12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
March 29, 2026
in Tualang
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

Suasana malam di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya sebuah tempat yang dibangun seolah-olah mirip Shanghai di Cina. Shanghai citraan. Lebih tepatnya kawasan hiburan yang terinspirasi dari suasana distrik kuliner di Shanghai—dengan sentuhan budaya Asia Timur yang kental. Namanya Park Shanghai. Dibuka sejak 2 Juli 2025.

Dibangun di kawasan Pakuwon City, tepatnya di area outdoor Pakuwon City Mall di Surabaya Timur, Park Shanghai menawarkan destinasi kuliner oriental yang beragam. Mengusung konsep Kota Shanghai tempo dulu, kawasan ini menghadirkan deretan restoran dan tenant makanan khas Asia dengan suasana estetik yang unik, dan menjadikannya magnet baru bagi pecinta kuliner dan spot nongkrong di Surabaya Timur.

Tempat ini tidak terlalu besar—tampaknya ia tidak dirancang untuk menampung kerumunan raksasa, melainkan interaksi yang lebih intim. Jalur pedestrian yang melingkar, bangku-bangku taman, serta area terbuka menjadi elemen utama yang menopang fungsi dasarnya sebagai ruang publik.

Namun, yang membuat Park Shanghai berbeda adalah pendekatan visualnya. Gerbang merah dengan lengkungan khas oriental, ornamen dekoratif yang terinspirasi dari arsitektur Tiongkok, serta pemilihan warna yang kontras namun harmonis—semuanya dirancang untuk membangun suasana. Saya kira bukan untuk meniru secara sempurna, tetapi sekadar untuk menghadirkan kesan saja. Luluk, pengunjung dari Bali yang sedang dipotret anaknya berkata, “Kalau difoto kayak bukan di Surabaya.”

Salah satu gerbang masuk Park Shanghai yang bernuansa oriental | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sabtu malam saya berkunjung ke sana. Itu jelas malam yang ramai. Kendaraan membanjir menuju pintu masuk. Sementara tempat parkir sudah berjubel. Petugas mengarahkan mobil-mobil untuk parkir di dalam gedung perbelanjaan. Seorang pengendara tampak mengeluh. Saya memperhatikannya dari depan gerbang Park Shanghai yang sangat khas Negeri Tirai Bambu itu.

Benar. Tempat ini memang ramah untuk wisata keluarga. Tidak hanya menawarkan ragam makanan lezat—dan, jujur, agak mahal untuk ukuran saya—, Park Shanghai juga dirancang sebagai ruang publik terbuka dengan dekorasi lampion, bangunan bergaya oriental, dan pencahayaan malam yang fotogenik. Tak heran jika tempat ini cepat viral dan ramai dikunjungi warga Surabaya maupun pengunjung dari luar kota.

“Saya dari Gresik,” ucap Nuraini yang berwisata bersama anak dan suaminya. Perempuan berkerudung dan berkacamata itu mengaku baru pertama kali ke sini. Ia tahu tempat ini dari media sosial. Dan ia terkesan dengan bangunan-bangunan restoran di Park Shangsai. “Anak saya suka. Katanya kayak di film-film Cina,” katanya sambil tersenyum.

Suasana Ru Wei Xiang, kedai masakan Chinese tradisional non-halal, di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pengaruh budaya populer memang tak bisa diabaikan. Representasi visual tentang Tiongkok—baik melalui film, serial, maupun media sosial—telah membentuk imajinasi kolektif masyarakat. Park Shanghai seolah menjembatani imajinasi itu dengan realitas yang bisa disentuh.

Ya, ornamen arsitekturnya—lengkungan bergaya oriental, pagoda, naga dan panda, bonsai-bonsai, warna merah yang mencolok namun tidak berlebihan, serta detail-detail ukiran dan lampion-lampion itu—mengingatkan kita pada estetika taman klasik di Tiongkok. Meski tidak sebesar taman-taman tematik di kota besar dunia, Park Shanghai tetap menghadirkan pengalaman visual yang cukup kuat untuk menggeser persepsi ruang di Surabaya.

Namun, seperti banyak ruang tematik lainnya, Park Shanghai juga menghadapi tantangan. Beberapa bagian terlihat mulai mengalami keausan—cat yang memudar, fasilitas yang membutuhkan perawatan. Ini adalah pengingat bahwa membangun ruang publik hanyalah langkah awal; menjaga keberlanjutannya adalah pekerjaan yang tak kalah penting.

Suasana malam di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang makna representasi. Apakah taman ini benar-benar merepresentasikan budaya Shanghai atau sekadar interpretasi visual yang disederhanakan? Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban tunggal, tetapi justru membuka ruang diskusi tentang bagaimana budaya dipahami dan ditampilkan di ruang publik.

Surabaya, sebagai kota pelabuhan, sejak lama menjadi simpul pertemuan berbagai budaya. Jejak komunitas Tionghoa dapat ditemukan di kawasan seperti Kampung Kapasan atau Kya-Kya Kembang Jepun—Kawasan Pecinan Surabaya. Dalam konteks itu, kehadiran Park Shanghai bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing. Ia adalah perpanjangan narasi sejarah—meski dikemas dalam bentuk yang lebih kontemporer.

Namun, berbeda dengan kawasan heritage yang sarat dengan sejarah konkret, Park Shanghai lebih menyerupai simbol. Ia tidak menceritakan masa lalu secara langsung, tetapi mengisyaratkan hubungan lintas budaya yang telah lama terjalin. Atau kehadirannya justru mengaburkan kenyataan masa lalu bagaimana etnis Tionghoa diperlakukan di negara ini.

