2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

Early NHS by Early NHS
June 2, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp, dan kabar tentang “Teror Pocong” muncul di sejumlah daerah. Respons publik beragam, ada yang menganggapnya sebagai modus kejahatan, kelakuan orang iseng, lelucon yang kebablasan, atau sekadar hoaks yang dibesar-besarkan.

Terlepas dari itu, ada satu hal menarik, yaitu muncul kecurigaan di media sosial bahwa “Teror Pocong” hanyalah pengalihan isu yang didalangi negara untuk memindahkan perhatian publik dari berita buruk tentang pemerintah, kondisi ekonomi, atau persoalan publik lain yang dianggap lebih penting.

Bahkan, sejumlah narasi di media sosial menafsirkan fenomena ini sebagai pola lama yang berulang, sebagaimana rumor tentang kolor ijo pada awal 2000-an, babi ngepet di Depok beberapa tahun lalu, dan berbagai cerita mistis lain yang dicurigai sebagai pengalih perhatian publik. Ini berarti, pocong, sosok yang biasanya hadir dalam cerita rakyat, film horor, tayangan televisi, atau obrolan di tongkrongan lewat jam 12 malam, kini muncul di media sosial sebagai bagian dari percakapan yang sifatnya politis.

Tentu saja, klaim semacam itu tidak bisa diterima begitu saja. Apalagi, tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pemerintah sedang menjalankan operasi besar dengan tujuan mengalihkan perhatian publik melalui isu pocong. Tuduhan seperti itu terlalu serius jika hanya bersandar pada dugaan, kecurigaan, atau potongan percakapan di media sosial.

Namun, narasi ini tidak boleh dianggap sepele. Kita perlu mengajukan satu pertanyaan penting. Bukan tentang kebenaran negara menggunakan pocong sebagai alat pengalihan isu, tetapi mengapa sebagian masyarakat begitu cepat menghubungkan rumor mistis dengan politik, rekayasa, dan campur tangan negara? Mengapa ketika muncul kabar sosok berkain kafan di jalanan, sebagian masyarakat langsung curiga atau bertanya siapa yang berkepentingan dari kemunculan isu tersebut?

Di titik inilah fenomena “Teror Pocong” menjadi lebih dari sekadar cerita horor. Ketika kepercayaan terhadap institusi publik melemah, peristiwa yang tampak sepele dapat dengan mudah dikaitkan dengan isu politik dan disimpulkan sebagai bagian dari agenda tersembunyi dan didalangi “hantu” belakang layar. Karena itu, pocong dalam percakapan di media sosial hari-hari ini bukan hanya sosok mistis, tetapi juga simbol dari rasa tidak aman, kecurigaan, dan rapuhnya hubungan sekaligus kepercayaan antara masyarakat dan penguasa.

Fenomena sejenis “Teror Pocong” bukanlah hal baru. Fenomena seperti itu sudah ada bahkan sebelum era media sosial. Perbedaannya, dulu rumor sejenis menyebar dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, atau dari kampung ke kampung. Prosesnya relatif lambat. Sekarang, rumor menyebar melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, X, dan berbagai portal berita daring. Penyebarannya jauh lebih cepat dan jangkauannya jauh lebih luas. Sebuah video dari satu daerah bisa dipercaya sebagai kejadian di daerah lain. Foto lama bisa diberi keterangan baru. Rekaman yang konteksnya tidak jelas bisa menyebar sebagai “bukti” dari peristiwa yang sebenarnya belum pernah terjadi.

Dalam situasi seperti itu, batas antara informasi, hoaks, lelucon, dan kepanikan menjadi kabur. Namun, tidak semua informasi keliru lahir dari operasi yang rapi dan terorganisasi. Banyak orang menyebarkan kabar yang belum terverifikasi karena takut, ikut-ikutan, atau merasa sedang membantu orang lain. Karena itu, membaca setiap rumor sebagai konspirasi besar juga berbahaya. Pandangan seperti itu justru menyederhanakan fenomena yang sering kali jauh lebih rumit.

Sejarah memang menunjukkan bahwa kepercayaan lokal pernah dimanfaatkan dalam operasi psikologis. Salah satu contohnya adalah Operation Wandering Soul dalam Perang Vietnam. Saat itu, militer Amerika Serikat memanfaatkan keyakinan sebagian masyarakat Vietnam bahwa arwah orang yang meninggal tanpa pemakaman yang layak dapat menjadi roh gentayangan. Melalui pengeras suara yang dipasang di helikopter atau kendaraan militer, diputarlah rekaman suara yang menyerupai ratapan arwah dan pesan-pesan bernuansa spiritual pada malam hari. Tujuannya adalah menciptakan tekanan psikologis terhadap pasukan Viet Cong dan memengaruhi persepsi mereka melalui simbol-simbol yang memiliki makna budaya dan religius.

Pertanyaannya, apakah itu berarti fenomena pocong hari ini pasti bagian dari operasi negara? Tentu tidak.

