14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imlek di Bali: Dari ‘Galungan Cina’ ke Harmoni Keberagaman

Made Adnyana by Made Adnyana
February 17, 2026
in Esai
Imlek di Bali: Dari ‘Galungan Cina’ ke Harmoni Keberagaman

I Made Adnyana

TAHUN Baru Imlek? Setidaknya hingga menamatkan Pendidikan SMP di kampung, desa Pupuan, Tabanan, saya tidak familiar (bahkan mungkin tidak tahu?) dengan istilah ini. Padahal saya terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa, atau sering disebut Cina Bali. Hingga akhir 80-an, Tahun Baru Imlek tak ada dalam istilah kami. Yang ada justru “Galungan Cina”.

Ya, sebutan “Galungan Cina” tak hanya popular tetapi sudah melekat, untuk menyebut persembahyangan tutup tahun Lunar, yang keesokan harinya diikuti dengan penanggalan baru. Bahkan perayaan Cap Go Meh (Purnama pertama di tahun Baru Imlek) disebut-sebut sebagai “kuningan” nya. Ketika melanjutkan Pendidikan di Denpasar, dari pergaulan dengan teman keturunan Tionghoa lainnya, saya baru mengenal istilah Sin Cia yang bermakna bulan baru, merujuk pada tahun Baru Imlek. Kata Imlek sendiri Imlek (lafal Hokkian, Im-le̍k, lafal Mandarin yin li, yang artinya kalender bulan). Pada akhirnya bermuara pada satu istilah umum, Chinese New Year.

Jika di awal-awal mungkin ada yang mempertanyakan atau bahkan memperdebatkan istilah, saya sendiri lebih memilih untuk netral. Meminjam ungkapan Shakespeare, apalah arti sebuah nama? Dalam hal ini ada beberapa hal menarik lain yang bisa diperbincangkan daripada sekadar mengurus istilah atau nama. Toh pada akhirnya sejak era kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid, Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sebagai tradisi dari daratan Cina, di berbagai belahan negara lain di dunia, Tahun Baru Imlek mungkin adalah selebrasi, perayaan pergantian musim, pergantian kalender lunar. Namun sepengalaman saya, Tahun Baru Imlek di Bali kiranya bukan sekadar penanda pergantian kalender lunar. “Galungan Cina” berkembang menjadi perayaan tentang harmoni, bagaimana dalam hal ini identitas etnis dan tradisi budaya – setelah terkungkung sekian dekade – akhirnya menemukan ruang hidupnya di tengah masyarakat yang plural. Memang, pada masa kepemimpinan Presiden Gus Dur, Imlek juga ditetapkan sebagai hari raya agama Konghucu. Namnun dalam konteks ini, kiranya Imlek tidak perlu dipermasalahkan semata-mata sebagai hari raya agama tertentu, tetapi ia adalah perayaan kultural keturunan Tionghoa, yang uniknya menyimpan makna mendalam bagaimana relasi manusia dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan semesta.

Apabila ditelusuri jejak historisnya, Imlek berakar dari tradisi agraris Tiongkok kuno. Ia menandai siklus musim, harapan atas panen yang baik, serta permohonan keselamatan pada penanggalan atau tahun yang baru. Nah, dalam perkembangannya kemudian perayaan ini menyatu dengan praktik-praktik penghormatan terhadap leluhur, para “dewa”, doa syukur, dan simbol-simbol keberuntungan lainnya.

Nah, itu dari sisi yang sangat jamak terlihat dimana-mana. Namun apabila ditelisik dan dimaknai lebih dalam, Imlek bisa disebut sebagai ritual sosial yang menjaga keseimbangan. Bagaimana dalam hal ini sembahyang leluhur bukan sekadar rutinitas praktik religius, melainkan adalah cara merawat ingatan kolektif. Galibnya pada masyarakat Tionghoa, keluarga bukan hanya struktur biologis, melainkan jaringan moral yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan berdoa kepada (mendoakan) leluhur, secara tidak langsung seseorang mengakui bahwa hidupnya berdiri di atas sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan.

Maka momen kebersamaan pada saat sembahyang tutup tahun (sehari sebelum Imlek) atau makan malam bersama keluarga pada malam pergantian tahun, bisa menjadi ruang rekonsiliasi. Di depan altar persembahyangan, di meja makan, perbedaan generasi melebur. Berbagai cerita masa lalu akan mengalir, pun kemudian yang tua memberi nasihat, yang muda menerima angpao bukan hanya sebagai kertas merah berisi uang, tetapi sebagai simbol harapan dan keberlanjutan rezeki. Di sinilah terjadi penyebaran kesejahteraan secara simbolik, satu praktik solidaritas yang sederhana, namun bermakna.

Beberapa hari sebelum Imlek, membersihkan dan merapikan rumah juga menyimpan pesan filosofis yakni kita membuang yang lama yang sudah tidak digunakan atau tidak berfungsi, untuk kemudian menyambut yang baru. Hal ini bisa dimaknai bukan hanya soal kebersihan fisik, melainkan juga penyucian batin. Dalam “ritual-ritual” semacam inilah harmoni bukan sekadar kata-kata, bukan konsep abstrak, karena ia hadir dalam tindakan sehari-hari.

