PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra Inggris, ia mengirim lamaran sebagai guru abdi di SMP Jaya Kumara. Ia diterima di sekolah itu karena kebetulan kekurangan guru bahasa Inggris. Upahnya tak seberapa, hanya dua ratus ribu rupiah per bulan, namun semangatnya menyala seperti matahari yang perlahan naik. Ia tidak pernah mempersoalkan pendapatan yang diterima setiap bulannya. Menjadi guru adalah panggilan hati. Ia lakoni dengan lascarya. Ia tidak pernah silau oleh status pegawai negeri sipil. Baginya tanpa rasa syukur, sebesar apa pun pendapatan tetap merasa kurang. Buktinya banyak oknum guru pegawai negeri sipil masih menggerutu walau sudah dapat tambahan sertifikasi.
Di sekolah, Kadek Arya dicintai para siswanya. Ia pintar mentransfer ilmu kepada murid-muridnya. Jika ia terlambat masuk kelas, maka dijemput oleh siswanya. Sementara guru lainnya yang terlambat masuk kelas tidak pernah dijemput siswa. Apalagi kalau ada guru yang kurang disukai absen mengajar, malah disyukuri seolah itu berkah. Memberi mereka kesempatan bercanda riang di kelas. Kepala sekolah mengetahui kondisi itu. Beberapa kali saat upacara bendera hari Senin, kepala sekolah memuji Kadek Arya. Guru abdi penuh dedikasi dan dijadikan teladan oleh para siswa. Kepala sekolah meminta guru lainnya mencontoh Kadek Arya.
Kadek Arya menjadi guru karena panggilan hati. Harapan ke depan, pemerintah membuka lowongan CPNS ataupun PPPK. Ia percaya, pemerintahan yang baru bersih dari praktik calo PNS. Ia pernah mendengar kabar, banyak oknum pakai pelicin agar lulus dengan status pegawai negeri sipil. Ada yang berjalan mulus, tak sedikit pula frustasi karena uangnya menguap disikat calo. Tanah sawah lenyap, pekerjaan pun tak dapat. Ia juga pernah mendengar kabar ada yang berani nyogok puluhan juta rupiah untuk mendapatkan status pegawai kontrak.
Kadek Arya mencari pekerjaan dengan mengadu kemampuan. Walaupun guru abdi dipandang sebelah mata, ia bangga menjalani pekerjaan sebagai pengajar. Dicintai para siswa membuatnya makin mendedikasikan keilmuannya untuk diabdikan. Cita-citanya turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sekolah ia merasakan surga, namun saat pulang ke rumah, ada perbedaan mencolok yang ia rasakan. Istrinya kerap dilanda cemburu karena ia berkawan dengan gadis-gadis cantik. Kehidupannya hampir tidak pernah tanpa keributan di pagi hari. Istri ngomel-ngomel karena tidak ada uang dapur. Pendapatan dua ratus ribu rupiah tiap bulan selalu jadi topik utama. Manalah cukup untuk membiayai rumah tangga. Uang pulsa satu bulan pun tidak menutupi. Mana buat bayar listrik, bayar tagihan air. Beras harus ada setiap hari. Topik itu selalu meluncur deras dari mulut istrinya. Kadek Arya selalu mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga. Sesekali ia meladeni jika istri menuntutnya tidak melanjutkan pengabdian di sekolah.
“Percuma jago bahasa Inggris jika tidak mampu mendapatkan penghasilan yang layak. Tuh contoh Putu Merta, ia menjadi pemandu wisata, gajinya luar biasa,” cerocos istrinya.
Darah Kadek Arya sering mendidih jika dibandingkan dengan Putu Merta, lelaki yang gagal mendapatkan istrinya semasa gadis. Namun, seberapa besar pun keinginan melawan, tetap diredam. Ia memaklumi istrinya yang menuntut pendapatan layak.
“Seragammu necis seperti katibangbung,” ujar istrinya sambil melirik tajam pada kemeja berwarna khaki yang ia pakai. “Mentereng, namun penghasilanmu tidak ada apa-apanya.”
Beruntung Kadek Arya selalu mampu menghadirkan jawaban menyejukkan, meskipun perkataan istrinya kadang terasa sepat. Dari bibirnya tetap mengalir keteduhan yang meluluhkan emosi pasangan hidupnya. Ia selalu berkata bahwa tak ada pekerjaan yang lebih membahagiakan selain profesi yang benar-benar dicintai. Segala sesuatu baginya seperti gunung di kejauhan. Tampak indah, namun menyimpan tebing terjal ketika didekati. Ada yang memuji profesi pemandu wisata asing sebagai pekerjaan dengan hasil paling menggiurkan. Realita di lapangan tak seindah cerita yang didengar. Ada rombongan wisatawan yang bahkan lebih sering menghitung receh daripada menikmati perjalanan. Istrinya tersenyum mendengar itu.
