19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

Mahesa Putra by Mahesa Putra
June 18, 2026
in Ulas Rupa
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepat pembukaan Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, hujan jatuh pelan-pelan namun konsisten—hingga menjelang pameran yang akan berlangsung jam satu siang ini. Langit seakan tidak bernegosiasi; menariknya, justru langit seakan mengaminkan puisi dari Irvan Bisri yang berjudul “Kepada Rerintik Hujan”, puisi terpilih yang mendampingi salah satu gambar Ferdi untuk dipamerkan.

Menjelang jam satu siang, beberapa orang datang dengan baju lembab, seakan habis diguyur menggunakan shower. Sialnya, narator yang akan memandu jalannya diskusi di minggu pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” tak kunjung datang. Pikiranku merantau jauh ke belakang, mengingat satu film yang bergesekan dengan seni rupa yaitu Mencuri Raden Saleh. Aku curiga Asmaran Dani menjual gambar-gambar Ferdi di cafe-cafe sepanjang jalan ia menuju Roemah Tumbuh Kembang, tempat berlangsungnya pameran. Bukan tanpa sebab, tepat dua hari sebelumnya pertamax naik, sementara pameran mesti berjalan dengan lancar.

Pesanku lambat dibalas oleh Asmaran Dani, tentu menanyakan tujuh gambar asli yang dibawanya dan gambar replika untuk di-display ruang indoor Roemah Tumbuh Kembang yang telah siap sejak pagi tadi. Lampu sorot di ruangan hanya menyorot dinding kosong; selain dinding kosong, yang paling menonjol adalah cat yang luntur akibat hujan yang tak pernah absen membasahi bagian dinding itu, seakan puisi di baris terakhir Irvan Bisri telah terukir di dinding kosong;

digugurkan dan di lain waktu dari tanah
(penghujan) itu; benih-benih rindu
kembali dibangkitkan.

Dengan tiga baris puisi terakhir Irvan Bisri, kekhawatiran akan Asmaran Dani yang tak kunjung datang terobati. Seakan puisi Irvan menjadi pesan kecil yang menumbuh di dinding; bahwa di balik tanah penghujan itu, benih-benih rindu kembali dibangkitkan. Dalam beberapa typography puisi Irvan, ia menggunakan tanda kurung pada puisinya “Kepada Rerintik Hujan”, seakan mempertegas beberapa makna yang hendak disampaikannya. Kata (penghujan) dan setelah itu ia membubuhkan tanda (;); meyakinkan sekali lagi bahwa benih-benih rindu kembali dibangkitkan.

Benar saja, Asmaran Dani membalas pesanku dengan emoticon tertawa. Pesanku yang mengaitkan keterlambatannya seperti di film Mencuri Raden Saleh. Setelah menertawai pesan itu, kabarnya ia menerobos gerimis, dibungkusnya menggunakan map plastik ketujuh gambar itu. Meski jam pameran telah tergelincir jatuh, seolah pengunjung lainnya pun menerobos banjir yang menggenang beberapa titik vital di jalan Kota Palembang.

Setelah datang, Asmaran Dani membawa dua kabar dengan senyum kecilnya.

Pesan Pertama: Bahwa, sebelum datang ke Roemah Tumbuh Kembang ia mengunjungi kediaman Ferdi yang gambarnya dipamerkan untuk menjemputnya. Namun, Ferdi menitip pesan dengan adiknya bahwa ia sedang menanam pisang di Pulo Kerto, sebuah kelurahan di penghujung Kota Palembang. Ferdi menghaturkan terima kasih dan maaf tidak bisa hadir untuk diskusi minggu pertama ini. Namun ini tidak mengejutkan, mengingat Ferdian Semai sejak 2017 mendekatkan hidupnya dengan alam. Meski sejak tahun 90-an ia aktif berkegiatan dengan Teater Potlot sebagai arsitek artistik; Teater Potlot mengusung tema-tema ekologi pada panggung pertunjukannya, seperti lakon “Rawa Gambut”, “Pindang”, dan “Puyang”.

 Pada 2018, lakon “Rawa Gambut” yang ditulis oleh Conie Sema mendapat anugerah Rawayan Award 2017 dari Dewan Kesenian Jakarta. Ini menunjukkan Ferdi tidak langsung mengalami perubahan mendadak dalam hidupnya; dekat dengan alam sudah terjadi tiga dekade lalu melalui teks-teks Teater Potlot.

