24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
in Panggung
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Les Ngembak Festival

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil itu pula, narasi tentang filosofi Nyegara Gunung—sebuah pandangan kosmologis Bali yang menyatukan gunung dan laut sebagai satu kesatuan siklus kehidupan—disebut-sebut dan berusaha diwujudkan dalam bentuk festival atau boleh jadi disebut sebagai “pesta rakyat”.

Di Desa Les, alam memang tak pernah benar-benar diam. Ia bergerak dari bukit yang kering, menyusuri ladang, menyeberangi jalan-jalan kecil, lalu berakhir di laut yang membentang luas di utara. Gerak itu tak kasatmata, tapi terasa. Dan selama tiga hari, 20 hingga 22 Maret 2026 kemarin, gerak itu dirayakan dalam satu helaan napas panjang: Les Ngembak Festival 2026.

“Berangkat dari tradisi Ngembak Geni setelah Nyepi, festival ini kini berkembang menjadi agenda tahunan masyarakat Desa Les,” terang Nyoman Nadiana, Ketua Pokdarwis Les, kepada tatkala.co, Minggu, 22 Maret 2026.

Les Ngembak Festival

Tahun keempat ini, Les Ngembak Festival mengusung tema “Ridge to Reef Experience” yang meliputi art, culture, cullinary, dan nature. Teman tersebut bukan sekadar jargon pariwisata, tentu saja. Menurut Don Rare, panggilan akrab Nyoman Nadiana, itu cara warga Les membaca dirinya sendiri—sebagai bagian dari alur panjang antara gunung dan laut dalam filosofi Nyegara Gunung yang telah hidup jauh sebelum festival ini lahir.

Namun, masih kata Don, jika kita menepi sejenak dari panggung dan keramaian, festival ini sebenarnya menyimpan dua cerita: tentang perayaan, dan tentang jejak yang ditinggalkannya.

Di Pantai Penyumbahan, tempat festival berlangsung, panggung didirikan tanpa kemewahan berlebih. Laut menjadi latar, langit menjadi atap. Selebihnya, manusia mengisi ruang itu dengan energi mereka.

Talenta lokal tampil tanpa jarak. Band, DJ, memainkan lagu-lagu dan musik yang akrab di telinga warga, modern dance menghadirkan semangat generasi muda, sementara tarian Bali menegaskan akar yang tak tercerabut. Di sela-sela itu, tawa penonton mengalir, bercampur dengan suara ombak yang tak pernah benar-benar berhenti. Tak ada batas tegas antara penampil dan penonton. Semua seperti sedang memainkan peran dalam cerita yang sama.

Di sisi lain, aroma dapur menjadi penanda bahwa festival ini juga tentang rasa. Kuliner khas Desa Les disajikan dengan cara sederhana tetapi jujur. Ikan segar, sambal yang pedasnya menggigit, hingga jajanan tradisional, semuanya hadir sebagai bagian dari identitas di tengah gempuran kuliner-kuliner ekstra proses yang datang dari negeri jauh.

Les Ngembak Festival

Sementara itu, HuB produk kebanggaan lokal menjadi ruang kecil yang penting. Di sana, karya-karya warga dipamerkan: hasil tangan yang tak selalu sempurna, tapi penuh makna. Festival ini, pada titik itu, menjadi lebih dari sekadar tontonan—ia adalah ruang ekonomi, ruang eksistensi.

Menjelang senja, laut mengambil alih peran utama. Perahu-perahu jukung mulai bergerak perlahan. Aktivitas melancaran atau mejukungan menjadi magnet yang tak tergantikan. Pengunjung diajak menyusuri laut, bukan sekadar melihat, tetapi merasakan.

Di atas perahu, waktu seperti melambat. Angin laut membawa aroma asin yang khas, air memantulkan warna langit yang berubah, dan di tangan, makanan khas desa dinikmati tanpa tergesa.

