6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koperasi Merah Putih Harus Merah Putih

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 12, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, ada sesuatu yang terasa akrab sekaligus ganjil ketika kita mendengar istilah “Koperasi Merah Putih.” Akrab, karena kata “koperasi” dan “merah putih” adalah dua hal yang secara historis melekat dalam identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Ganjil dan terasa agak gimana gitu, karena di tengah realitas ekonomi yang semakin kapitalistik ini, tiba-tiba muncul kembali sebuah gagasan yang terdengar sangat “Indonesia sekali”, seolah kita sedang diajak pulang ke rumah lama yang pernah kita tinggalkan. Malah jadi kepikiran apakah Koperasi Merah Putih ini sebenarnya nostalgia, strategi ekonomi jitu, atau justru sebuah eksperimen besar.

Antara Solidaritas dan Efisiensi

Koperasi, dalam bayangan idealnya, bukan sekadar badan usaha. Ia adalah perwujudan dari satu gagasan besar dimana ekonomi yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga keadilan. Dalam bahasa yang lebih filosofis, koperasi adalah upaya untuk mendamaikan dua kutub yang sering bertentangan yaitu kutub efisiensi dan dan kutub solidaritas di sisi yang lain.

Sejak awal, para pendiri bangsa sudah menyadari bahwa Indonesia bukanlah masyarakat yang dibangun di atas individualisme ekstrem. Kita tumbuh dari tradisi gotong royong, dari kebiasaan berbagi beban, dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah benar-benar bisa dijalani sendirian. Dan itulah jiwa dari dasar negara kita Pancasila.

 Jadi sebenarnya dalam konteks tersebut, koperasi bukan sekadar pilihan ekonomi, melainkan salahsatu dari refleksi budaya kita.  Namun, sejarah koperasi tidak selalu berjalan sesuai dengan niat awal.

Ketika Ruh Koperasi Menghilang

Dalam praktiknya, koperasi di Indonesia sering kali kehilangan ruhnya. Ia berubah menjadi lembaga administratif, sekadar formalitas, atau bahkan dalam beberapa kasus, koperasi dijadikan alat untuk kepentingan segelintir orang. Apa yang seharusnya menjadi milik bersama, perlahan bergeser menjadi milik pengurus. Apa yang seharusnya transparan, justru menjadi gelap.

Sekarang ini, muncul kembali gagasan “Koperasi Merah Putih” dan pula dengan ambisi yang tidak kecil. Dengan target perputaran dana ratusan juta rupiah per bulan tiap unit perdesanya dan laba puluhan juta, koperasi ini tidak bisa lagi dibayangkan sebagai usaha kecil-kecilan.

Ia diproyeksikan menjadi mesin ekonomi desa, bahkan mungkin tulang punggung ekonomi lokal. Di atas kertas, hitung-hitungannya ini terdengar menjanjikan. Tapi dari pengalaman, kita tahu sama tahu saja, realitas yang terjadi jarang yang semulus proposal awal.

Mari kita mulai dari fakta paling mendasar saja, kita tahu bahwa tidak semua desa memiliki kapasitas ekonomi yang sama. Ada banyak desa yang hidup dari pertanian subsisten, dengan perputaran uang yang terbatas. Tapi memang ada pula desa yang mulai terhubung dengan pasar yang lebih luas, memiliki akses distribusi, bahkan sudah mengenal ekonomi digital.

Namun memaksakan satu model koperasi dengan target yang seragam untuk semua desa adalah seperti memaksa semua orang memakai ukuran sepatu yang sama. Secara teoritis mungkin rapi, tetapi dalam praktiknya, banyak yang yakin nantinya akan terasa menyakitkan. Sepertinya benar juga jika masalah terbesar dalam kebijakan publik bukanlah kurangnya ide, melainkan adanya kecenderungan untuk mengabaikan konteks.

Ketika kebijakan dibuat dari atas, sering kali ia kehilangan sensitivitas terhadap realitas di bawah. Dalam konteks koperasi, ini menjadi sangat krusial. Karena koperasi bukan hanya soal modal, tetapi soal partisipasi. Tanpa partisipasi aktif anggota, koperasi hanyalah bangunan kosong. Dan bangunan yang akan dibuat ini, targetnya total secara nasional akan ada 81 ribu unit koperasi desa atau kelurahan. Kalau soal membangun gedungnya, pasti relatif tak ada masalah.

Namun di sisi lain, ada persoalan yang lebih substantif tetapi jauh lebih berbahaya yaitu soal kapasitas pengelolanya.  Bagaimanapun, mengelola koperasi dengan perputaran dana ratusan juta rupiah bukan perkara sederhana. Ini bukan lagi soal semangat gotong royong, tetapi juga soal manajemen risiko, akuntabilitas, dan tata kelola keuangan yang profesional.

Tanpa pelatihan yang memadai, tanpa sistem pengawasan yang ketat, koperasi dengan modal besar justru berpotensi menjadi ladang baru bagi penyimpangan dan penyelewengan.  Sejarah ekonomi yang sama-sama kita alami dan saksikan sudah cukup memberi pelajaran, bahwa di mana ada uang besar tanpa sistem yang kuat, di situ selalu ada godaan.

