JESS BUAT PRANITA DEWI
Meong-meong alih je bikule—
suara itu melintas dari pelataran pura
ke satelit, kabel bawah laut, ruang transit;
atma mengikutinya seperti tema
yang berpindah tonal.
Balawan membentangkan gitar pada
siklus kendang; dua tangan Stanley Jordan
mengetuk ostinato & melodi
di register tetangga.
Somewhere over the rainbow—
frangipani, kopi, timah solder,
awan bergerak di atas arsip digital;
seekor oyen masih memburu mencit,
sementara sajak beredar
sebagai kontrapung dalam kepung
Cengceng, Genjek, Genggong.
2026
JESS BUAT NI MADE PURNAMA SARI
Di bale kawitan,
nama-nama leluhur digantung
pada asap dupa dan serat janur.
Tak seluruhnya terbaca;
sebagian telah menjadi debu,
sebagian lagi tinggal bunyi
yang malih mulut.
Kamu duduk di bawah foto-foto usang,
sementara Days of Wine and Roses
Mancini mengalir dari pengeras suara kecil.
Daun-daun gugur ke selokan.
Air membawanya perlahan
melewati pura desa, warung kopi,
dan bengkel las yang menyisakan
bau besi hangat. Jiwamu datang terlambat.
Ia mengenakan wajah
yang pernah dipakai kakek buyut,
lalu menggantinya lagi
dengan bayangan seseorang
yang belum lahir.
“Kawitan atau tubuh,”
katanya, “mana yang lebih dulu lupa?”
Saxophone menjawab dengan frase legato,
berbelok sebentar ke aksen yang nyaris sforzando.
Di halaman,
bunga kamboja jatuh satu-satu.
Tak ada yang dramatis. Hanya waktu
yang mengurangi warna
dari kelopak, dari foto, dari nama.
Seperti hari-hari anggur dan mawar:
mula-mula harum, lalu menjadi sungai.
Kamu dan Jiwamu
tak lagi berbaring berdampingan.
Senyum kencana menghadap silsilah yang sama,
mendengarkan standar lama
berputar pada piringan ingatan.
Dan dari ujung malam,
para leluhur melintas
bagai chorus yang kembali: Hilang.
2026
JESS BUAT PUTU VIVI LESTARI
Kamu tak sepakat tentang waktu.
Lampu parkir menyala
dua puluh
empat jam.
Bau ozon, asap solder,
pendingin udara dan lembab Oktober.
Chet Baker melirihkan
I Fall in Love Too Easily.
Suaranya tipis
serupa piksel mati pada layar LCD
yang tak pernah dihiraukan.
Satelit melintas
di atas antena dan atap seng.
Lumut tumbuh
pada gardu listrik.
Cetak biru jaringan kabel
terbuka di meja teknisi;
garis-garis misty blue
mencari muara lain: Svargaloka.
Menjelang Round Midnight,
trompet tertahan
di frekuensi rendah.
Debu statis mengumpul
pada foto identitas
yang mulai asing.
Kamu tak sepakat tentang waktu.
Karat berpindah perlahan
dari baja
ke dalam darah.
2026
JESS BUAT SARAS DEWI
Maiden Voyage:
susunan kuartal, nada tumpu,
modus laut yang enggan berlabuh.
Mahakala mengendurkan
simpul waktu.
Hingga masih bisa,
kuntul membaca lumpur.
Hingga masih bisa,
plankton menyalakan
fosfor biru.
Hingga masih bisa,
karang menyimpan bulan
di sela polipnya.
Bibir dan teluk bertukar debar.
Lalu rantai jangkar.
Peta dibuka. Patok ditanam. Air berubah
menjadi koordinat. Tunas puisi itu—beralih
rupa: Lembayung Benoa.
2026
JESS BUAT SONIA PISCAYANTI
Gong belum dipukul.
Namun tema sudah tampak betul.
Song for My Father—
komposisi 24 bar AAB,
F minor, 4/4,
hanya empat akor bergerak:
Fm9–E♭9–D♭9–C9.
Tangan kiri Horace Silver
berjalan pendek-pendek
seperti seseorang
yang hafal jalan pulang.
Di halaman, asap dupa
naik ke balok langit-langit.
Nama bapak disebut perlahan
agar tidak tercerai dari bunyi.
Bass hanya akar dan kuint.
Drum berhenti di bar keenam.
Dharma tinggal sebagai ritme.
Karma tinggal sebagai gema.
Di antara kidung dan putaran piringan,
sunia ialah modus F Mixolidian.
