SINGARAJA, yang pernah menyandang status sebagai Ibu Kota Sunda Kecil, merupakan pusat perdagangan antarbangsa yang berjaya pada masanya. Jejak kejayaan tersebut masih terekam jelas melalui keberadaan beragam etnis yang menetap hingga kini, seperti etnis Arab, Tionghoa, Bugis, Madura, dan Jawa.
Kehadiran komunitas-komunitas ini membawa warna budaya, keyakinan, dan tradisi yang berbeda dengan penduduk lokal Bali. Namun, keberagaman tersebut tidak pernah memicu konflik; sebaliknya, tercipta harmoni dan akulturasi budaya yang sangat memikat.
Salah satu potret nyata dari keberagaman ini adalah perayaan Imlek yang dijaga teguh oleh etnis Tionghoa di Singaraja. Menjelang hari raya, kesibukan mulai terasa saat warga membersihkan Nyolo (tempat dupa) dan altar leluhur.
Berbagai persembahan disiapkan dengan teliti, mulai dari buah jeruk dan naga, batang tebu, hingga penganan khas seperti dodol dan kue keranjang. Tak ketinggalan, hidangan autentik seperti sibak, babi kecap, dan masakan khas Tionghoa lainnya turut menyemarakkan suasana.
Pemandangan khas terlihat pada kusen pintu rumah yang dihiasi dengan kiti-kiti (hiasan kertas Merah) dan batang tebu lengkap dengan daunnya di sisi kanan. Pada hari puncak, warga melaksanakan ritual bakar “uang kertas” di depan pintu sebagai simbol bekal bagi para leluhur.
Momentum sakral dimulai pada malam sebelum Imlek, yang dikenal dengan sebutan Simchia. Warga berbondong-bondong ke klenteng untuk memanjatkan doa kepada Kong Cho (leluhur), dewa-dewi dalam wujud Rupang (patung suci), serta ke hadirat Thian (Tuhan).
Sebelum ritual dimulai, tempat ibadah dibersihkan dan dihias dengan lampion serta pohon angpao yang megah. Rupang disucikan menggunakan tirta yang berasal dari tiga mata air suci.
Persembahyangan di klenteng berlangsung khidmat dari malam hari hingga pagi saat hari H Imlek, yang biasanya dimeriahkan oleh tarian Liong dan Barongsai. Langit Singaraja pun kerap diwarnai oleh pelepasan lampion atau balon, serta puncaknya berupa pesta kembang api yang meriah.
Usai bersembahyang, tradisi dilanjutkan dengan saling mengunjungi kediaman keluarga untuk melakukan Soja (sujud sungkem) kepada orang tua, yang kemudian diikuti dengan pembagian angpao dari mereka yang telah berkeluarga kepada yang lebih muda.
Pusat kemeriahan ini berakar di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, tepatnya di Klenteng Ling Gwan Kiong. Di sini, makna Imlek melampaui sekadar ritual keagamaan; ia adalah simbol akulturasi yang kental antara tradisi Tionghoa dan budaya lokal Bali.
Pemandangan warga lokal Bali yang ikut membantu atau sekadar berkunjung menjadi hal lumrah. Bahkan, sesaji Canang Sari khas Bali sering kali bersanding harmonis dengan dupa (Hio) di sudut-sudut klenteng, mencerminkan betapa cair dan indahnya toleransi di Singaraja.
Bagi warga Tionghoa di Singaraja, jatuhnya Imlek yang bertepatan dengan satu hari setelah hari Tilem (Bulan Mati) kian menambah kesakralannya. Momen ini dianggap sebagai waktu yang sangat pingit atau suci, di mana energi bulan mati menjadi ruang introspeksi diri yang paling dalam sebelum melangkah di tahun yang baru. [T]
Penulis: Kadek Agus Jaya Pharhyuna A.M.
Editor: Adnyana Ole


























