7 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
April 15, 2026
in Esai
Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ORANG Indonesia sering digambarkan sebagai bangsa yang penuh akal, luwes, dan kreatif dalam menghadapi keterbatasan. Kita tumbuh dalam budaya yang menghargai kebersamaan, improvisasi, dan kemampuan membaca situasi. Dari kecil, kita sudah akrab dengan solusi-solusi tak tertulis; berbagai cara yang tidak diajarkan secara formal, tetapi diwariskan melalui pengamatan dan pengalaman.

Maka tidak mengherankan jika dalam keseharian, muncul berbagai “keterampilan sosial” yang unik, yang mungkin tampak ganjil bagi orang luar, tetapi terasa wajar bagi kita. Salah satunya adalah praktik yang sederhana namun sarat makna: titip absen. Di permukaan, titip absen tampak seperti pelanggaran kecil terhadap aturan. Dalam dunia yang ideal, kehadiran berarti tubuh yang hadir, pikiran yang terlibat, dan partisipasi yang nyata.

Dalam praktiknya, terutama di Indonesia, kehadiran sering kali memiliki arti yang lebih luas, bahkan bisa dikatakan lebih simbolik daripada literal. Nama di atas kertas, tanda tangan di daftar hadir, atau centang di kolom kehadiran sering kali dianggap cukup untuk mewakili eksistensi seseorang dalam suatu ruang.

Di ruang kelas, daftar hadir menjadi ritual yang hampir sakral. Kertas itu berpindah dari satu meja ke meja lain, membawa serta tanggung jawab yang tak tertulis. Di dalamnya bukan hanya ada kolom nama dan tanda tangan, tetapi juga peluang untuk saling membantu. Ketika seorang teman berhalangan hadir, entah karena sakit, urusan keluarga, atau sekadar kelelahan, permintaan itu datang dengan nada pelan, kadang disertai senyum, kadang dibungkus candaan: “Titip ya.” Dan tanpa banyak tanya, tangan lain akan bergerak, menuliskan nama yang bukan miliknya.

Di kantor, praktik ini mengambil bentuk yang sedikit berbeda, tetapi esensinya sama. Kehadiran menjadi indikator disiplin, loyalitas, bahkan kinerja. Namun di balik sistem absensi yang semakin canggih; fingerprint, kartu akses, hingga aplikasi digital, masih ada ruang bagi negosiasi manusia. Seorang rekan bisa “mengakali” sistem, atau lebih tepatnya, sistem bisa dilunakkan oleh relasi.

Ada yang datang lebih awal untuk membantu temannya, ada yang mencatatkan kehadiran atas nama solidaritas, dan ada pula yang memilih diam karena memahami situasi. Menariknya, praktik titip absen ini jarang sekali dibicarakan secara terbuka sebagai sesuatu yang salah. Ia hidup di wilayah abu-abu, di antara norma dan toleransi. Semua orang tahu, tetapi sedikit yang benar-benar mempermasalahkan.

Mengapa? Karena di balik tindakan itu, ada nilai yang lebih dalam: rasa kebersamaan. Dalam budaya yang menjunjung tinggi kolektivitas, membantu orang lain; even dalam bentuk yang kecil dan teknis, dianggap sebagai bagian dari etika sosial. Di sinilah letak paradoksnya. Apa yang dianggap sebagai bentuk solidaritas, dalam konteks tertentu bisa menjadi bentuk kompromi terhadap integritas.

Titip absen bukan sekadar soal tanda tangan; ia mencerminkan bagaimana kita memaknai kejujuran, tanggung jawab, dan kehadiran itu sendiri. Ketika seseorang “hadir” tanpa benar-benar ada, kita mulai mempertanyakan: apa arti kehadiran itu? Dalam banyak kasus, titip absen tidak dilakukan karena kemalasan semata. Ada faktor-faktor lain yang lebih kompleks. Sistem yang kaku, tuntutan administratif yang berlebihan, atau kegiatan yang dianggap tidak relevan sering kali mendorong orang untuk mencari jalan pintas.

Ketika sebuah rapat bisa diringkas dalam satu email, atau sebuah kelas terasa tidak memberi nilai tambah, kehadiran fisik menjadi formalitas belaka. Dalam kondisi seperti ini, titip absen menjadi semacam bentuk perlawanan kecil; cara halus untuk mengatakan bahwa sistem tidak selalu sejalan dengan kebutuhan nyata.