Menariknya, Ferdi tidak ingin fotonya dipajang, apalagi ia berada di tempat terang dan panggung tinggi. Menurut Asmaran Dani, Ferdi tidak ingin ia sebagai seniman yang diasuh dan disusui; cukuplah karyanya saja yang diasuh dan disusui. Ia terus merawat kebunnya, menanam pisang dan sayur. Meski karyanya hari ini dibahas dan dipamerkan, cukuplah karyanya saja, tutupnya.

Pesan kedua, datang dari Irvan Bisri, seorang penyair yang karyanya menjadi tema diskusi pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”; ia sedang dirawat di rumah sakit. Pesan ini sontak saja membuat tersentuh. Karena, Irvan meluangkan waktunya untuk mengirimkan puisinya kepada Opus Sastra. Sejak awal, Opus Sastra membuka Open Submission untuk para penyair di mana pun berada agar terlibat dalam merespons gambar-gambar Ferdi. Menariknya, Opus Sastra dapat dijangkau oleh penyair-penyair dari luar Palembang; bahkan beberapa penyair yang mengirim karya berasal dari Pulau Jawa, termasuk Irvan Bisri.

Namun, dua pesan Asmaran Dani tadi belumlah cukup rasanya jika kita menelisik keseluruhan peristiwa pada Pameran Dialog Ferdi dan Opus Sastra. Sebab, ada banyak peristiwa pada diskusi di minggu pertama ini.

Salah satu penulis yang akan mengemban tugas menulis kegiatan pameran ini sebenarnya adalah Salman Alfarisy, bukan saya. Namun, ada peristiwa yang rasanya lebih penting. Adiknya di kampung halaman ingin daftar sekolah; alhasil penulis yang seharusnya menulis rangkuman pameran ini meninggalkan Kota Palembang tepat H-1 kegiatan ini berlangsung.

Tapi ini tidak jadi soal. Sebab masih banyak penulis yang dapat merangkum tulisan setelah pameran, jika ia benar-benar hadir dan khusyuk sejak awal. Menjadi titik permasalahan adalah ketika pameran akan segera berlangsung, hanya ada beberapa orang yang setia menunggu hingga hujan reda dan berdoa para pengunjung dan narator segera datang.

Salah satu pengunjung pameran yang setia sejak sebelum jam dimulai adalah Eko Saputra, seorang mahasiswa filsafat. Jam-jam telah berganti, dari angka satu ke lainnya. Tapi ia tetap setia, duduk dan membaca buku untuk membakar waktu. Benar saja, tidak hanya menempatkan diri sebagai pengunjung, Eko dengan sigap membantu Asmaran Dani ketika Dani baru datang dengan senyum tipisnya. Terlontar sebuah celetukan spontan dariku saat itu, “Ko, kamu ini seperti ibu.” Lalu, aku melanjutkan, “Merawat dan mengasuh, dan itu tidak dimiliki oleh kolektif hari ini. Dan orang seperti kamu yang memiliki sisi ibu, penting sekali untuk keberlangsungan kesenian dan budaya. Bukan merawat seniman, tapi merawat karya yang dibuat oleh seniman itu.”

Eko tersenyum saja, dan tangannya khusyuk membingkai replika gambar-gambar Ferdi yang hendak di-display.

Setelah semuanya selesai terpajang, sesi diskusi dibuka. Menjadi catatan penting adalah ketika penulis yang karyanya juga terpampang pada empat puisi terpilih menemani gambar Ferdi, juga telat dengan badan tidak basah sekalipun. Semua heran, dan alasan satu lainnya sama: hujan. Suasana diskusi pecah ketika sebuah lontaran menggelincir di lidahku, “Baru hujan air kita sudah begini, apalagi hujan peluru.” Semua tertawa, dan beberapa pengunjung memasang muka serius seperti tamparan atas keterlambatan mereka.

Menariknya, ini menjadi bahan bakar diskusi. Semua terpantik, termasuk pengunjung. Dialog terjadi begitu dekat; bahkan Asmaran Dani sebagai kurator saat itu membebaskan tafsir yang keluar dari imajinasi dan mulut siapa pun. Tidak ada yang jadi juru hakim; ia bersemayam di sana sejak diskusi berlangsung. Semuanya membebaskan pembicaraan; dari mengaitkan film, Pancasila, sosial, lingkungan, dan kartun.

Sampai diskusi berakhir, ditutup dengan muka cemas, semringah, ada juga yang termenung. Tidak ada yang pulang langsung ke rumah; pengunjung menempati tempat duduk dan melanjutkan diskusi, berdebat, dan termenung memilih sudut gelap di Roemah Tumbuh Kembang. [T]

Palembang, 16 Juni 2026.

Tags: PalembangPameran Seni RupaPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Next Post

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
(Bukan) Demokrasi Kita

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa "Indonesia Bangkrut"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co