DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Karena itu sangat penting untuk melestarikannya, sehingga akar sejarah itu tidak hilang di era globalisasi saat ini. Untuk menjaga semua itu, Komunitas Seni Baturenggong memiliki cara menarik untuk melestarikan warisan budaya dan tradisi yang ada di Desa Mengwi melalui seni pertunjukan.
Kebetulan saja, Komunitas Seni Baturenggong yang berada di Banjar Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung dipercaya menjadi duta Kabupaten Badung untuk tampil dalam parade gong kebyar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Moment ini tentu sangat tepat untuk mengangkat berbagai keunggulan yang ada di Desa Mengwi untuk diperkenalkan kepada masyarakat Mengwi, khususnya dan masyarakat dunia umumnya. Apalagi, Desa Mengwi yang kaya budaya telah menjadi destinasi yang disukai wisatawan mancanegara.
Koordinator Kegiatan Komunitas, I Gede Purnama Eka Saputra mengatakan, berbagai keunggulan Desa Mengwi diulas dan dikupas melalui seni pertunjukan, sehingga mudah diingat sekaligus menjadi lebih menarik. “Desa Mengwi memiliki banyak cerita yang bisa diangkat lalu disesuaikan dengan tema PKB Atma Kerthi, pemuliaan terhadap jiwa. Segala keunikan itu, akan kami interpretasikan melalui seni dan tentu disesuaikan dengan materi dalam parade gong kebyar itu,” kata Gede Purnama, Sabtu 9 Mei 2026.

Warisan kebudayaan dan nilai-nilai luhur Desa Mengwi disajikan melalui seni pertunjukan. Artinya mengubah, menginterpretasikan atau menyajikan kembali filosofi, ajaran moral, sejarah, dan tradisi nenek moyang ke dalam bentuk aksi nyata yang estetis, melalui pertunjukan seni, sehingga lebih mudah dipahami, dihayati, dan dinikmati oleh generasi saat ini maupun masa depan.
Materi parade gong kebyar dalam ajang PKB 2026 itu ada tabuh lelambatan lima kreasi yang secara khusus mengangkat history Mengwi yang menjadi pusat Kerajaan Mengwi. Desa ini memiliki banyak sumber cerita yang menjadi pilihan untuk disesuaikan dengan tema PKB tahun 2026 ini. Tabuh lelambatan ini disajikan sebagai tabuh lawas kekunoan yang disajikan berpadu dengan history keberadaan Mengwi.

Sementara tari kreasi mengangkat kearipan local “Masepuh”, sebuah pura lengkap dengan situsnya ada di Desa Seseh. Warga Bali, bahkan beberapa dari Jawa sering melakukan persembahyangan di sini. Si Masepuh ini merupakan putra Raja Mengwi. Kuburan Masepuh juga masih ada, dan itu berada di Desa Seseh, Munggu dan sampai kini masih saja ada yang melakukan ziarah.
Sedangkan untuk pragmentari mengangkat kisah Jero Luh, sebuah pertapaan rangda, ritus yang masih ada di Pura Dalem Mengwi. Jero Luh, seorang wanita dari seorang pelayan hingga menjadi sungsungan masyarakat Desa Mengwi. “Di Mengwi ini ada banyak cerita, yang nantinya diangkat disesuaikan dengan tema PKB Atma Kerthi, pemuliaan terhadap jiwa,” ucapnya.
Mangangkat warisan budaya unggul melalui pentas seni memang menarik. Terlebih, Parade Gong Kebyar dalam perhelatan tahunan itu selalu menjadi primadona. Bahkan, setiap jadwal parade gong kebyar panggung terbuka Ardha Candra yang selalu penuh penonton sangat tepat memperkenalkan keunikan itu. “Kami sangat serius mempersiapkan diri untuk nanti tampil di ajang PKB 2026,” sebut Ketua Komunitas Seni Baturenggong, I Gede Wira Andika.

Komunitas Baturenggong akan tampil bersama dengan duta Kabupaten Gianyar yang dijadwalkan pada 8 Juli 2026. Untuk penampilannya ini, Komunitas Baturenggong didukung penabuh muda dengan antyara umur 17 tahun hingga 27 tahun yang siap menampilkan sajian seni terbaru. “Untuk tiga sajian utama, seperti tabuh lelambatan, tari kreasi dan pragmentari kami melibatkan mengangkat 147 pendukung termasuk crew,” ungkapnya.
Karena keseriusan itu, persiapan latihan dilakukan bukan hitungan mingguan. Latihan dilakukan sejak Januari hingga semua materi sudah tembus. Apalagi, tampilnya nanti berdampingan dengan Duta Kabupaten Gianyar maka persiapkan dilakukan secara ketat dan sangat matang. “Sesungguhnya, semua materi sudah tembus semua tinggal menyamakan rasa saja,” ujar Wira Andika.
Untuk menggarapnya, komunitas seni yang berdiri sejak 2010 itu mempercayakan kepada para seniman local yang masih memiliki kedekatan. Kebetulan para penggarap ini juga menjadi pilihan Lstibya Mengwi. Mereka, bukan saja orang local Badung, tetapi kebetulan juga sebagai pengampu di Komunitas Baturenggong. Mereka adalah I Wayan Widia, I Ketut Rudita, Ngurah Sutanaya sebagai penata dan pembina tabuh lelmbatan; I Nyoman Wira Dharma Yoga, I Putu Oka Rudiana, I Putu Leslyani dan I Putu Yuandika sebagai penata dan pembina tari kreasi; seta
Kadek Karunia Artha, Ni Putu Ari Sidiastini, I Made Aristanaya dan Suyoga sebagai penata dan pembina pragmentari.
Gagal tampil di Gelar Budaya Badung
Pemilihan Komunitas Baturenggong sebagai duta Kabupaten Badung bukan sekedar tunjuk, melainkan karena ada rod mat dari Pemerintah Kabupaten Badung yang dikomandani Dinas Kebudayaan. Setiap kecamatan di Kabupaten Badung mendapat kesempatan tampil, termasuk Kecamatan Mengwi. Lalu, Komunitas Baturenggong yang dulunya dipercaya tampil dalam ajang Gelar Budaya Kabupten Badung 2024 mewakili Kecamatan Mengwi selalu batal. Tak jadinya pentas, karena adanya kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat, sehingga Gelar Budaya ditiadakan.
“Padahal kegiatan berlatih sudah kami lakukan sejak awal untuk dapat tampil baik pada Gelar Budaya itu, tetapi tidak mendapat kesempatan pentas. Ternasuk batal pada Gelar Budaya 2025. Karena Kecamatan Mengwi mendapat giliran mewakili Badung dalam parade gong kebyar, maka Listibya memberikan kesempatan itu. Batal tampil di Gelar Budaya Badung, akhirnya tampil di ajang PKB,” paparnya senang.

Untuk penampilannya nanti, merupakan sekaa bon sebunan. Walau ada dua penabuh dari luar Desa Mengwi, tetapi mereka merupakan loyalitas Komunitas Baturenggong yang setiap dalam setiap kegiatan ngayah. “Kalaupun 100 persen local, kami sesungguhnya mampu menampilkan sekaa sebunan, tetapi kami ingin menghargai anggota loyal, makanya kami ajak,” tutupnya. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole





























