Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di beberapa bagian. Permukaannya kusam seperti benda yang terlalu sering disentuh tangan dan asap. Pada badan kaleng itu ditempel secarik tulisan yang mengingatkan orang agar membuang abu dan puntung rokok pada tempat yang telah disediakan. Tulisan sederhana yang mungkin dibaca sekilas lalu dilupakan.
Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Sebagian menepuk-nepuk abu rokoknya pelan ke dalam kaleng itu. Sebagian lain membiarkan puntung tetap tercecer di lantai beranda. Ada yang meninggalkan bungkus rokok kosong di atas meja kayu. Ada pula yang pergi begitu saja sambil menyisakan abu berhamburan seperti bekas sesuatu yang tidak ingin lagi diingat.
Pemandangan seperti itu sebenarnya sangat biasa. Beranda toko modern kini perlahan menjadi ruang singgah kecil bagi banyak orang. Tempat pengemudi ojek online beristirahat sebentar sambil menunggu pesanan berikutnya. Tempat pegawai toko keluar sejenak mencari udara setelah berjam-jam berdiri di bawah cahaya lampu putih dan pendingin ruangan, mahasiswa membeli kopi murah sebelum kembali ke kamar kos, atau tempat orang-orang duduk sambil memandangi jalan yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di Denpasar, terutama menjelang malam, meja kayu panjang di depan toko modern sering terasa seperti ruang sosial kecil yang aneh. Orang-orang yang tidak saling mengenal bisa duduk berdampingan tanpa banyak percakapan. Ada yang sibuk dengan telepon genggamnya, meneguk kopi sachet perlahan, atau ada juga yang mengembuskan asap rokok sambil memandangi kendaraan berlalu-lalang.
Saya sering memperhatikan tempat-tempat seperti itu. Sebab kadang kehidupan terlihat lebih jujur di ruang-ruang sederhana semacam itu daripada di ruang formal yang penuh basa-basi.
Dari meja kayu panjang itu, saya merasa bisa melihat banyak hal tentang masyarakat kita.Tentang bagaimana seseorang memperlakukan ruang bersama, atau meninggalkan jejak setelah selesai menikmati sesuatu. Juga, tentang apakah kita masih memiliki kesadaran bahwa tempat umum juga perlu dijaga bersama-sama.
Dulu beberapa toko sempat menyediakan asbak konvensional. Bentuknya bagus dan memang layak disebut asbak. Namun lama-lama hilang. Entah dibawa pulang siapa. Mungkin dianggap barang kecil yang tidak penting. Akhirnya, kaleng bekas menjadi pilihan paling aman. Murah, sederhana, dan kalau hilang tidak terlalu merugikan.
Ada sesuatu yang terasa ironis dalam keadaan itu. Kita hidup di tengah bangunan yang semakin modern. Lampu-lampu terang menyala hampir dua puluh empat jam. Pembayaran bisa dilakukan hanya dengan memindai kode QR. Kamera pengawas dipasang di sudut-sudut toko. Namun menjaga benda kecil seperti asbak saja ternyata masih sulit.
Kadang saya berpikir, mungkin masalah kita memang bukan soal modern atau tidak modern. Kita mungkin modern dalam teknologi, tetapi belum tentu modern dalam kesadaran publik.
Orang masih dengan mudah membuang sampah dari atas motor. Gelas kopi plastik ditinggalkan di meja begitu saja. Puntung rokok dijepit di sela pot tanaman. Bahkan ada yang meninggalkan abu rokok berserakan di meja kayu panjang itu, lalu pergi tanpa merasa telah mengotori ruang bersama. Hal-hal kecil seperti itu sering dianggap sepele. Padahal justru dari situlah watak sosial sebuah masyarakat terlihat.
Saya pernah melihat seseorang selesai merokok, lalu dengan santai melempar puntung rokok ke area parkir, padahal kaleng asbak hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya duduk. Yang membuat saya heran bukan tindakannya semata, melainkan ekspresi wajahnya yang begitu biasa. Seolah tidak ada yang salah.
Mungkin karena terlalu sering melihat hal semacam itu, kita akhirnya ikut menganggapnya wajar. Padahal ruang publik tidak pernah benar-benar kotor dengan sendirinya. Ia menjadi kotor karena ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang setiap hari.
Karena itu saya diam-diam kagum pada seorang teman perokok. Ia selalu membawa asbak kecil sendiri di dalam tasnya. Bentuknya sederhana, sebesar telapak tangan. Setiap selesai merokok, ia memasukkan puntung ke sana. Tidak dibuang sembarangan, ditinggalkan di atas meja, atau dilempar begitu saja ke selokan.
