24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 21, 2026
in Esai
HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Di Ruman untuk Bercerita bersama Dokter Tini Wahyuni

Pemikiran Awal

Dalam sejarah organisasi keilmuan, selalu ada satu pertanyaan yang berulang: kapan sebuah organisasi benar-benar hidup? Apakah ketika rapat-rapat berlangsung rutin, ketika seminar besar terselenggara megah, atau ketika laporan tahunan tersusun rapi dalam jilid resmi? Pertanyaan ini menjadi relevan bagi Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), khususnya HISKI Komisariat Bali, yang pada tahun 2026 memilih sebuah jalan yang tidak lazim: menghidupkan organisasi bukan melalui sentralisasi kegiatan, melainkan melalui gerak(an) individu.

Di tengah kenyataan bahwa anggota HISKI sebagian besar adalah akademisi dan praktisi dengan beban kerja tinggi, model organisasi yang bertumpu pada rapat intensif dan program kolektif sering kali menjadi kendala. Waktu menjadi langka, energi terpecah, dan idealisme perlahan terkikis. Namun justru dalam situasi seperti itulah diperlukan pembacaan ulang terhadap makna “eksistensi” organisasi.

Eksistensi organisasi ilmiah bukan pertama-tama soal seberapa sering pengurus berkumpul, melainkan seberapa jauh ia hadir dalam denyut kehidupan intelektual di masyarakat masyarakat (bukan di kampus, rumah kaum intelektual). Sastra tidak tumbuh di ruang rapat; ia tumbuh di ruang kelas, di desa adat, di komunitas kecil, di layar gawai generasi muda, dan di percakapan-percakapan sederhana yang membicarakan cerita, puisi, dan pengalaman manusia.

Program ini berangkat dari satu premis sederhana namun radikal: eksistensi = Aktivitas.

Organisasi dinilai hidup bila ada kegiatan yang berjalan dan tercatat. Tanpa aktivitas, nama hanya menjadi arsip. Tanpa dokumentasi, kerja kebudayaan mudah lenyap dalam ingatan yang pendek.

Alih-alih membangun struktur yang berat, HISKI Komisariat Bali 2026 memilih model Simpul Gerak. Setiap anggota adalah satu simpul. Setiap simpul bergerak sesuai kapasitas, minat, dan jejaringnya sendiri. Tidak ada kewajiban menghadirkan program besar namun memberi dampak (walau sangat kecil) bagi kehidupan sastra di masyarakat/lingkungan.

Di sini organisasi tidak lagi menjadi pusat yang mengatur semua arah, melainkan jaringan yang menyambungkan energi-energi kecil. Seorang anggota dapat mengajar apresiasi cerpen di sebuah SMA, yang lain mendokumentasikan cerita rakyat di desa adat, yang lain lagi menulis opini sastra di media lokal, menjadi juri lomba literasi, atau membuat konten sastra di platform digital. Semua itu dihitung sebagai kontribusi organisasi. Semua itu adalah denyut kehidupan HISKI Komisariat Bali.

Pendekatan ini sekaligus mendefinisikan ulang makna iuran. Dalam banyak organisasi, iuran identik dengan uang. Dalam model HISKI Bergerak 2026, iuran diterjemahkan sebagai donasi aktivitas. Biaya yang dikeluarkan anggota untuk melaksanakan kegiatan dianggap sebagai kontribusi nyata kepada organisasi. Dengan demikian, yang dihargai bukan sekadar transfer dana, tetapi kerja kebudayaan itu sendiri di bawah payung organisasi. Model ini juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana organisasi ilmiah beradaptasi dengan realitas sosial.

Sastra dipahami secara luas, terbuka, dan mendasar: tidak hanya teks tertulis, tetapi juga tradisi lisan, seni pertunjukan, film, literasi digital, hingga humaniora digital dan pariwisata budaya. Dengan perspektif interdisipliner ini, HISKI menempatkan dirinya sebagai kekuatan intelektual dan kultural, bukan sekadar komunitas akademik yang eksklusif.

Pada akhirnya, HISKI Bergerak 2026 merupakan program kerja dan sikap atau prinsip gerakan sebuah organisasi intelektual atau keilmuan (sastra). Ia menegaskan bahwa organisasi ilmiah tidak boleh terjebak dalam normatifisme. Ia harus hadir dalam ruang hidup masyarakat, di sekolah-sekolah, di komunitas, di desa adat, di media, dan di dunia digital.

