2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

Early NHS by Early NHS
June 2, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp, dan kabar tentang “Teror Pocong” muncul di sejumlah daerah. Respons publik beragam, ada yang menganggapnya sebagai modus kejahatan, kelakuan orang iseng, lelucon yang kebablasan, atau sekadar hoaks yang dibesar-besarkan.

Terlepas dari itu, ada satu hal menarik, yaitu muncul kecurigaan di media sosial bahwa “Teror Pocong” hanyalah pengalihan isu yang didalangi negara untuk memindahkan perhatian publik dari berita buruk tentang pemerintah, kondisi ekonomi, atau persoalan publik lain yang dianggap lebih penting.

Bahkan, sejumlah narasi di media sosial menafsirkan fenomena ini sebagai pola lama yang berulang, sebagaimana rumor tentang kolor ijo pada awal 2000-an, babi ngepet di Depok beberapa tahun lalu, dan berbagai cerita mistis lain yang dicurigai sebagai pengalih perhatian publik. Ini berarti, pocong, sosok yang biasanya hadir dalam cerita rakyat, film horor, tayangan televisi, atau obrolan di tongkrongan lewat jam 12 malam, kini muncul di media sosial sebagai bagian dari percakapan yang sifatnya politis.

Tentu saja, klaim semacam itu tidak bisa diterima begitu saja. Apalagi, tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pemerintah sedang menjalankan operasi besar dengan tujuan mengalihkan perhatian publik melalui isu pocong. Tuduhan seperti itu terlalu serius jika hanya bersandar pada dugaan, kecurigaan, atau potongan percakapan di media sosial.

Namun, narasi ini tidak boleh dianggap sepele. Kita perlu mengajukan satu pertanyaan penting. Bukan tentang kebenaran negara menggunakan pocong sebagai alat pengalihan isu, tetapi mengapa sebagian masyarakat begitu cepat menghubungkan rumor mistis dengan politik, rekayasa, dan campur tangan negara? Mengapa ketika muncul kabar sosok berkain kafan di jalanan, sebagian masyarakat langsung curiga atau bertanya siapa yang berkepentingan dari kemunculan isu tersebut?

Di titik inilah fenomena “Teror Pocong” menjadi lebih dari sekadar cerita horor. Ketika kepercayaan terhadap institusi publik melemah, peristiwa yang tampak sepele dapat dengan mudah dikaitkan dengan isu politik dan disimpulkan sebagai bagian dari agenda tersembunyi dan didalangi “hantu” belakang layar. Karena itu, pocong dalam percakapan di media sosial hari-hari ini bukan hanya sosok mistis, tetapi juga simbol dari rasa tidak aman, kecurigaan, dan rapuhnya hubungan sekaligus kepercayaan antara masyarakat dan penguasa.

Fenomena sejenis “Teror Pocong” bukanlah hal baru. Fenomena seperti itu sudah ada bahkan sebelum era media sosial. Perbedaannya, dulu rumor sejenis menyebar dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, atau dari kampung ke kampung. Prosesnya relatif lambat. Sekarang, rumor menyebar melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, X, dan berbagai portal berita daring. Penyebarannya jauh lebih cepat dan jangkauannya jauh lebih luas. Sebuah video dari satu daerah bisa dipercaya sebagai kejadian di daerah lain. Foto lama bisa diberi keterangan baru. Rekaman yang konteksnya tidak jelas bisa menyebar sebagai “bukti” dari peristiwa yang sebenarnya belum pernah terjadi.

Dalam situasi seperti itu, batas antara informasi, hoaks, lelucon, dan kepanikan menjadi kabur. Namun, tidak semua informasi keliru lahir dari operasi yang rapi dan terorganisasi. Banyak orang menyebarkan kabar yang belum terverifikasi karena takut, ikut-ikutan, atau merasa sedang membantu orang lain. Karena itu, membaca setiap rumor sebagai konspirasi besar juga berbahaya. Pandangan seperti itu justru menyederhanakan fenomena yang sering kali jauh lebih rumit.

Sejarah memang menunjukkan bahwa kepercayaan lokal pernah dimanfaatkan dalam operasi psikologis. Salah satu contohnya adalah Operation Wandering Soul dalam Perang Vietnam. Saat itu, militer Amerika Serikat memanfaatkan keyakinan sebagian masyarakat Vietnam bahwa arwah orang yang meninggal tanpa pemakaman yang layak dapat menjadi roh gentayangan. Melalui pengeras suara yang dipasang di helikopter atau kendaraan militer, diputarlah rekaman suara yang menyerupai ratapan arwah dan pesan-pesan bernuansa spiritual pada malam hari. Tujuannya adalah menciptakan tekanan psikologis terhadap pasukan Viet Cong dan memengaruhi persepsi mereka melalui simbol-simbol yang memiliki makna budaya dan religius.

Pertanyaannya, apakah itu berarti fenomena pocong hari ini pasti bagian dari operasi negara? Tentu tidak.