Pagoda setinggi 38 meter yang menjadi landmark Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dinding bangunan yang penuh gambar di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya berjalan pelan sambil mengabadikan beberapa bangunan. Langit sangat gelap. Tak ada satu bintang pun terlihat. Oh, bintang memang sudah lama menghilang dari langit Surabaya. Cahanya sudah diganti oleh gemerlap neon-neon gedung bertingkat yang berdesakan di kota metropolitan ini.

Di bangku kayu yang menghadap jalur setapak, saya duduk sejenak, memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Seorang anak kecil berlari sambil tertawa, diikuti ibunya yang setengah panik. Di sudut lain, dua remaja sibuk mengambil foto dengan latar lorong pertokoan. Semua orang, dengan cara mereka masing-masing, sedang “bersafari” di sini. Bukan ke Shanghai yang sebenarnya, tentu saja. Tapi ke sebuah versi yang cukup dekat untuk dibayangkan, dan cukup jauh untuk terasa berbeda.

Di dalam kawasan, ada satu dinding yang menarik perhatian saya. Dinding itu penuh dengan gambar, seperti komik. Itu gambar suasana yang meriah. Ada pementasan barongsai, transaksi jual-beli, sampai seorang—bukan sekor—sapi berkaki dua dan bertangan bertarik tambang dengan dua orang pria. Gambar-gambar di dinding itu sangat karikatural dan ikonik. Tak heran jika banyak pengunjung yang menjadikannya sebagai latar foto.

Makan di Restoran Ayam Goreng Pahlawan Nusantara di kawasan Park Shanghai, Surabaya Timur | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya masuk lebih dalam. Menyusuri resto-resto yang tampak seperti pertokoan tua di Cina, dan mendapati ragam kuliner yang bernaung di bawah atap bangunan oriental itu. Ada kedai Ah Pek Kopitiam yang menawarkan suasana nostalgia dengan desain khas kopitiam Peranakan. Interiornya didesain estetik bergaya retro Cina-Melayu yang menjadikannya salah satu spot foto favorit pengunjung. Selain menjadi tempat makan yang nyaman, tampaknya Ah Pek Kopitiam juga cocok untuk nongkrong sore dengan suasana hangat seperti di kedai tua zaman dulu.

Menurut keterangan di halaman digital Pakuwon City, kedaiAh Pek Kopitiam terkenal dengan sajian klasik seperti roti bakar srikaya, telur setengah matang, kopi tarik, nasi Hainan, hingga berbagai mi dan nasi Chinese yang dimasak dengan resep rumahan.

Wah, lihat itu. Ternyata banyak pula restoran non halal di sini. Banyak olahan daging babi yang ditawarkan. Kedai Ru Wei Xiang tampaknya cocok untuk pecinta masakan Chinese tradisional non-halal. Dengan sistem prasmanan, pengunjung dapat memilih langsung aneka lauk yang sudah tersedia di etalase, seperti babi panggang, tumisan oriental, bakpao isi, dan aneka sayuran khas. Sungguh nuansa kaki lima ala Tiongkok daratan.

Saya berhenti di depan restoran ayam goreng. Namanya Ayam Goreng Pahlawan Nusantara. Saya memesan tempat. Ya, sebelum memesan makanan dan minuman, Anda harus memesan tempat lebih dulu. “Masih ada lima antrean, Pak.” Itu dia sebabnya. Banyak orang yang mau makan di resto ini. Sedangkan tempatnya tak cukup menampung semuanya secara bersamaan. Jadi, Anda harus menunggu giliran; menunggu ada meja dan kursi kosong.

“Silakan tunggu di sini dulu, Pak,” ucap pelayan perempuan sambil menunjuk sebuah kursi kecil di samping pintu masuk. Saya duduk. Pelayan itu menutup pintu restoran dan kembali melayani pengunjung yang baru datang. Begitu terus, berulang-ulang, sampai saya mendapatkan meja-kursi dan menyantap ayam goreng lengkap dengan bayam dan labu rebus, sambal bawang, timun, dan kremesan tepung. Ah, pepatah lama itu memang benar: “Ada harga ada rasa”.

Bangunan-bangunan ikonik di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Malam beranjak. Hujan mulai turun. Orang-orang menepi, berteduh di teras-teras resto, menunggu giliran payung yang disediakan petugas kawasan. Seorang petugas kebersihan dengan mantel membelah hujan dan mengorek-orek saluran drainase yang mampet. Hujan makin deras. Tapi lagu-lagu Mandarin tetap lantang terdengar.

Saya meninggalkan Park Shanghai ketika hujan sudah benar-benar tinggal tetes terakhir. Tidak ada perasaan spektakuler, tentu saja, dan tidak ada perasaan “harus kembali lagi”. Tapi ada sesuatu yang tertinggal, semacam kesadaran kecil bahwa kota ini terus berusaha menjadi lebih dari dirinya sendiri, dan tampaknya selalu punya cara membuat warganya memiliki lebih banyak alasan untuk menghabiskan gaji bulanan alih-alih menabungnya. Ah, saya kira, begitulah rayuan kota urban.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: CinakulinermallShanghaiSurabayaTionghoaTiongkok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HINDU NUSANTARA MELAMPAUI EKSKLUSIVITAS SAMPRADAYA.

Next Post

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co