DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa. Namun malam ini, saat menatap wajah kayu itu yang tergantung di dinding bale dangin rumah kami di Banjar Tegal Sari, aku melihat sesuatu yang berbeda. Rahangnya tampak bergemeletuk dalam diam, seperti menunggu sesuatu untuk dikunyah.
Bapak pernah menjadi penari Barong terbaik di banjar kami. Setidaknya itulah kisah yang selalu ia ceritakan sebelum aku tidur. Di masa mudanya, ia menari bukan untuk panggung hotel atau wisatawan yang sibuk mengangkat ponsel. Ia menari di halaman pura, di bawah cahaya obor, diiringi bau dupa dan suara gamelan yang menyatu dengan napas malam.
Sekarang, Bapak hanyalah lelaki tua yang duduk di pojok bale banjar dengan lutut yang sering gemetar. Rambutnya memutih seperti abu sisa pembakaran sesajen. Ia jarang berbicara panjang, kecuali saat menatap kostum Barong yang mulai rontok bulu-bulunya.
“Dunia sudah berubah, Wayan,” katanya suatu sore, saat aku sedang membersihkan gongseng di pergelangan kaki. Suaranya pelan, seperti suara kayu tua yang digesek angin. “Dulu kita menari untuk Tuhan. Sekarang kita menari untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu kapan harus diam.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk dan terus menggosok logam kecil itu sampai mengilap. Dalam diam, aku tahu apa yang ingin ia katakan. Di desa kami, sawah-sawah yang dulu luas kini menyempit seperti luka yang terus dipotong. Vila-vila berdiri di mana dulu anak-anak berlari mengejar capung. Jalan-jalan kecil berubah menjadi jalur kendaraan asing yang hilir mudik tanpa mengenal waktu.
Kami masih bertahan di rumah tua ini, di antara bangunan baru yang menjulang dengan kaca mengilap. Namun bertahan tidak selalu berarti hidup dengan tenang.
Suatu malam, kepala banjar datang membawa kabar. Ada hotel baru di tepi tebing, tidak jauh dari pantai. Mereka ingin pertunjukan Barong untuk peresmian lobi. Bayarannya cukup besar, katanya, cukup untuk membayar pajak tanah yang terus naik. Namun ada satu syarat. Durasi tarian harus dipersingkat menjadi sepuluh menit saja. Sepuluh menit.
Aku melihat wajah Bapak mengeras seperti batu yang disiram air dingin. Sepuluh menit bagi orang lain mungkin hanya waktu singkat untuk menunggu kopi dingin. Namun bagi Bapak, sepuluh menit adalah penghinaan terhadap sesuatu yang diwariskan turun-temurun.
“Mereka pikir ini tontonan sirkus,” gumamnya pelan setelah kepala banjar pergi. “Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan itu doa.”
Kami butuh uang. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah. Harga beras naik. Pajak tanah semakin mencekik. Beberapa tetangga kami sudah menjual tanah mereka dan pindah ke kota. Bapak tahu itu. Aku juga tahu. Maka pada akhirnya, keputusan itu diambil dengan diam.
Aku yang akan menari. Bapak akan duduk di barisan penabuh, memainkan kendang seperti dulu, meski tangannya sudah tidak sekuat dahulu.
Hari pertunjukan tiba lebih cepat dari yang kami harapkan.
Hotel itu berdiri megah di tepi tebing, seperti benteng yang memandang laut dari ketinggian. Lobi tempat kami akan menari berkilauan oleh lampu kristal yang menggantung seperti hujan cahaya. Lantai marmernya begitu licin hingga bayanganku sendiri tampak asing di permukaannya.
Aku mengenakan kostum Barong di ruang belakang yang sempit. Bau bulu domba yang lama tersimpan bercampur dengan aroma parfum mahal yang masuk dari luar. Ketika tapel kayu itu dipasang di wajahku, aku merasakan dinginnya menyentuh kulit. Beratnya menekan bahu dan leherku seperti beban yang telah menunggu lama.
Di balik tapel itu, aku tidak lagi sepenuhnya menjadi Wayan. Aku adalah tubuh yang meminjamkan diri pada sesuatu yang lebih tua dari usia siapa pun di ruangan itu.
Gamelan mulai dipukul. Namun iramanya terasa berbeda. Lebih cepat. Lebih terburu-buru. Seolah mengikuti jadwal yang tidak pernah peduli pada makna.
Aku mulai bergerak. Kaki menghentak lantai marmer yang dingin. Gongseng di pergelangan kakiku berbunyi nyaring, tetapi suaranya terasa asing di tengah denting gelas dan percakapan para tamu.
