Menggambar dengan Kalimat
aku menulis satu garis
ia menyebut dirinya alis
aku tambah satu kata
ia mengaku sebagai mata
pelan-pelan
halaman itu mulai merasa hidup
mengatur dirinya sendiri
menolak dihapus di bagian tertentu
sampai akhirnya
aku berhenti
bukan karena selesai
tapi karena wajah itu menatap balik
dan tidak membutuhkan aku lagi
Ada Seseuatu yang Tinggal di Dalam Lemari Es
aku menemukan seseorang
tinggal di dalam lemari es
bukan secara tiba-tiba
lebih seperti
ia sudah lama di sana
dan aku yang baru menyadari
ia duduk di rak kedua
di antara botol saus
dan sisa nasi kemarin
katanya di luar terlalu cepat
segala sesuatu membusuk
sebelum sempat dipahami
di dalam sini lebih baik
ia bilang
waktu berjalan seperti air dingin
pelan
dan tidak banyak bertanya
aku tanya
apa tidak kedinginan
ia tertawa kecil
katanya dingin itu perlu
agar sesuatu tidak berubah terlalu cepat
aku diam sebentar
lalu ikut duduk di sampingnya
lampu kecil menyala
setiap kali pintu dibuka
lalu mati lagi
seperti harapan yang hemat listrik
kami tidak banyak bicara
hanya mendengarkan
dengung halus
yang menjaga semuanya tetap ada
sebelum pintu ditutup lagi
aku sempat melihat
pantulan wajah di kaca botol
agak buram
tapi cukup jelas
untuk membuatku ragu
sejak kapan
aku mulai memanggilnya
dengan namaku sendiri
Pagi Tadi
aku menyetrika bayanganku sendiri tadi pagi
bukan karena kusut
lebih karena ia terlihat tidak rapi
di lantai kamar
lipatannya aneh
terlalu banyak bagian yang menumpuk
seperti semalam
aku berjalan terlalu jauh
tanpa benar-benar ke mana-mana
aku bentangkan ia pelan-pelan
di atas papan setrika
ia diam saja
tidak melawan
padahal biasanya
ia selalu mengikuti
ke mana pun aku pergi
setrikanya panas
cukup untuk meratakan
keraguan kecil
yang menempel di ujung-ujungnya
aku tekan bagian kepala
sedikit lebih lama
siapa tahu pikiran yang berantakan
bisa ikut lurus
lalu bagian tangan
yang sering ragu
ketika harus melepas sesuatu
lalu kaki
yang terlalu sering kembali
ke tempat yang sama
aneh ya
bayangan tidak pernah benar-benar punya bentuk
tapi bisa terlihat berantakan
setelah selesai
aku gantung ia di belakang pintu
biar nanti kupakai lagi
kalau ingin terlihat seperti diri sendiri
tapi waktu aku mau berangkat
aku baru sadar
di lantai masih ada satu lagi
lebih tipis
lebih gelap
dan kali ini
tidak mau mengikuti ke mana-mana
Kalau Kamu Tidak Sempat Kembali Hari Ini
aku sempat mau menulis namamu
di ujung hari
yang biasanya kosong itu
tapi aku lupa
huruf mana yang harus duluan
yang kuingat cuma caramu pergi
jadi kutulis saja
asal terdengar seperti kamu
aku gambar sedikit di sekitarnya
biar tidak terlalu sepi
kursi
warna yang tidak kuingat
wajah yang tidak jadi
kalau jelek jangan marah
kenangan kita juga mulai aneh
mungkinkah
mungkinkah kamu sempat ingat hari ini
tidak usah datang
cukup jadi sesuatu yang kecil
angin
di jendela yang tertutup
atau bunyi sendok jatuh
padahal tidak ada yang memasak
asal jangan benar-benar kamu
aku takut
masih memanggil
nama yang sudah tidak kamu pakai
Rumah yang Menghadap ke Matahari Terbit
rumah itu mabuk
setiap kali matahari muncul
jendelanya tertawa
sambil menatap aku
yang lupa cara pulang
kursi di beranda
menggigil
mengingat punggungmu
lebih lama daripada aku
matahari menendang langit
dan aku menendang diri sendiri
karena rumah ini
menghadap ke arah yang salah
tapi cahaya, nakal
tidak peduli
ia masuk
dan menulis ulang bayangan
yang seharusnya hilang
aku tertawa
karena bayangan itu
lebih setia daripada siapa pun
dan rumah itu
menghadapi timur
seolah bilang:
“selamat mencoba, kau tidak akan menang.”
(Yogyakarta, 2026)
.
Penulis: Salman Alade
Editor: Adnyana Ole





