2026
CATATAN KREATIF
Seri puisi ini bukan titik awal, melainkan kesinambungan dari kerja yang lebih panjang: Jazz Buat Para Puan, sebuah manuskrip respons terhadap 77+1 penyair perempuan Indonesia yang terus saya susun dan revisi. Kumpulan ini lahir di dalam arus yang sama—sebagai bagian dari upaya mendengar ulang suara, tema, dan kemungkinan estetik yang muncul dari karya-karya mereka, lalu meresponsnya melalui bahasa yang saya miliki: montase, musik, dan improvisasi.
Jazz dalam proyek ini tidak saya posisikan sebagai genre, melainkan sebagai metode membaca dan menulis. Ia bekerja seperti ingatan musikal: tidak linear, tidak final, selalu kembali dalam bentuk yang sedikit bergeser. Setiap puisi bergerak seperti chorus—mengulang tema, tetapi tidak pernah benar-benar mengulang secara identik. Yang berubah adalah tekanan, ruang jeda, dan arah dengar.
Dari cara kerja itu, setiap teks dalam seri ini tumbuh sebagai pertemuan antara dunia puitik para penyair perempuan Indonesia dengan lanskap bunyi yang lebih luas: gamelan, kidung, ritual, tubuh, ekologi, dan juga jazz sebagai sistem global improvisasi. Saya tidak berusaha menafsirkan secara tunggal karya mereka, tetapi membiarkan respons ini menjadi ruang resonansi—tempat berbagai sistem bunyi dan makna saling bersilang tanpa harus diseragamkan.
Dalam “Jazz Buat Pranita Dewi,” bunyi Bali bergerak melintasi infrastruktur global: dari pelataran pura menuju satelit dan kabel bawah laut. Atma tidak lagi berada dalam batas metafisik yang tetap, tetapi menjadi motif musikal yang bermigrasi, mengalami transposisi dan perubahan tonal.
“Jazz Buat Ni Made Purnama Sari” membaca kawitan dan ingatan keluarga sebagai struktur yang menyerupai standar jazz: tema yang terus kembali, tetapi selalu dalam aransemen baru. Days of Wine and Roses hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai cara memahami bagaimana keindahan dan kehilangan selalu berjalan bersamaan dalam satu frasa yang sama.
Pada puisi tentang Putu Vivi Lestari, melankolia tidak lagi bersifat personal, melainkan menjadi kondisi infrastruktur: layar, kabel, satelit, dan sistem digital. Chet Baker muncul sebagai suara yang rapuh dan hampir menghilang, mencerminkan cara waktu bekerja dalam ruang teknologi yang terus menyala tetapi perlahan aus.
Dalam “Jazz Buat Saras Dewi,” ekologi dibaca sebagai relasi ritmis, bukan sekadar tema. Laut, teluk, plankton, dan karang tidak ditempatkan sebagai simbol, tetapi sebagai entitas yang memiliki tempo dan keberadaan sendiri. Maiden Voyage menjadi struktur gerak: mengapung, tidak final, tidak berorientasi pada resolusi.
Sementara itu, “Jazz Buat Sonia Piscayanti” bergerak pada wilayah pelepasan dan transisi. Tradisi Bali tentang kematian, kidung, dan sunia tidak dipahami sebagai akhir, melainkan sebagai pergeseran bentuk keberlanjutan. Song for My Father menjadi struktur ingatan yang terus kembali, seperti tema jazz yang tidak pernah benar-benar selesai dimainkan.
Keseluruhan seri ini saya posisikan sebagai bagian dari upaya penghormatan terhadap para penyair perempuan Indonesia, khususnya dalam konteks 77+1 penyair yang menjadi horizon kerja ini. Ini bukan proyek yang tertutup, melainkan proses yang terus bergerak—sebuah cara membaca ulang, mendengar ulang, dan merespons ulang suara-suara puisi perempuan melalui medium lain yang saya kuasai.
Pada akhirnya, jazz dalam proyek ini adalah cara untuk memahami keterhubungan: antara teks dan bunyi, antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan jaringan global. Ia memungkinkan setiap elemen tetap bergerak tanpa harus dipaksa menjadi satu kesimpulan tunggal. Seperti improvisasi yang terus berlanjut, seri ini tidak dimaksudkan untuk selesai, melainkan untuk tetap terbuka—menjaga kemungkinan tetap hidup di dalam bahasa.
IRZI






























