2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imlek di Bali: Dari ‘Galungan Cina’ ke Harmoni Keberagaman

Made Adnyana by Made Adnyana
February 17, 2026
in Esai
Imlek di Bali: Dari ‘Galungan Cina’ ke Harmoni Keberagaman

I Made Adnyana

TAHUN Baru Imlek? Setidaknya hingga menamatkan Pendidikan SMP di kampung, desa Pupuan, Tabanan, saya tidak familiar (bahkan mungkin tidak tahu?) dengan istilah ini. Padahal saya terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa, atau sering disebut Cina Bali. Hingga akhir 80-an, Tahun Baru Imlek tak ada dalam istilah kami. Yang ada justru “Galungan Cina”.

Ya, sebutan “Galungan Cina” tak hanya popular tetapi sudah melekat, untuk menyebut persembahyangan tutup tahun Lunar, yang keesokan harinya diikuti dengan penanggalan baru. Bahkan perayaan Cap Go Meh (Purnama pertama di tahun Baru Imlek) disebut-sebut sebagai “kuningan” nya. Ketika melanjutkan Pendidikan di Denpasar, dari pergaulan dengan teman keturunan Tionghoa lainnya, saya baru mengenal istilah Sin Cia yang bermakna bulan baru, merujuk pada tahun Baru Imlek. Kata Imlek sendiri Imlek (lafal Hokkian, Im-le̍k, lafal Mandarin yin li, yang artinya kalender bulan). Pada akhirnya bermuara pada satu istilah umum, Chinese New Year.

Jika di awal-awal mungkin ada yang mempertanyakan atau bahkan memperdebatkan istilah, saya sendiri lebih memilih untuk netral. Meminjam ungkapan Shakespeare, apalah arti sebuah nama? Dalam hal ini ada beberapa hal menarik lain yang bisa diperbincangkan daripada sekadar mengurus istilah atau nama. Toh pada akhirnya sejak era kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid, Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sebagai tradisi dari daratan Cina, di berbagai belahan negara lain di dunia, Tahun Baru Imlek mungkin adalah selebrasi, perayaan pergantian musim, pergantian kalender lunar. Namun sepengalaman saya, Tahun Baru Imlek di Bali kiranya bukan sekadar penanda pergantian kalender lunar. “Galungan Cina” berkembang menjadi perayaan tentang harmoni, bagaimana dalam hal ini identitas etnis dan tradisi budaya – setelah terkungkung sekian dekade – akhirnya menemukan ruang hidupnya di tengah masyarakat yang plural. Memang, pada masa kepemimpinan Presiden Gus Dur, Imlek juga ditetapkan sebagai hari raya agama Konghucu. Namnun dalam konteks ini, kiranya Imlek tidak perlu dipermasalahkan semata-mata sebagai hari raya agama tertentu, tetapi ia adalah perayaan kultural keturunan Tionghoa, yang uniknya menyimpan makna mendalam bagaimana relasi manusia dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan semesta.

Apabila ditelusuri jejak historisnya, Imlek berakar dari tradisi agraris Tiongkok kuno. Ia menandai siklus musim, harapan atas panen yang baik, serta permohonan keselamatan pada penanggalan atau tahun yang baru. Nah, dalam perkembangannya kemudian perayaan ini menyatu dengan praktik-praktik penghormatan terhadap leluhur, para “dewa”, doa syukur, dan simbol-simbol keberuntungan lainnya.

Nah, itu dari sisi yang sangat jamak terlihat dimana-mana. Namun apabila ditelisik dan dimaknai lebih dalam, Imlek bisa disebut sebagai ritual sosial yang menjaga keseimbangan. Bagaimana dalam hal ini sembahyang leluhur bukan sekadar rutinitas praktik religius, melainkan adalah cara merawat ingatan kolektif. Galibnya pada masyarakat Tionghoa, keluarga bukan hanya struktur biologis, melainkan jaringan moral yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan berdoa kepada (mendoakan) leluhur, secara tidak langsung seseorang mengakui bahwa hidupnya berdiri di atas sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan.

Maka momen kebersamaan pada saat sembahyang tutup tahun (sehari sebelum Imlek) atau makan malam bersama keluarga pada malam pergantian tahun, bisa menjadi ruang rekonsiliasi. Di depan altar persembahyangan, di meja makan, perbedaan generasi melebur. Berbagai cerita masa lalu akan mengalir, pun kemudian yang tua memberi nasihat, yang muda menerima angpao bukan hanya sebagai kertas merah berisi uang, tetapi sebagai simbol harapan dan keberlanjutan rezeki. Di sinilah terjadi penyebaran kesejahteraan secara simbolik, satu praktik solidaritas yang sederhana, namun bermakna.

Beberapa hari sebelum Imlek, membersihkan dan merapikan rumah juga menyimpan pesan filosofis yakni kita membuang yang lama yang sudah tidak digunakan atau tidak berfungsi, untuk kemudian menyambut yang baru. Hal ini bisa dimaknai bukan hanya soal kebersihan fisik, melainkan juga penyucian batin. Dalam “ritual-ritual” semacam inilah harmoni bukan sekadar kata-kata, bukan konsep abstrak, karena ia hadir dalam tindakan sehari-hari.

