14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Komang Ari by Komang Ari
March 14, 2026
in Khas
Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Foto: Made Lungsur saat memperlihatkan ‘senjata’ melautnya.

SAYA tengah mencoba banyak merenung ketika tulisan ini dibuat, tepat sehari setelah Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day)–yang diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pertanyaan itu bergumul: Kira-kira sampai kapan kita perlu membicarakan isu perempuan? Setidaknya menyoal puan-puan yang tidak jauh dari pelupuk mata, entah kepada mereka yang getol bersuara, atau mereka yang bahkan tidak memiliki ruang untuk sekadar bersuara.

***

Konon katanya, tak sulit untuk menemukan perempuan-perempuan tangguh di Bali. Meminjam ungkapan penulis perempuan kawakan asal Bali, Oka Rusmini dalam bukunya Tarian Bumi:

“Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup,”.

Ingatan saya melambat, menyusuri jejak ingatan tempo hari ketika saya tanpa sengaja menemui sosok persis seperti apa yang tertulis di atas–Made Lungsur (53) namanya, nelayan perempuan paruh baya di Pesisir Serangan, Denpasar, Bali.

Saya menemuinya tanpa sengaja kala itu, bermula dari pertanyaan iseng saya kepada salah satu pedagang nasi goreng di dekat Pelabuhan Serangan, “Masih adakah nelayan perempuan saat ini?”. Ternyata ada, dan kini, Made Lungsur merupakan satu-satunya nelayan perempuan di Banjar Ponjok, Serangan.

Perempuan Bali dalam Tiga Ruang Kehidupan

Katanya, perempuan Bali yang telah menikah memiliki paling tidak tiga peran (triple roles) dalam hidupnya, ketiganya meliputi peran di ranah keluarga, ekonomi, serta adat-keagamaan  (Oktarina & Komalasari, 2022). Jika benar demikian, maka Lungsur, dan banyak perempuan Bali lainnya tentu tidak absen dari pandangan tersebut.

Jika alarm saya sering berdering berkali-kali di pagi hari, Lungsur sudah lebih dulu merayu Dewa Segara (dan tentu, saya kalah telak.) Berbekalkan alat selam seadanya, ia biasanya berburu rumput laut sejak pukul 06.00 Wita hingga kembali sekitar pukul 10.00 Wita, itupun tidak menentu tergantung cuaca serta hasil rumput laut yang diperoleh hari itu. Kadang hasilnya melimpah, tapi bisa juga pulang dengan tangan kosong.

Foto: Made Lungsur dan alat selam andalannya.

Perempuan ini tidak mengingat secara pasti kapan siklus itu bermula, yang ia tahu, aktivitas serupa telah dilakoni sejak remaja “Saya tidak ingat kapan tepatnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut hemat saya, tentu tidak berlebihan jika menyebut Lungsur sebagai sosok yang tangguh. Sebagai nelayan, ia terbiasa melaut seorang diri, meskipun tak jarang suaminya juga menemani. Saya tertegun betul dengan apa yang tengah dilakukan Lungsur untuk melawan dunia, memastikan asap dapur mengepul agar ia dapat menghidupi keluarganya.

Namun lagi-lagi, penghasilannya tidak pernah pasti. Jika mujur, satu orang nelayan bisa membawa pulang hingga sekitar 50 kilogram rumput laut. Tetapi ketika cuaca tidak bersahabat dan ketersediaan rumput laut di laut menipis, bukan tidak mungkin ia pulang tanpa membawa apa-apa. Lungsur tidak setiap hari melaut, ada kalanya ia tidak bisa bekerja–entah karena cuaca yang memihak, kegiatan-kegiatan adat dan urusan menyama braya. “Kadang tujuh bulan tidak ada pemasukan,” ucapnya.

Dengan demikian, Lungsur tidak hanya berdiri sebagai perempuan, tetapi juga lakonnya yang beragam: dalam ranah domestik, pekerjaan, hingga adat.

Kerentanan Nelayan Perempuan

Kerentanan tiap individu tentu tak sama, meminjam kerangka analisis interseksionalitas milik Kimberlé Crenshaw, kekerasan digambarkan sebagai persoalan yang tidak berdiri tunggal, namun saling berkelindan dengan banyak hal–pendidikan, kondisi ekonomi, status sosial, hingga adat dan budaya. Bayangkan, jika ada perempuan yang tidak hanya  berada dalam lingkaran kemiskinan, tapi juga akses pendidikan yang terbatas, maka, kerentanan yang dipikulnya juga berlapis.

Foto: Perahu para nelayan di Pesisir Serangan.

