26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perokok Bertanggung Jawab

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 25, 2026
in Esai
Perokok Bertanggung Jawab

Foto ilustrasi dari penulis

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di beberapa bagian. Permukaannya kusam seperti benda yang terlalu sering disentuh tangan dan asap. Pada badan kaleng itu ditempel secarik tulisan yang mengingatkan orang agar membuang abu dan puntung rokok pada tempat yang telah disediakan. Tulisan sederhana yang mungkin dibaca sekilas lalu dilupakan.

Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Sebagian menepuk-nepuk abu rokoknya pelan ke dalam kaleng itu. Sebagian lain membiarkan puntung tetap tercecer di lantai beranda. Ada yang meninggalkan bungkus rokok kosong di atas meja kayu. Ada pula yang pergi begitu saja sambil menyisakan abu berhamburan seperti bekas sesuatu yang tidak ingin lagi diingat.

Pemandangan seperti itu sebenarnya sangat biasa. Beranda toko modern kini perlahan menjadi ruang singgah kecil bagi banyak orang. Tempat pengemudi ojek online beristirahat sebentar sambil menunggu pesanan berikutnya. Tempat pegawai toko keluar sejenak mencari udara setelah berjam-jam berdiri di bawah cahaya lampu putih dan pendingin ruangan, mahasiswa membeli kopi murah sebelum kembali ke kamar kos, atau tempat orang-orang duduk sambil memandangi jalan yang tidak pernah benar-benar tidur.

Di Denpasar, terutama menjelang malam, meja kayu panjang di depan toko modern sering terasa seperti ruang sosial kecil yang aneh. Orang-orang yang tidak saling mengenal bisa duduk berdampingan tanpa banyak percakapan. Ada yang sibuk dengan telepon genggamnya, meneguk kopi sachet perlahan, atau ada juga yang  mengembuskan asap rokok sambil memandangi kendaraan berlalu-lalang.

Saya sering memperhatikan tempat-tempat seperti itu. Sebab kadang kehidupan terlihat lebih jujur di ruang-ruang sederhana semacam itu daripada di ruang formal yang penuh basa-basi.

Dari meja kayu panjang itu, saya merasa bisa melihat banyak hal tentang masyarakat kita.Tentang bagaimana seseorang memperlakukan ruang bersama, atau meninggalkan jejak setelah selesai menikmati sesuatu. Juga, tentang apakah kita masih memiliki kesadaran bahwa tempat umum juga perlu dijaga bersama-sama.

Dulu beberapa toko sempat menyediakan asbak konvensional. Bentuknya bagus dan memang layak disebut asbak. Namun lama-lama hilang. Entah dibawa pulang siapa. Mungkin dianggap barang kecil yang tidak penting. Akhirnya, kaleng bekas menjadi pilihan paling aman. Murah, sederhana, dan kalau hilang tidak terlalu merugikan.

Ada sesuatu yang terasa ironis dalam keadaan itu. Kita hidup di tengah bangunan yang semakin modern. Lampu-lampu terang menyala hampir dua puluh empat jam. Pembayaran bisa dilakukan hanya dengan memindai kode QR. Kamera pengawas dipasang di sudut-sudut toko. Namun menjaga benda kecil seperti asbak saja ternyata masih sulit.

Kadang saya berpikir, mungkin masalah kita memang bukan soal modern atau tidak modern. Kita mungkin modern dalam teknologi, tetapi belum tentu modern dalam kesadaran publik.

Orang masih dengan mudah membuang sampah dari atas motor. Gelas kopi plastik ditinggalkan di meja begitu saja. Puntung rokok dijepit di sela pot tanaman. Bahkan ada yang meninggalkan abu rokok berserakan di meja kayu panjang itu, lalu pergi tanpa merasa telah mengotori ruang bersama. Hal-hal kecil seperti itu sering dianggap sepele. Padahal justru dari situlah watak sosial sebuah masyarakat terlihat.

Saya pernah melihat seseorang selesai merokok, lalu dengan santai melempar puntung rokok ke area parkir, padahal kaleng asbak hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya duduk. Yang membuat saya heran bukan tindakannya semata, melainkan ekspresi wajahnya yang begitu biasa. Seolah tidak ada yang salah.

Mungkin karena terlalu sering melihat hal semacam itu, kita akhirnya ikut menganggapnya wajar. Padahal ruang publik tidak pernah benar-benar kotor dengan sendirinya. Ia menjadi kotor karena ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang setiap hari.