Awalnya saya menganggap itu terlalu repot. Namun semakin dipikirkan, justru di situlah letak tanggung jawab yang sesungguhnya. Ia sadar bahwa kebiasaan merokok adalah pilihannya sendiri. Maka sisa dari kebiasaan itu juga menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Bukan tanggung jawab petugas kebersihan, pegawai toko. Bukan pula tanggung jawab orang lain yang datang setelahnya. Hal sederhana seperti itu kini terasa semakin langka.
Kita hidup di tengah masyarakat yang sering berbicara besar tentang moral, budaya, dan sopan santun, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru sering gagal menjaga hal-hal kecil. Orang mudah marah melihat berita korupsi miliaran rupiah, tetapi santai membuang sampah sembarangan.
Atau, ibuk membicarakan kerusakan lingkungan di media sosial, tetapi meninggalkan gelas plastik di pantai setelah menikmati matahari terbenam. Orang berbicara tentang tata krama dengan penuh semangat, tetapi tidak merasa bersalah ketika meninggalkan puntung rokok di meja yang akan dipakai orang lain.
Mungkin memang begitulah manusia. Kita sering merasa sudah cukup baik hanya karena memiliki pendapat yang benar, padahal tanggung jawab sosial justru terlihat dari tindakan kecil yang dilakukan saat tidak ada yang memperhatikan.
Saya teringat pada suasana masa kecil di Bali ketika orang-orang masih punya rasa malu jika mengotori lingkungan sekitar rumah. Halaman disapu setiap pagi. Selokan dibersihkan bersama-sama. Bahkan daun jatuh di depan rumah tetangga kadang ikut dipungut.
Bukan karena takut didenda atau karena ingin dipuji. Ada kesadaran sederhana bahwa ruang bersama perlu dijaga bersama-sama. Sekarang kesadaran seperti itu terasa mulai menipis.
Kota semakin padat. Orang semakin sibuk. Hubungan antarwarga semakin renggang. Banyak orang hidup di tengah keramaian, tetapi tidak benar-benar merasa memiliki lingkungan tempat mereka tinggal. Akibatnya, ruang publik sering diperlakukan seperti tempat singgah tanpa tanggung jawab. Dipakai seperlunya, lalu ditinggalkan begitu saja. Padahal ruang publik adalah cermin kecil tentang siapa kita sebenarnya.
Meja kayu panjang di beranda toko modern itu mungkin tampak sepele. Namun dari sana kita bisa melihat bagaimana seseorang memperlakukan tempat yang bukan miliknya. Kita bisa melihat apakah ia masih memiliki rasa peduli terhadap orang lain yang akan duduk di sana setelah dirinya pergi.
Dan mungkin karena terlalu sering melihat puntung rokok tercecer di sekitar meja itu, seseorang akhirnya menempelkan tulisan kecil pada kaleng bekas tadi. Sebuah permintaan sederhana agar orang mau sedikit lebih bertanggung jawab. Tidak besar. Tidak muluk-muluk. Hanya meminta abu dan puntung rokok dibuang pada tempatnya.
Namun bahkan permintaan sesederhana itu ternyata belum tentu mudah dilakukan. Kadang saya membayangkan, alangkah baiknya jika lebih banyak orang membawa “asbak kecil” masing-masing dalam hidupnya.
Bukan sekadar asbak untuk puntung rokok, melainkan kesadaran untuk membereskan akibat dari kebiasaan sendiri. Kesadaran untuk tidak selalu meninggalkan beban bagi ruang publik dan orang lain.
Sebab dunia tampaknya semakin penuh oleh orang-orang yang ingin bebas menikmati sesuatu, tetapi malas bertanggung jawab atas sisa-sisa yang mereka tinggalkan.
Dan mungkin, menjadi manusia yang bertanggung jawab memang sesederhana itu. Menepuk abu rokok pada tempatnya. Membersihkan meja setelah dipakai. Membawa pulang sampah sendiri. Tidak meninggalkan jejak yang merepotkan orang lain. Hal-hal kecil yang sekarang justru terasa semakin langka.
Malam semakin turun di kota. Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti aliran kecil yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di beranda toko modern itu, orang-orang masih datang silih berganti. Ada yang membeli air mineral, mengambil uang di ATM. Ada juga yang hanya duduk sebentar sambil mengisap rokok sebelum pulang ke rumah yang mungkin terasa sama penatnya dengan jalanan.
