3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imlek di Bali: Dari ‘Galungan Cina’ ke Harmoni Keberagaman

Made Adnyana by Made Adnyana
February 17, 2026
in Esai
Imlek di Bali: Dari ‘Galungan Cina’ ke Harmoni Keberagaman

I Made Adnyana

TAHUN Baru Imlek? Setidaknya hingga menamatkan Pendidikan SMP di kampung, desa Pupuan, Tabanan, saya tidak familiar (bahkan mungkin tidak tahu?) dengan istilah ini. Padahal saya terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa, atau sering disebut Cina Bali. Hingga akhir 80-an, Tahun Baru Imlek tak ada dalam istilah kami. Yang ada justru “Galungan Cina”.

Ya, sebutan “Galungan Cina” tak hanya popular tetapi sudah melekat, untuk menyebut persembahyangan tutup tahun Lunar, yang keesokan harinya diikuti dengan penanggalan baru. Bahkan perayaan Cap Go Meh (Purnama pertama di tahun Baru Imlek) disebut-sebut sebagai “kuningan” nya. Ketika melanjutkan Pendidikan di Denpasar, dari pergaulan dengan teman keturunan Tionghoa lainnya, saya baru mengenal istilah Sin Cia yang bermakna bulan baru, merujuk pada tahun Baru Imlek. Kata Imlek sendiri Imlek (lafal Hokkian, Im-le̍k, lafal Mandarin yin li, yang artinya kalender bulan). Pada akhirnya bermuara pada satu istilah umum, Chinese New Year.

Jika di awal-awal mungkin ada yang mempertanyakan atau bahkan memperdebatkan istilah, saya sendiri lebih memilih untuk netral. Meminjam ungkapan Shakespeare, apalah arti sebuah nama? Dalam hal ini ada beberapa hal menarik lain yang bisa diperbincangkan daripada sekadar mengurus istilah atau nama. Toh pada akhirnya sejak era kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid, Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sebagai tradisi dari daratan Cina, di berbagai belahan negara lain di dunia, Tahun Baru Imlek mungkin adalah selebrasi, perayaan pergantian musim, pergantian kalender lunar. Namun sepengalaman saya, Tahun Baru Imlek di Bali kiranya bukan sekadar penanda pergantian kalender lunar. “Galungan Cina” berkembang menjadi perayaan tentang harmoni, bagaimana dalam hal ini identitas etnis dan tradisi budaya – setelah terkungkung sekian dekade – akhirnya menemukan ruang hidupnya di tengah masyarakat yang plural. Memang, pada masa kepemimpinan Presiden Gus Dur, Imlek juga ditetapkan sebagai hari raya agama Konghucu. Namnun dalam konteks ini, kiranya Imlek tidak perlu dipermasalahkan semata-mata sebagai hari raya agama tertentu, tetapi ia adalah perayaan kultural keturunan Tionghoa, yang uniknya menyimpan makna mendalam bagaimana relasi manusia dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan semesta.

Apabila ditelusuri jejak historisnya, Imlek berakar dari tradisi agraris Tiongkok kuno. Ia menandai siklus musim, harapan atas panen yang baik, serta permohonan keselamatan pada penanggalan atau tahun yang baru. Nah, dalam perkembangannya kemudian perayaan ini menyatu dengan praktik-praktik penghormatan terhadap leluhur, para “dewa”, doa syukur, dan simbol-simbol keberuntungan lainnya.

Nah, itu dari sisi yang sangat jamak terlihat dimana-mana. Namun apabila ditelisik dan dimaknai lebih dalam, Imlek bisa disebut sebagai ritual sosial yang menjaga keseimbangan. Bagaimana dalam hal ini sembahyang leluhur bukan sekadar rutinitas praktik religius, melainkan adalah cara merawat ingatan kolektif. Galibnya pada masyarakat Tionghoa, keluarga bukan hanya struktur biologis, melainkan jaringan moral yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan berdoa kepada (mendoakan) leluhur, secara tidak langsung seseorang mengakui bahwa hidupnya berdiri di atas sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan.

Maka momen kebersamaan pada saat sembahyang tutup tahun (sehari sebelum Imlek) atau makan malam bersama keluarga pada malam pergantian tahun, bisa menjadi ruang rekonsiliasi. Di depan altar persembahyangan, di meja makan, perbedaan generasi melebur. Berbagai cerita masa lalu akan mengalir, pun kemudian yang tua memberi nasihat, yang muda menerima angpao bukan hanya sebagai kertas merah berisi uang, tetapi sebagai simbol harapan dan keberlanjutan rezeki. Di sinilah terjadi penyebaran kesejahteraan secara simbolik, satu praktik solidaritas yang sederhana, namun bermakna.

Beberapa hari sebelum Imlek, membersihkan dan merapikan rumah juga menyimpan pesan filosofis yakni kita membuang yang lama yang sudah tidak digunakan atau tidak berfungsi, untuk kemudian menyambut yang baru. Hal ini bisa dimaknai bukan hanya soal kebersihan fisik, melainkan juga penyucian batin. Dalam “ritual-ritual” semacam inilah harmoni bukan sekadar kata-kata, bukan konsep abstrak, karena ia hadir dalam tindakan sehari-hari.

