3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Green Valentine’, Ketika Cinta Tak Berhenti pada Manusia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Setiap 14 Februari, warga dunia mendadak jadi lebih manis dari biasanya. Cokelat, bunga, kartu ucapan, dan diskon makan malam berseliweran di mana-mana. Kita diajak untuk merayakan kasih sayang, dan itu adalah niatan baik.

Tentu tidak ada yang salah dengan mencintai pasangan, keluarga, atau sahabat. Masalahnya bukan di cintanya, tapi di ke mana cinta itu berhenti. Nah, saat Valentine, ramai pas tanggal 14. Besoknya sudah tak ada rasanya.

Di Indonesia, Valentine hampir selalu berakhir dengan polemik. Ada yang menolak karena dianggap kebarat-baratan. Ada yang curiga karena diasosiasikan dengan seks bebas. Ada juga yang menolaknya atas nama moral dan agama.

Menariknya, di tengah ribut itu, jarang ada yang bertanya, apakah kita benar-benar sedang membicarakan kasih sayang, atau hanya simbol-simbolnya saja?  Melihat pergerakannya, memang kasih sayang tidak pernah punya paspor budaya. Ia lebih tua dari negara, lebih tua dari agama formal, bahkan lebih tua pula dari yang namanya pasar, alias jual beli.

Ketika Kasih Sayang Dipersempit

Di dunia modern ini, valentine direduksi cinta menjadi relasi romantik dua individu. Cinta dipaketkan, dijual, dan dikonsumsi. Semakin besar pengeluaran, semakin dianggap sayang. Padahal, dalam banyak tradisi termasuk tradisi Nusantara kita, kasih sayang tidak pernah sesempit itu.

Meski bukan ahli falsafah Jawa, setidaknya saya bisa paham bahwa orang Jawa mengenal welas asih, suatu empati yang meluas, bukan eksklusif. Dalam kosmologi lama, manusia hidup di dalam jagad gede alam semesta, bukan berdiri di atasnya. Maka cinta yang sejati tidak berhenti pada manusia, tetapi mengalir ke sesama makhluk dan alam yang menopang kehidupan. 

Demikian juga dengan suku lain. Seperti di film Kuyang,  yang diangkat dari novel karya Achmad Benbela, saya melihat suatu tradisi, untuk menebar sisa makanan ke lingkungan sekitar rumah.  Bagi saya, ini juga suatu jenis pemahaman bahwa alam sekitar harus kita sayangi. Dan saya yakin di setiap pelosok Nusantara ini, ekspresi cinta pada sesama makhluk dan alam sebagai penopang kehidupan, selalu bisa kita temukan dalam berbagai ekspresi. Ironisnya, justru di zaman yang rajin bicara cinta, alam kita kini mengalami kekerasan paling sistematis.

Krisis Ekologi Tak Lain Adalah Krisis Kasih Sayang

Kita sering mendengar dari media soal hutan yang dibabat, sungai dicemari, tanah diperas dan digali sampai tandus. Semua itu sering dibahas, melulu sebagai masalah hukum, ekonomi, atau teknologi. Tapi jarang disebut sebagai apa adanya, yaitu suatu kisah krisis kasih sayang.

Kita marah jika moral publik dianggap rusak oleh perayaan Valentine. Tapi kita tenang melihat sungai jadi tempat sampah. Kita curiga pada simbol budaya asing, tapi tidak curiga pada kerusakan ekologis yang jelas bakal kita wariskan ke anak cucu. Byung-Chul Han menyebut zaman ini miskin eros, kemampuan mencintai yang lain tanpa menguasai. Alam tidak lagi kita cintai, alam justu kita eksploitasi. Ia tidak kita perlakukan sebagai sesama ciptaan, melainkan sebagai objek.

Biasanya valentine nuansanya pink. Kok saya merasa perlu di titik ini, ada juga Green Valentine. Bukan sekadar kampanye lingkungan, tapi koreksi spiritual. Izinkan saya sharing sebentar soal pemikiran sederhana ini. 

Jadi begini, pembaca yang budiman. Jika Tuhan yang juga menciptakan kita, diyakini sebagai Maha Pengasih, maka wajiblah kita mewarisi sifatNya itu dengan juga mengasihi Tuhan.  Dan mencintai Tuhan tidak mungkin dilepaskan dari cara manusia memperlakukan ciptaan-Nya. Ini bukan soal agama, tapi spiritualitas. Spiritualitas yang berhenti di ritual, tapi tidak menjelma dalam perawatan bumi, adalah spiritualitas yang timpang.