Resonansi dengan Tri Hita Karana

Tanpa bermaksud menggunakan ilmu cocokologi, bagi saya pribadi, harmoni yang tersurat dari perayaan Imlek bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Bali. Masyarakat Bali mengenal konsep yang disebut Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan—hubungan harmonis dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Tentu sudah dipahami pula kalau falsafah ini bukan sekadar ajaran teologis, melainkan fondasi etika sosial yang hidup dalam praktik keseharian.

Maka menjadi hal menarik ketika menyadari bahwa praktik-praktik dalam perayaan Imlek beresonansi dengan nilai-nilai Tri Hita Karana. Sembahyang leluhur dan doa syukur mengingatkan pada Parhyangan —relasi manusia dengan yang transenden. Berkumpul dan makan bersama keluarga dan para kerabat kemudian berbagi angpao, mencerminkan Pawongan —solidaritas dan kasih dalam relasi sosial. Sementara simbol-simbol kemakmuran yang terkait dengan siklus alam dan musim mengingatkan pada Palemahan —kesadaran akan keterikatan manusia dengan lingkungan.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud menyamakan kedua tradisi ini secara teologis. Namun, ada titik temu nilai yang memungkinkan keduanya berdialog tanpa konflik. Di Bali, dialog itu tidak selalu diwujudkan dalam wacana akademik, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari. Bagaimana kita lihat di sejumlah tempat persembahyangan, lampion menggantung di antara penjor, atau kemudian barongsai bisa menari di ruang yang sama dengan ogoh-ogoh pada waktu yang berbeda. Di sinilah Imlek di Bali menjadi lebih dari sekadar perayaan etnis; ia menjadi simbol bagaimana nilai-nilai universal tentang harmoni dapat menemukan ekspresinya dalam konteks lokal.

Berdasarkan kajian multikulturalisme, masyarakat plural tidak hanya dituntut untuk mengakui keberagaman, tetapi juga menciptakan ruang di mana perbedaan dapat hidup berdampingan secara setara. Multikulturalisme bukan sekadar toleransi pasif, melainkan pengakuan aktif atas hak setiap kelompok untuk mengekspresikan identitasnya. Di Bali, penerimaan ini menemukan bentuknya yang khas. Struktur sosial berbasis adat dan komunitas membuat relasi antar-warga lebih cair. Warga keturunan Tionghoa di Bali tidak hidup dalam ruang tertutup, melainkan menjadi bagian dari dinamika ekonomi, sosial, dan bahkan budaya lokal. Pada beberapa daerah di Bali, ada yang terlibat dalam kegiatan banjar, ada yang berpartisipasi dalam perayaan lokal, ada pula yang menjalin relasi kekerabatan lintas etnis.

Mungkin masih ada kekhawatiran kalau akulturasi akan mengikis identitas asli. Namun pengalaman Bali menunjukkan bahwa identitas bisa lentur tanpa kehilangan akar. Warga keturunan Tionghoa atau sering disebut Cina Bali tetap merayakan Imlek, tetap menghormati leluhur, tetapi juga menyerap nilai-nilai lokal dalam cara hidup mereka. Imlek di Bali menjadi contoh bagaimana identitas Tionghoa tidak larut begitu saja dalam budaya mayoritas, tetapi juga tidak menutup diri dari interaksi.

Pada akhirnya, perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar pesta. Ia adalah komitmen etis yang diperbarui setiap tahun.Komitmen itu berupa tekad untuk menjaga harmoni keluarga, menghormati leluhur, dan berbagi rezeki. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Bali, komitmen itu meluas menjadi tekad untuk hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman. Ketika lampion merah menyala di antara ukiran batu padas, yang dirayakan bukan hanya pergantian tahun, tetapi juga keberlanjutan dialog antar-tradisi. Yang dirawat bukan hanya ingatan tentang tanah leluhur di seberang laut, tetapi juga keterikatan pada tanah tempat berpijak kini—Bali dengan segala kearifannya.

Mungkin, di sinilah makna terdalam Imlek di Bali: ia menjadi cermin bahwa harmoni bukan milik satu agama atau satu etnis. Harmoni adalah nilai universal yang menemukan bentuknya dalam berbagai tradisi. Dan ketika tradisi-tradisi itu saling menyapa tanpa saling meniadakan, masyarakat tidak hanya hidup berdampingan, tetapi benar-benar hidup bersama. Pemandangan sederhana lampion merah yang banyak dipasang di berbagai tempat umum di Bali mengajarkan satu hal, bahwa identitas tidak harus dipertentangkan untuk diakui. Ia cukup dirayakan, dengan kesadaran bahwa dalam keberagaman, kita selalu memiliki kemungkinan untuk menemukan titik temu. [T]

Penulis: I Made Adnyana
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: baliBudhaCinaHari Raya ImlekImlekTionghoaTiongkokUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

Next Post

Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co