Resonansi dengan Tri Hita Karana

Tanpa bermaksud menggunakan ilmu cocokologi, bagi saya pribadi, harmoni yang tersurat dari perayaan Imlek bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Bali. Masyarakat Bali mengenal konsep yang disebut Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan—hubungan harmonis dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Tentu sudah dipahami pula kalau falsafah ini bukan sekadar ajaran teologis, melainkan fondasi etika sosial yang hidup dalam praktik keseharian.

Maka menjadi hal menarik ketika menyadari bahwa praktik-praktik dalam perayaan Imlek beresonansi dengan nilai-nilai Tri Hita Karana. Sembahyang leluhur dan doa syukur mengingatkan pada Parhyangan —relasi manusia dengan yang transenden. Berkumpul dan makan bersama keluarga dan para kerabat kemudian berbagi angpao, mencerminkan Pawongan —solidaritas dan kasih dalam relasi sosial. Sementara simbol-simbol kemakmuran yang terkait dengan siklus alam dan musim mengingatkan pada Palemahan —kesadaran akan keterikatan manusia dengan lingkungan.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud menyamakan kedua tradisi ini secara teologis. Namun, ada titik temu nilai yang memungkinkan keduanya berdialog tanpa konflik. Di Bali, dialog itu tidak selalu diwujudkan dalam wacana akademik, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari. Bagaimana kita lihat di sejumlah tempat persembahyangan, lampion menggantung di antara penjor, atau kemudian barongsai bisa menari di ruang yang sama dengan ogoh-ogoh pada waktu yang berbeda. Di sinilah Imlek di Bali menjadi lebih dari sekadar perayaan etnis; ia menjadi simbol bagaimana nilai-nilai universal tentang harmoni dapat menemukan ekspresinya dalam konteks lokal.

Berdasarkan kajian multikulturalisme, masyarakat plural tidak hanya dituntut untuk mengakui keberagaman, tetapi juga menciptakan ruang di mana perbedaan dapat hidup berdampingan secara setara. Multikulturalisme bukan sekadar toleransi pasif, melainkan pengakuan aktif atas hak setiap kelompok untuk mengekspresikan identitasnya. Di Bali, penerimaan ini menemukan bentuknya yang khas. Struktur sosial berbasis adat dan komunitas membuat relasi antar-warga lebih cair. Warga keturunan Tionghoa di Bali tidak hidup dalam ruang tertutup, melainkan menjadi bagian dari dinamika ekonomi, sosial, dan bahkan budaya lokal. Pada beberapa daerah di Bali, ada yang terlibat dalam kegiatan banjar, ada yang berpartisipasi dalam perayaan lokal, ada pula yang menjalin relasi kekerabatan lintas etnis.

Mungkin masih ada kekhawatiran kalau akulturasi akan mengikis identitas asli. Namun pengalaman Bali menunjukkan bahwa identitas bisa lentur tanpa kehilangan akar. Warga keturunan Tionghoa atau sering disebut Cina Bali tetap merayakan Imlek, tetap menghormati leluhur, tetapi juga menyerap nilai-nilai lokal dalam cara hidup mereka. Imlek di Bali menjadi contoh bagaimana identitas Tionghoa tidak larut begitu saja dalam budaya mayoritas, tetapi juga tidak menutup diri dari interaksi.

Pada akhirnya, perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar pesta. Ia adalah komitmen etis yang diperbarui setiap tahun.Komitmen itu berupa tekad untuk menjaga harmoni keluarga, menghormati leluhur, dan berbagi rezeki. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Bali, komitmen itu meluas menjadi tekad untuk hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman. Ketika lampion merah menyala di antara ukiran batu padas, yang dirayakan bukan hanya pergantian tahun, tetapi juga keberlanjutan dialog antar-tradisi. Yang dirawat bukan hanya ingatan tentang tanah leluhur di seberang laut, tetapi juga keterikatan pada tanah tempat berpijak kini—Bali dengan segala kearifannya.

Mungkin, di sinilah makna terdalam Imlek di Bali: ia menjadi cermin bahwa harmoni bukan milik satu agama atau satu etnis. Harmoni adalah nilai universal yang menemukan bentuknya dalam berbagai tradisi. Dan ketika tradisi-tradisi itu saling menyapa tanpa saling meniadakan, masyarakat tidak hanya hidup berdampingan, tetapi benar-benar hidup bersama. Pemandangan sederhana lampion merah yang banyak dipasang di berbagai tempat umum di Bali mengajarkan satu hal, bahwa identitas tidak harus dipertentangkan untuk diakui. Ia cukup dirayakan, dengan kesadaran bahwa dalam keberagaman, kita selalu memiliki kemungkinan untuk menemukan titik temu. [T]

Penulis: I Made Adnyana
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: baliBudhaCinaHari Raya ImlekImlekTionghoaTiongkokUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

Next Post

Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Suara-Suara Muda Menggema di Panggung KAC VI: Lomba Menyanyi Solo Pop Bali SMP Se-Bali yang Penuh Antusiasme

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co