Sejarah bisa menjadi bahan perbandingan, tetapi bukan bukti. Sejarah memang mengingatkan kita bahwa ketakutan, mitos, dan kepercayaan masyarakat kadang dapat menjadi bagian dari perebutan pengaruh dan pembentukan opini publik. Namun, contoh sejarah semacam itu tidak boleh dipakai untuk meloncat pada kesimpulan bahwa fenomena pocong hari ini pasti didalangi negara.

Indonesia sendiri memiliki pengalaman yang relevan

Ketika membahas hubungan antara rumor mistis dan politik, kita sulit mengabaikan peristiwa Banyuwangi 1998. Saat itu, isu santet, cerita tentang ninja, ketakutan warga, pemberitaan media, dan lemahnya otoritas negara bercampur menjadi satu. Banyak orang dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Berbagai teori bermunculan, dan publik berusaha mencari siapa dalang di balik peristiwa itu. Tidak sedikit orang yang curiga peristiwa Banyuwangi 1998 didalangi negara. Akan tetapi, penelitian Nicholas Herriman tentang pembunuhan dukun santet di Banyuwangi dan Jawa Timur memberi analisis yang lebih kompleks.

Herriman menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu teori konspirasi besar. Kekerasan itu disebabkan banyak faktor, rumor, kepercayaan lokal, ketakutan kolektif, perubahan politik pasca-Orde Baru, serta tindakan warga dalam menafsirkan ancaman yang mereka yakini. Dengan kata lain, masyarakat bukan sekadar korban pasif yang digerakkan oleh satu dalang. Masyarakat juga ikut mempercayai rumor, menafsirkan situasi, dan dalam beberapa kasus bertindak berdasarkan rasa takut yang dianggap masuk akal pada saat itu.

Meski begitu, negara juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Ketika informasi tidak jelas, keamanan tidak terjamin, dan penjelasan resmi tidak dipercaya, ruang bagi rumor akan semakin terbuka.

Di sinilah pelajaran Banyuwangi relevan untuk membaca fenomena “Teror Pocong”. Tentu, kedua kasus ini tidak bisa disamakan begitu saja. Banyuwangi adalah kasus kekerasan terhadap orang yang dituduh dukun santet, sedangkan isu pocong hari ini lebih banyak terkait rumor, kepanikan, dan percakapan politik di media sosial. Namun, keduanya menunjukkan satu hal yang serupa, rumor mistis menjadi masuk akal bagi sebagian masyarakat ketika kehidupan sosial dipenuhi ketidakpastian, rasa tidak aman, dan kecurigaan terhadap otoritas.

Yang berbahaya bukan hanya kemungkinan adanya pihak yang sengaja menciptakan rumor, tetapi ketika rumor menemukan tanah yang subur untuk tumbuh. Tanah itu bernama ketidakpastian, ekonomi yang terasa berat, politik yang penuh kecurigaan, informasi yang simpang siur, dan kepercayaan publik yang melemah. Dalam situasi seperti itu, rumor hanya perlu terdengar cocok dengan perasaan publik untuk dipercaya.

Ketika banyak orang merasa hidup semakin sulit atau merasa pejabat tidak cukup jujur, rumor kecil dapat berubah menjadi penjelasan alternatif yang terasa masuk akal.

Masalah mulai tampak ketika persoalan pocong menjadi politis, bukan karena pocong itu sendiri punya agenda, tetapi karena publik sudah mulai terbiasa mencurigai ada agenda di balik setiap peristiwa yang menarik perhatian publik.

Kita boleh curiga, tetapi kita tidak perlu percaya begitu saja bahwa “Teror Pocong” adalah bagian dari operasi senyap negara. Tidak semua rumor adalah konspirasi, dan tidak semua ketakutan adalah rekayasa. Namun kita juga tidak boleh mengabaikan pesan yang tersimpan di balik kecurigaan itu. Ketika sebuah isu mistis begitu mudah diterjemahkan sebagai bagian dari operasi negara, persoalannya bukan lagi soal pocong, ini soal kepercayaan terhadap negara.

Barangkali hantu yang paling mengganggu ruang publik kita hari ini bukan sosok berkain kafan yang berkeliaran di jalanan, melainkan krisis kepercayaan yang ada di antara rakyat dan penguasa. Selama masalah itu tidak diselesaikan, rumor kecil akan selalu berpeluang memantik kecurigaan terhadap negara, dan rumor seperti “Teror Pocong”, betapa pun anehnya, akan terus muncul sebagai cermin dari kegelisahan masyarakat tentang kelakuan hantu-hantu di singgasana kekuasaan. [T]

Penulis: Early NHS
Editor: Jaswanto

Tags: hororkekuasaanmistispocongteror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Next Post

Ke Pacet Mereka Kembali

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Ke Pacet Mereka Kembali

Ke Pacet Mereka Kembali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co