Jika setiap anggota menjadi simpul yang bergerak, maka jaringan itu akan hidup. Jika setiap simpul menghasilkan satu kegiatan, maka puluhan aktivitas akan membentuk peta kebudayaan yang nyata.

Sastra, pada akhirnya, selalu bertahan melalui orang-orang yang bergerak. Tahun 2026, HISKI Bali memilih untuk percaya pada gerak itu—gerak individu yang, ketika saling terhubung, menjelma menjadi kekuatan kolektif.

Flyer Rumah Untuk Bercerita

Rumah untuk Bercerita: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Pada tahun 2026, HISKI Komisariat Bali memulai langkah pertamanya melalui sebuah gerakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar: mendengar, dengan hadir di Rumah untuk Bercerita (Kamis, 20 Februari 2026).

Ni Made Ari Dwijayanti—dosen di Institut Mpu Kuturan Singaraja dan kandidat doktor di Universitas Udayana, Denpasar. Dalam riset disertasinya mengenai sastra Jawa Kuno, ia menemukan sebuah konsep: pentingnya mendengar. Dalam teks-teks lontar yang ia kaji, mendengar bukan sekadar aktivitas indrawi, melainkan laku spiritual—titik keheningan.

Pada masa Jawa Kuno, mendengar adalah jalan hening. Ia bukan pasif, melainkan aktif; bukan sekadar menerima, tetapi menyerap dan mengendapkan. Karena itu, menurut dokter Tini Wahyuni, mendengar adalah energi.

Bersama Dokter Tini Wahyuni, Ni Made Ari Dwijayanti menerjemahkan konsep itu ke dalam praktik yang sangat konkret: Rumah untuk Bercerita. Sebuah ruang yang tidak menuntut siapa pun untuk tampil sebagai ahli, tidak memaksa narasi menjadi spektakuler, dan tidak mengejar sensasi dan validasi sehingga demi privasi para yang pulang untuk bercerita (bukan curhat) datanya dirahasikan. Di rumah itu, yang utama adalah kehadiran—dan kesediaan untuk mendengar (untuk saat ini dilakoni oleh Dokter Tini Wahyuni dan Ni Made Ari Dwijayanti berdua).

Rumah untuk Bercerita berdiri di sebuah kota, tetapi yang lebih penting, ia berdiri di atas gagasan bahwa setiap orang berhak “pulang” untuk menuturkan kisahnya. Namun siapa yang mendengarkan, sulit ditemukan. Kata “pulang” menjadi kunci. Datang ke rumah itu bukan seperti datang ke panggung, melainkan kembali ke rumah. Ni Made Ari Dwijayanti dan Dokter Tini Wahyuni memposisikan diri sebagai sebagai pendengar. Mereka membuka ruang jiwa, menyediakan keheningan, dan memberi waktu bagi cerita untuk tumbuh dari setiap pencerita yang data atau yang ”pulang” untuk bercerira.

Sampai hari ini, kurang lebih 75 orang telah datang dan bercerita di Rumah untuk Bercerita. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah jejak kepercayaan. Setiap orang yang datang membawa beban, kenangan, pertanyaan, atau sekadar kebutuhan untuk didengar. Dan setiap cerita yang dituturkan memperkaya makna sastra sebagai pengalaman hidup, bukan hanya teks.

Ni Made Ari Dwijayanti

Dalam tradisi sastra, cerita selalu memiliki dua kutub: yang bercerita dan yang mendengar. Tanpa pendengar, cerita tidak ada. Rumah untuk Bercerita mengembalikan keseimbangan itu. Ia mengingatkan bahwa sastra tidak selalu harus hadir dalam bentuk buku, jurnal, atau panggung pembacaan puisi. Ia juga hidup dalam percakapan intim, dalam suara yang pelan, dalam air mata yang tertahan, dan dalam keheningan yang penuh perhatian.

Di tengah budaya digital yang serba cepat—di mana orang berlomba-lomba untuk berbicara dan menampilkan diri—mendengar menjadi tindakan yang nyaris subversif. Ia melawan arus. Ia mengundang perlambatan. Ia menuntut empati. Dalam pengertian ini, Rumah untuk Bercerita bukan hanya program literasi, melainkan juga praktik kebudayaan, kesehatan, dan psikologi.

Sebagai program pertama HISKI Komisariat Bali 2026, Rumah untuk Bercerita menjadi satu arah gerakan: organisasi ilmiah yang tidak terkungkung pada forum akademik, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: HiskiHiski BaliI Wayan ArtikaRumahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Next Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co