Sejarah bisa menjadi bahan perbandingan, tetapi bukan bukti. Sejarah memang mengingatkan kita bahwa ketakutan, mitos, dan kepercayaan masyarakat kadang dapat menjadi bagian dari perebutan pengaruh dan pembentukan opini publik. Namun, contoh sejarah semacam itu tidak boleh dipakai untuk meloncat pada kesimpulan bahwa fenomena pocong hari ini pasti didalangi negara.

Indonesia sendiri memiliki pengalaman yang relevan

Ketika membahas hubungan antara rumor mistis dan politik, kita sulit mengabaikan peristiwa Banyuwangi 1998. Saat itu, isu santet, cerita tentang ninja, ketakutan warga, pemberitaan media, dan lemahnya otoritas negara bercampur menjadi satu. Banyak orang dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Berbagai teori bermunculan, dan publik berusaha mencari siapa dalang di balik peristiwa itu. Tidak sedikit orang yang curiga peristiwa Banyuwangi 1998 didalangi negara. Akan tetapi, penelitian Nicholas Herriman tentang pembunuhan dukun santet di Banyuwangi dan Jawa Timur memberi analisis yang lebih kompleks.

Herriman menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu teori konspirasi besar. Kekerasan itu disebabkan banyak faktor, rumor, kepercayaan lokal, ketakutan kolektif, perubahan politik pasca-Orde Baru, serta tindakan warga dalam menafsirkan ancaman yang mereka yakini. Dengan kata lain, masyarakat bukan sekadar korban pasif yang digerakkan oleh satu dalang. Masyarakat juga ikut mempercayai rumor, menafsirkan situasi, dan dalam beberapa kasus bertindak berdasarkan rasa takut yang dianggap masuk akal pada saat itu.

Meski begitu, negara juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Ketika informasi tidak jelas, keamanan tidak terjamin, dan penjelasan resmi tidak dipercaya, ruang bagi rumor akan semakin terbuka.

Di sinilah pelajaran Banyuwangi relevan untuk membaca fenomena “Teror Pocong”. Tentu, kedua kasus ini tidak bisa disamakan begitu saja. Banyuwangi adalah kasus kekerasan terhadap orang yang dituduh dukun santet, sedangkan isu pocong hari ini lebih banyak terkait rumor, kepanikan, dan percakapan politik di media sosial. Namun, keduanya menunjukkan satu hal yang serupa, rumor mistis menjadi masuk akal bagi sebagian masyarakat ketika kehidupan sosial dipenuhi ketidakpastian, rasa tidak aman, dan kecurigaan terhadap otoritas.

Yang berbahaya bukan hanya kemungkinan adanya pihak yang sengaja menciptakan rumor, tetapi ketika rumor menemukan tanah yang subur untuk tumbuh. Tanah itu bernama ketidakpastian, ekonomi yang terasa berat, politik yang penuh kecurigaan, informasi yang simpang siur, dan kepercayaan publik yang melemah. Dalam situasi seperti itu, rumor hanya perlu terdengar cocok dengan perasaan publik untuk dipercaya.

Ketika banyak orang merasa hidup semakin sulit atau merasa pejabat tidak cukup jujur, rumor kecil dapat berubah menjadi penjelasan alternatif yang terasa masuk akal.

Masalah mulai tampak ketika persoalan pocong menjadi politis, bukan karena pocong itu sendiri punya agenda, tetapi karena publik sudah mulai terbiasa mencurigai ada agenda di balik setiap peristiwa yang menarik perhatian publik.

Kita boleh curiga, tetapi kita tidak perlu percaya begitu saja bahwa “Teror Pocong” adalah bagian dari operasi senyap negara. Tidak semua rumor adalah konspirasi, dan tidak semua ketakutan adalah rekayasa. Namun kita juga tidak boleh mengabaikan pesan yang tersimpan di balik kecurigaan itu. Ketika sebuah isu mistis begitu mudah diterjemahkan sebagai bagian dari operasi negara, persoalannya bukan lagi soal pocong, ini soal kepercayaan terhadap negara.

Barangkali hantu yang paling mengganggu ruang publik kita hari ini bukan sosok berkain kafan yang berkeliaran di jalanan, melainkan krisis kepercayaan yang ada di antara rakyat dan penguasa. Selama masalah itu tidak diselesaikan, rumor kecil akan selalu berpeluang memantik kecurigaan terhadap negara, dan rumor seperti “Teror Pocong”, betapa pun anehnya, akan terus muncul sebagai cermin dari kegelisahan masyarakat tentang kelakuan hantu-hantu di singgasana kekuasaan. [T]

Penulis: Early NHS
Editor: Jaswanto

Tags: hororkekuasaanmistispocongteror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Next Post

Ke Pacet Mereka Kembali

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ke Pacet Mereka Kembali

Ke Pacet Mereka Kembali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co