Kaleng bekas di atas meja kayu panjang itu tetap berada di tempatnya. Kadang saya berpikir, benda sederhana seperti itu sebenarnya menyimpan cerita yang cukup panjang tentang masyarakat kita. Tentang cara kita menghadapi keterbatasan. Tentang kebiasaan mencari solusi paling praktis. Sekaligus tentang rendahnya kepercayaan bahwa barang yang disediakan bersama bisa tetap dijaga bersama.
Mungkin pengelola toko pernah berharap asbak yang bagus akan membuat orang lebih tertib. Namun harapan sering kalah oleh kenyataan sehari-hari. Barang hilang. Asbak berpindah entah ke mana. Lalu kaleng bekas menjadi pilihan yang paling masuk akal.
Ada nuansa pasrah dalam keputusan semacam itu. Seolah-olah kita sudah terlalu terbiasa hidup berdampingan dengan kehilangan kecil. Kehilangan sendok di warung makan. Kehilangan tanaman di pinggir jalan. Kehilangan lampu taman. Kehilangan fasilitas umum yang perlahan rusak karena dianggap bukan milik siapa-siapa.
Padahal justru dari cara masyarakat memperlakukan benda-benda kecil itulah kualitas sebuah peradaban bisa dibaca. Negara-negara maju sering dipuji karena transportasi publiknya, teknologinya, atau bangunannya yang tertata. Namun mungkin yang lebih penting sebenarnya adalah kesadaran kecil warganya untuk tidak merusak hal yang dipakai bersama. Kesadaran yang tampak sederhana, tetapi membutuhkan pendidikan sosial yang panjang.
Di tempat kita, kesadaran itu kadang masih terasa rapuh. Saya beberapa kali melihat meja kayu di beranda toko modern dicoret-coret dengan nama atau kata-kata iseng. Ada yang meninggalkan bungkus makanan begitu saja meski tempat sampah hanya beberapa langkah, atau menggeser kursi tanpa mengembalikannya lagi. Semua terlihat kecil dan sepele. Namun jika terus diulang setiap hari oleh banyak orang, ruang publik perlahan berubah menjadi ruang yang lelah.
Dan mungkin, petugas kebersihan adalah orang-orang yang paling sering menyaksikan kelelahan itu. Mereka datang pagi-pagi ketika kota belum benar-benar sibuk. Menyapu puntung rokok. Mengangkat gelas plastik. Membersihkan meja yang lengket oleh tumpahan kopi atau abu rokok. Sering kali pekerjaan mereka dianggap biasa saja karena terlalu sering kita lihat. Padahal banyak orang bisa menikmati ruang yang bersih justru karena ada orang lain yang diam-diam membersihkan sisa kebiasaan kita.
Karena itu saya selalu merasa, menjadi “perokok bertanggung jawab” sebenarnya bukan hanya soal rokok. Ia adalah cara seseorang memahami keberadaannya di tengah orang lain. Apakah setelah menikmati sesuatu, ia bersedia membereskan jejaknya sendiri atau tidak. Apakah ia sadar bahwa ruang publik bukan tempat membuang semua sisa yang tidak ingin ia urus lagi.
Barangkali itu pula sebabnya saya menyukai kalimat kecil yang ditempel pada kaleng bekas itu. Kalimat yang sederhana dan nyaris tidak puitis sama sekali. Namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa jujur. Tidak sedang menggurui dunia. Tidak sedang berbicara tentang perubahan besar. Hanya sebuah permintaan kecil agar orang mau sedikit lebih peduli.
Dan kadang, perubahan memang selalu dimulai dari permintaan-permintaan kecil yang terus diabaikan. Dari puntung rokok yang dibuang pada tempatnya, meja yang dibersihkan setelah dipakai. Dari kesediaan memikirkan orang lain yang akan datang setelah kita pergi. Mungkin itu terdengar terlalu sederhana untuk disebut sebagai bentuk peradaban.
Namun saya semakin percaya bahwa kehidupan bersama memang dibangun oleh hal-hal sederhana semacam itu. Bukan hanya oleh pidato besar tentang moralitas, kebudayaan, atau nasionalisme. Melainkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bahkan ketika tidak ada yang melihat. Di atas meja kayu panjang itu, kaleng bekas tetap diam. Menampung abu, puntung rokok, dan mungkin juga sisa-sisa kesadaran publik yang belum sepenuhnya hilang.[T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole





























