23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Green Valentine’, Ketika Cinta Tak Berhenti pada Manusia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Setiap 14 Februari, warga dunia mendadak jadi lebih manis dari biasanya. Cokelat, bunga, kartu ucapan, dan diskon makan malam berseliweran di mana-mana. Kita diajak untuk merayakan kasih sayang, dan itu adalah niatan baik.

Tentu tidak ada yang salah dengan mencintai pasangan, keluarga, atau sahabat. Masalahnya bukan di cintanya, tapi di ke mana cinta itu berhenti. Nah, saat Valentine, ramai pas tanggal 14. Besoknya sudah tak ada rasanya.

Di Indonesia, Valentine hampir selalu berakhir dengan polemik. Ada yang menolak karena dianggap kebarat-baratan. Ada yang curiga karena diasosiasikan dengan seks bebas. Ada juga yang menolaknya atas nama moral dan agama.

Menariknya, di tengah ribut itu, jarang ada yang bertanya, apakah kita benar-benar sedang membicarakan kasih sayang, atau hanya simbol-simbolnya saja?  Melihat pergerakannya, memang kasih sayang tidak pernah punya paspor budaya. Ia lebih tua dari negara, lebih tua dari agama formal, bahkan lebih tua pula dari yang namanya pasar, alias jual beli.

Ketika Kasih Sayang Dipersempit

Di dunia modern ini, valentine direduksi cinta menjadi relasi romantik dua individu. Cinta dipaketkan, dijual, dan dikonsumsi. Semakin besar pengeluaran, semakin dianggap sayang. Padahal, dalam banyak tradisi termasuk tradisi Nusantara kita, kasih sayang tidak pernah sesempit itu.

Meski bukan ahli falsafah Jawa, setidaknya saya bisa paham bahwa orang Jawa mengenal welas asih, suatu empati yang meluas, bukan eksklusif. Dalam kosmologi lama, manusia hidup di dalam jagad gede alam semesta, bukan berdiri di atasnya. Maka cinta yang sejati tidak berhenti pada manusia, tetapi mengalir ke sesama makhluk dan alam yang menopang kehidupan. 

Demikian juga dengan suku lain. Seperti di film Kuyang,  yang diangkat dari novel karya Achmad Benbela, saya melihat suatu tradisi, untuk menebar sisa makanan ke lingkungan sekitar rumah.  Bagi saya, ini juga suatu jenis pemahaman bahwa alam sekitar harus kita sayangi. Dan saya yakin di setiap pelosok Nusantara ini, ekspresi cinta pada sesama makhluk dan alam sebagai penopang kehidupan, selalu bisa kita temukan dalam berbagai ekspresi. Ironisnya, justru di zaman yang rajin bicara cinta, alam kita kini mengalami kekerasan paling sistematis.

Krisis Ekologi Tak Lain Adalah Krisis Kasih Sayang

Kita sering mendengar dari media soal hutan yang dibabat, sungai dicemari, tanah diperas dan digali sampai tandus. Semua itu sering dibahas, melulu sebagai masalah hukum, ekonomi, atau teknologi. Tapi jarang disebut sebagai apa adanya, yaitu suatu kisah krisis kasih sayang.

Kita marah jika moral publik dianggap rusak oleh perayaan Valentine. Tapi kita tenang melihat sungai jadi tempat sampah. Kita curiga pada simbol budaya asing, tapi tidak curiga pada kerusakan ekologis yang jelas bakal kita wariskan ke anak cucu. Byung-Chul Han menyebut zaman ini miskin eros, kemampuan mencintai yang lain tanpa menguasai. Alam tidak lagi kita cintai, alam justu kita eksploitasi. Ia tidak kita perlakukan sebagai sesama ciptaan, melainkan sebagai objek.

Biasanya valentine nuansanya pink. Kok saya merasa perlu di titik ini, ada juga Green Valentine. Bukan sekadar kampanye lingkungan, tapi koreksi spiritual. Izinkan saya sharing sebentar soal pemikiran sederhana ini. 

Jadi begini, pembaca yang budiman. Jika Tuhan yang juga menciptakan kita, diyakini sebagai Maha Pengasih, maka wajiblah kita mewarisi sifatNya itu dengan juga mengasihi Tuhan.  Dan mencintai Tuhan tidak mungkin dilepaskan dari cara manusia memperlakukan ciptaan-Nya. Ini bukan soal agama, tapi spiritualitas. Spiritualitas yang berhenti di ritual, tapi tidak menjelma dalam perawatan bumi, adalah spiritualitas yang timpang.

