SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepat pembukaan Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, hujan jatuh pelan-pelan namun konsisten—hingga menjelang pameran yang akan berlangsung jam satu siang ini. Langit seakan tidak bernegosiasi; menariknya, justru langit seakan mengaminkan puisi dari Irvan Bisri yang berjudul “Kepada Rerintik Hujan”, puisi terpilih yang mendampingi salah satu gambar Ferdi untuk dipamerkan.

Menjelang jam satu siang, beberapa orang datang dengan baju lembab, seakan habis diguyur menggunakan shower. Sialnya, narator yang akan memandu jalannya diskusi di minggu pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” tak kunjung datang. Pikiranku merantau jauh ke belakang, mengingat satu film yang bergesekan dengan seni rupa yaitu Mencuri Raden Saleh. Aku curiga Asmaran Dani menjual gambar-gambar Ferdi di cafe-cafe sepanjang jalan ia menuju Roemah Tumbuh Kembang, tempat berlangsungnya pameran. Bukan tanpa sebab, tepat dua hari sebelumnya pertamax naik, sementara pameran mesti berjalan dengan lancar.
Pesanku lambat dibalas oleh Asmaran Dani, tentu menanyakan tujuh gambar asli yang dibawanya dan gambar replika untuk di-display ruang indoor Roemah Tumbuh Kembang yang telah siap sejak pagi tadi. Lampu sorot di ruangan hanya menyorot dinding kosong; selain dinding kosong, yang paling menonjol adalah cat yang luntur akibat hujan yang tak pernah absen membasahi bagian dinding itu, seakan puisi di baris terakhir Irvan Bisri telah terukir di dinding kosong;
digugurkan dan di lain waktu dari tanah
(penghujan) itu; benih-benih rindu
kembali dibangkitkan.
Dengan tiga baris puisi terakhir Irvan Bisri, kekhawatiran akan Asmaran Dani yang tak kunjung datang terobati. Seakan puisi Irvan menjadi pesan kecil yang menumbuh di dinding; bahwa di balik tanah penghujan itu, benih-benih rindu kembali dibangkitkan. Dalam beberapa typography puisi Irvan, ia menggunakan tanda kurung pada puisinya “Kepada Rerintik Hujan”, seakan mempertegas beberapa makna yang hendak disampaikannya. Kata (penghujan) dan setelah itu ia membubuhkan tanda (;); meyakinkan sekali lagi bahwa benih-benih rindu kembali dibangkitkan.

Benar saja, Asmaran Dani membalas pesanku dengan emoticon tertawa. Pesanku yang mengaitkan keterlambatannya seperti di film Mencuri Raden Saleh. Setelah menertawai pesan itu, kabarnya ia menerobos gerimis, dibungkusnya menggunakan map plastik ketujuh gambar itu. Meski jam pameran telah tergelincir jatuh, seolah pengunjung lainnya pun menerobos banjir yang menggenang beberapa titik vital di jalan Kota Palembang.
Setelah datang, Asmaran Dani membawa dua kabar dengan senyum kecilnya.
Pesan Pertama: Bahwa, sebelum datang ke Roemah Tumbuh Kembang ia mengunjungi kediaman Ferdi yang gambarnya dipamerkan untuk menjemputnya. Namun, Ferdi menitip pesan dengan adiknya bahwa ia sedang menanam pisang di Pulo Kerto, sebuah kelurahan di penghujung Kota Palembang. Ferdi menghaturkan terima kasih dan maaf tidak bisa hadir untuk diskusi minggu pertama ini. Namun ini tidak mengejutkan, mengingat Ferdian Semai sejak 2017 mendekatkan hidupnya dengan alam. Meski sejak tahun 90-an ia aktif berkegiatan dengan Teater Potlot sebagai arsitek artistik; Teater Potlot mengusung tema-tema ekologi pada panggung pertunjukannya, seperti lakon “Rawa Gambut”, “Pindang”, dan “Puyang”.
Pada 2018, lakon “Rawa Gambut” yang ditulis oleh Conie Sema mendapat anugerah Rawayan Award 2017 dari Dewan Kesenian Jakarta. Ini menunjukkan Ferdi tidak langsung mengalami perubahan mendadak dalam hidupnya; dekat dengan alam sudah terjadi tiga dekade lalu melalui teks-teks Teater Potlot.
Menariknya, Ferdi tidak ingin fotonya dipajang, apalagi ia berada di tempat terang dan panggung tinggi. Menurut Asmaran Dani, Ferdi tidak ingin ia sebagai seniman yang diasuh dan disusui; cukuplah karyanya saja yang diasuh dan disusui. Ia terus merawat kebunnya, menanam pisang dan sayur. Meski karyanya hari ini dibahas dan dipamerkan, cukuplah karyanya saja, tutupnya.