Pengalaman itu terkesan sederhana, tapi justru di situlah kekhasannya. Tak ada teknologi canggih, tak ada rekayasa berlebihan, hanya manusia, alam, dan momen yang dibiarkan terjadi apa adanya. Begitu saja. “Inilah inti dari ridge to reef, perjalanan yang menghubungkan, bukan memisahkan,” kata Don.

Sampai di sini, sebagai desa wisata yang menyandang gelar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Les disebut ikut mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal di daerah Buleleng. Pemerintah Buleleng menganggap Les Ngembak Festival sebagai ruang promosi desa wisata, seni budaya, hingga produk UMKM lokal. Kehadiran wisatawan turut memberi dampak ekonomi langsung bagi warga setempat. 

“Pengembangan pariwisata harus disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lokal. Konsep desa wisata harus tetap dijaga agar memberikan pengalaman yang autentik,” ujar Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, yang membuka festival tersebut.

Namun, setiap perayaan selalu memiliki sisi lain yang jarang disorot saat musik masih dimainkan. Ketika hari terakhir berakhir dan pengunjung mulai pulang, pantai itu tak lagi sama. Sisa-sisa festival tertinggal. Sampah plastik, kemasan makanan, botol minuman—semuanya menjadi bukti bahwa manusia belum sepenuhnya belajar dari apa yang ia rayakan. Pantai yang tadi menjadi ruang perjumpaan, berubah menjadi ruang pekerjaan: warga dan panitia membersihkan, mengumpulkan, memilah.

Persoalan ini bukan hal baru. Ia seperti kutukan yang selalu kembali setelah festival usai. Warga menyadari, panitia memahami, namun solusi belum sepenuhnya menemukan bentuknya. Di tengah semangat merayakan alam, ironi itu terasa begitu konyol: bagaimana mungkin sebuah festival yang mengangkat filosofi keselarasan justru meninggalkan ketidakseimbangan?

Les Ngembak Festival

“Ini terjadi setiap tahun. Saya kira, persoalan sampah ini bukan sekadar masalah teknis. Itu sebuah pertanyaan moral yang menggantung: sejauh mana kita benar-benar memahami filosofi Nyegara Gunung?” keluh Don yang menggerakkan panitia untuk membersihkan Pantai Penyumbahan seusai acara. “Jika gunung dan laut adalah satu kesatuan, maka apa yang kita tinggalkan di pantai, pada akhirnya juga akan kembali kepada kita,” sambung sambung pria paruh baya yang juga dikenal sebagai pejalan, pemandu, dan pedagang itu.

Les Ngembak Festival 2026 memang belum sempurna secara teknis maupun nonteknis. Tapi justru di situlah ia terasa hidup. Festival ini menunjukkan bagaimana sebuah desa berusaha berdiri di antara dua dunia: tradisi yang ingin dijaga, dan modernitas yang tak bisa dihindari. Warga Les mencoba mempertemukan seni, ekonomi, dan pariwisata dalam satu ruang yang sama—meski kadang selaras, kadang saling bertabrakan.

Namun, yang paling penting, festival ini membuka ruang refleksi bahwa merayakan alam tidak cukup dengan menghadirkan panggung di tepi laut; bahwa pengalaman “dari bukit ke terumbu karang” seharusnya tidak berhenti pada apa yang dilihat dan dirasakan, tetapi juga pada bagaimana ia dijaga setelahnya.

Les Ngembak Festival

Mungkin, di masa depan, Les Ngembak Festival tak hanya dikenang karena keindahannya, tetapi juga karena keberaniannya berbenah. Karena pada akhirnya, perjalanan dari bukit ke laut bukan hanya tentang jarak. “Itu adalah tentang tanggung jawab yang harus ditempuh bersama,” Don berpesan.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengDesa LesHari Raya NyepiLes Fest Ngembak Geningembak geni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Next Post

Yang Terpatri di Hari Fitri —Catatan Kecil Usai Lebaran

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Yang Terpatri di Hari Fitri ---Catatan Kecil Usai Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co