Karena itu saya diam-diam kagum pada seorang teman perokok. Ia selalu membawa asbak kecil sendiri di dalam tasnya. Bentuknya sederhana, sebesar telapak tangan. Setiap selesai merokok, ia memasukkan puntung ke sana. Tidak dibuang sembarangan,  ditinggalkan di atas meja, atau dilempar begitu saja ke selokan.

Awalnya saya menganggap itu terlalu repot. Namun semakin dipikirkan, justru di situlah letak tanggung jawab yang sesungguhnya. Ia sadar bahwa kebiasaan merokok adalah pilihannya sendiri. Maka sisa dari kebiasaan itu juga menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Bukan tanggung jawab petugas kebersihan, pegawai toko. Bukan pula tanggung jawab orang lain yang datang setelahnya. Hal sederhana seperti itu kini terasa semakin langka.

Kita hidup di tengah masyarakat yang sering berbicara besar tentang moral, budaya, dan sopan santun, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru sering gagal menjaga hal-hal kecil. Orang mudah marah melihat berita korupsi miliaran rupiah, tetapi santai membuang sampah sembarangan.

Atau, ibuk membicarakan kerusakan lingkungan di media sosial, tetapi meninggalkan gelas plastik di pantai setelah menikmati matahari terbenam. Orang berbicara tentang tata krama dengan penuh semangat, tetapi tidak merasa bersalah ketika meninggalkan puntung rokok di meja yang akan dipakai orang lain.

Mungkin memang begitulah manusia. Kita sering merasa sudah cukup baik hanya karena memiliki pendapat yang benar, padahal tanggung jawab sosial justru terlihat dari tindakan kecil yang dilakukan saat tidak ada yang memperhatikan.

Saya teringat pada suasana masa kecil di Bali ketika orang-orang masih punya rasa malu jika mengotori lingkungan sekitar rumah. Halaman disapu setiap pagi. Selokan dibersihkan bersama-sama. Bahkan daun jatuh di depan rumah tetangga kadang ikut dipungut.

Bukan karena takut didenda atau karena ingin dipuji. Ada kesadaran sederhana bahwa ruang bersama perlu dijaga bersama-sama. Sekarang kesadaran seperti itu terasa mulai menipis.

Kota semakin padat. Orang semakin sibuk. Hubungan antarwarga semakin renggang. Banyak orang hidup di tengah keramaian, tetapi tidak benar-benar merasa memiliki lingkungan tempat mereka tinggal. Akibatnya, ruang publik sering diperlakukan seperti tempat singgah tanpa tanggung jawab. Dipakai seperlunya, lalu ditinggalkan begitu saja. Padahal ruang publik adalah cermin kecil tentang siapa kita sebenarnya.

Meja kayu panjang di beranda toko modern itu mungkin tampak sepele. Namun dari sana kita bisa melihat bagaimana seseorang memperlakukan tempat yang bukan miliknya. Kita bisa melihat apakah ia masih memiliki rasa peduli terhadap orang lain yang akan duduk di sana setelah dirinya pergi.

Dan mungkin karena terlalu sering melihat puntung rokok tercecer di sekitar meja itu, seseorang akhirnya menempelkan tulisan kecil pada kaleng bekas tadi. Sebuah permintaan sederhana agar orang mau sedikit lebih bertanggung jawab. Tidak besar. Tidak muluk-muluk. Hanya meminta abu dan puntung rokok dibuang pada tempatnya.

Namun bahkan permintaan sesederhana itu ternyata belum tentu mudah dilakukan. Kadang saya membayangkan, alangkah baiknya jika lebih banyak orang membawa “asbak kecil” masing-masing dalam hidupnya.

Bukan sekadar asbak untuk puntung rokok, melainkan kesadaran untuk membereskan akibat dari kebiasaan sendiri. Kesadaran untuk tidak selalu meninggalkan beban bagi ruang publik dan orang lain.

Sebab dunia tampaknya semakin penuh oleh orang-orang yang ingin bebas menikmati sesuatu, tetapi malas bertanggung jawab atas sisa-sisa yang mereka tinggalkan.

Dan mungkin, menjadi manusia yang bertanggung jawab memang sesederhana itu. Menepuk abu rokok pada tempatnya. Membersihkan meja setelah dipakai. Membawa pulang sampah sendiri. Tidak meninggalkan jejak yang merepotkan orang lain. Hal-hal kecil yang sekarang justru terasa semakin langka.

Malam semakin turun di kota. Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti aliran kecil yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di beranda toko modern itu, orang-orang masih datang silih berganti. Ada yang membeli air mineral, mengambil uang di ATM. Ada juga yang hanya duduk sebentar sambil mengisap rokok sebelum pulang ke rumah yang mungkin terasa sama penatnya dengan jalanan.