Resonansi dengan Tri Hita Karana

Tanpa bermaksud menggunakan ilmu cocokologi, bagi saya pribadi, harmoni yang tersurat dari perayaan Imlek bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Bali. Masyarakat Bali mengenal konsep yang disebut Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan—hubungan harmonis dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Tentu sudah dipahami pula kalau falsafah ini bukan sekadar ajaran teologis, melainkan fondasi etika sosial yang hidup dalam praktik keseharian.

Maka menjadi hal menarik ketika menyadari bahwa praktik-praktik dalam perayaan Imlek beresonansi dengan nilai-nilai Tri Hita Karana. Sembahyang leluhur dan doa syukur mengingatkan pada Parhyangan —relasi manusia dengan yang transenden. Berkumpul dan makan bersama keluarga dan para kerabat kemudian berbagi angpao, mencerminkan Pawongan —solidaritas dan kasih dalam relasi sosial. Sementara simbol-simbol kemakmuran yang terkait dengan siklus alam dan musim mengingatkan pada Palemahan —kesadaran akan keterikatan manusia dengan lingkungan.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud menyamakan kedua tradisi ini secara teologis. Namun, ada titik temu nilai yang memungkinkan keduanya berdialog tanpa konflik. Di Bali, dialog itu tidak selalu diwujudkan dalam wacana akademik, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari. Bagaimana kita lihat di sejumlah tempat persembahyangan, lampion menggantung di antara penjor, atau kemudian barongsai bisa menari di ruang yang sama dengan ogoh-ogoh pada waktu yang berbeda. Di sinilah Imlek di Bali menjadi lebih dari sekadar perayaan etnis; ia menjadi simbol bagaimana nilai-nilai universal tentang harmoni dapat menemukan ekspresinya dalam konteks lokal.

Berdasarkan kajian multikulturalisme, masyarakat plural tidak hanya dituntut untuk mengakui keberagaman, tetapi juga menciptakan ruang di mana perbedaan dapat hidup berdampingan secara setara. Multikulturalisme bukan sekadar toleransi pasif, melainkan pengakuan aktif atas hak setiap kelompok untuk mengekspresikan identitasnya. Di Bali, penerimaan ini menemukan bentuknya yang khas. Struktur sosial berbasis adat dan komunitas membuat relasi antar-warga lebih cair. Warga keturunan Tionghoa di Bali tidak hidup dalam ruang tertutup, melainkan menjadi bagian dari dinamika ekonomi, sosial, dan bahkan budaya lokal. Pada beberapa daerah di Bali, ada yang terlibat dalam kegiatan banjar, ada yang berpartisipasi dalam perayaan lokal, ada pula yang menjalin relasi kekerabatan lintas etnis.

Mungkin masih ada kekhawatiran kalau akulturasi akan mengikis identitas asli. Namun pengalaman Bali menunjukkan bahwa identitas bisa lentur tanpa kehilangan akar. Warga keturunan Tionghoa atau sering disebut Cina Bali tetap merayakan Imlek, tetap menghormati leluhur, tetapi juga menyerap nilai-nilai lokal dalam cara hidup mereka. Imlek di Bali menjadi contoh bagaimana identitas Tionghoa tidak larut begitu saja dalam budaya mayoritas, tetapi juga tidak menutup diri dari interaksi.

Pada akhirnya, perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar pesta. Ia adalah komitmen etis yang diperbarui setiap tahun.Komitmen itu berupa tekad untuk menjaga harmoni keluarga, menghormati leluhur, dan berbagi rezeki. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Bali, komitmen itu meluas menjadi tekad untuk hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman. Ketika lampion merah menyala di antara ukiran batu padas, yang dirayakan bukan hanya pergantian tahun, tetapi juga keberlanjutan dialog antar-tradisi. Yang dirawat bukan hanya ingatan tentang tanah leluhur di seberang laut, tetapi juga keterikatan pada tanah tempat berpijak kini—Bali dengan segala kearifannya.

Mungkin, di sinilah makna terdalam Imlek di Bali: ia menjadi cermin bahwa harmoni bukan milik satu agama atau satu etnis. Harmoni adalah nilai universal yang menemukan bentuknya dalam berbagai tradisi. Dan ketika tradisi-tradisi itu saling menyapa tanpa saling meniadakan, masyarakat tidak hanya hidup berdampingan, tetapi benar-benar hidup bersama. Pemandangan sederhana lampion merah yang banyak dipasang di berbagai tempat umum di Bali mengajarkan satu hal, bahwa identitas tidak harus dipertentangkan untuk diakui. Ia cukup dirayakan, dengan kesadaran bahwa dalam keberagaman, kita selalu memiliki kemungkinan untuk menemukan titik temu. [T]

Penulis: I Made Adnyana
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: baliBudhaCinaHari Raya ImlekImlekTionghoaTiongkokUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

Next Post

Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co