11 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
in Ulas Film
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani dalam film Crocodile Tears. (Foto: Talamedia).

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih terdengar. Menempel di sudut ingatan, menghantui perjalanan pulang ke rumah.

Sulit rasanya percaya bahwa Crocodile Tears (2024) adalah debut penyutradaraan film panjang Tumpal Tampubolon. Ia memahami satu hal yang jarang benar-benar dipahami: teror terbesar sering kali lahir bukan dari sesuatu yang asing, melainkan dari sesuatu yang dekat—terlalu dekat. Dari rumah, dari keluarga, dari seseorang yang mengatakan bahwa ia mencintai kita, tetapi diam-diam menjadikan cinta itu sebagai penjara.

Mama (Marissa Anita) menjadi pusat teror yang diciptakan Tumpal. Seluruh dunia film bergerak mengelilinginya. Rumah yang lembab, kandang buaya yang berlumut, dan Johan yang seakan tidak bisa meninggalkan masa kecilnya. Bahkan ketika Mama tidak berada di dalam frame, kehadirannya tetap terasa. Ia hidup dalam sunyi rumah itu, dalam tatapan Johan yang ragu-ragu, dalam raungan buaya yang terdengar samar di kejauhan.

Poster film Crocodile Tears | Foto: Talamedia

Crocodile Tears tidak memandang relasi keluarga sebagai ruang aman, tetapi sebagai ruang yang perlahan menelan identitas seseorang. Hubungan Mama dan Johan (Yusuf Mahardika) bergerak di wilayah yang ambigu. Johan tidak hanya hidup bersama ibunya; ia hidup di bawah bayang-bayang kebutuhan emosional Mama yang tak pernah selesai.

Mama bukan sekadar ibu yang posesif. Ia adalah kesepian yang menjelma ancaman: manusia yang terlalu takut kehilangan cinta sampai tanpa sadar mengubah cinta itu menjadi luka.

Kehadiran Arumi (Zulfa Maharani) adalah gangguan pertama terhadap dunia Mama dan Johan yang selama ini tertutup rapat. Bersamanya, Johan mulai membayangkan hidup di luar Taman Buaya Jaya.

Tapi Crocodile Tears tampaknya memang tidak terlalu tertarik menjadikan Arumi sebagai manusia yang utuh. Ia lebih terasa sebagai pemantik keretakan hubungan Mama dan Johan. Bahkan tanpa mengubah banyak hal, peran itu rasa-rasanya bisa dimainkan oleh siapa saja.

Dialog yang muncul di antara Mama dan Johan terasa seperti luka yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya ada sesuatu yang akrab dalam banyak keluarga: cinta yang berubah menjadi hutang emosional. Mama merasa seluruh hidupnya dikorbankan demi Johan, sementara Johan tumbuh dengan rasa bersalah karena ingin memiliki hidupnya sendiri.

“Mama menyesal melahirkan kamu.”

“Aku nggak minta dilahirkan di keluarga ini!”

Marissa Anita dan Yusuf Mahardika dalam salah satu adegan di film Crocodile Tears | Foto: Talamedia

Teror film ini semakin kuat dari cara Tumpal dan sinematografer, Teck Siang Lim, memandang ruang dan tubuh para karakternya. Kamera dalam Crocodile Tears seperti sedang mengintai, bergerak perlahan, diam terlalu lama, lalu tiba-tiba membawa kita begitu dekat pada sesuatu yang mengancam.

Buaya dalam film ini bukan sekadar metafora yang ditempelkan untuk memberi kesan simbolik. Tumpal memperlakukan mereka sebagai makhluk yang benar-benar hidup. Kulit kasar yang nyaris menyerupai batu, mata yang diam tanpa ekspresi, rahang yang bergerak di atas air keruh. Kedekatan itu terasa ganjil. Rasanya, saya seperti sedang dipaksa hidup bersama mereka.

Pilihan untuk menggunakan mata buaya sebagai transisi menjadi salah satu keputusan visual terbaik dalam Crocodile Tears. Pelan-pelan film ini membuat kita sadar bahwa tatapan itu bukan hanya milik reptil purba tersebut, melainkan juga tatapan Mama—diam, sabar, menyimpan rasa lapar emosional yang tak pernah benar-benar selesai.

Sound design di film ini juga bekerja sama kuatnya. Tumpal tidak menggunakan raungan buaya untuk mengejutkan penonton. Ia menggunakannya untuk menciptakan atmosfer yang perlahan mengendap di kepala penonton.

Perpaduan keduanya membuat Taman Buaya Jaya terasa sangat hidup. Saya melihat Johan seperti seseorang yang telah lama ditelan tempat penangkaran itu, bahkan sebelum ia berkeinginan untuk pergi. Taman Buaya Jaya lantas terasa bukan lagi sekadar latar, tetapi penjara emosi yang menahan seluruh hidup Johan untuk tetap di sana.

