23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 21, 2026
in Esai
HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Di Ruman untuk Bercerita bersama Dokter Tini Wahyuni

Pemikiran Awal

Dalam sejarah organisasi keilmuan, selalu ada satu pertanyaan yang berulang: kapan sebuah organisasi benar-benar hidup? Apakah ketika rapat-rapat berlangsung rutin, ketika seminar besar terselenggara megah, atau ketika laporan tahunan tersusun rapi dalam jilid resmi? Pertanyaan ini menjadi relevan bagi Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), khususnya HISKI Komisariat Bali, yang pada tahun 2026 memilih sebuah jalan yang tidak lazim: menghidupkan organisasi bukan melalui sentralisasi kegiatan, melainkan melalui gerak(an) individu.

Di tengah kenyataan bahwa anggota HISKI sebagian besar adalah akademisi dan praktisi dengan beban kerja tinggi, model organisasi yang bertumpu pada rapat intensif dan program kolektif sering kali menjadi kendala. Waktu menjadi langka, energi terpecah, dan idealisme perlahan terkikis. Namun justru dalam situasi seperti itulah diperlukan pembacaan ulang terhadap makna “eksistensi” organisasi.

Eksistensi organisasi ilmiah bukan pertama-tama soal seberapa sering pengurus berkumpul, melainkan seberapa jauh ia hadir dalam denyut kehidupan intelektual di masyarakat masyarakat (bukan di kampus, rumah kaum intelektual). Sastra tidak tumbuh di ruang rapat; ia tumbuh di ruang kelas, di desa adat, di komunitas kecil, di layar gawai generasi muda, dan di percakapan-percakapan sederhana yang membicarakan cerita, puisi, dan pengalaman manusia.

Program ini berangkat dari satu premis sederhana namun radikal: eksistensi = Aktivitas.

Organisasi dinilai hidup bila ada kegiatan yang berjalan dan tercatat. Tanpa aktivitas, nama hanya menjadi arsip. Tanpa dokumentasi, kerja kebudayaan mudah lenyap dalam ingatan yang pendek.

Alih-alih membangun struktur yang berat, HISKI Komisariat Bali 2026 memilih model Simpul Gerak. Setiap anggota adalah satu simpul. Setiap simpul bergerak sesuai kapasitas, minat, dan jejaringnya sendiri. Tidak ada kewajiban menghadirkan program besar namun memberi dampak (walau sangat kecil) bagi kehidupan sastra di masyarakat/lingkungan.

Di sini organisasi tidak lagi menjadi pusat yang mengatur semua arah, melainkan jaringan yang menyambungkan energi-energi kecil. Seorang anggota dapat mengajar apresiasi cerpen di sebuah SMA, yang lain mendokumentasikan cerita rakyat di desa adat, yang lain lagi menulis opini sastra di media lokal, menjadi juri lomba literasi, atau membuat konten sastra di platform digital. Semua itu dihitung sebagai kontribusi organisasi. Semua itu adalah denyut kehidupan HISKI Komisariat Bali.

Pendekatan ini sekaligus mendefinisikan ulang makna iuran. Dalam banyak organisasi, iuran identik dengan uang. Dalam model HISKI Bergerak 2026, iuran diterjemahkan sebagai donasi aktivitas. Biaya yang dikeluarkan anggota untuk melaksanakan kegiatan dianggap sebagai kontribusi nyata kepada organisasi. Dengan demikian, yang dihargai bukan sekadar transfer dana, tetapi kerja kebudayaan itu sendiri di bawah payung organisasi. Model ini juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana organisasi ilmiah beradaptasi dengan realitas sosial.

Sastra dipahami secara luas, terbuka, dan mendasar: tidak hanya teks tertulis, tetapi juga tradisi lisan, seni pertunjukan, film, literasi digital, hingga humaniora digital dan pariwisata budaya. Dengan perspektif interdisipliner ini, HISKI menempatkan dirinya sebagai kekuatan intelektual dan kultural, bukan sekadar komunitas akademik yang eksklusif.

Pada akhirnya, HISKI Bergerak 2026 merupakan program kerja dan sikap atau prinsip gerakan sebuah organisasi intelektual atau keilmuan (sastra). Ia menegaskan bahwa organisasi ilmiah tidak boleh terjebak dalam normatifisme. Ia harus hadir dalam ruang hidup masyarakat, di sekolah-sekolah, di komunitas, di desa adat, di media, dan di dunia digital.