“Bli memang jago meluluhlantakkanku. Bli memang banyak kekurangan, tapi kuakui punya kelebihan,” saut istrinya dengan nada setengah manja, setengah kesal, sementara ujung jarinya mencubit lengan suaminya.
Setelah perang berakhir senyum, Kadek Arya berangkat ke sekolah dengan perasaan bahagia. Senyum istri di pagi hari membakar semangatnya memberikan pelajaran terbaik kepada siswanya. Motor bebek tua tunggangannya meluncur mulus di jalanan desa. Benar kata tetua, sukacita berangkat kerja dari rumah, sesampai di tempat kerja kebahagiaan itu turut serta. Permasalahan rumah tangga tidak terbawa hingga ke sekolah. Ia bisa menempatkan permasalahan yang dihadapi sesuai porsinya. Itu mungkin yang menyebabkan murid-muridnya suka dengannya. Tak jarang, para siswa menceritakan tentang dirinya kepada orang tua mereka. Dilabeli guru pintar. Mendengar sanjung puji dari anak-anak, para orang tua menyarankan les bahasa Inggris di tempat Kadek Arya. Atas desakan orang tua siswa, ia buka les bahasa Inggris di rumah.
Les bahasa Inggris Kadek Arya sungguh unik. Ia memakai kata pengantar bahasa Bali. Harapannya bahasa Ibu tidak punah. Baginya penting melestarikan bahasa Ibu, mengutamakan bahasa Indonesia, dan menguasai bahasa asing. Sesungguhnya ia malu menerima bayaran les. Niatnya tulus agar anak-anak menguasai bahasa asing. Modal awal untuk mencari kerja kelak ketika mereka dewasa. Agar misi sosialnya tetap jalan, ia tetap membuka kursus bahasa Inggris gratis yang dilaksanakan setiap minggu di balai banjar.
Sepak terjang Kadek Arya sebagai guru abdi dan mengajar les bahasa Inggris gratis bagi anak-anak di kampung mendapat perhatian dari ketua dewan. Pimpinan legislatif itu kagum melihat Kadek Arya mampu mengumpulkan anak-anak hingga pemuda untuk belajar bahasa Inggris di balai banjar. Ada keinginannya menjanjikan guru abdi itu sebagai pegawai negeri sipil. Maka ia menyuruh sopir pribadinya menjemput Kadek Arya. Tak lama kemudian, guru abdi itu tiba di kediaman Ketut Ar, sang ketua dewan.
Ada firasat buruk menjalar di perasaan Kadek Arya. Banyak tanya mengganggu pikirannya. Ada apa gerangan ketua dewan ingin ngobrol dengannya. Sangat mendadak. Apalagi sebelumnya tidak pernah basa-basi walau mereka satu kampung. Ketut Ar mempersilakan Kadek Arya duduk. Ia mengaku iba dengan status tamunya sebagai guru abdi. Pendapatan tak seberapa, pengeluaran sudah pasti, besar pasak daripada tiang. Ia menjanjikan status pegawai negeri sipil. “Aku suka melihat kemampuanmu mengumpulkan pemuda di balai banjar. Aku sangat bangga,” kata Ketut Ar.
Bagi Ketut Ar, secara politik, siapa pun yang mampu mempersatukan pemuda dalam satu kegiatan adalah orang hebat. Sudah belasan tahun pemuda di kampung berlawanan prinsip. Setiap ada kegiatan di balai banjar, sering terjadi keributan. Mereka tidak akur walaupun mereka satu kampung. “Aku punya kuasa dan jabatan, namun tidak sehebat kamu mempersatukan pemuda. Aku salut,” pujinya.
Ketut Ar mengaku sudah sering turun ke banjar-banjar saat reses. Selalu menyisipkan pesan agar mereka bersatu. Namun, imbauannya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Maka, ia ingin memanfaatkan jasa Kadek Arya agar para pemuda bersatu. Tidak lagi terbelah hanya gara-gara beda banjar. Ia secara khusus minta tolong Kadek Arya menyisipkan pesan-pesan persatuan saat mengajar les di balai banjar.
“Anda mau jadi pegawai negeri?” ketua dewan melontarkan pertanyaan.