Banyak perusak alam di negeri ini fasih bicara Tuhan, rajin ibadah, bahkan lantang soal moral. Tapi gagal memahami satu hal sederhana, bahwa merusak alam berarti memutus rantai kasih sayang Tuhan kepada generasi selanjutnya.  Dalam logika iman apa pun, sesungguhnya manusia bukan pemilik bumi, melainkan penerima amanah. Dan amanah selalu mengandung tanggung jawab lintas waktu.

Spiritualitas Remah Roti untuk Semut

Suatu hari, anak saya sehabis makan roti, dia menumpahkan remah roti ke kebun. Ketika ditanya, ia menjawab sederhana. Katanya, biar semut bisa makan rotinya juga.  Mungkin bagi dia itu asyik saja, melihat dan mengamati semut yang diam-diam datang dan bergotong royong mengusung remah kecil itu. 

Tapi entah kenapa saya merasa, di situ ada spiritualitas yang utuh. Suatu kesadaran bahwa hidup tidak sendirian, ada yang harus dibagi, dan bahwa kasih sayang tidak harus besar dan heroik.  Ironisnya, justru orang dewasa, dengan segala gelar dan ritual malah sering kehilangan kepekaan seperti itu.

Khayalan saya soal Green Valentine, pun jika itu akan ada, idealnya tidak menggantikan Valentine. Ia akan melengkapinya.  Karena itu, paling pas jika meletakkannya pada 15 Februari dan justru sangat masuk akal secara simbolik.  Urutannya begini, 14 Februari merayakan kasih sayang antar manusia, besoknya 15 Februari, kasih sayang yang meluas ke alam.

Jika 14 Februari adalah rasa, maka 15 Februari adalah lakunya.   Jika 14 Februari adalah emosi, maka 15 Februari adalah tanggung jawab.  Cinta yang matang selalu bergerak keluar dari dirinya sendiri. Kalau cuma berhenti di manusia, ia masih romantik. Ketika berlanjut ke alam, maka ia menjadi etis dan spiritual.

Green Valentine sebagai Ibadah Sosial-Ekologis

Green Valentine tidak perlu dirayakan dengan seremoni besar. Justru kekuatannya ada pada kesederhanaan seperti memupuk tanaman sektiar rumah, menanam pohon baru, membersihkan sungai, memberi makan hewan, mengurangi konsumsi, tidak menyisakan sampah, dan sebagainya.

Ini bukan aktivisme keras, tapi ibadah diam-diam. Semacam doa yang ditanam di tanah dan dilantunkan ke udara, atau jenis puasa yang dilakukan lewat pengendalian konsumsi. Bisa juga suatu rasa syukur yang diwujudkan lewat perawatan.  Dalam bahasa spiritual, ini cara mencintai Tuhan tanpa banyak kata.

Jadi satu dimensi penting Green Valentine adalah orientasinya ke masa depan. Bukan hanya bagaimana kita bahagia hari ini, tapi meneliti kembali dengan refleksi bagaimana tindakan kita hari ini masih memungkinkan anak-cucu kita semua kelak bisa hidup layak. 

Merusak alam bukan hanya kejahatan ekologis, tapi ketiadaan empati pada generasi yang belum lahir. Dan kasih sayang yang tidak melampaui waktu saya yakin suatu bentuk kasih sayang yang masih dangkal. Kakek nenek saya saja, saya tahu persis, masih mendoakan cucu dan cicitnya. Bahkan untuk anak-anak dari cucunya yang belum lahir.

Dari Perayaan ke Peradaban

Jika pun ada, nantinya Green Valentine pada 15 Februari adalah ajakan halus tapi tegas. Setelah merayakan cinta, bertanggung jawablah atas jejaknya.  Ia bukan anti-Valentine, bukan anti-agama, bukan anti-budaya. Justru sebalikny, Green Valentine ini akan mengembalikan kasih sayang ke makna paling dalam, yaitu sebagai hubungan antara manusia, alam, Tuhan, dan generasi selanjutnya.

Mungkin sudah waktunya perayaan valentine tetap ada, hanya kini tidak terbatas pada yang muda dan remaja. Jika sudah lelah untuk bertanya, ini budaya siapa? Apakah cukup bermoral? Apakah pasangan kita masih ingat ini Valentine?

Mungkin bisa kita mulai bertanya, apakah kita masih punya cukup cinta untuk membuat dunia lebih layak diwariskan? Jika jawabannya ya, barangkali di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling dewasa. Untuk itu saya izin mengucapkan untuk yang pertama, Happy Green Valentine. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaHari Valentinekasihkasih sayangperadaban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Energi Baru Pendidikan Bali —Catatan dari Kunjungan Mendikdasmen di Buleleng

Next Post

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co