Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan gamelan kreatif dan spektakuler ini bukan sekadar pertunjukan pembuka, melainkan simbol sakral yang merepresentasikan manifestasi Dewa Siwa sebagai Raja Kosmik sekaligus Dewa Seni dan Tari. Kehadirannya menandai dimulainya siklus penciptaan karya-karya seni yang agung selama sebulan penuh pelaksanaan PKB.
Pada PKB ke-48, Tari Siwanataraja hadir dalam garapan bertajuk Mahamredangga Kalpa, hasil kolaborasi Komunitas Seni Usadhi Langu dan ISI Bali. Karya ini memadukan komposisi musikal gamelan Bali dengan koreografi Siwa Nataraja yang memaknai tema Atma Kerthi sebagai pemuliaan mahajnana atau kebijaksanaan agung.
Sebagai karya yang tergolong anyar, Mahamredangga Kalpa memancarkan karisma melodi Bali purwa yang mengembalikan nada sebagai bunyi semesta dalam balutan filsafat tarian kosmik Siwanataraja. Karya ini menjadi refleksi tentang kewaktuan yang abadi dan vibrasi semesta yang membentuk tatanan sakral kehidupan.

Melalui perpaduan gerak tari, bunyi gamelan, dan visual teatrikal guwung karang gumi—energi pembentuk ruang alam semesta—Mahamredangga Kalpa menghadirkan harmoni antara alam, manusia, dan kebudayaan dalam dimensi spiritual yang suci.
Garapan ini dikoreografi oleh I Gede Oka Surya Negara, Kadek Diah Pramanasari, dan Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani. Sementara itu, komposisi musik digarap oleh Putu Tiodore Adi Bawa dan I Wayan Diana Putra. Penanggung jawab kegiatan adalah Prof. Dr. I Komang Sudirga, dengan Prof. Dr. Ni Made Arshiniwati sebagai ketua, serta Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan Adnyana sebagai pelindung.
Prof. Sudirga menjelaskan, setiap tahun ISI Bali selalu menawarkan gagasan artistik yang baru dalam Peed Aya PKB. Pada PKB ke-48, eksplorasi dilakukan dengan menghadirkan berbagai instrumen perkusi, tidak hanya dari Bali tetapi juga dari berbagai daerah di Nusantara.
Beberapa instrumen yang digunakan antara lain kendang belig, kendang dol, kendang Sulawesi, berbagai instrumen pencon, jimbe, kendang jedugan, kendang angklung, tambur, serta sejumlah jenis rebana. Keseluruhan instrumen tersebut diramu menjadi satu kesatuan musikal yang dinamis dan kolosal.

Menariknya, inovasi kali ini dilakukan tanpa mengandalkan instrumen melodis. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para komposer untuk menghadirkan komposisi prosesi yang kuat dan mampu mendukung kemegahan sosok Siwa Nataraja sebagai ikon PKB.
“Seluruh proses persiapan telah dilakukan sejak tiga bulan lalu. Hari ini kami melaksanakan gladi di panggung utama Taman Budaya Art Centre Denpasar sebagai bagian dari upaya menghadirkan sajian monumental bagi ISI Bali dan PKB ke-48,” ujar Prof. Sudirga, yang juga menjabat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI Bali.
Siwanataraja, Simbol Kreativitas dan Spiritualitas dalam Pesta Kesenian Bali
Tim Kurator PKB 2026, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha menjelaskan, Tari Siwanataraja selalu ditampilkan dalam setiap pawai pembukaan PKB melalui garapan seni pertunjukan yang atraktif dan inovatif. Siwanataraja telah menjadi maskot PKB karena dalam konteks kesenian Bali, sosok ini merupakan manifestasi Dewa Siwa sebagai raja para raja yang menciptakan keteraturan dunia melalui tarian kosmik.
“Karena itu, pada logo PKB pun Siwanataraja digambarkan Dewa Siwa sedang menari. Melalui hentakan kaki dan gerak mudra, Dewa Siwa memutar dunia yang sebelumnya statis. Dari gerak tari itulah kehidupan mulai tercipta,” ujar Prof. Arya Sugiartha.

Sebelum dunia berputar, kehidupan belum ada. Keadaan semesta masih kacau dan tidak stabil. Ketika Dewa Siwa menari, lahirlah keteraturan kosmis yang kemudian memungkinkan tumbuhnya kehidupan. Tumbuhan mulai berkembang, diikuti kehidupan hewan, hingga akhirnya manusia hadir untuk menjaga dan mengelola keseimbangan dunia. “Dengan cara menari itulah Dewa Siwanataraja menciptakan keteraturan dunia,” tegas mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersebut.
Meski figur Siwa Nataraja selalu dipertahankan sebagai ikon utama, setiap penyajiannya dalam PKB senantiasa hadir dalam bentuk garapan baru. Institut Seni Indonesia (ISI) Bali secara konsisten menawarkan kreativitas dan inovasi berbeda dari tahun ke tahun, baik dari sisi koreografi maupun komposisi musik pengiringnya.
“Yang tetap adalah figur Siwanataraja. Namun, penggarapannya selalu diperbarui. Perbedaan setiap tahun muncul dari kreativitas para seniman, termasuk inovasi dalam iringan musiknya, sehingga selalu menghadirkan sajian baru yang tidak menjemukan,” jelasnya.
Tradisi ini telah berlangsung sejak era Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kemudian berlanjut pada masa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), hingga kini menjadi ISI Bali. Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari pembukaan PKB.