Kadek Arya menjawab dengan anggukan kepala. Ketut Ar menyampaikan syaratnya. Arahkan para pemuda-pemudi itu mencoblos gambar dirinya pada pemilihan umum yang akan datang. Ia berkisah, sudah tiga periode tembus ke DPRD kabupaten, namun suara pemilih pemula sangat rendah. Ia menyebut tabiat para pemuda di kampung brengsek. Terima uang, namun tak mau mencoblos gambar dirinya di tempat pemungutan suara. Berbeda dengan generasi tua, selalu manut dengan perintah. Dalam benaknya, jika pemuda-pemudi di kampung mendukungnya, pastilah perjalanannya mulus menuju kursi legislatif di provinsi. Melaju ke provinsi, perolehan suara pun harus meningkat.
Mendengar permintaan khusus ketua dewan, Kadek Arya merasa kena jebak. Ia mengaku mengumpulkan para pemuda di balai banjar karena ketulusan. Mentransfer ilmu bahasa Inggris secara gratis. Harapannya, para pemuda tulang punggung bangsa menguasai bahasa asing. Apalagi di dunia kerja mensyaratkan menguasai bahasa asing dan teknologi.
“Kamu jago bahasa Inggris mengapa tidak mencari pekerjaan layak? Mestinya kamu kerja di kapal pesiar agar menghasilkan dolar!” perkataan ketua dewan menghujam perasaan.
Kadek Arya sadar pimpinan legislatif itu tersinggung dengan jawabannya. Detak jantungnya lebih cepat dari kondisi normal. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan pikiran.
“Mumpung Aku punya kuasa, kuberikan kamu SK pegawai kontrak. Modal awal untukmu ke jenjang PNS. Sekarang pun Aku bisa perintahkan bupati buatkan SK buatmu!”
Kadek Arya tersentak mendengar ucapan ketua dewan. Ia tahu nada bahasa itu penuh kemarahan. Namun, ia harus tegas. Tidak bisa mengarahkan para pemuda memilih Ketut Ar. Para pemuda harus bebas merdeka sesuai jargon pemilu, langsung umum bebas rahasia. Ia masih merangkai kata agar menjadi kalimat bijak dan tak menyinggung perasaan lawan bicaranya. Berbicara dengan Ketut Ar harus hati-hati. Memantik ketersinggungan adalah tanda bahaya. Preman bayaran pasti dikerahkan untuk membalaskan sakit hati. Semenjak Ketut Ar mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, ketenangan desa terusik. Pemuda terpecah dan sering terjadi kegaduhan. Semua itu ulah Ketut Ar yang mengerahkan preman bayaran.
Kadek Arya bahagia dengan status guru abdi. Mimpi menjadi PNS dikubur dalam-dalam, apalagi dengan perantara bantuan ketua dewan. Ia ingin merdeka, tidak terbelenggu balas jasa. Ia menjawab dengan tegas. Ketua dewan meninggalkan ruang tamu tanpa komentar. Sopir pribadi lekas mengantar Kadek Arya pulang.
***
Suasana sekolah berbeda. Tak ada keceriaan di wajah kepala sekolah. Ia yang senantiasa meluncurkan sanjung puji setiap upacara hari Senin, kini tidak ada lagi. Guru berprestasi selama satu pekan tidak mendapatkan reward. Pun, guru yang melanggar tidak mendapatkan sanksi. Semua berubah. Perubahan itu menjadi tanda tanya besar bagi keluarga besar sekolah, tak terkecuali Kadek Arya. Guru lainnya pun bertanya-tanya, namun mereka tidak punya nyali menanyakan langsung kepada kepala sekolah.
Bel pulang sekolah sudah berdentang. Kadek Arya merapikan bahan ajarnya sebelum ditinggalkan pulang. Para siswa bergerombol pulang. Ada yang naik angkot yang disiapkan gratis oleh pemerintah, ada pula yang dijemput orang tuanya. Baru beberapa langkah meninggalkan ruang guru, Kadek Arya dikejutkan oleh kepala sekolah yang memanggil namanya. Kepala sekolah memintanya menghadap.
Tampak mendung di wajah kepala sekolah. Kadek Arya duduk dengan gelisah. Kepala sekolah juga tak kunjung berbicara. Suasana begitu kaku. Terlihat mata kepala sekolah berkaca-kaca.
“Bapak bangga denganmu, Dek,” katanya pendek.
Perkataan kepala sekolah seperti tercekat. Ada yang mengganjal kerongkongan sehingga kata-kata tak lancar keluar. Kadek Arya sabar menunggu perkataan pimpinannya. Perasaannya tidak menentu. Kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga kepala sekolah memanggilnya. Kepala sekolah memandang Kadek Arya lekat.
“Jika Kadek tetap mengajar di sini, bapak kena mutasi!” katanya berat dan bergetar. [T]
Catatan
- Bli =kakak
- Katibangbung = kumbang daun
- Lascarya = tulus ikhlas





