Pesan kedua, datang dari Irvan Bisri, seorang penyair yang karyanya menjadi tema diskusi pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”; ia sedang dirawat di rumah sakit. Pesan ini sontak saja membuat tersentuh. Karena, Irvan meluangkan waktunya untuk mengirimkan puisinya kepada Opus Sastra. Sejak awal, Opus Sastra membuka Open Submission untuk para penyair di mana pun berada agar terlibat dalam merespons gambar-gambar Ferdi. Menariknya, Opus Sastra dapat dijangkau oleh penyair-penyair dari luar Palembang; bahkan beberapa penyair yang mengirim karya berasal dari Pulau Jawa, termasuk Irvan Bisri.
Namun, dua pesan Asmaran Dani tadi belumlah cukup rasanya jika kita menelisik keseluruhan peristiwa pada Pameran Dialog Ferdi dan Opus Sastra. Sebab, ada banyak peristiwa pada diskusi di minggu pertama ini.
Salah satu penulis yang akan mengemban tugas menulis kegiatan pameran ini sebenarnya adalah Salman Alfarisy, bukan saya. Namun, ada peristiwa yang rasanya lebih penting. Adiknya di kampung halaman ingin daftar sekolah; alhasil penulis yang seharusnya menulis rangkuman pameran ini meninggalkan Kota Palembang tepat H-1 kegiatan ini berlangsung.
Tapi ini tidak jadi soal. Sebab masih banyak penulis yang dapat merangkum tulisan setelah pameran, jika ia benar-benar hadir dan khusyuk sejak awal. Menjadi titik permasalahan adalah ketika pameran akan segera berlangsung, hanya ada beberapa orang yang setia menunggu hingga hujan reda dan berdoa para pengunjung dan narator segera datang.
Salah satu pengunjung pameran yang setia sejak sebelum jam dimulai adalah Eko Saputra, seorang mahasiswa filsafat. Jam-jam telah berganti, dari angka satu ke lainnya. Tapi ia tetap setia, duduk dan membaca buku untuk membakar waktu. Benar saja, tidak hanya menempatkan diri sebagai pengunjung, Eko dengan sigap membantu Asmaran Dani ketika Dani baru datang dengan senyum tipisnya. Terlontar sebuah celetukan spontan dariku saat itu, “Ko, kamu ini seperti ibu.” Lalu, aku melanjutkan, “Merawat dan mengasuh, dan itu tidak dimiliki oleh kolektif hari ini. Dan orang seperti kamu yang memiliki sisi ibu, penting sekali untuk keberlangsungan kesenian dan budaya. Bukan merawat seniman, tapi merawat karya yang dibuat oleh seniman itu.”
Eko tersenyum saja, dan tangannya khusyuk membingkai replika gambar-gambar Ferdi yang hendak di-display.

Setelah semuanya selesai terpajang, sesi diskusi dibuka. Menjadi catatan penting adalah ketika penulis yang karyanya juga terpampang pada empat puisi terpilih menemani gambar Ferdi, juga telat dengan badan tidak basah sekalipun. Semua heran, dan alasan satu lainnya sama: hujan. Suasana diskusi pecah ketika sebuah lontaran menggelincir di lidahku, “Baru hujan air kita sudah begini, apalagi hujan peluru.” Semua tertawa, dan beberapa pengunjung memasang muka serius seperti tamparan atas keterlambatan mereka.
Menariknya, ini menjadi bahan bakar diskusi. Semua terpantik, termasuk pengunjung. Dialog terjadi begitu dekat; bahkan Asmaran Dani sebagai kurator saat itu membebaskan tafsir yang keluar dari imajinasi dan mulut siapa pun. Tidak ada yang jadi juru hakim; ia bersemayam di sana sejak diskusi berlangsung. Semuanya membebaskan pembicaraan; dari mengaitkan film, Pancasila, sosial, lingkungan, dan kartun.
Sampai diskusi berakhir, ditutup dengan muka cemas, semringah, ada juga yang termenung. Tidak ada yang pulang langsung ke rumah; pengunjung menempati tempat duduk dan melanjutkan diskusi, berdebat, dan termenung memilih sudut gelap di Roemah Tumbuh Kembang. [T]
Palembang, 16 Juni 2026.






























