi harus disertai tanggung jawab, bahwa keberanian harus diimbangi kewaspadaan.

Namun lebih dari itu, lagu ini mengajarkan empati. Ia mengajak kita memandang korban bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai manusia dengan cerita, cinta, dan rumah yang menunggu.

Di negeri kepulauan seperti Indonesia, pelayaran tak akan pernah berhenti. Kereta akan terus melaju, pesawat akan terus terbang. Kita tak bisa menghentikan perjalanan, sebagaimana kita tak bisa menghentikan waktu. Tetapi kita bisa mengingat.

Dan dalam ingatan itu, setiap “Salty Dog” yang hilang di laut, di udara, atau di rel besi, tetap hidup sebagai bagian dari kisah kita bersama, kisah tentang keberanian, kehilangan, dan harapan yang selalu berlayar di antara cakrawala dan doa. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratProcol Harumulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Next Post

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

"Aji Pemalik Sumpah" dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co