4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 23, 2026
in Ulas Rupa
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Ogoh-ogoh 'Sapa Warang' Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok ini justru hadir dalam keadaan yang terasa nyaris runtuh. Ia tidak berdiri tegak, tidak memamerkan keseimbangan yang selesai. Tubuhnya condong ke depan, satu kaki terangkat tinggi ke belakang, seperti sedang ditarik oleh kekuatan yang tidak terlihat. Ada ketegangan yang terasa di seluruh anatominya.

Otot-ototnya tidak sekadar dibentuk, tetapi seperti sedang menahan sesuatu yang terlalu lama disimpan. Ia tidak memberi rasa stabil. Ia berada di antara dua keadaan: antara bertahan dan menyerah, antara bentuk yang masih utuh dan sesuatu yang sedang berubah.

Itulah Sapa Warang, karya Sekaa Teruna Gemeh Indah yang dikonsepsi oleh maestro Marmar Herayukti.

Tangan-tangannya menjulur panjang, jari-jari terbuka, seperti meraba sesuatu yang tidak kasatmata. Tidak jelas apakah ia sedang meraih atau justru menjauh. Ambiguitas itu tidak diselesaikan, dan justru di situlah ia bekerja. Ia tidak memberi satu tindakan, melainkan membiarkan kita berada di antara kemungkinan.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Wajahnya menjadi pusat dari seluruh pengalaman visual ini. Pada satu sisi, ia masih dapat dikenali sebagai manusia. Struktur tulang wajah, garis bibir, ekspresi yang familiar. Namun pada sisi lainnya, wajah itu telah retak. Permukaannya pecah seperti tanah yang lama tidak tersentuh air. Dari dalam retakan itu, cahaya merah muncul. Bukan sebagai tambahan, tetapi seperti sesuatu yang memang berasal dari dalam tubuh itu sendiri.

Mata pada wajah itu tidak sepenuhnya melihat. Ia putih, kosong, tetapi tidak mati. Justru terasa penuh. Seperti bukan lagi mata yang mengamati dunia, melainkan titik di mana sesuatu dari dalam sedang memandang keluar.

Di atas tubuh yang retak itu, ornamen emas hadir dengan ketelitian yang halus. Ukirannya rapi, hampir aristokratik, seperti datang dari dunia yang tertata. Di sela-selanya, uang kepeng dironce dan diulang sebagai ritme visual. Pada beberapa bagian, terbaca aksara seperti Sangupati dan Sangurip—bekal mati dan bekal hidup—yang tidak ditempatkan sebagai simbol terpisah, tetapi melekat pada tubuh itu sendiri.

Di ujung sanan (usungan yang terbuat dari bambu), terpisah dari pedestal, muncul elemen menyerupai pancuran—yang dalam pemahaman umum menjadi simbol air kehidupan. Namun di sini, sesuatu telah bergeser. Yang keluar bukan air. Melainkan api.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Dua Wajah dan Cara Kita Memahami

Ada sesuatu yang tidak langsung terlihat jika karya ini hanya diamati dari satu sudut. Wajah Sapa Warang tidak tunggal. Ia dapat dibaca dari dua orientasi. Ketika posisi dibalik, wajah yang sama berubah menjadi karakter lain—lebih kasar, lebih liar, lebih dekat dengan sesuatu yang biasanya kita tempatkan di luar wilayah manusia. Yang berubah bukan bentuknya. Yang berubah adalah cara kita melihatnya.

Di titik ini, karya ini tidak lagi hanya berbicara tentang bentuk, tetapi tentang cara kita memahami realitas. Kita terbiasa membagi dunia menjadi atas dan bawah, depan dan belakang, manusia dan bukan manusia. Namun ketika satu bentuk mampu menghadirkan dua identitas hanya dengan perubahan orientasi, batas-batas itu mulai goyah. Apa yang kita yakini sebagai tetap, ternyata bergantung pada posisi kita.

Wajah yang terbalik ini tidak sekadar menghadirkan dualitas. Ia menghadirkan jarak. Seolah-olah ada sosok yang tidak lagi menghadap kita. Seolah-olah ada sesuatu yang memunggungi kita. Dan mungkin justru dari sanalah ia “menyapa”. Bukan dari depan, tetapi dari arah yang kita abaikan.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Retakan, Api, dan yang Tak Lagi Bisa Ditahan

Dalam gagasan yang dibawa oleh Marmar Herayukti, semuanya berangkat dari sesuatu yang sederhana: tangisan pertama manusia. Tangisan itu adalah penanda awal kesadaran. Momen ketika manusia hadir dengan kemampuan untuk merasakan dan mengingat. Namun seiring waktu, sesuatu perlahan berubah. Manusia mulai menjauh dari tubuhnya sendiri.