Cinta di Air Keruh

Tumpal memahami bahwa teror tidak selalu lahir dari sesuatu yang meledak-ledak. Kadang ia tumbuh dari repetisi. Rutinitas yang terus diulang. Kesunyian yang dibiarkan terlalu lama. Semuanya dibangun lambat, tetapi tidak pernah terasa kosong.

Mama memberi makan buaya. Johan membersihkan panggung pertunjukan buaya. Malam datang, lalu raungan buaya kembali terdengar. Semua ritual kecil itu terus berulang sepanjang film, menciptakan rasa sesak yang semakin lama semakin menekan.

Mata buaya dalam film Crocodile Tears | Foto: tangkapan layar: YouTube/Talamedia

Ritme lambat ini berisiko berubah menjadi gaya kosong. Kesunyiannya hanya menjadi ornamen untuk terlihat artistik. Namun, Crocodile Tears berhasil menghindari jebakan itu. Di balik kelambatannya, ada kompleksitas emosional yang terakumulasi.

Tidak ada karakter yang sepenuhnya bisa dibenci. Mama mengerikan, tetapi juga menyedihkan. Johan terasa pasif dan frustratif, tetapi film memberi kita cukup ruang untuk memahami bagaimana hidup terlalu lama di bawah kontrol emosional dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Namun di balik seluruh keberhasilannya membangun atmosfer dan kompleksitas emosi, Crocodile Tears terlalu menahan dirinya untuk melangkah lebih jauh. Tumpal sangat tertarik pada mitologi emosional keluarga—ibu posesif, anak yang terjebak, cinta yang berubah menjadi luka, tetapi ia nyaris tidak pernah benar-benar menggali struktur sosial yang melahirkan penjara itu.

Johan bukan hanya anak yang gagal melepaskan diri dari ibunya. Ia juga laki-laki muda kelas bawah yang hidup di ruang sosial tanpa horizon. Tidak ada pendidikan, tidak ada mobilitas, tidak ada dunia luar yang benar-benar terasa mungkin baginya. Dalam konteks itu, mungkin kelas sosial adalah penjara yang lebih besar dari Mama.

Taman Buaya Jaya sebetulnya menyimpan kemungkinan metafora yang jauh lebih kaya daripada sekadar lanskap psikologis. Tempat itu terasa seperti reruntuhan ekonomi pinggiran: atraksi hiburan kelas bawah yang hidup dari sisa-sisa masyarakat tontonan. Kandang-kandang berlumut, arena pertunjukan yang sepi, dan mitos tentang buaya putih membuat tempat itu tampak seperti dunia yang tertinggal dari zaman lain.

Sayangnya, Crocodile Tears tampak enggan masuk terlalu jauh ke wilayah tersebut. Film ini lebih memilih menjadikan taman buaya sebagai ruang emosional dibanding ruang sosial. Akibatnya, keterjebakan Johan terasa sangat kuat secara psikologis, tetapi tidak sepenuhnya terbaca secara material. Kita memahami ketakutannya untuk pergi dari Mama, tetapi tidak benar-benar melihat bagaimana kemiskinan, stagnasi sosial, dan ketiadaan masa depan ikut membuat “pergi” menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

Pilihan tersebut membuat Crocodile Tears terasa seperti berhenti tepat sebelum mencapai kemungkinan pembacaan yang lebih besar tentang kelas sosial dan kehidupan pinggiran di Indonesia.

Kelemahan lain mulai terasa ketika film memasuki babak ketiganya. Setelah dua pertiga awal yang begitu disiplin dan terkendali, Crocodile Tears perlahan mulai kehilangan pijakan. Tumpal mencoba mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan. Tetapi surealisme yang muncul di bagian akhir itu terasa tidak sepenuhnya tumbuh dari dunia film yang sebelumnya telah dibangun dengan begitu konkret.

Surealisme tersebut juga terasa seperti ornamen tambahan—seolah Crocodile Tears merasa perlu tampil semakin abstrak untuk menegaskan bobot artistiknya. Padahal kekuatan terbesar film ini justru terletak pada keberaniannya tetap membumi: lumut, bau amis, dan luka emosional yang terasa begitu nyata.

Salah satu adegan dalam film Crocodile Tears | Tangkapan layar: YouTube/Talamedia

Pada akhirnya Crocodile Tears adalah film tentang manusia yang tidak tahu cara mencintai tanpa melukai. Tentang kesepian yang tumbuh terlalu lama hingga berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki. Tentang cinta yang perlahan kehilangan bentuknya sebagai kasih sayang dan menjelma penjara bagi orang-orang di dalamnya. Jika ingin melanggengkan cinta, beri makan ayam atau sedekah lain seikhlasnya. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Next Post

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama ---Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca
Esai

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

by Angga Wijaya
May 10, 2026
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi
Pameran

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co