6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

Made Sugianto by Made Sugianto
April 12, 2026
in Cerpen
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra Inggris, ia mengirim lamaran sebagai guru abdi di SMP Jaya Kumara. Ia diterima di sekolah itu karena kebetulan kekurangan guru bahasa Inggris. Upahnya tak seberapa, hanya dua ratus ribu rupiah per bulan, namun semangatnya menyala seperti matahari yang perlahan naik. Ia tidak pernah mempersoalkan pendapatan yang diterima setiap bulannya. Menjadi guru adalah panggilan hati. Ia lakoni dengan lascarya. Ia tidak pernah silau oleh status pegawai negeri sipil. Baginya tanpa rasa syukur, sebesar apa pun pendapatan tetap merasa kurang. Buktinya banyak oknum guru pegawai negeri sipil masih menggerutu walau sudah dapat tambahan sertifikasi.

Di sekolah, Kadek Arya dicintai para siswanya. Ia pintar mentransfer ilmu kepada murid-muridnya. Jika ia terlambat masuk kelas, maka dijemput oleh siswanya. Sementara guru lainnya yang terlambat masuk kelas tidak pernah dijemput siswa. Apalagi kalau ada guru yang kurang disukai absen mengajar, malah disyukuri seolah itu berkah. Memberi mereka kesempatan bercanda riang di kelas. Kepala sekolah mengetahui kondisi itu. Beberapa kali saat upacara bendera hari Senin, kepala sekolah memuji Kadek Arya. Guru abdi penuh dedikasi dan dijadikan teladan oleh para siswa. Kepala sekolah meminta guru lainnya mencontoh Kadek Arya.  

Kadek Arya menjadi guru karena panggilan hati. Harapan ke depan, pemerintah membuka lowongan CPNS ataupun PPPK. Ia percaya, pemerintahan yang baru bersih dari praktik calo PNS. Ia pernah mendengar kabar, banyak oknum pakai pelicin agar lulus dengan status pegawai negeri sipil. Ada yang berjalan mulus, tak sedikit pula frustasi karena uangnya menguap disikat calo. Tanah sawah lenyap, pekerjaan pun tak dapat. Ia juga pernah mendengar kabar ada yang berani nyogok puluhan juta rupiah untuk mendapatkan status pegawai kontrak.

Kadek Arya mencari pekerjaan dengan mengadu kemampuan. Walaupun guru abdi dipandang sebelah mata, ia bangga menjalani pekerjaan sebagai pengajar. Dicintai para siswa membuatnya makin mendedikasikan keilmuannya untuk diabdikan. Cita-citanya turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sekolah ia merasakan surga, namun saat pulang ke rumah, ada perbedaan mencolok yang ia rasakan. Istrinya kerap dilanda cemburu karena ia berkawan dengan gadis-gadis cantik. Kehidupannya hampir tidak pernah tanpa keributan di pagi hari. Istri ngomel-ngomel karena tidak ada uang dapur. Pendapatan dua ratus ribu rupiah tiap bulan selalu jadi topik utama. Manalah cukup untuk membiayai rumah tangga. Uang pulsa satu bulan pun tidak menutupi. Mana buat bayar listrik, bayar tagihan air. Beras harus ada setiap hari. Topik itu selalu meluncur deras dari mulut istrinya. Kadek Arya selalu mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga. Sesekali ia meladeni jika istri menuntutnya tidak melanjutkan pengabdian di sekolah.

“Percuma jago bahasa Inggris jika tidak mampu mendapatkan penghasilan yang layak. Tuh contoh Putu Merta, ia menjadi pemandu wisata, gajinya luar biasa,” cerocos istrinya.

Darah Kadek Arya sering mendidih jika dibandingkan dengan Putu Merta, lelaki yang gagal mendapatkan istrinya semasa gadis. Namun, seberapa besar pun keinginan melawan, tetap diredam. Ia memaklumi istrinya yang menuntut pendapatan layak.

“Seragammu necis seperti katibangbung,” ujar istrinya sambil melirik tajam pada kemeja berwarna khaki yang ia pakai. “Mentereng, namun penghasilanmu tidak ada apa-apanya.”

Beruntung Kadek Arya selalu mampu menghadirkan jawaban menyejukkan, meskipun perkataan istrinya kadang terasa sepat. Dari bibirnya tetap mengalir keteduhan yang meluluhkan emosi pasangan hidupnya. Ia selalu berkata bahwa tak ada pekerjaan yang lebih membahagiakan selain profesi yang benar-benar dicintai. Segala sesuatu baginya seperti gunung di kejauhan. Tampak indah, namun menyimpan tebing terjal ketika didekati. Ada yang memuji profesi pemandu wisata asing sebagai pekerjaan dengan hasil paling menggiurkan. Realita di lapangan tak seindah cerita yang didengar. Ada rombongan wisatawan yang bahkan lebih sering menghitung receh daripada menikmati perjalanan. Istrinya tersenyum mendengar itu.

