JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lahirnya Pancasila itu judul pidatonya. Empat puluh empat tahun sebelumnya, tetapnya 6 Juni 1901, Kusno lahir. Kelak Kusno dikenal dengan nama Soekarno. Zaman Pergerakan, orang lebih suka menyebut Bung Karno. Enam puluh Sembilan tahun setelah kelahirannya, tepatnya 21 Juni 1970, Bung Karno wafat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta dan dimakamkan di Blitar Jawa Timur. Begitulah 3 hari bersejarah selama bulan Juni bagi Bung Karno.
Bung Karno adalah teladan semangat juang di mata orang Bali dan Indonesia pada umumnya. Bahkan sesaat setelah wafat, orang Bali “menyaksikan” Bung Karno di bulan. Begitulah orang Bali yang merasa dekat dengan sang pemimpin. Seperti syair lagu Bungan Jepun dari D. Antoni yang menjadi lagu maskot Badung, “…sarinyane neket di bunga, cihna manggala raket ring rakyate..” (manunggalnya rakyat dengan pemimpin). Hubungan kedekatan itu terasa benar pada 1970-an bagi masyarakat Bali ketika kabar wafatnya Bung Karno beredar melalui siaran radio.
Soal Bung Karno ketika berpidato di Alun-alun Denpasar, I Meme pangalu dagang uyah punya cerita menarik. “Meme buta huruf. Baat nyuun uyah. Majalan joh lantas mareren di alun-alun. Ningehang Soekarno mapidarto.” I Meme tersentuh dengan kata-kata Bung Karno. Bung Karno memang menyentuh rakyat kecil pun menggugah orang besar. Tidak tanggung-tanggung sampai dunia mengagumi. Presiden Mesir Gamal Abdul Naser mengatakan, “Saya murid ideologinya Soekarno.”
Kisah Marhein adalah kisah perjumpaan Bung Karno dengan petani miskin serba kekurangan pada 2023 di daerah Cigelereng, Bandung Selatan. Saat itu Si Bung berusia 22 tahun. Dalam usia belia Si Bung berdialog dengan petani yang minim peralatan tetapi tetap eksis melakoni hidup tak mengenal lelah dan keluh kesah. Dari perjumpaan inilah lahir ideologi Marheinisme dengan fokus perjuangan pada wong cilik. Tidak berlebihan bila Soekarno sampai pada rumusan, “Tuhan bersemayam di gubuk si miskin”.
Si miskin adalah mereka yang petani minim lahan, minim peralatan, minim ilmu, minim akses. Pokoknya minim segalanya. Paling mudah tergeser dan tergusur. Namun, merekalah yang paling takut tetapi paling taat. Ia takut pada Tuhan. Taat berbakti kepada-Nya, selalu hormat pada junjungannya, termasuk kepada pemerintah dengan segala kewenangannya. Ia takut menunggak pajak. “Orang bijak taat bayar pajak”, cocok bagi Si Marhein.
Perjumpaan antara Si Marhein dengan Bung Karno ibarat pertemuan murid dengan guru. Bagi Bung Karno, ia sedang berguru pada si murid dengan segala keterbatasan. Tugas guru adalah mengangkat muridnya mengatasi persoalan belajar agar nilai-nilai kemanusiaannya meningkat. Bukan malah menggenjetnya hingga tertatih-tatih jalannya. Luka batinnya. Kelaparan hidupnya. Tidak! Bung Karno tidak demikian.
