1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
in Ulas Musik
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

Ilustrasi gambar dibuat dengan AI

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah gejala sosial, sebuah letupan emosi kolektif yang menemukan medium ekspresinya dalam bentuk lirik sederhana, repetitif, namun sarat makna. Dalam konteks ini, lagu tersebut menjelma menjadi “ruang bicara alternatif” ketika saluran formal dianggap tak lagi cukup menampung kegelisahan publik.

Secara hermeneutik, lirik lagu ini bekerja dalam dua lapisan. Pada lapisan pertama, ia tampak sebagai doa: permohonan kepada Tuhan agar para pelaku narkoba; baik pengguna, bandar, maupun “beking”, mendapat azab bahkan kematian. Namun pada lapisan kedua, yang lebih dalam, ia adalah ekspresi kemarahan sosial yang telah melampaui batas rasionalitas biasa. Ini bukan sekadar doa, melainkan jeritan. Bukan sekadar harapan, melainkan keputusasaan yang dibungkus dalam bahasa religius.

Di sinilah menarik untuk membaca fenomena ini melalui kacamata Jürgen Habermas. Dalam konsep ruang publik, Habermas membayangkan adanya diskusi rasional yang bebas dari dominasi, di mana warga negara dapat berargumentasi secara setara. Namun, realitas ruang digital hari ini justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda: ruang publik yang emosional, fragmentatif, dan sering kali meledak-ledak. Lagu ini viral bukan karena argumentasinya, tetapi karena resonansi emosinya. Ia tidak mengajak diskusi, ia memantik solidaritas kemarahan.

Artinya, ada kegagalan dalam ruang publik formal untuk mengartikulasikan persoalan narkoba secara memadai. Ketika hukum dianggap tumpul, aparat dicurigai, dan jaringan narkoba terasa tak tersentuh, maka masyarakat beralih pada ekspresi simbolik, termasuk doa yang “keras” seperti dalam lirik tersebut. Dalam bahasa Habermas, rasionalitas komunikatif tergeser oleh rasionalitas ekspresif.

Namun, apakah kemarahan ini sah? Ataukah ia justru berbahaya?

Di sinilah kita perlu memanggil Michel Foucault. Dia mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui wacana. Lagu ini adalah wacana, dan sebagai wacana, ia membentuk cara kita memandang “yang jahat”. Dalam lirik tersebut, pelaku narkoba direduksi menjadi entitas yang layak dimusnahkan. Tidak ada ruang untuk kompleksitas: tidak ada pembahasan tentang kemiskinan, trauma, atau struktur ekonomi yang melahirkan pengguna dan pengedar. Semua dilebur dalam satu kategori moral: musuh masyarakat.

Di titik ini, kita harus berhati-hati. Kemarahan publik memang memiliki dasar yang nyata, peredaran narkoba di Sumatera Utara dan wilayah lain memang menjadi ancaman serius. Namun ketika kemarahan itu berubah menjadi legitimasi untuk “menghapus” manusia lain, bahkan dalam bentuk doa, kita sedang memasuki wilayah etis yang problematik. Foucault akan menyebut ini sebagai bentuk “biopolitik negatif”: keinginan untuk menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang layak mati.

                                                               ***

Berbeda dengan pendekatan Foucault yang kritis terhadap kekuasaan, tradisi sufisme menawarkan pembacaan yang lebih batiniah. Dalam perspektif sufi, kemarahan adalah api, ia bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa membakar diri sendiri. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa “luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.” Artinya, kegelisahan sosial yang kita lihat dalam lagu ini sebenarnya adalah pintu menuju kesadaran yang lebih dalam, jika diolah dengan benar.

Sufi tidak menolak keadilan. Mereka juga tidak membenarkan kejahatan. Namun mereka mengingatkan bahwa kebencian yang tak terkendali justru menjauhkan manusia dari sumber keadilan itu sendiri. Dalam konteks lagu ini, doa yang meminta kematian bagi pelaku narkoba bisa dibaca sebagai bentuk “amarah yang belum selesai”, amarah yang belum menemukan jalan transformasi menjadi kebijaksanaan.

Lebih jauh, Al-Ghazali dalam karya-karyanya menjelaskan bahwa marah (ghadhab) adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi harus dikendalikan oleh akal dan hati. Jika tidak, ia akan berubah menjadi kezaliman baru. Dalam kasus ini, masyarakat yang marah pada narkoba berpotensi terjebak dalam logika yang sama dengan yang mereka benci: logika penghancuran.

Namun kita juga tidak bisa begitu saja menghakimi masyarakat yang marah. Kemarahan itu lahir dari pengalaman nyata: rusaknya generasi muda, hancurnya keluarga, dan ketidakberdayaan menghadapi jaringan narkoba yang masif. Lagu ini menjadi semacam katarsis kolektif, pelepasan emosi yang selama ini terpendam.

Di titik ini, kita bisa melihat bahwa lagu “Siti Mawarni Ya Incek” adalah cermin. Ia memantulkan wajah masyarakat yang sedang lelah, marah, dan mencari keadilan. Ia juga menunjukkan bagaimana agama digunakan sebagai bahasa untuk mengekspresikan rasa frustrasi, Tuhan dipanggil bukan hanya sebagai sumber kasih, tetapi juga sebagai hakim yang diharapkan bertindak tegas.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: ke mana arah dari kemarahan ini?

Jika mengikuti Habermas, kemarahan ini perlu ditransformasikan menjadi diskursus yang rasional, menjadi tuntutan kebijakan, reformasi hukum, dan pengawasan institusi. Jika mengikuti Foucault, kita perlu waspada terhadap bagaimana wacana ini bisa melanggengkan kekerasan baru. Dan jika mengikuti para sufi, kita diajak untuk mengolah kemarahan menjadi kesadaran, bahwa kejahatan harus dilawan, tetapi tanpa kehilangan kemanusiaan.

Dengan demikian, tafsir atas lagu ini tidak berhenti pada pro atau kontra terhadap liriknya. Ia harus melampaui itu: menjadi refleksi tentang bagaimana masyarakat merespons krisis, bagaimana emosi kolektif bekerja, dan bagaimana kita menjaga agar kemarahan tidak berubah menjadi kebutaan moral.

Pada akhirnya, lagu ini bukan hanya tentang narkoba. Ia adalah tentang kita, tentang batas antara keadilan dan balas dendam, antara doa dan kutukan, antara kemanusiaan dan kemarahan. Dan di sanalah, barangkali, letak makna terdalamnya. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

Next Post

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

Menimbang Ulang 'May Day' Bagi Pekerja Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co