20 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
June 20, 2026
in Cerpen
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa. Namun malam ini, saat menatap wajah kayu itu yang tergantung di dinding bale dangin rumah kami di Banjar Tegal Sari, aku melihat sesuatu yang berbeda. Rahangnya tampak bergemeletuk dalam diam, seperti menunggu sesuatu untuk dikunyah.

Bapak pernah menjadi penari Barong terbaik di banjar kami. Setidaknya itulah kisah yang selalu ia ceritakan sebelum aku tidur. Di masa mudanya, ia menari bukan untuk panggung hotel atau wisatawan yang sibuk mengangkat ponsel. Ia menari di halaman pura, di bawah cahaya obor, diiringi bau dupa dan suara gamelan yang menyatu dengan napas malam.

Sekarang, Bapak hanyalah lelaki tua yang duduk di pojok bale banjar dengan lutut yang sering gemetar. Rambutnya memutih seperti abu sisa pembakaran sesajen. Ia jarang berbicara panjang, kecuali saat menatap kostum Barong yang mulai rontok bulu-bulunya.

“Dunia sudah berubah, Wayan,” katanya suatu sore, saat aku sedang membersihkan gongseng di pergelangan kaki. Suaranya pelan, seperti suara kayu tua yang digesek angin. “Dulu kita menari untuk Tuhan. Sekarang kita menari untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu kapan harus diam.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk dan terus menggosok logam kecil itu sampai mengilap. Dalam diam, aku tahu apa yang ingin ia katakan. Di desa kami, sawah-sawah yang dulu luas kini menyempit seperti luka yang terus dipotong. Vila-vila berdiri di mana dulu anak-anak berlari mengejar capung. Jalan-jalan kecil berubah menjadi jalur kendaraan asing yang hilir mudik tanpa mengenal waktu.

Kami masih bertahan di rumah tua ini, di antara bangunan baru yang menjulang dengan kaca mengilap. Namun bertahan tidak selalu berarti hidup dengan tenang.

Suatu malam, kepala banjar datang membawa kabar. Ada hotel baru di tepi tebing, tidak jauh dari pantai. Mereka ingin pertunjukan Barong untuk peresmian lobi. Bayarannya cukup besar, katanya, cukup untuk membayar pajak tanah yang terus naik. Namun ada satu syarat. Durasi tarian harus dipersingkat menjadi sepuluh menit saja. Sepuluh menit.

Aku melihat wajah Bapak mengeras seperti batu yang disiram air dingin. Sepuluh menit bagi orang lain mungkin hanya waktu singkat untuk menunggu kopi dingin. Namun bagi Bapak, sepuluh menit adalah penghinaan terhadap sesuatu yang diwariskan turun-temurun.

“Mereka pikir ini tontonan sirkus,” gumamnya pelan setelah kepala banjar pergi. “Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan itu doa.”

Kami butuh uang. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah. Harga beras naik. Pajak tanah semakin mencekik. Beberapa tetangga kami sudah menjual tanah mereka dan pindah ke kota. Bapak tahu itu. Aku juga tahu. Maka pada akhirnya, keputusan itu diambil dengan diam.

Aku yang akan menari. Bapak akan duduk di barisan penabuh, memainkan kendang seperti dulu, meski tangannya sudah tidak sekuat dahulu.

Hari pertunjukan tiba lebih cepat dari yang kami harapkan.

Hotel itu berdiri megah di tepi tebing, seperti benteng yang memandang laut dari ketinggian. Lobi tempat kami akan menari berkilauan oleh lampu kristal yang menggantung seperti hujan cahaya. Lantai marmernya begitu licin hingga bayanganku sendiri tampak asing di permukaannya.

Aku mengenakan kostum Barong di ruang belakang yang sempit. Bau bulu domba yang lama tersimpan bercampur dengan aroma parfum mahal yang masuk dari luar. Ketika tapel kayu itu dipasang di wajahku, aku merasakan dinginnya menyentuh kulit. Beratnya menekan bahu dan leherku seperti beban yang telah menunggu lama.

Di balik tapel itu, aku tidak lagi sepenuhnya menjadi Wayan. Aku adalah tubuh yang meminjamkan diri pada sesuatu yang lebih tua dari usia siapa pun di ruangan itu.

Gamelan mulai dipukul. Namun iramanya terasa berbeda. Lebih cepat. Lebih terburu-buru. Seolah mengikuti jadwal yang tidak pernah peduli pada makna.

Aku mulai bergerak. Kaki menghentak lantai marmer yang dingin. Gongseng di pergelangan kakiku berbunyi nyaring, tetapi suaranya terasa asing di tengah denting gelas dan percakapan para tamu.

Aku melihat mereka dari balik lubang mata tapel. Beberapa menonton dengan setengah hati. Sebagian sibuk berbicara. Ada yang tertawa keras tanpa melihat ke arahku. Lalu aku melihat seorang pria di barisan depan. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna terang. Di tangannya, gelas minuman berkilau di bawah lampu. Ia berdiri membelakangiku, mengangkat ponsel untuk berswafoto, seolah aku hanyalah latar belakang yang bisa dihapus kapan saja.

