Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebolangnya, berupa mustika/permata yang dipadukan dengan media yang menguatkan kepermataannya, lengkap dengan nama mustika/permata dan proses pembolangannya.
Kalau beruntung, Saka Rosanta akan menjelaskan proses terbentuknya sebuah mustika/permata dengan makna dan kegunaanya. “Permata yang didapatkan laut lebih netral karena sudah dibersihkan air laut, ” jelasnya.
MANIK DAUN
Seorang manusia, seperti Saka Rosanta, dengan kesadarannya, bisa berkomunikasi dengan tubuhnya sendiri, dengan tubuh orang lain, dengan binatang, pohon, alam dan benda.
Seorang pelukis, selain berkomunikasi dengan tubuhnya sendiri (pengalaman, pengetahuan, pendalaman dan kesadarannya) pengetahuan juga harus berkomunikasi dengan media yang dipakai dalam proses menciptakan imajinasinya.

Nafas
Penanda hidup adalah nafas. Sesuatu dianggap hidup karena bernafas.
Dalam filsafat Hindu disebutkan tingkatan nafas mahluk hidup, manusia dengan tiga nafas (tri pramana), binatang dengan dua nafas (dwi pramana) dan pohon dengan satu nafas (eka pramana).
Manusia dikatakan memiliki tiga nafas (udara dalam suara, air dalam gerak, dan api dalam pikiran). Binatang dua nafas, dalam suara dan dalam gerak, sedangkan pohon satu nafas dalam suara.
Green Painting
Karya rupa Gus Saka yang bertajuk “Green Painting” tak lepas dari perjalanan hidupnya dalam pencarian jati diri.


Sebagai manusia dengan tiga nafas, pikirannya senantiasa bergolak untuk mencipta dan mencipta lagi. Esensi dari Plasma Api, yang terjebak dalam air akan menciptakan warna merah (permata merah) tapi bumi/tanah tempatnya berpijak menghadapkannya pada kenyataan. Bumi sebagai symbol kemakmuran warna esensinya kuning, tercermin dalam permata kuning.
Tarik menarik antara plasma api dan material bumi, menciptakan esensi warna orange (merah delima).
Fase merah delima ini adalah pertarungan antara kemanusiaan dan kebinatangan, dalam proses pencariannya, syukurlah plasma apinya didinginkan dan diendapkan, sehingga menjadi bau harum, cendana, sebelum ia kembali “pulang” dengan kekaguman kanak- kanak yang melihat dunia pertama kali, merasakan semuanya sebagai keajaiban.
Green Painting adalah manisfestasi dari permata hijau daun, adalah nafas awal, nafas pertama dari pohon, yang menetralisir keangkuhan dan kesombongan manusia dan binatang. Nafas paling murni dari jiwa-jiwa murni. Angkus Prana.
PERMATA KARYA RUPA
Melihat karya rupa Gus Saka kita bisa mengenali, memahami dan memaknai seorang manusia yang berpikir, dalam perkembangan kemanusiaannya. Esensi dari kemanusiaan itu adalah permata/mustika yang divisualisasikan dalam lukisan berjudul “Jayaprana-Layonsari”. Lukisan itu menampakan sebuah bidang dalam aneka warna bidang yang didominasi oleh warna merah dan orange, dan sentuhan warna kuning yang juga muncul dari samping bawah di tengah ada pigur perempuan dalam bingkai agak hitam seperti ayuanan.
“Itu perempuan (istri/sakti) seperti Layonsari, tubuh yang harum yang kelihatan di mata bumi, Jayaprana (kesempurnaan nafas) yang tidak nampak di bumi, tapi ada, menghidupi semua mahluk, ” jelas putra dari Ida Komang Setia, dengan Ketut Armika ini.
Pameran karya rupa, seniman asal Griya Banjar Melanting, desa Banjar, Kecamatan Banjar, Singaraja Bali, dimulai dengan karya berjudul “Reinkarnasi’ bergaya absurd, agak mirip karya pelukis Affandi masa-masa Akhir, juga agak mirip gaya Van Gogh.
Saat Kayun Semara Cipta bertanya kenapa ada bayang-bayang samar kepala macan, diantara goresan merah hitam. Lelaki kelahiran 27 Oktober 1981 ini mengatakan “Reinkarnasj” merupakan lukisan pertamanya yang dibuat tahun 2017. Saat itu, suami dari Ni Putu Elli Kusuma Dewi, mengaku agak bingung saat berhadapan dengan kanvas, dan melukis dalam keadaaan tidak sadar, sehingga yang muncul adalah alam bawah sadar berupa memori-memori yang karya rupa yang pernah dilihatnya saat bekerja di kapal pesiar.
Jika masuk lebih dalam pada lukisan ini yang dominan adalah warna merah, dan hitam, bernuansa merah muda. Warna-warna ini mengandung unsur, dimensi dan frekwensi, bumi, alam, kekuatan, api dan kasih.

Lewat karya “Reinkarnasi” ayah dari Ida Bagus Putu Mahotama, Ida Ayu Kade Putri Bulan Mahatami, Meli, dan Bolger ini seperti ingin menyampaikan pesan bahwa manusia berinkarnasi, lahir kembali menjadi manusia di bumi, karena kasih sayang dan kekuatan api. Kemanusian manusia akan mengalami proses dari kebinatangan menjadi macan sebagai raja binatang, yang paling kuat dan berkuasa, atau menjadi binatang-binatang lain kuda dan lain-lain. Jika sifat kebinatangan itu bisa “dibunuh” dipasupati, akan menjadi manusia. Pencapaian kemanusiaan manusia ini digambarkan dalam karya rupa “Jayaprana-Layonsari”.
Pemahaman dan kesadaran pada hakekat yang lebih dalam dicapai dalam karya berjudul ” Pohon Kasih Sayang” . Setelah ketulusan pohon dalam kasih sayang, kemudian muncul karya rula berjudul “Green Painting”.
Kesadaran itu kadang muncul dan tenggelam saat berhadapan dengan bumi dan kebanalan bumi dengan segala keinginan manusia.
Kakak dari Ida Komang Saka Ragawa, ini kini sedang berusaha selalu menyadari diri sebagai manusia, yang bertubuh, berindera, berpikir dan berperasaan, dalam berhadapan dengan manusia lain, dan alam. Dari hatinya yang paling dalam, kekuatan apinya seringkali meledak-ledak untuk menjaga bumi. Semangat dan usaha dalam diam dalam unsur, dimensi, dan frekwensi, diharapkan bervibrasi pada bumi dan segala isinya, tergambar dalam karyanya yang berjudul “Avatar Word”. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole






























