DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan item yang mewakili ketidakmampuan finansial.
“Mas Darmuji, rencana Lebaran besuk, istri masak apa?”
“Sayur bening sama lele goreng!”
“Hanya itu?”
Ia mengangguk, memberi jawab.
“Bukankah Lebaran tahun-tahun kemarin memasak opor ayam sama ketupat?”
“Iya betul. Tapi melihat harga kebutuhan pokok yang cenderung naik, sepertinya ikat pinggang harus dikencangkan,” ucap Darmuji santai. “Kondisi lagi tidak punya uang lebih!”
“Masa’ sih, Mas?”
“Yah.” Hanya yah jawabnya. Senyumnya tampak lebar tanpa beban.
“Lebaran kan biasanya istimewa?”
“Sayur bening dan lele sudah istimewa. Itu merupakan kemewahan bagi kami!”
Aku tercekat. Ludah terasa tertahan di kerongkongan. Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan kalimat terakhir itu. Bukan keluhan, pun kepasrahan. Lebih seperti pengakuan yang jujur pada kenyataan.
Obrolan itu terjadi kala kami usai shalat tarawih. Di teras Masjid sambil menyeruput kopi.
“Pasti kamu merasakan, kondisi ekonomi enam tahun ke belakang sampai sekarang, belum sepenuhnya pulih. Kalau boleh dibilang, banyak orang merasa beban di pundaknya kok belum pindah, masih saja tertatih-tatih,” jelasnya.
Kepalaku terangkat melihat kerlip bintang jauh di sana, sedang otak berdenyut memikirkan omongannya.
Tahun ini memang berbeda.
Ekonomi dunia sudah melambat bahkan sebelum wabah datang. Ketika wabah benar-benar melanda, keadaan seperti bongkahan batu yang dilempar ke hamparan air, menimbulkan gelombang kerusakan yang menyebar ke mana-mana. Banyak usaha tumbang, pekerjaan hilang, pengangguran beranak-pinak. Keluarga yang dulunya merasa aman sebagai kelas menengah, tiba-tiba dipaksa terjun bebas dalam status sosial.
Termasuk keluarga Darmuji.
Aku mengenal keluarga itu sangat dekat. Dulu, Darmuji adalah orang yang sering dijadikan contoh keberhasilan di lingkungan kami. Usahanya berjalan baik. Rumahnya tidak mewah, tapi selalu tampak cukup. Anak-anaknya riang gembira, bersekolah tanpa perlu khawatir soal biaya. Setiap Lebaran, halaman rumahnya penuh dengan tamu. Di meja makan selalu ada opor ayam, ketupat, sambal goreng ati, emping, kerupuk udang. Di meja tamu berjejer beragam jajanan tradisional, kue-kue basah dan kering yang tertata di atas piring besar serta disusun rapi di toples.
“Ayo, dicicipi. Jangan hanya di lihat!” Darmuji bahkan sering memaksa. “Ini memang untuk dihabiskan. Ayolah!”
Tutup toples ia buka dan piring disorongkan. Kami dipaksa tunduk untuk mengudap. Beberapa dari kami bahkan mempunyai ingatan kuat. Kalau ingin merasakan hidangan yang menampar lidah, bertandanglah ke rumah Darmuji. Itu selalu tepat. Kue-kue yang selama ini belum pernah atau jarang kami rasakan, bisa dinikmati kala Lebaran di rumah Darmuji. Lambung kami bertepuk tangan menerima persembahan. Jangan khawatir kehabisan, karena Darmuji mempunyai stok lebih dari cukup.
“Jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri!” pinta Darmuji.
Kami berlomba-lomba mengudap aneka hidangan yang jadi target incaran.
“Sungguh lezat!” batin kami.
Paras kegembiraan mengapung jelas karena kelimpahan di hadapan. Kue-kue itu kami gigit, mengulumnya di atas indra perasa sebelum lumer, memanjakan syaraf pengecap sembari bercerita.
Di kampung kami, tidak semua keluarga memenuhi kriteria keluarga sejahtera. Setengahnya penganut sekte melarat.
Darmuji selalu memperlakukan tamunya spesial. Dogma hidupnya telah tertulis, Perlakukan tamumu seperti saudaramu sendiri.
Dia bahkan ingat, siapa yang belum ia jumpai di kampung. “Kandar kok enggak kelihatan ya?”
“Anu, Mas. Dia baru ziarah ke makam orang tuanya di Karangnongko. Mungkin besuk baru pulang!”
Orang-orang sering berkata, “Hidup Darmuji enak!”
Barangkali dulu memang begitu.
Namun hidup memiliki cara sendiri untuk mengingatkan manusia bahwa tidak ada yang benar-benar abadi. Hingga di suatu masa dipaksa menangkap petaka. Bola liar ketidakstabilan ekonomi menggelinding.
Usahanya mulai goyah ketika pasar sepi. Lalu wabah datang seperti pukulan terakhir dari pemegang sabuk kehidupan. Pesanan berhenti. Modal terkikis, kondisi kembang kempis. Tabungan dikuras, beberapa barang harus dijual agar usaha tidak langsung mati. Tapi kadang-kadang, seberapa pun keras seseorang bertahan, gelombang pasang yang terlalu kuat tetap akan menyeretnya.
Akhirnya usaha itu tutup layar.
Aku tahu betul betapa beratnya kehilangan sesuatu yang dibangun bertahun-tahun. Banyak orang yang runtuh hanya karena satu peristiwa seperti itu.
Namun yang membuatku heran adalah Darmuji tidak pernah terdengar mengeluh. Wajahnya tetap memancarkan senyum ketulusan. Hidupnya seperti tidak terguncang.
