2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
in Ulas Musik
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

Ilustrasi gambar dibuat dengan AI

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah gejala sosial, sebuah letupan emosi kolektif yang menemukan medium ekspresinya dalam bentuk lirik sederhana, repetitif, namun sarat makna. Dalam konteks ini, lagu tersebut menjelma menjadi “ruang bicara alternatif” ketika saluran formal dianggap tak lagi cukup menampung kegelisahan publik.

Secara hermeneutik, lirik lagu ini bekerja dalam dua lapisan. Pada lapisan pertama, ia tampak sebagai doa: permohonan kepada Tuhan agar para pelaku narkoba; baik pengguna, bandar, maupun “beking”, mendapat azab bahkan kematian. Namun pada lapisan kedua, yang lebih dalam, ia adalah ekspresi kemarahan sosial yang telah melampaui batas rasionalitas biasa. Ini bukan sekadar doa, melainkan jeritan. Bukan sekadar harapan, melainkan keputusasaan yang dibungkus dalam bahasa religius.

Di sinilah menarik untuk membaca fenomena ini melalui kacamata Jürgen Habermas. Dalam konsep ruang publik, Habermas membayangkan adanya diskusi rasional yang bebas dari dominasi, di mana warga negara dapat berargumentasi secara setara. Namun, realitas ruang digital hari ini justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda: ruang publik yang emosional, fragmentatif, dan sering kali meledak-ledak. Lagu ini viral bukan karena argumentasinya, tetapi karena resonansi emosinya. Ia tidak mengajak diskusi, ia memantik solidaritas kemarahan.

Artinya, ada kegagalan dalam ruang publik formal untuk mengartikulasikan persoalan narkoba secara memadai. Ketika hukum dianggap tumpul, aparat dicurigai, dan jaringan narkoba terasa tak tersentuh, maka masyarakat beralih pada ekspresi simbolik, termasuk doa yang “keras” seperti dalam lirik tersebut. Dalam bahasa Habermas, rasionalitas komunikatif tergeser oleh rasionalitas ekspresif.

Namun, apakah kemarahan ini sah? Ataukah ia justru berbahaya?

Di sinilah kita perlu memanggil Michel Foucault. Dia mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui wacana. Lagu ini adalah wacana, dan sebagai wacana, ia membentuk cara kita memandang “yang jahat”. Dalam lirik tersebut, pelaku narkoba direduksi menjadi entitas yang layak dimusnahkan. Tidak ada ruang untuk kompleksitas: tidak ada pembahasan tentang kemiskinan, trauma, atau struktur ekonomi yang melahirkan pengguna dan pengedar. Semua dilebur dalam satu kategori moral: musuh masyarakat.

Di titik ini, kita harus berhati-hati. Kemarahan publik memang memiliki dasar yang nyata, peredaran narkoba di Sumatera Utara dan wilayah lain memang menjadi ancaman serius. Namun ketika kemarahan itu berubah menjadi legitimasi untuk “menghapus” manusia lain, bahkan dalam bentuk doa, kita sedang memasuki wilayah etis yang problematik. Foucault akan menyebut ini sebagai bentuk “biopolitik negatif”: keinginan untuk menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang layak mati.

                                                               ***

Berbeda dengan pendekatan Foucault yang kritis terhadap kekuasaan, tradisi sufisme menawarkan pembacaan yang lebih batiniah. Dalam perspektif sufi, kemarahan adalah api, ia bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa membakar diri sendiri. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa “luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.” Artinya, kegelisahan sosial yang kita lihat dalam lagu ini sebenarnya adalah pintu menuju kesadaran yang lebih dalam, jika diolah dengan benar.

Sufi tidak menolak keadilan. Mereka juga tidak membenarkan kejahatan. Namun mereka mengingatkan bahwa kebencian yang tak terkendali justru menjauhkan manusia dari sumber keadilan itu sendiri. Dalam konteks lagu ini, doa yang meminta kematian bagi pelaku narkoba bisa dibaca sebagai bentuk “amarah yang belum selesai”, amarah yang belum menemukan jalan transformasi menjadi kebijaksanaan.

Lebih jauh, Al-Ghazali dalam karya-karyanya menjelaskan bahwa marah (ghadhab) adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi harus dikendalikan oleh akal dan hati. Jika tidak, ia akan berubah menjadi kezaliman baru. Dalam kasus ini, masyarakat yang marah pada narkoba berpotensi terjebak dalam logika yang sama dengan yang mereka benci: logika penghancuran.

Namun kita juga tidak bisa begitu saja menghakimi masyarakat yang marah. Kemarahan itu lahir dari pengalaman nyata: rusaknya generasi muda, hancurnya keluarga, dan ketidakberdayaan menghadapi jaringan narkoba yang masif. Lagu ini menjadi semacam katarsis kolektif, pelepasan emosi yang selama ini terpendam.

Di titik ini, kita bisa melihat bahwa lagu “Siti Mawarni Ya Incek” adalah cermin. Ia memantulkan wajah masyarakat yang sedang lelah, marah, dan mencari keadilan. Ia juga menunjukkan bagaimana agama digunakan sebagai bahasa untuk mengekspresikan rasa frustrasi, Tuhan dipanggil bukan hanya sebagai sumber kasih, tetapi juga sebagai hakim yang diharapkan bertindak tegas.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: ke mana arah dari kemarahan ini?

Jika mengikuti Habermas, kemarahan ini perlu ditransformasikan menjadi diskursus yang rasional, menjadi tuntutan kebijakan, reformasi hukum, dan pengawasan institusi. Jika mengikuti Foucault, kita perlu waspada terhadap bagaimana wacana ini bisa melanggengkan kekerasan baru. Dan jika mengikuti para sufi, kita diajak untuk mengolah kemarahan menjadi kesadaran, bahwa kejahatan harus dilawan, tetapi tanpa kehilangan kemanusiaan.

Dengan demikian, tafsir atas lagu ini tidak berhenti pada pro atau kontra terhadap liriknya. Ia harus melampaui itu: menjadi refleksi tentang bagaimana masyarakat merespons krisis, bagaimana emosi kolektif bekerja, dan bagaimana kita menjaga agar kemarahan tidak berubah menjadi kebutaan moral.

Pada akhirnya, lagu ini bukan hanya tentang narkoba. Ia adalah tentang kita, tentang batas antara keadilan dan balas dendam, antara doa dan kutukan, antara kemanusiaan dan kemarahan. Dan di sanalah, barangkali, letak makna terdalamnya. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

Next Post

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

Menimbang Ulang 'May Day' Bagi Pekerja Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co