“Bli memang jago meluluhlantakkanku. Bli memang banyak kekurangan, tapi kuakui punya kelebihan,” saut istrinya dengan nada setengah manja, setengah kesal, sementara ujung jarinya mencubit lengan suaminya.

Setelah perang berakhir senyum, Kadek Arya berangkat ke sekolah dengan perasaan bahagia. Senyum istri di pagi hari membakar semangatnya memberikan pelajaran terbaik kepada siswanya. Motor bebek tua tunggangannya meluncur mulus di jalanan desa. Benar kata tetua, sukacita berangkat kerja dari rumah, sesampai di tempat kerja kebahagiaan itu turut serta. Permasalahan rumah tangga tidak terbawa hingga ke sekolah. Ia bisa menempatkan permasalahan yang dihadapi sesuai porsinya. Itu mungkin yang menyebabkan murid-muridnya suka dengannya. Tak jarang, para siswa menceritakan tentang dirinya kepada orang tua mereka. Dilabeli guru pintar. Mendengar sanjung puji dari anak-anak, para orang tua menyarankan les bahasa Inggris di tempat Kadek Arya. Atas desakan orang tua siswa, ia buka les bahasa Inggris di rumah.  

Les bahasa Inggris Kadek Arya sungguh unik. Ia memakai kata pengantar bahasa Bali. Harapannya bahasa Ibu tidak punah. Baginya penting melestarikan bahasa Ibu, mengutamakan bahasa Indonesia, dan menguasai bahasa asing. Sesungguhnya ia malu menerima bayaran les. Niatnya tulus agar anak-anak menguasai bahasa asing. Modal awal untuk mencari kerja kelak ketika mereka dewasa. Agar misi sosialnya tetap jalan, ia tetap membuka kursus bahasa Inggris gratis yang dilaksanakan setiap minggu di balai banjar.

Sepak terjang Kadek Arya sebagai guru abdi dan mengajar les bahasa Inggris gratis bagi anak-anak di kampung mendapat perhatian dari ketua dewan. Pimpinan legislatif itu kagum melihat Kadek Arya mampu mengumpulkan anak-anak hingga pemuda untuk belajar bahasa Inggris di balai banjar. Ada keinginannya menjanjikan guru abdi itu sebagai pegawai negeri sipil. Maka ia menyuruh sopir pribadinya menjemput Kadek Arya. Tak lama kemudian, guru abdi itu tiba di kediaman Ketut Ar, sang ketua dewan.

Ada firasat buruk menjalar di perasaan Kadek Arya. Banyak tanya mengganggu pikirannya. Ada apa gerangan ketua dewan ingin ngobrol dengannya. Sangat mendadak. Apalagi sebelumnya tidak pernah basa-basi walau mereka satu kampung. Ketut Ar mempersilakan Kadek Arya duduk. Ia mengaku iba dengan status tamunya sebagai guru abdi. Pendapatan tak seberapa, pengeluaran sudah pasti, besar pasak daripada tiang. Ia menjanjikan status pegawai negeri sipil. “Aku suka melihat kemampuanmu mengumpulkan pemuda di balai banjar. Aku sangat bangga,” kata Ketut Ar.

Bagi Ketut Ar, secara politik, siapa pun yang mampu mempersatukan pemuda dalam satu kegiatan adalah orang hebat. Sudah belasan tahun pemuda di kampung berlawanan prinsip. Setiap ada kegiatan di balai banjar, sering terjadi keributan. Mereka tidak akur walaupun mereka satu kampung. “Aku punya kuasa dan jabatan, namun tidak sehebat kamu mempersatukan pemuda. Aku salut,” pujinya.

Ketut Ar mengaku sudah sering turun ke banjar-banjar saat reses. Selalu menyisipkan pesan agar mereka bersatu. Namun, imbauannya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Maka, ia ingin memanfaatkan jasa Kadek Arya agar para pemuda bersatu. Tidak lagi terbelah hanya gara-gara beda banjar. Ia secara khusus minta tolong Kadek Arya menyisipkan pesan-pesan persatuan saat mengajar les di balai banjar.

“Anda mau jadi pegawai negeri?” ketua dewan melontarkan pertanyaan.

Kadek Arya menjawab dengan anggukan kepala. Ketut Ar menyampaikan syaratnya. Arahkan para pemuda-pemudi itu mencoblos gambar dirinya pada pemilihan umum yang akan datang. Ia berkisah, sudah tiga periode tembus ke DPRD kabupaten, namun suara pemilih pemula sangat rendah. Ia menyebut tabiat para pemuda di kampung brengsek. Terima uang, namun tak mau mencoblos gambar dirinya di tempat pemungutan suara. Berbeda dengan generasi tua, selalu manut dengan perintah. Dalam benaknya, jika pemuda-pemudi di kampung mendukungnya, pastilah perjalanannya mulus menuju kursi legislatif di provinsi. Melaju ke provinsi, perolehan suara pun harus meningkat.  

