BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah yang sama, barangkali bukan perkara sederhana. Diperlukan kesungguhan, kepekaan, dan kerja sama agar setiap karya tetap menghadirkan suara personal, namun tetap berpadu dalam harmoni tema yang utuh. Antologi cerpen ini lahir dari proses tersebut, sebuah perjumpaan antara keberagaman gagasan dengan semangat kebersamaan.
Di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), proyek penyusunan buku antologi tidak sekadar menjadi tugas akademik biasa. Kegiatan tersebut justru dijadikan bagian dari ujian blok yang harus dilalui siswa kelas X dan XI dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada semester ganjil, seluruh siswa kelas X mendapat tugas membuat antologi puisi. Sementara pada semester genap, giliran siswa kelas XI menyusun antologi cerpen. Setiap kelas mengerjakan satu buku kolektif sebagai bentuk pemenuhan pembelajaran.
Sebagai sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran blok, Kesbam memiliki pola belajar yang berbeda dibanding sekolah pada umumnya. Dalam satu semester, durasi pembelajaran dibagi menjadi dua periode masing-masing selama tiga bulan. Pada setiap blok, siswa akan fokus mempelajari beberapa mata pelajaran tertentu, sementara pelajaran lainnya akan dipelajari pada blok berikutnya. Pengecualian diberikan pada mata pelajaran produktif sesuai jurusan yang tetap berjalan secara berkelanjutan. SMK Kesehatan Bali Medika sendiri memiliki empat jurusan, yakni Keperawatan dan Caregiving, Farmasi Klinis dan Komunitas, Teknologi Laboratorium Medik, serta Manajemen Perkantoran Layanan Bisnis.
Di tengah pola pembelajaran yang cukup padat tersebut, proyek antologi puisi dan cerpen menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih reflektif sekaligus kreatif. Dalam Kurikulum Merdeka yang kini beralih menjadi Kurikulum Nasional, sistem penilaian memang tidak lagi hanya bertumpu pada tes tertulis. Sekolah diberikan ruang untuk menerapkan asesmen berbasis proyek, yakni metode evaluasi yang menilai siswa melalui karya, presentasi, maupun penyelesaian masalah nyata. Pendekatan ini dianggap lebih mampu mengukur kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kolaborasi siswa dibanding sekadar hafalan materi.
Karena itu, proyek buku antologi dipilih sebagai bentuk ujian yang dinilai lebih relevan dengan materi puisi dan cerpen yang sedang dipelajari siswa. Dalam prosesnya, para siswa tidak hanya diminta menulis. Mereka juga belajar membaca karya, melakukan revisi, menyunting tulisan, hingga menyusun buku bersama-sama. Seluruh tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam pembelajaran literasi.
Sebagai guru pengampu, saya memandang kegiatan ini bukan hanya pemenuhan tugas akademik semata, melainkan juga sebagai ruang pembentukan karakter. Melalui proses kreatif tersebut, siswa belajar membuat karya dengan tanggung jawab estetik sekaligus etis. Mereka diajak memahami bahwa puisi dan cerpen bukan hanya tentang menceritakan sesuatu, tetapi juga tentang kepekaan terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan sekitar.

Menariknya, sebagian besar karya siswa lahir dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri. Ada yang menulis tentang kisah asmara remaja, hubungan keluarga, pengalaman di sekolah, hingga pergulatan batin yang mereka alami sehari-hari. Tulisan-tulisan itu hadir dengan bahasa yang jujur dan apa adanya, memperlihatkan bagaimana para siswa memandang dunia di sekitar mereka.
Dari karya-karya tersebut, guru dapat melihat cara berpikir dan kondisi psikologis siswa yang tercermin dalam setiap karya. Cerita dan puisi yang dihasilkan juga menjadi media refleksi diri bagi para siswa. Di sisi lain, para siswa pun dapat belajar memahami pengalaman teman-temannya melalui kisah yang dibuat.
Dalam proses penyusunan dan penyuntingan karya, saya juga dibantu oleh Mohammad Hasbi Romadhoni, S.S. Kami bersama-sama mendampingi proses kurasi hingga editing. Pendampingan itu dilakukan bukan untuk menghilangkan karakter tulisan siswa, melainkan membantu mereka memahami bagaimana sebuah karya dapat disusun dengan lebih baik dan lebih rapi. Dalam proses ini, siswa pun menjadi lebih memahami bagaimana penulisan serta penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kendati demikian, tantangan tetap ada. Di tengah perkembangan teknologi, beberapa karya siswa juga terindikasi menggunakan bantuan AI (artificial intelligence). Kehadiran AI memang menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam dunia pendidikan saat ini. Namun kondisi tersebut tidak serta-merta dipandang sebagai ancaman.
Sebaliknya, justru penting beradaptasi dengan perkembangan teknologi tersebut. Siswa seharusnya diarahkan agar mampu menggunakan AI secara bijak dan maksimal, bukan menjadikannya sebagai pengganti kemampuan berpikir. AI diharapkan hadir sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, bukan sebagai ‘pembantu’ yang mengambil alih seluruh pekerjaan kreatif mereka.
Walaupun tidak semua karya bisa dikatakan sempurna, proyek ini diharapkan mampu mendorong siswa untuk berpikir lebih kritis dan lebih berani mengekspresikan gagasan. Buku yang mereka hasilkan juga memiliki nilai lebih karena dapat mendokumentasikan ide secara permanen. Tidak hanya menjadi bagian dari penilaian akademis, tetapi juga menjadi sesuatu yang dapat dikenang dan dibanggakan di masa depan.
Lebih jauh lagi, proyek ini juga membantu siswa membangun personal branding melalui karya tulis yang dihasilkan. Mereka belajar bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk menyampaikan gagasan, merekam pengalaman, sekaligus meninggalkan jejak pemikiran.
Sebagai bentuk apresiasi, buku-buku antologi puisi dan cerpen karya siswa tersebut disimpan di perpustakaan sekolah. Seluruh warga sekolah dapat membacanya. Dengan demikian, karya para siswa tidak berhenti sebagai tugas kelas semata, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya literasi di lingkungan sekolah.
Pada akhirnya, di tengah dunia pendidikan yang terus berubah, proyek sederhana berupa buku antologi ini justru menghadirkan sesuatu yang paling penting: ruang bagi siswa untuk berekspresi melalui karya mereka sendiri. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole




