Robert A. Caro, seorang sejarawan dan penulis biografi politik Amerika, pernah mengatakan, “Kekuasaan tidak selalu merusak. Kekuasaan bisa membersihkan. Yang selalu benar tentang kekuasaan adalah bahwa kekuasaan selalu mengungkapkan siapa seseorang sebenarnya”.Dalam konteks koperasi, “kekuasaan” itu bisa berupa akses terhadap dana, keputusan investasi, atau kontrol atas informasi.

Tanpa transparansi, koperasi bisa berubah dari alat pemberdayaan menjadi alat dominasi. Nah, siapa yang berkuasa di sini akan diuji nantinya.  Ya wajar, jika sampai di sini kekhawatiran publik menjadi masuk akal.

Antara Kebijakan dan Kepentingan

Kita tidak bisa menutup mata terhadap dinamika politik di balik segala macam program-program besar. Dalam banyak kasus, kebijakan ekonomi sering kali tidak sepenuhnya netral. Ia bisa menjadi alat distribusi kekuasaan, bahkan instrumen untuk membangun loyalitas politik.

Ketika sebuah program membawa nama besar seperti “Merah Putih,” ada dua kemungkinan. Pertama, memang benar-benar berangkat dari niat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebangsaan dalam ekonomi. Kedua, hanya menggunakan simbol kebangsaan sebagai legitimasi untuk sesuatu yang lebih pragmatis.

Di titik ini, bukan bemaksud bagaimana-bagaimana, namun kita tetap perlu bersikap jernih, bukan sinis, tetapi juga tidak naif. Karena simbol, sekuat apa pun, tidak pernah cukup.  Merah, dalam makna filosofisnya, melambangkan keberanian, yaitu keberanian untuk berkorban, untuk berjuang, untuk mengambil risiko demi kepentingan bersama. Sementara putih melambangkan kesucian kejujuran, ketulusan, dan integritas.  Jika dua nilai ini benar-benar hidup dalam koperasi, maka kita tidak perlu terlalu khawatir.

Koperasi akan tumbuh, mungkin tidak selalu cepat, tetapi pastinya akan berakar kuat.  Namun jika yang terjadi nanti adalah yang sebaliknya, di mana merah hanya menjadi semangat retorika tanpa keberanian moral, dan putih hanya menjadi simbol belaka tanpa kejujuran, ya sudah, yang tersisa hanyalah warna, bukan nilai yang punya makna yang dalam dan berwibawa. Dan merah putih tanpa nilai, mudah sekali berubah menjadi abu-abu. Atau lebih buruk, belang. 

Di tengah semua ini, penting untuk diingat bahwa koperasi bukanlah konsep yang gagal. Ada banyak contoh koperasi di Indonesia yang berhasil, yang mampu bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan pasar. Kunci keberhasilan mereka relatif sederhana, meski tidak mudah, yaitu manajemen yang profesional, transparansi yang konsisten, dan partisipasi anggota yang nyata. 

Jadi bukan soal koperasinya sebagai sistem, tetapi pada bagaimana ia dijalankan. Sistem yang bagus tetap bisa rusak jika dijalankan oleh orang yang salah, tetapi sistem yang biasa saja bisa bekerja dengan baik jika dijalankan dengan integritas.

Maka, harapan terhadap Koperasi Merah Putih sebenarnya bukan harapan yang muluk-muluk. Harapan yang sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana, agar koperasi ini benar-benar menjadi milik anggota, dikelola dengan jujur, dan dijalankan dengan keberanian untuk tetap berada di jalur yang benar.  Namun meski sederhana, bisa jadi harapan ini menjadi sulit.  Karena yang diuji bukan teknologinya, bukan juga model bisnisnya, melainkan manusianya itu sendiri.

Belang Cantik Cuma untuk Kucing Garong

Pada akhirnya, banyak praduga dan pertanyaan tentang Koperasi Merah Putih bukan lagi menyoal ekonomi semata. Namun pertanyaan tentang siapa kita sebagai bangsa. Apakah kita masih bisa percaya pada semangat kerja bersama dengan mementingkan kepentingan umum telebih dahulu? Apakah kita masih mampu menghargai kejujuran, dalam sistem yang sering kali memberi ruang untuk bertindak sebaliknya? Apakah bekerja dengan moral sudah terasa sebagai suatu utopia?

Jelas tidak ada jawaban yang mudah. Mungkin yang tersisa hanyalah harapan dan kewaspadaan.  Harapan bahwa koperasi ini benar-benar bisa menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar proyek. Harapan bahwa ia tetap merah dalam keberanian, dan putih dalam kejujuran. Dan sekaligus kewaspadaan bahwa tanpa itu semua, hal ini bisa saja berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan merah putih, tapi abu-abu tak jelas atau bahkan jadi belang.  Koperasi jangan belang. Kan, bukan koperasi garong. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomikoperasikoperasi merah putih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Next Post

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah ---Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co