Jika setiap anggota menjadi simpul yang bergerak, maka jaringan itu akan hidup. Jika setiap simpul menghasilkan satu kegiatan, maka puluhan aktivitas akan membentuk peta kebudayaan yang nyata.

Sastra, pada akhirnya, selalu bertahan melalui orang-orang yang bergerak. Tahun 2026, HISKI Bali memilih untuk percaya pada gerak itu—gerak individu yang, ketika saling terhubung, menjelma menjadi kekuatan kolektif.

Flyer Rumah Untuk Bercerita

Rumah untuk Bercerita: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Pada tahun 2026, HISKI Komisariat Bali memulai langkah pertamanya melalui sebuah gerakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar: mendengar, dengan hadir di Rumah untuk Bercerita (Kamis, 20 Februari 2026).

Ni Made Ari Dwijayanti—dosen di Institut Mpu Kuturan Singaraja dan kandidat doktor di Universitas Udayana, Denpasar. Dalam riset disertasinya mengenai sastra Jawa Kuno, ia menemukan sebuah konsep: pentingnya mendengar. Dalam teks-teks lontar yang ia kaji, mendengar bukan sekadar aktivitas indrawi, melainkan laku spiritual—titik keheningan.

Pada masa Jawa Kuno, mendengar adalah jalan hening. Ia bukan pasif, melainkan aktif; bukan sekadar menerima, tetapi menyerap dan mengendapkan. Karena itu, menurut dokter Tini Wahyuni, mendengar adalah energi.

Bersama Dokter Tini Wahyuni, Ni Made Ari Dwijayanti menerjemahkan konsep itu ke dalam praktik yang sangat konkret: Rumah untuk Bercerita. Sebuah ruang yang tidak menuntut siapa pun untuk tampil sebagai ahli, tidak memaksa narasi menjadi spektakuler, dan tidak mengejar sensasi dan validasi sehingga demi privasi para yang pulang untuk bercerita (bukan curhat) datanya dirahasikan. Di rumah itu, yang utama adalah kehadiran—dan kesediaan untuk mendengar (untuk saat ini dilakoni oleh Dokter Tini Wahyuni dan Ni Made Ari Dwijayanti berdua).

Rumah untuk Bercerita berdiri di sebuah kota, tetapi yang lebih penting, ia berdiri di atas gagasan bahwa setiap orang berhak “pulang” untuk menuturkan kisahnya. Namun siapa yang mendengarkan, sulit ditemukan. Kata “pulang” menjadi kunci. Datang ke rumah itu bukan seperti datang ke panggung, melainkan kembali ke rumah. Ni Made Ari Dwijayanti dan Dokter Tini Wahyuni memposisikan diri sebagai sebagai pendengar. Mereka membuka ruang jiwa, menyediakan keheningan, dan memberi waktu bagi cerita untuk tumbuh dari setiap pencerita yang data atau yang ”pulang” untuk bercerira.

Sampai hari ini, kurang lebih 75 orang telah datang dan bercerita di Rumah untuk Bercerita. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah jejak kepercayaan. Setiap orang yang datang membawa beban, kenangan, pertanyaan, atau sekadar kebutuhan untuk didengar. Dan setiap cerita yang dituturkan memperkaya makna sastra sebagai pengalaman hidup, bukan hanya teks.

Ni Made Ari Dwijayanti

Dalam tradisi sastra, cerita selalu memiliki dua kutub: yang bercerita dan yang mendengar. Tanpa pendengar, cerita tidak ada. Rumah untuk Bercerita mengembalikan keseimbangan itu. Ia mengingatkan bahwa sastra tidak selalu harus hadir dalam bentuk buku, jurnal, atau panggung pembacaan puisi. Ia juga hidup dalam percakapan intim, dalam suara yang pelan, dalam air mata yang tertahan, dan dalam keheningan yang penuh perhatian.

Di tengah budaya digital yang serba cepat—di mana orang berlomba-lomba untuk berbicara dan menampilkan diri—mendengar menjadi tindakan yang nyaris subversif. Ia melawan arus. Ia mengundang perlambatan. Ia menuntut empati. Dalam pengertian ini, Rumah untuk Bercerita bukan hanya program literasi, melainkan juga praktik kebudayaan, kesehatan, dan psikologi.

Sebagai program pertama HISKI Komisariat Bali 2026, Rumah untuk Bercerita menjadi satu arah gerakan: organisasi ilmiah yang tidak terkungkung pada forum akademik, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: HiskiHiski BaliI Wayan ArtikaRumahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Next Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co