Kaleng bekas di atas meja kayu panjang itu tetap berada di tempatnya. Kadang saya berpikir, benda sederhana seperti itu sebenarnya menyimpan cerita yang cukup panjang tentang masyarakat kita. Tentang cara kita menghadapi keterbatasan. Tentang kebiasaan mencari solusi paling praktis. Sekaligus tentang rendahnya kepercayaan bahwa barang yang disediakan bersama bisa tetap dijaga bersama.

Mungkin pengelola toko pernah berharap asbak yang bagus akan membuat orang lebih tertib. Namun harapan sering kalah oleh kenyataan sehari-hari. Barang hilang. Asbak berpindah entah ke mana. Lalu kaleng bekas menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Ada nuansa pasrah dalam keputusan semacam itu. Seolah-olah kita sudah terlalu terbiasa hidup berdampingan dengan kehilangan kecil. Kehilangan sendok di warung makan. Kehilangan tanaman di pinggir jalan. Kehilangan lampu taman. Kehilangan fasilitas umum yang perlahan rusak karena dianggap bukan milik siapa-siapa.

Padahal justru dari cara masyarakat memperlakukan benda-benda kecil itulah kualitas sebuah peradaban bisa dibaca. Negara-negara maju sering dipuji karena transportasi publiknya, teknologinya, atau bangunannya yang tertata. Namun mungkin yang lebih penting sebenarnya adalah kesadaran kecil warganya untuk tidak merusak hal yang dipakai bersama. Kesadaran yang tampak sederhana, tetapi membutuhkan pendidikan sosial yang panjang.

Di tempat kita, kesadaran itu kadang masih terasa rapuh. Saya beberapa kali melihat meja kayu di beranda toko modern dicoret-coret dengan nama atau kata-kata iseng. Ada yang meninggalkan bungkus makanan begitu saja meski tempat sampah hanya beberapa langkah, atau menggeser kursi tanpa mengembalikannya lagi. Semua terlihat kecil dan sepele. Namun jika terus diulang setiap hari oleh banyak orang, ruang publik perlahan berubah menjadi ruang yang lelah.

Dan mungkin, petugas kebersihan adalah orang-orang yang paling sering menyaksikan kelelahan itu. Mereka datang pagi-pagi ketika kota belum benar-benar sibuk. Menyapu puntung rokok. Mengangkat gelas plastik. Membersihkan meja yang lengket oleh tumpahan kopi atau abu rokok. Sering kali pekerjaan mereka dianggap biasa saja karena terlalu sering kita lihat. Padahal banyak orang bisa menikmati ruang yang bersih justru karena ada orang lain yang diam-diam membersihkan sisa kebiasaan kita.

Karena itu saya selalu merasa, menjadi “perokok bertanggung jawab” sebenarnya bukan hanya soal rokok. Ia adalah cara seseorang memahami keberadaannya di tengah orang lain. Apakah setelah menikmati sesuatu, ia bersedia membereskan jejaknya sendiri atau tidak. Apakah ia sadar bahwa ruang publik bukan tempat membuang semua sisa yang tidak ingin ia urus lagi.

Barangkali itu pula sebabnya saya menyukai kalimat kecil yang ditempel pada kaleng bekas itu. Kalimat yang sederhana dan nyaris tidak puitis sama sekali. Namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa jujur. Tidak sedang menggurui dunia. Tidak sedang berbicara tentang perubahan besar. Hanya sebuah permintaan kecil agar orang mau sedikit lebih peduli.

Dan kadang, perubahan memang selalu dimulai dari permintaan-permintaan kecil yang terus diabaikan. Dari puntung rokok yang dibuang pada tempatnya, meja yang dibersihkan setelah dipakai. Dari kesediaan memikirkan orang lain yang akan datang setelah kita pergi. Mungkin itu terdengar terlalu sederhana untuk disebut sebagai bentuk peradaban.

Namun saya semakin percaya bahwa kehidupan bersama memang dibangun oleh hal-hal sederhana semacam itu. Bukan hanya oleh pidato besar tentang moralitas, kebudayaan, atau nasionalisme. Melainkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bahkan ketika tidak ada yang melihat. Di atas meja kayu panjang itu, kaleng bekas tetap diam. Menampung abu, puntung rokok, dan mungkin juga sisa-sisa kesadaran publik yang belum sepenuhnya hilang.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: antirokokgaya hiduprokok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

Next Post

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co