“Dulu ketika kecil, aku pernah mengalami masa-masa yang lebih parah dari ini,” kata Darmuji. “Menurutku, kondisi saat ini belum seberapa!”
Ia mengerti tentang hidup. Jadi tidak menyalahkan keadaan, pun kepada pemerintah. Baginya, nasib merupakan teka-teki setiap individu.
“Kita tidak tahu, takdir mana yang akan kita pegang di beberapa detik ke depan,” katanya.
Pernah di suatu saat, aku bertanya, “Mas Darmuji, tidak merasa sedih?”
Ia tersenyum kecil.
“Sedih itu ada. Tapi hidup tidak berhenti hanya karena kita sedih. Dan, jangan kau tampakkan kesedihan di hadapan anak-anakmu,” ujarnya
Jawaban itu sederhana, tapi entah kenapa melekat kuat di pikiranku.
Dalam berbagai obrolan, Darmuji beberapa kali mengucapkan kata cobaan.
“Dikira Tuhan tidak akan memberi cobaan bagi hamba-hambanya? Tidak akan mungkin. Cobaan pasti akan datang menyambut sebagai tolak ukur ketaatan,” ucapnya tersenyum, “Aku hanya menyampaikan apa yang pernah aku ketahui. Jadi ketika itu datang, aku sudah siap!”
Darmuji memiliki tiga saudara. Semuanya tinggal di kota lain. Nasib mereka ternyata tidak jauh berbeda. Usaha yang dulu berjalan lancar, sekarang tersendat-sendat.
Tapi anehnya, keluarga itu justru semakin sering saling menghubungi. Tambah erat silaturahminya.
Mereka berbagi kabar cerita, bahkan kerap menebar cara bertahan dalam hempasan ombak. Tidak ada yang merasa paling menderita. Tidak ada juga yang merasa harus terlihat kuat sendirian. Mereka saling topang-menopang. Nur sifat (bisa bermanfaat bagi sesama).
Di rumahnya, Darmuji juga mengajarkan sesuatu kepada anak-anaknya.
Suatu saat, kala mereka makan sahur bersama. Menunya sederhana: nasi, tempe goreng, kerupuk dan kuah sup dengan sedikit isian.
Anak bungsunya sempat bertanya, “Pak, dulu kita sering makan dengan lauk lebih dari satu, juga sering makan di resto!”
Darmuji tertawa pelan.
“Dulu iya. Sekarang belum!”
“Kenapa?” tanyanya, “Apakah karena kita sekarang miskin?”
Darmuji tertawa terpingkal-pingkal. Air matanya menetes saking kaget oleh pertanyaan si bungsu. Kata miskin mirip bulu angsa yang menggelitik lubang telinga.
“Karena hidup itu kadang naik, kadang turun,” jawab Darmuji. Tangannya mengusap tetesan terakhir di wajah. Jejaknya membekas samar.
Anaknya terdiam sebentar.
“Kalau nanti kita punya uang lebih, kita bisa kembali seperti dulu lagi ya? Makan besar dan banyak?”
“Tentu saja,” jawab Darmuji. “Tapi kalau belum, kita tetap makan dengan syukur!”
Kalimat itu diucapkan tanpa nada menggurui. Hanya seorang bapak yang sedang menceritakan dongeng kehidupan.
“Anakku, di luar sana, masih banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung kita, mereka kepayahan memenuhi kebutuhan dasar. Menangis kelaparan, perut meronta minta diisi. Sampai ada yang mempertaruhkan nyawa, berebut ransum gratisan walau hanya setangkup. Hidup kita masih sangat baik. Masih bisa makan layak!”
Percakapan tentang menu Lebaran belum beranjak dari belikat benakku. Memenuhi sisi kosong pikiran di antara banyak hal yang saling sikut.
Aku datang dengan bayangan lama di kepala: Lebaran identik dengan hidangan melimpah. Opor ayam, ketupat, rendang, kue-kue yang berjejer di meja tamu.
Namun di rumah Darmuji, yang akan hadir di meja makan hanyalah sayur bening dan lele goreng.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat seperti kemunduran.
Tapi ketika aku memikirkan cara Darmuji mengatakannya, “Sayur bening dan lele sudah merupakan kemewahan bagi kami”, aku mulai melihat sesuatu yang bernilai.
Kemewahan ternyata tidak selalu soal banyaknya hidangan. Kadang kemewahan adalah masih bisa makan bersama keluarga serta memiliki rumah untuk pulang serta bersandar. Kemewahan juga dalam bentuk keberanian menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.
Ungkapan-ungkapan itu membuat pikiranku bak disayat pisau kesadaran.
Bagi keluarga Darmuji, Lebaran tahun ini memang tidak selengkap semeriah tahun-tahun sebelumnya.
Tidak ada opor ayam, sambal goreng ati, tidak ada ketupat bertumpuk. Bahkan toples-toples berisi kue-kue beraneka ragam. Namun ada sesuatu yang mungkin lebih berharga dari semua itu.
Syukur dan ketabahan.
Di belahan tempat lain, banyak orang yang menjerit ketika hidup tidak lagi sesuai rencana. Gelisah berkepanjangan. Merasa dunia berakhir hanya karena kehilangan kenyamanan.
Tapi di sebuah rumah sederhana, seorang bapak sedang mengajari anak-anaknya sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar cara menikmati hidup.
Ia sedang menempa mereka bertahan hidup dengan marwah.
Dan aku sadar, mungkin justru itulah pelajaran terbesar dari Lebaran tahun ini. [T]
Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Adnyana Ole





