Di saat itulah sesuatu di dalam diriku terasa retak. Tapel kayu di wajahku mendadak terasa hangat. Lalu panas. Gerakanku berubah. Aku tidak lagi mengikuti pola yang diajarkan sejak kecil. Kakiku menghentak lebih keras. Bahuku menabrak udara dengan tenaga yang tidak biasa. Ekor Barong menyapu meja kecil hingga gelas-gelas di atasnya bergemerincing.

Para tamu tertawa, mengira ini bagian dari pertunjukan. Namun aku tahu ini bukan lagi tarian biasa. Aku melompat ke depan. Rahang Barong bergemeletuk keras, lebih cepat dari gerakan tanganku sendiri. Suara itu memecah kebisingan ruangan. Aku melihat pria berkemeja sutra itu menoleh dengan wajah kaget.

Aku mendekatinya. Selangkah demi selangkah. Ia mundur, masih memegang ponsel di tangannya. Matanya membelalak, tidak lagi terlihat santai seperti sebelumnya. Aku berhenti tepat di depannya. Rahang kayu itu bergerak di dekat wajahnya, cukup dekat hingga ia bisa merasakan napas dari balik tapel. Ia jatuh terduduk. Gelas di tangannya pecah, menumpahkan cairan dingin ke lantai marmer yang mahal.

Di saat itulah, aku merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kemarahan semata, melainkan kepuasan yang getir. Seperti rasa haus yang akhirnya menemukan air, meski air itu terasa pahit.

Suara gaduh mulai terdengar. Petugas keamanan berlari mendekat. Mereka mencoba menarik tubuh Barong dariku. Namun kostum itu terasa melekat di kulitku.

Aku mendengar suara kendang dari arah belakang. Suara Bapak. Pelan. Dalam. Berat. Pukulan itu tidak cepat, tidak tergesa. Ia seperti memanggilku pulang dari tempat yang jauh.

Satu pukulan.

Dua pukulan.

Tiga pukulan.

Ritme itu merambat masuk ke dalam dadaku. Panas di wajahku perlahan mereda. Nafasku kembali terasa berat, seperti setelah berlari jauh.

Aku jatuh berlutut di lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Ketika tapel itu dilepaskan dari wajahku, cahaya lampu terasa menyilaukan. Aku melihat lobi itu dalam keadaan kacau. Kursi bergeser, meja terbalik, dan beberapa tamu berdiri dengan wajah pucat.

Bapak datang menghampiriku. Ia tidak memarahi. Ia tidak berkata apa-apa selain satu kalimat pelan. “Sudah cukup, Wayan.”

Malam itu kami diusir tanpa bayaran. Bahkan manajer hotel mengancam akan menuntut kami atas kerusakan yang terjadi. Kami berjalan pulang dalam diam. Jalan aspal masih menyimpan panas siang. Langit mulai memucat menjelang fajar. Di pundakku, kostum Barong terasa lebih berat dari sebelumnya.

Sesampainya di rumah, Bapak menggantung kembali tapel itu di tempatnya. Aku duduk di lantai, menatap wajah kayu itu. Anehnya, wajah Barong itu tampak berbeda. Rahangnya tidak lagi terlihat lapar. Matanya terasa lebih tenang, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas panjang.

Bapak duduk di sampingku. “Kau tahu kenapa Barong itu tidak pernah benar-benar lapar?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng.

“Karena ia hanya memakan kesombongan.”

Aku menatap wajahnya.

Pagi mulai masuk melalui celah-celah dinding bambu. Cahaya tipis menyentuh tapel kayu itu, membuatnya tampak hidup dalam diam.

Kami mungkin kehilangan uang malam itu. Kami mungkin akan kesulitan membayar pajak bulan depan. Namun di antara pecahan marmer dan ancaman orang-orang kota, ada sesuatu yang kembali kepada kami.

Martabat.

Sebab di tanah ini, Barong bukan sekadar tontonan. Ia adalah ingatan. Ia adalah doa yang bergerak melalui tubuh manusia.

Dan selama masih ada orang yang berani memakainya dengan hati yang jernih, Barong tidak akan pernah menjadi pelayan bagi kesombongan manusia. Ia akan selalu menjadi penjaga yang setia, yang hanya bangkit ketika harga diri hampir dilupakan.

Dan pada malam itu, di bawah lampu kristal yang dingin, Barong tidak memakan manusia. Ia memakan kesombongan yang terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa rasa hormat. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Next Post

KLAKSON

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails
Next Post
KLAKSON

KLAKSON

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

KLAKSON
Esai

KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

by Hartanto
June 20, 2026
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

by Chusmeru
June 20, 2026
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan
Ulas Pentas

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya
Panggung

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik
Esai

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali
Khas

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan
Panggung

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali
Bahasa

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

by I Made Sudiana
June 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co