Sebelum lahirnya konsep Adi Mredangga, pembuka pawai budaya PKB justru diisi oleh drum band Universitas Udayana yang menggunakan instrumen musik modern. Tradisi tersebut berlangsung sejak tahun 1979. Baru pada tahun 1984, atas gagasan Gubernur Bali Ida Bagus Mantra, lahirlah Adi Mredangga sebagai bentuk “drum band tradisional” yang bersifat kolosal. Saat itu, Ida Bagus Mantra meminta Prof. I Made Bandem yang menjabat Ketua ASTI saat itu untuk merancang format pertunjukan tersebut.
Seiring waktu, Adi Mredangga terus berkembang. Berbagai instrumen baru ditambahkan, mulai dari bedug, tambur, hingga pereret, sehingga bentuk penyajiannya selalu mengalami pembaruan sesuai perkembangan kreativitas seni Bali.
Guru Besar Ilmu Pariwisata Budaya dan Agama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par., mengatakan, seni tari sejak zaman prasejarah hingga era modern memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Tari tidak semata-mata menjadi sarana hiburan, melainkan juga media spiritual, penguat solidaritas sosial, serta sarana mengekspresikan nilai-nilai budaya dan keagamaan.
Dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, seni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas keagamaan. Berbagai bentuk kesenian, seperti tari, tabuh, seni suara, seni rupa, dan kriya dipersembahkan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Keindahan dalam seni merupakan salah satu manifestasi kemahakuasaan Tuhan. Karena itu, seni tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bali,” ujar Prof. Sumadi.
Siwanataraja merupakan manifestasi Dewa Siwa sebagai Raja Tari yang menampilkan tarian kosmis atau cosmic dance. Tarian tersebut melambangkan proses penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta yang berlangsung secara harmonis. Gerak tari Siwanataraja menggambarkan dinamika kehidupan yang terus bergerak dan berubah, namun tetap berada dalam keseimbangan kosmis. Simbol ini menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya berbagai bentuk ekspresi seni dan budaya di Bali.
Makna filosofis Siwanataraja sangat relevan dengan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali. Karena itu, sejak awal penyelenggaraannya, Siwanataraja dipilih sebagai lambang PKB karena mencerminkan semangat kreativitas yang tidak pernah berhenti.
Melalui berbagai pertunjukan tari, karawitan, teater, seni rupa, sastra, dan seni tradisi lainnya, PKB menjadi ruang aktualisasi semangat tersebut. Para seniman Bali terus menggali inspirasi dari alam, tradisi, kehidupan sosial, hingga perkembangan zaman untuk melahirkan karya-karya yang inovatif tanpa meninggalkan akar budayanya. “Siwanataraja mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang statis. Kebudayaan harus terus hidup melalui proses penciptaan, pelestarian, dan pembaruan,” tegasnya.

Dalam tradisi seni Bali dikenal klasifikasi Tari Wali, Tari Bebali, dan Tari Balih-balihan. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, namun saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya Bali. Karya-karya Balih-balihan yang banyak ditampilkan dalam PKB menunjukkan bagaimana tradisi dapat terus berkembang melalui revitalisasi dan aktualisasi budaya. Setiap gerak tari, irama musik, dan ekspresi artistik menjadi refleksi upaya manusia memahami serta merayakan keindahan alam semesta.
Di tengah derasnya arus globalisasi, lanjut Prof. Sumadi, inovasi dan pembaruan seni yang berlangsung dalam PKB memiliki peran strategis dalam menjaga sistem nilai budaya bangsa. “Pesta Kesenian Bali bukan hanya festival seni atau tontonan budaya. PKB merupakan perwujudan filosofi Siwanataraja yang mengajarkan bahwa kehidupan adalah tarian kosmis yang terus bergerak. Melalui seni, masyarakat diajak memahami keindahan, keharmonisan, dan dinamika kehidupan serta hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan sesamanya,” ujarnya.
Siwanataraja sebagai lambang PKB mengandung pesan bahwa kreativitas merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual dan kebudayaan manusia. Selama semangat berkarya, melestarikan, dan memperbarui tradisi terus hidup, kebudayaan Bali akan tetap tumbuh dan berkembang di tengah perubahan zaman. [T]
Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole






