Mendengar permintaan khusus ketua dewan, Kadek Arya merasa kena jebak. Ia mengaku mengumpulkan para pemuda di balai banjar karena ketulusan. Mentransfer ilmu bahasa Inggris secara gratis. Harapannya, para pemuda tulang punggung bangsa menguasai bahasa asing. Apalagi di dunia kerja mensyaratkan menguasai bahasa asing dan teknologi.

“Kamu jago bahasa Inggris mengapa tidak mencari pekerjaan layak? Mestinya kamu kerja di kapal pesiar agar menghasilkan dolar!” perkataan ketua dewan menghujam perasaan.

Kadek Arya sadar pimpinan legislatif itu tersinggung dengan jawabannya. Detak jantungnya lebih cepat dari kondisi normal. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan pikiran.

“Mumpung Aku punya kuasa, kuberikan kamu SK pegawai kontrak. Modal awal untukmu ke jenjang PNS. Sekarang pun Aku bisa perintahkan bupati buatkan SK buatmu!”

Kadek Arya tersentak mendengar ucapan ketua dewan. Ia tahu nada bahasa itu penuh kemarahan. Namun, ia harus tegas. Tidak bisa mengarahkan para pemuda memilih Ketut Ar. Para pemuda harus bebas merdeka sesuai jargon pemilu, langsung umum bebas rahasia. Ia masih merangkai kata agar menjadi kalimat bijak dan tak menyinggung perasaan lawan bicaranya. Berbicara dengan Ketut Ar harus hati-hati. Memantik ketersinggungan adalah tanda bahaya. Preman bayaran pasti dikerahkan untuk membalaskan sakit hati. Semenjak Ketut Ar mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, ketenangan desa terusik. Pemuda terpecah dan sering terjadi kegaduhan. Semua itu ulah Ketut Ar yang mengerahkan preman bayaran.

Kadek Arya bahagia dengan status guru abdi. Mimpi menjadi PNS dikubur dalam-dalam, apalagi dengan perantara bantuan ketua dewan. Ia ingin merdeka, tidak terbelenggu balas jasa. Ia menjawab dengan tegas. Ketua dewan meninggalkan ruang tamu tanpa komentar. Sopir pribadi lekas mengantar Kadek Arya pulang.

***

Suasana sekolah berbeda. Tak ada keceriaan di wajah kepala sekolah. Ia yang senantiasa meluncurkan sanjung puji setiap upacara hari Senin, kini tidak ada lagi. Guru berprestasi selama satu pekan tidak mendapatkan reward. Pun, guru yang melanggar tidak mendapatkan sanksi. Semua berubah. Perubahan itu menjadi tanda tanya besar bagi keluarga besar sekolah, tak terkecuali Kadek Arya. Guru lainnya pun bertanya-tanya, namun mereka tidak punya nyali menanyakan langsung kepada kepala sekolah.

Bel pulang sekolah sudah berdentang. Kadek Arya merapikan bahan ajarnya sebelum ditinggalkan pulang. Para siswa bergerombol pulang. Ada yang naik angkot yang disiapkan gratis oleh pemerintah, ada pula yang dijemput orang tuanya. Baru beberapa langkah meninggalkan ruang guru, Kadek Arya dikejutkan oleh kepala sekolah yang memanggil namanya. Kepala sekolah memintanya menghadap.

Tampak mendung di wajah kepala sekolah. Kadek Arya duduk dengan gelisah. Kepala sekolah juga tak kunjung berbicara. Suasana begitu kaku. Terlihat mata kepala sekolah berkaca-kaca. 

“Bapak bangga denganmu, Dek,” katanya pendek.

Perkataan kepala sekolah seperti tercekat. Ada yang mengganjal kerongkongan sehingga kata-kata tak lancar keluar. Kadek Arya sabar menunggu perkataan pimpinannya. Perasaannya tidak menentu. Kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga kepala sekolah memanggilnya. Kepala sekolah memandang Kadek Arya lekat.

“Jika Kadek tetap mengajar di sini, bapak kena mutasi!” katanya berat dan bergetar. [T]

Catatan

  • Bli =kakak
  • Katibangbung = kumbang daun
  • Lascarya = tulus ikhlas
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

Next Post

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

Made Sugianto

Made Sugianto

Lelaki sibuk. Selain sebagai penulis Sastra Bali Modern, juga mengelola penerbit indie Pustaka Ekspresi. Juga mengelola Majalah Ekspresi. Lama bekerja tetap sebagai wartawan di Nusa Bali, sebelum memutuskan rehat setelah ia dipilih menjadi Perbekel (Kepala Desa) di kampungnya di Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co