Di sisi lain, praktik ini juga memperlihatkan betapa kuatnya jaringan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hubungan antarindividu sering kali lebih menentukan daripada aturan tertulis. Kepercayaan dibangun melalui interaksi sehari-hari, dan bantuan sekecil apa pun bisa memperkuat ikatan tersebut. Ketika seseorang bersedia menandatangani untuk orang lain, ia tidak hanya membantu, tetapi juga menunjukkan loyalitas. Sebaliknya, menolak permintaan itu bisa dianggap sebagai sikap yang dingin atau tidak solid.

Pertanyaan adalah apakah ini berarti praktik titip absen harus terus dipertahankan? Tidak sesederhana itu. Dalam dunia yang semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas, batas antara toleransi dan pelanggaran menjadi semakin tipis. Institusi pendidikan dan tempat kerja mulai menyadari bahwa kehadiran bukan hanya soal angka, tetapi juga kualitas partisipasi. Sistem yang lebih ketat mulai diterapkan, teknologi digunakan untuk meminimalkan celah, dan kesadaran akan pentingnya integritas perlahan dibangun.

Meski demikian, menghapus praktik titip absen sepenuhnya bukan hanya soal memperketat aturan. Ia juga membutuhkan perubahan cara pandang. Selama kehadiran masih dipahami sebagai kewajiban administratif, selama sistem belum mampu memberikan makna yang nyata bagi partisipasi, praktik ini akan terus menemukan jalannya. Orang akan selalu mencari cara untuk menyesuaikan diri, untuk menavigasi antara tuntutan dan realitas.

Yang menarik, generasi muda mulai menunjukkan sikap yang lebih kritis terhadap praktik ini. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka, dengan akses informasi yang lebih luas, dan pemahaman yang lebih kuat tentang etika profesional. Bagi sebagian dari mereka, titip absen bukan lagi sekadar “biasa saja,” tetapi mulai dipertanyakan. Apakah ini adil? Apakah ini mencerminkan nilai yang ingin kita pegang? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena menunjukkan adanya pergeseran budaya.

Di sisi lain, nilai kebersamaan yang melatarbelakangi praktik ini tetap relevan. Tantangannya adalah bagaimana menjaga semangat solidaritas tanpa harus mengorbankan integritas. Membantu teman tidak harus selalu berarti melanggar aturan; bisa juga dalam bentuk lain yang lebih konstruktif. Misalnya, berbagi catatan, membantu memahami materi, atau menggantikan tugas secara resmi dengan izin yang jelas.

Titip absen adalah cermin kecil dari dinamika sosial yang lebih besar. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia menavigasi antara aturan dan relasi, antara formalitas dan fleksibilitas. Ia bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga simbol dari cara kita hidup bersama dengan segala kompromi dan negosiasinya.

Dalam dunia yang terus berubah, mungkin sudah saatnya kita merefleksikan kembali makna kehadiran. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Bukan hanya memenuhi daftar, tetapi juga berkontribusi secara nyata. Dan mungkin, dalam proses itu, kita bisa menemukan cara baru untuk tetap menjaga kebersamaan tanpa harus bergantung pada praktik-praktik yang meragukan.

Karena pada akhirnya, kehadiran bukan hanya soal nama di atas kertas. Ia adalah tentang keberadaan yang sesungguhnya, tentang bagaimana kita memilih untuk muncul, berpartisipasi, dan bertanggung jawab dalam setiap ruang yang kita masuki. Dan di situlah, seni yang sebenarnya dimulai. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kejujuransolidaritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Next Post

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Tengah Malam Rokok Habis                           

by Angga Wijaya
May 7, 2026
0
Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

Read moreDetails

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

by Sugi Lanus
May 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

Read moreDetails

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

by Nur Kamilia
May 5, 2026
0
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

Read moreDetails

Aoroville: Kota Eksperimental

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
0
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

Read moreDetails

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

by Angga Wijaya
May 4, 2026
0
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

Read moreDetails

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
0
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

Read moreDetails

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
0
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

by Angga Wijaya
May 2, 2026
0
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah Dijual, Adat Ditinggal ---Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

by Sugi Lanus
May 7, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Bermain dengan Jin Tengah Malam

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

by Chusmeru
May 7, 2026
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup
Ulas Rupa

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co