Ia lebih percaya pada pikirannya: pada konstruksi yang ia bangun, pada ketakutan yang ia pelihara, pada arah yang sering kali tidak sepenuhnya ia pilih sendiri. Tubuh, yang seharusnya menjadi jalur pesan yang jujur, perlahan diabaikan. Dan di situlah lupa mulai terjadi.

Lupa bukan sekadar tidak ingat. Ia adalah kondisi di mana manusia tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Dalam konteks ini, air mata tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai luapan emosi. Air mata adalah bekal menuju kesadaran. Ia adalah cara tubuh membuka kembali jalur yang sempat terputus, cara tubuh mengingatkan bahwa masih ada sesuatu yang bisa dirasakan, yang belum sepenuhnya hilang.

Retakan pada tubuh Sapa Warang menjadi bahasa dari kondisi itu. Ia adalah jejak tekanan yang terlalu lama disimpan. Namun retakan ini juga membuka jalan. Dari dalamnya, cahaya merah muncul. Dan ketika api dinyalakan pada malam pengerupukan itu, ia tidak hadir sebagai sesuatu yang acak. Ia mengikuti retakan. Ia menyala di jalur yang sejak awal sudah ada. Seolah tubuh ini memang telah dirancang untuk dilalui oleh api.

Api tidak langsung menghancurkan. Ia justru memperjelas. Ia membuat retakan menjadi hidup. Ia mengubah bentuk menjadi peristiwa. Api di sini dapat dibaca sebagai magma. Magma dalam bumi yang bergerak di dalam, menekan, dan akhirnya mencari jalan keluar.

Magma dalam diri manusia yang berupa tekanan, emosi, ingatan, sesuatu yang terlalu lama ditahan. Ketika ia muncul, ia tidak memilih jalur baru. Ia mengikuti retakan yang sudah ada sebelumnya.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Sapaan yang Menjadi Peringatan

Nama Sapa Warang tidak bekerja sebagai label. Ia membuka. Kata sapa mengandung beberapa lapisan sekaligus. Ia bisa berarti menyapa, sebuah gerak mendekat. Ia juga bisa berarti siapa, sebuah pertanyaan. Namun dalam lapisan yang lebih dalam, ia dapat dimaknai sebagai peringatan, bahkan kutukan yakni teguran yang tidak selalu datang dengan keras, tetapi menetap.

Dalam karya ini, makna itu tidak hanya hadir dalam kata, tetapi dalam bentuk. Wajah yang dapat dibaca terbalik, tubuh yang seperti tidak sepenuhnya menghadap, menghadirkan kesan bahwa sapaan itu tidak lagi datang dari posisi yang biasa. Ia tidak berdiri di depan kita. Ia seperti datang dari arah yang kita abaikan. Dari belakang. Dari bawah. Dari sesuatu yang selama ini kita pijak.

Dalam pembacaan ini, sapa dapat dipahami sebagai sapaan, sekaligus teguran, dari Ibu Bumi yang tidak lagi sepenuhnya menghadap manusia. Bukan karena ia tidak ada. Tetapi karena manusia yang menjauh. Relasi itu bergeser. Yang seharusnya dekat menjadi jauh. Yang seharusnya disadari menjadi terlupakan.

Sementara itu, warang mempertemukan dua unsur yang sering dianggap berlawanan: air dan api. Air hadir sebagai kemungkinan, sebagai air mata, sebagai sesuatu yang mengalir dari dalam. Api hadir sebagai kenyataan, sebagai panas, sebagai energi yang muncul melalui retakan. Dan ketika keduanya hadir dalam satu tubuh, sapaan itu tidak lagi sekadar kata. Ia menjadi pengalaman. Ia menjadi tubuh yang retak. Ia menjadi cahaya yang keluar dari dalam. Ia menjadi api yang muncul dari pancuran yang seharusnya mengalirkan air.

Marmar Herayukti dan Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ | Foto: @pradityaaa.07 

Sapa Warang tidak menawarkan kesimpulan. Ia hanya membuka kemungkinan. Tentang tubuh yang menyimpan lebih banyak dari yang terlihat. Tentang retakan yang tidak selalu berarti akhir. Tentang api yang tidak selalu datang untuk menghancurkan. Dan mungkin, tentang sesuatu yang sederhana: bahwa di tengah semua yang kita yakini kita pahami, kita mungkin baru melihat dari satu sisi saja.  [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini juga disiarkan di Bekraf.id

Tags: Banjar GemehHari Raya Nyepiogoh-ogohPutu Marmar Herayukti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan dan Kekhawatiran

Next Post

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co