Banyak perusak alam di negeri ini fasih bicara Tuhan, rajin ibadah, bahkan lantang soal moral. Tapi gagal memahami satu hal sederhana, bahwa merusak alam berarti memutus rantai kasih sayang Tuhan kepada generasi selanjutnya.  Dalam logika iman apa pun, sesungguhnya manusia bukan pemilik bumi, melainkan penerima amanah. Dan amanah selalu mengandung tanggung jawab lintas waktu.

Spiritualitas Remah Roti untuk Semut

Suatu hari, anak saya sehabis makan roti, dia menumpahkan remah roti ke kebun. Ketika ditanya, ia menjawab sederhana. Katanya, biar semut bisa makan rotinya juga.  Mungkin bagi dia itu asyik saja, melihat dan mengamati semut yang diam-diam datang dan bergotong royong mengusung remah kecil itu. 

Tapi entah kenapa saya merasa, di situ ada spiritualitas yang utuh. Suatu kesadaran bahwa hidup tidak sendirian, ada yang harus dibagi, dan bahwa kasih sayang tidak harus besar dan heroik.  Ironisnya, justru orang dewasa, dengan segala gelar dan ritual malah sering kehilangan kepekaan seperti itu.

Khayalan saya soal Green Valentine, pun jika itu akan ada, idealnya tidak menggantikan Valentine. Ia akan melengkapinya.  Karena itu, paling pas jika meletakkannya pada 15 Februari dan justru sangat masuk akal secara simbolik.  Urutannya begini, 14 Februari merayakan kasih sayang antar manusia, besoknya 15 Februari, kasih sayang yang meluas ke alam.

Jika 14 Februari adalah rasa, maka 15 Februari adalah lakunya.   Jika 14 Februari adalah emosi, maka 15 Februari adalah tanggung jawab.  Cinta yang matang selalu bergerak keluar dari dirinya sendiri. Kalau cuma berhenti di manusia, ia masih romantik. Ketika berlanjut ke alam, maka ia menjadi etis dan spiritual.

Green Valentine sebagai Ibadah Sosial-Ekologis

Green Valentine tidak perlu dirayakan dengan seremoni besar. Justru kekuatannya ada pada kesederhanaan seperti memupuk tanaman sektiar rumah, menanam pohon baru, membersihkan sungai, memberi makan hewan, mengurangi konsumsi, tidak menyisakan sampah, dan sebagainya.

Ini bukan aktivisme keras, tapi ibadah diam-diam. Semacam doa yang ditanam di tanah dan dilantunkan ke udara, atau jenis puasa yang dilakukan lewat pengendalian konsumsi. Bisa juga suatu rasa syukur yang diwujudkan lewat perawatan.  Dalam bahasa spiritual, ini cara mencintai Tuhan tanpa banyak kata.

Jadi satu dimensi penting Green Valentine adalah orientasinya ke masa depan. Bukan hanya bagaimana kita bahagia hari ini, tapi meneliti kembali dengan refleksi bagaimana tindakan kita hari ini masih memungkinkan anak-cucu kita semua kelak bisa hidup layak. 

Merusak alam bukan hanya kejahatan ekologis, tapi ketiadaan empati pada generasi yang belum lahir. Dan kasih sayang yang tidak melampaui waktu saya yakin suatu bentuk kasih sayang yang masih dangkal. Kakek nenek saya saja, saya tahu persis, masih mendoakan cucu dan cicitnya. Bahkan untuk anak-anak dari cucunya yang belum lahir.

Dari Perayaan ke Peradaban

Jika pun ada, nantinya Green Valentine pada 15 Februari adalah ajakan halus tapi tegas. Setelah merayakan cinta, bertanggung jawablah atas jejaknya.  Ia bukan anti-Valentine, bukan anti-agama, bukan anti-budaya. Justru sebalikny, Green Valentine ini akan mengembalikan kasih sayang ke makna paling dalam, yaitu sebagai hubungan antara manusia, alam, Tuhan, dan generasi selanjutnya.

Mungkin sudah waktunya perayaan valentine tetap ada, hanya kini tidak terbatas pada yang muda dan remaja. Jika sudah lelah untuk bertanya, ini budaya siapa? Apakah cukup bermoral? Apakah pasangan kita masih ingat ini Valentine?

Mungkin bisa kita mulai bertanya, apakah kita masih punya cukup cinta untuk membuat dunia lebih layak diwariskan? Jika jawabannya ya, barangkali di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling dewasa. Untuk itu saya izin mengucapkan untuk yang pertama, Happy Green Valentine. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaHari Valentinekasihkasih sayangperadaban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Energi Baru Pendidikan Bali —Catatan dari Kunjungan Mendikdasmen di Buleleng

Next Post

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co