Ada dua puisi yang menunjukkan alasannya Bung Karno berpihak pada rakyat kecil. Puisi pertama berjudul, “Kami Bukan Bangsa yang Pandir” dan puisi berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon”. Dalam puisi “Kami Bukan Bangsa yang Pandir”, Bung Karno menegaskan :
Aku ingin menyampaikan kepada dunia
Bahwa kami bukan “bangsa yang pandir’
Seperti orang Belanda berulang-ulang
Menagatakan kepada kami
Bahwa kami bukan lagi
Inlander goblok yang hanya baik untuk diludahi
Seperti Belanda mengatakan kepada kami
berkali-kali
Bung Karno bukanlah politikus salon yang mendandani rakyatnya dengan janji palsu. Puisinya berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” menegaskan :
Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata
Jika tidak terjun di kalangan mereka
Mendengarkan kehendak-kehendak mereka
Menyadarkan mereka akan diri sendiri
Dari kutipan dua puisi di atas, Bung Karno bukan hanya ingin memerdekakan rakyatnya dari kaum penjajah, melainkan juga menunjukkan kepada dunia untuk membebaskan mereka dari kebodohan dan kemiskinan. Projek mercusuarnya pun diterakan dalam alinea ke-4 UUD 1945 khususnya tujuan bernegara : mencerdaskan kehidupan bangsa Dan itu perlu terus-menerus diperjuangkan, saudara-saudara. “Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah daripada perjuanganmu setelah merdeka. Karena yang kauhadapi adalah bangsamu sendiri”, kata Bung Karno. Zaman kemerdekaan kini, kita berhadapan dengan tantangan internal : egosektoral, korupsi, kolusi, nepotisme, degradasi moral, dan hoaks.
Selain itu, pemimpin mesti terus-menerus mendengarkan suara rakyat untuk dicarikan saluran yang baik tanpa sumbatan. Suara rakyat ibarat aliran air yang jernih tanpa sumbatan menuju Samudera Indonesia Raya. Tugas pemimpin mewadahi dengan pendekatan cinta yang dalam Bahasa Inggris disebut love (listen, observer,value, emphaty). Seorang pemimpin perlu memiliki telinga yang baik (Soekarno) untuk mendengarkan keluhan rakyatnya. Ia juga perlu terus-menerus merakyat melakukan observasi terhadap keberadaan lingkungannya. Pemimpin juga dituntut selalu menghargai dan memastikan nilai (value) kebangsaan dan kenegaraan berjalan sealir dan sealur sesuai dengan semangat yang dicita-citakan bersama. Pemimpin juga seyogyanya peka dan tersentuh atas persoalan yang dialami rakyatnya. Membangun emphaty di tengah situasi yang tidak menentu. Menghindari keselio lidah dalam merespon masukan dan keluhan sehingga tidak menambah kegaduhan. Kegaduhan berpeluang menambah persoalan baru yang beranak pinak.
Demikianlah pemimpin sejati sebagaimana dipuisikan oleh Sutrisno Martoatmojo dalam buku Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern 1 dengan editor Linus Suryadi AG (1987). Sebuah puisinya berjudul “Pemimpin Sejati” dengan anak judul : ”kepada proklamator”. Bait terakhir puisi Sutrisno Martoatmojo menuliskan :
Bung Karno-Bung Hatta, dwitunggal bangsanya,
Satu tapi dua, dua tapi satu
Sama lahir di tengah rakyat penuh derita ditindas,
Hidup mengabdi layan rakyat dalam kemiskinan,
Mati terkubur di antara rakyat cilik sederhana,
Sebagai rakyat jelata awam, ditangisi rakyat di tepi jalan.
Petikan puisi Sutrisno Martoatmojo tersebut menegaskan kembali Bung Karno pemimpin yang peduli pada rakyat kecil yang tertindas dalam kemiskinan. Rakyat kecil pada umumnya adalah petani yang menjadi buruh di tanah orang. Bung Karno begitu dekat dengan mereka. Oleh karena itu, kematiannya pun ditangisi rakyat yang dipimpinnya. Tangis kehilangan Si Bung yang tak akan kembali. Di Bali Si Bung diimajinasikan tampak di bulan sesaat setelah wafat. Foto/gambar Bung Karno memegang keris dipasang dengan anggun di rumah-rumah petani desa. Kaum Marheinis memuliakannya sembari mengenang pidatonya, Jasmerah. Merdeka !
Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan sembari menikmati sajian Pesta Kesenian Bali ke-48 bersamaan dengan Bulan Bung Karno. Dengan seni, hidup lebih indah. [T]
Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole





























