6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Ikhtiar Merawat Luka Sosial

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
February 15, 2026
in Esai
Puisi dan Ikhtiar Merawat Luka Sosial

Ahmad Fatoni

Andai saja penderitaan manusia bisa dibereskan dengan rumus Excel, mungkin dunia sudah lama berubah menjadi taman firdaus digital. Tinggal buka tabel, klik kolom “kemiskinan” misalnya, lalu tekan sort. Masalah selesai. Sayangnya, hidup bukan lembar kerja spreadsheet. Di balik persentase ada perut lapar, di balik grafik ada mata yang bengkak menahan tangis, bukan sekadar baris data.

Angka memang rajin mencatat, tetapi jarang berempati. Dokumen kebijakan sangat rapi, namun sering terasa dingin seperti lemari arsip. Di sinilah karya sastra (puisi) mengambil peran menghangatkan realitas sosial yang beku oleh statistik. Namun bukan sastra yang sekadar bermain perasaan tanpa pijakan. 

Adalah WS Rendra (Willibrordus Surendra Broto Rendra), yang dijuluki “Si Burung Merak”, dikenal sebagai salah satu pelopor puisi sosial di Indonesia yang menempatkan puisi sebagai alat kritik tajam terhadap ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Namun, jika konteksnya adalah puisi sosial yang menyuarakan perlawanan rakyat secara langsung, Wiji Thukul adalah tokoh yang paling menonjol.

Puisi dapat dianalogikan seperti kopi susu: pahitnya realitas bertemu manisnya imajinasi. Ia tetap puisi—penuh metafora, irama, dan imaji—namun sekaligus menyertakan konteks sosial. Ia tidak sibuk merayakan “aku” dan kegundahan secara personal, melainkan menaruh perhatian pada “kita” dan persoalan bersama.

Dalam kerangka Pierre Bourdieu, puisi dapat berperan sebagai modal simbolik yang mengubah penderitaan sosial menjadi wacana yang berpengaruh secara kultural. Jika terdengar berita “seribu rumah rusak”, puisi bertanya lebih jauh: siapa yang kehilangan orangtuanya, siapa yang kehilangan harta warisan, atau siapa yang kehilangan masa depan? Puisi ingin mengembalikan nasib manusia yang sering dipangkas oleh bahasa kebijakan administratif.

Sosiolog Jürgen Habermas dalam bukunya The Structural Transformation of the Public Sphere (1962), menekankan begitu pentingnya ruang publik sebagai arena dialog warga. Namun kenyataannya, tidak semua orang memperoleh akses setara. Petani kecil di pedalaman, buruh migran, dan kelompok miskin perkotaan sering berbicara tanpa mikrofon. Puisi hadir sebagai pengeras suara alternatif. 

Dalam istilah pemikir Marxis asal Italia, Antonio Gramsci, puisi dapat berfungsi sebagai intelektual organik yang membela kepentingan kelompok terpinggirkan melalui jalur kultural. Kekuatan puisi semacam ini memang terletak pada kemampuannya membangkitkan empati—tanpa terjebak melodrama berlebihan—yang mampu mengaduk-aduk emosi pembaca karena terlibat dalam kisah orang lain. 

Pada konteks itulah, konsep sociological imagination dalam karya C. Wright Mills (1959) menemukan relevansinya. Puisi membantu pembaca memahami kemiskinan bukan sekadar kemalasan individu atau kehendak takdir. Ambil contoh misalnya puisi WS Rendra berjudul “Orang-orang Miskin”: “Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan.” 

Di balik kisah tragis di atas, pembaca dapat menyimak potret kemiskinan yang dialami masyarakat Indonesia sekitar tahun 1978. Atas nama ambisi pembangunan, masa itu, masyarakat bawah justru terpuruk dalam kemiskinan.

Puisi juga ingin menjaga etika representasi. Sejalan dengan pemikiran Emmanuel Levinas tentang wajah “sang liyan” dalam Totality and Infinity (1961), penderitaan orang lain bukan bahan konsumsi, melainkan panggilan tanggung jawab etis. Sementara di era clickbait, penderitaan sering dipertontonkan sebagai dagangan. Puisi justru membantu menghadirkan luka “sang liyan” tanpa merendahkannya.

Namun puisi bukan malaikat tanpa cela. Ia berisiko jatuh menjadi propaganda atau ceramah moral yang kehilangan daya estetika. Ada pula bahaya manipulasi fakta demi mendukung pesan emosional. Karena itu, penyair memikul tanggung jawab ganda, yaitu disiplin artistik dan kejujuran intelektual. Dalam istilah Max Weber, yang dibutuhkan adalah etika tanggung jawab, bukan hanya niat baik.

Di tengah gempuran informasi, kita sering disuguhi banyak data tetapi miskin makna. Kita tahu banyak, tetapi jarang tergerak. Puisi hadir sebagai pengingat bahwa setiap angka memiliki wajah, setiap kebijakan memiliki dampak nyata, dan setiap tragedi menyimpan kisah manusia. Ia tidak menawarkan solusi instan, namun menjaga agar nurani tetap hidup secara normal. Puisi mungkin tidak bisa menurunkan harga beras atau menurunkan angka kemiskinan, namun ia bisa menumbuhkan rasa malu saat kita terlalu nyaman menjadi penonton. 

Puisi juga mengajarkan bahwa keberpihakan tidak selalu harus berteriak. Ia bisa hadir dalam bisikan yang lebih tajam dari slogan. Ketika bahasa politik cenderung membelah dan bahasa birokrasi cenderung mengaburkan, puisi justru menyederhanakan tanpa menyederhanakan masalah. Ia menyebut lapar sebagai lapar dan ketidakadilan sebagai ketidakadilan. Kejujuran semacam ini terasa sederhana, tetapi justru itulah fondasi keberanian moral.

Lebih dari itu, puisi adalah latihan empati kolektif. Ia tidak menggantikan kebijakan publik, tetapi ia bisa memengaruhi cara publik menilai kebijakan. Ia tidak membangun jembatan beton, tetapi ia membangun jembatan batin. Dan sering kali, perubahan besar tidak lahir dari ruang rapat yang penuh angka, melainkan dari hati yang tak lagi tahan menyaksikan luka sosial diperlakukan sebagai statistik semata.

Tatkala statistik berhenti di tabel dan berita berhenti di bahasa administratif, puisi melanjutkan ikhtiar di jalan sunyi dengan terus merawat luka sosial dengan bahasa yang jujur, beradab, dan bermartabat. Sebab di sanalah nurani menemukan suaranya kembali, dan kemanusiaan menolak untuk sekadar menjadi angka. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisisosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

Next Post

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Buku 'Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor' Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co