Bagi Lungsur, menjadi nelayan bukan sekadar pekerjaan, melainkan pilihan terakhir. Sekalipun ingin, tidak mudah baginya meninggalkan pekerjaan yang telah berpuluh tahun dilakoni untuk beralih ke profesi lain. “Soalnya ibu (Lungsur, red) itu kan tidak tamat sekolah apa-apa. Disamping itu, karena biaya menjadi nelayan tidak seberapa cuma perlu perahu, dan alat-alat seperti tampus,” sambungnya.

Namun, kerentanan Lungsur dan perempuan nelayan lain tidak hanya soal ekonomi atau pendidikan. Riset Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) dan Sajogyo Institute, yang dikutip Mongabay, menunjukkan bahwa perempuan nelayan menghadapi risiko tinggi karena beban kerja berat sekaligus minimnya perlindungan melalui kebijakan.

UU Nomor 7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan memang menyebut “setiap orang yang melakukan penangkapan ikan,” tampak netral gender, tetapi dalam praktik pengakuan nelayan lebih diarahkan pada laki-laki. Sementara itu, kata ‘perempuan’ hanya muncul pada pasal 45 yang membahas pemberdayaan, sehingga ketimpangan dan kesenjangan akses tetap terjadi.

Suara Perempuan dalam Ruang Kebijakan

Sesaat ketika mengagumi betapa tangguhnya perempuan nelayan di Pesisir Serangan, jangan lupa bahwa lokasi yang sama–tempat Lungsur melaut, kini tengah diwarnai wacana pembangunan proyek Liquefied Natural Gas (LNG). Proyek anyar ini cukup kontroversial, meski telah diklaim sebagai energi bersih yang minim risiko. Namun, yang tak kalah penting adalah mempertanyakan peran dan keterlibatan masyarakat pesisir dalam menentukan suaranya.

Seingat Lungsur, hingga kini belum ada sosialisasi terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) terkait proyek anyar tersebut. Padahal, nelayan adalah profesi yang paling merasakan dampak dari setiap aktivitas, sekecil apapun, di laut.

“Ibu belum pernah tahu tentang itu, harapannya sih LNG ini agar tidak dibangun di sini,” katanya.

Meminjam ungkapan Koordinator Riset Sosial, Kebijakan, dan Ekonomi Institute for Essential Services Reform (IESR), Martha Jesica Solomasi Mendrofa, dalam agenda transisi energi yang berkeadilan, perempuan sebagai kelompok rentan harus diposisikan sebagai subjek, bukan sekadar penerima dampak.

“Perempuan perlu terlibat dalam seluruh rantai proses pengembangan infrastruktur energi, mulai dari perencanaan, implementasi, hingga monitoring,” ujarnya.

Keterlibatan ini penting, tentu untuk memastikan partisipasi perempuan sejak tahap awal, mulai dari analisis kebutuhan energi, konsultasi publik, hingga penyusunan analisis dampak sosial dan lingkungan. Pada tahap ini, keamanan perempuan dalam menyampaikan pendapat, akses informasi yang setara, serta mekanisme representasi yang memperhatikan keberagaman perempuan perlu dijamin.

Dari Rahim Nelayan, Lahir ‘Harapan Lain’

Meski sudah bertahun-tahun mengakrabkan diri dengan laut, Lungsur berharap anak-anaknya tidak bernasib sama. Julukan nelayan sebagai penopang ketahanan pangan laut mungkin terdengar begitu romantis sampai akhirnya kita dapat dengan jujur melihat tantangan yang mereka alami; risiko pekerjaan yang tinggi, jaminan pekerjaan, hingga penghasilan yang tidak menentu. “Biar saya saja nelayan” ucap Lungsur.

Foto: Rumput laut, hasil melaut Made Lungsur.

Kembali lagi pada perayaan Hari Perempuan Sedunia, tahun ini tema yang digaungkan adalah Give to Gain sederhananya kalau dialihbahasakan ‘memberil untuk mendapatkan’, tentu saya sepakat jika ini lahir dengan banyak harapan; memberikan dukungan untuk mendapatkan kesetaraan, berbagi pengalaman untuk memperkuat gerakan, hingga memberi kontribusi kecil untuk perubahan besar.

Namun, berkaca dari Lungsur dan (mungkin) suara-suara yang tidak bersuara lainnya, jangan-jangan ada banyak perempuan yang justru lebih banyak memberi tanpa pernah (kita izinka) untuk menerima? Entahlah.[T]

Tags: hari perempuannelayanPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Next Post

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Komang Ari

Komang Ari

Gen Z random yang kadang-kadang pengen nulis. Instagram: @kmg.arii

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co