Aku melihat mereka dari balik lubang mata tapel. Beberapa menonton dengan setengah hati. Sebagian sibuk berbicara. Ada yang tertawa keras tanpa melihat ke arahku. Lalu aku melihat seorang pria di barisan depan. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna terang. Di tangannya, gelas minuman berkilau di bawah lampu. Ia berdiri membelakangiku, mengangkat ponsel untuk berswafoto, seolah aku hanyalah latar belakang yang bisa dihapus kapan saja.
Di saat itulah sesuatu di dalam diriku terasa retak. Tapel kayu di wajahku mendadak terasa hangat. Lalu panas. Gerakanku berubah. Aku tidak lagi mengikuti pola yang diajarkan sejak kecil. Kakiku menghentak lebih keras. Bahuku menabrak udara dengan tenaga yang tidak biasa. Ekor Barong menyapu meja kecil hingga gelas-gelas di atasnya bergemerincing.
Para tamu tertawa, mengira ini bagian dari pertunjukan. Namun aku tahu ini bukan lagi tarian biasa. Aku melompat ke depan. Rahang Barong bergemeletuk keras, lebih cepat dari gerakan tanganku sendiri. Suara itu memecah kebisingan ruangan. Aku melihat pria berkemeja sutra itu menoleh dengan wajah kaget.
Aku mendekatinya. Selangkah demi selangkah. Ia mundur, masih memegang ponsel di tangannya. Matanya membelalak, tidak lagi terlihat santai seperti sebelumnya. Aku berhenti tepat di depannya. Rahang kayu itu bergerak di dekat wajahnya, cukup dekat hingga ia bisa merasakan napas dari balik tapel. Ia jatuh terduduk. Gelas di tangannya pecah, menumpahkan cairan dingin ke lantai marmer yang mahal.
Di saat itulah, aku merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kemarahan semata, melainkan kepuasan yang getir. Seperti rasa haus yang akhirnya menemukan air, meski air itu terasa pahit.
Suara gaduh mulai terdengar. Petugas keamanan berlari mendekat. Mereka mencoba menarik tubuh Barong dariku. Namun kostum itu terasa melekat di kulitku.
Aku mendengar suara kendang dari arah belakang. Suara Bapak. Pelan. Dalam. Berat. Pukulan itu tidak cepat, tidak tergesa. Ia seperti memanggilku pulang dari tempat yang jauh.
Satu pukulan.
Dua pukulan.
Tiga pukulan.
Ritme itu merambat masuk ke dalam dadaku. Panas di wajahku perlahan mereda. Nafasku kembali terasa berat, seperti setelah berlari jauh.
Aku jatuh berlutut di lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Ketika tapel itu dilepaskan dari wajahku, cahaya lampu terasa menyilaukan. Aku melihat lobi itu dalam keadaan kacau. Kursi bergeser, meja terbalik, dan beberapa tamu berdiri dengan wajah pucat.
Bapak datang menghampiriku. Ia tidak memarahi. Ia tidak berkata apa-apa selain satu kalimat pelan. “Sudah cukup, Wayan.”
Malam itu kami diusir tanpa bayaran. Bahkan manajer hotel mengancam akan menuntut kami atas kerusakan yang terjadi. Kami berjalan pulang dalam diam. Jalan aspal masih menyimpan panas siang. Langit mulai memucat menjelang fajar. Di pundakku, kostum Barong terasa lebih berat dari sebelumnya.
Sesampainya di rumah, Bapak menggantung kembali tapel itu di tempatnya. Aku duduk di lantai, menatap wajah kayu itu. Anehnya, wajah Barong itu tampak berbeda. Rahangnya tidak lagi terlihat lapar. Matanya terasa lebih tenang, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas panjang.
Bapak duduk di sampingku. “Kau tahu kenapa Barong itu tidak pernah benar-benar lapar?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng.
“Karena ia hanya memakan kesombongan.”
Aku menatap wajahnya.
Pagi mulai masuk melalui celah-celah dinding bambu. Cahaya tipis menyentuh tapel kayu itu, membuatnya tampak hidup dalam diam.
Kami mungkin kehilangan uang malam itu. Kami mungkin akan kesulitan membayar pajak bulan depan. Namun di antara pecahan marmer dan ancaman orang-orang kota, ada sesuatu yang kembali kepada kami.
Martabat.
Sebab di tanah ini, Barong bukan sekadar tontonan. Ia adalah ingatan. Ia adalah doa yang bergerak melalui tubuh manusia.
Dan selama masih ada orang yang berani memakainya dengan hati yang jernih, Barong tidak akan pernah menjadi pelayan bagi kesombongan manusia. Ia akan selalu menjadi penjaga yang setia, yang hanya bangkit ketika harga diri hampir dilupakan.
Dan pada malam itu, di bawah lampu kristal yang dingin, Barong tidak memakan manusia. Ia memakan kesombongan yang terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa rasa hormat. [T]
Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole






























