LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang ketika sebuah suara mulai terdengar pelan, menyanyikan lagu “Selalu Ada di Nadimu” dari film Jumbo. Di tengah gelap yang hanya diterangi sorot lampu samar, Kepala SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, I Komang Rika Adi Putra, M.Pd., berjalan perlahan menyusuri barisan para lulusan sembari membawa setangkai demi setangkai mawar.
Satu per satu bunga itu diberikan kepada para siswa yang sebentar lagi resmi meninggalkan bangku sekolah. Beberapa tersenyum malu. Sebagian lainnya tampak menahan haru. Dan ketika lagu itu terus dinyanyikan, air mata mulai jatuh di banyak wajah muda yang hari itu mengenakan kebaya, jas, serta medali kelulusan.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling membekas dalam acara pengambilan sumpah profesi Asisten Tenaga Kesehatan (Asnakes) Indonesia yang dirangkai dengan pelepasan Angkatan ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, Selasa, 5 Mei 2026, di Nirmala Hotel & Convention Center Denpasar.


Acara yang berlangsung khidmat sekaligus emosional itu bukan sekadar seremoni kelulusan. Ia berubah menjadi ruang penuh kenangan, tempat para siswa, guru, dan orang tua bersama-sama menengok kembali perjalanan tiga tahun yang telah mereka lalui.
Sejak awal acara dimulai, suasana sudah terasa istimewa. Prosesi dibuka dengan pembukaan resmi, dilanjutkan pembacaan Surat Keputusan Kelulusan oleh kepala sekolah. Setelah itu, dilakukan penyerahan kembali alumni Angkatan XV kepada ketua komite sebagai simbol bahwa para siswa telah menyelesaikan masa pendidikan mereka di sekolah tersebut.
Satu per satu siswa kemudian maju ke panggung dalam prosesi wisuda. Mereka menerima rapor, dikalungkan medali kelulusan, lalu berjabat tangan dengan kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, wali kelas, serta ketua program keahlian/jurusan masing-masing. Di wajah para siswa tampak campuran rasa bangga, lega, sekaligus haru.
Bagi sebagian siswa, momen itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang penuh perjuangan. Tiga tahun yang tidak hanya diisi dengan pelajaran di kelas, tetapi juga praktik, organisasi, lomba, hingga dinamika masa remaja yang membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih matang.

Setelah prosesi wisuda, acara dilanjutkan dengan pembacaan Prasetya Alumni dan pengambilan sumpah profesi Asisten Tenaga Kesehatan Indonesia. Para lulusan berdiri tegap mengikuti sumpah yang dipandu dengan penuh khidmat. Setelahnya, dilakukan penandatanganan dan pelantikan Asisten Tenaga Kesehatan Indonesia.
Momentum tersebut terasa begitu penting. Sebab, sejak saat itu, mereka tidak lagi sekadar siswa lulusan sekolah menengah kejuruan, tetapi calon tenaga kesehatan yang akan terjun langsung melayani masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Seusai prosesi itu, paduan suara pun menyanyikan Mars Hidup Sehat, disusul penampilan “Tari Dhanwantari” – tari kebesaran SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar yang menjadi simbol identitas sekolah.

Namun, suasana paling menggetarkan hadir saat sambutan Kepala Sekolah dimulai.
Tidak seperti biasanya, I Komang Rika Adi Putra tidak datang ke podium dengan membawa teks pidato formal. Ia justru menciptakan sebuah pertunjukan sederhana namun bermakna.
Setelah membagikan mawar sambil bernyanyi, ia mengajak seluruh siswa melakukan perjalanan kembali ke masa awal mereka menjadi siswa baru di Kesbam.
“Kala itu, saat MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), saya meminta kalian semua untuk menuliskan harapan, kesan, serta pesan untuk diri sendiri. Dan setelah tiga tahun, akhirnya kalian ada di sini. Sekarang, silakan lihat di bawah kursi kalian, dan ambillah tulisan kalian itu kembali, dan renungkanlah,” ujarnya.

Seketika ruangan berubah riuh. Para siswa tampak terkejut ketika menemukan secarik kertas di bawah kursi mereka. Kertas yang ternyata berisi tulisan tangan mereka sendiri saat pertama kali masuk sekolah.
Ada yang langsung tersenyum kecil ketika membacanya. Ada yang tertawa sambil menutup wajah. Namun tidak sedikit pula yang menangis haru.
Kenangan tentang masa awal sekolah, ketakutan menjadi siswa baru, mimpi-mimpi yang dulu mereka tulis dengan polos, mendadak hadir kembali hari itu.
Bagi banyak orang, sambutan semacam itu mungkin tak biasa dilakukan oleh seorang kepala sekolah. Tetapi bagi Komang Rika, wisuda bukan hanya tentang laporan kelulusan atau angka capaian akademik. Ia ingin menghadirkan pengalaman yang akan terus diingat oleh anak-anak didiknya.

Tak berhenti di sana, ia juga menampilkan rangkaian foto para siswa sejak awal mereka bersekolah di Kesbam. Foto-foto itu menjadi semacam mesin waktu yang membawa seluruh ruangan kembali ke hari-hari pertama para siswa mengenakan seragam sekolah.
Tawa, tepuk tangan, dan isak tangis bergantian memenuhi ruangan.
“Saya sudah berlatih bernyanyi selama dua minggu, tetapi hari ini suara saya habis, serak, dan batuk-batuk. Namun saya tetap paksakan, agar tidak sia-sia. Untungnya semua mau bernyanyi bersama,” ungkapnya disambut tepuk tangan meriah.
Ia kemudian menutup sambutannya dengan pesan sederhana namun mendalam.
“Selamat untuk kalian semuanya, semoga apa yang kalian harapkan tercapai. Jangan pernah melupakan Kesbam, dan harumkanlah nama Kesbam di mana pun kalian berada.”

Selepas sambutan itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan keputusan lulusan terbaik serta penyerahan beasiswa pendidikan. Kebanggaan tampak jelas di wajah para penerima penghargaan maupun keluarga yang hadir mendampingi.
Pada sesi pesan dan kesan lulusan, suasana hangat kembali terasa ketika salah satu lulusan, Pradnya, menyampaikan pengalamannya selama bersekolah di Kesbam.
“Rasanya sangat senang bisa belajar banyak di Kesbam. Selain itu, banyak mendapat teman dan pengalaman. Kebetulan saya juga mengikuti organisasi di sekolah. Saya juga banyak dapat peluang mengikuti berbagai lomba, dan berhasil meraih prestasi. Semoga Kesbam semakin jaya, dan semua lulusan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten dan sukses,” ungkapnya.

Pernyataan itu seolah mewakili perasaan banyak siswa lain hari itu. Bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar mata pelajaran, melainkan ruang bertumbuh, menemukan jati diri, membangun pertemanan, dan menyusun mimpi tentang masa depan.
Ketika acara berakhir, seluruh lulusan mulai berfoto bersama keluarga dan sahabat, senyum dan air mata haru masih tampak bersamaan. Ada rasa bahagia karena berhasil menyelesaikan pendidikan. Namun ada pula rasa berat karena harus berpisah dengan masa-masa yang selama ini menjadi bagian penting hidup mereka.
Hari itu, para lulusan Angkatan ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar pulang bukan hanya membawa medali kelulusan. Mereka juga membawa kenangan tentang mawar, lagu yang dinyanyikan bersama, secarik pesan dari masa lalu, dan sebuah janji untuk terus melangkah mengharumkan nama almamater di mana pun berada. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























