24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Green Valentine’, Ketika Cinta Tak Berhenti pada Manusia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Setiap 14 Februari, warga dunia mendadak jadi lebih manis dari biasanya. Cokelat, bunga, kartu ucapan, dan diskon makan malam berseliweran di mana-mana. Kita diajak untuk merayakan kasih sayang, dan itu adalah niatan baik.

Tentu tidak ada yang salah dengan mencintai pasangan, keluarga, atau sahabat. Masalahnya bukan di cintanya, tapi di ke mana cinta itu berhenti. Nah, saat Valentine, ramai pas tanggal 14. Besoknya sudah tak ada rasanya.

Di Indonesia, Valentine hampir selalu berakhir dengan polemik. Ada yang menolak karena dianggap kebarat-baratan. Ada yang curiga karena diasosiasikan dengan seks bebas. Ada juga yang menolaknya atas nama moral dan agama.

Menariknya, di tengah ribut itu, jarang ada yang bertanya, apakah kita benar-benar sedang membicarakan kasih sayang, atau hanya simbol-simbolnya saja?  Melihat pergerakannya, memang kasih sayang tidak pernah punya paspor budaya. Ia lebih tua dari negara, lebih tua dari agama formal, bahkan lebih tua pula dari yang namanya pasar, alias jual beli.

Ketika Kasih Sayang Dipersempit

Di dunia modern ini, valentine direduksi cinta menjadi relasi romantik dua individu. Cinta dipaketkan, dijual, dan dikonsumsi. Semakin besar pengeluaran, semakin dianggap sayang. Padahal, dalam banyak tradisi termasuk tradisi Nusantara kita, kasih sayang tidak pernah sesempit itu.

Meski bukan ahli falsafah Jawa, setidaknya saya bisa paham bahwa orang Jawa mengenal welas asih, suatu empati yang meluas, bukan eksklusif. Dalam kosmologi lama, manusia hidup di dalam jagad gede alam semesta, bukan berdiri di atasnya. Maka cinta yang sejati tidak berhenti pada manusia, tetapi mengalir ke sesama makhluk dan alam yang menopang kehidupan. 

Demikian juga dengan suku lain. Seperti di film Kuyang,  yang diangkat dari novel karya Achmad Benbela, saya melihat suatu tradisi, untuk menebar sisa makanan ke lingkungan sekitar rumah.  Bagi saya, ini juga suatu jenis pemahaman bahwa alam sekitar harus kita sayangi. Dan saya yakin di setiap pelosok Nusantara ini, ekspresi cinta pada sesama makhluk dan alam sebagai penopang kehidupan, selalu bisa kita temukan dalam berbagai ekspresi. Ironisnya, justru di zaman yang rajin bicara cinta, alam kita kini mengalami kekerasan paling sistematis.

Krisis Ekologi Tak Lain Adalah Krisis Kasih Sayang

Kita sering mendengar dari media soal hutan yang dibabat, sungai dicemari, tanah diperas dan digali sampai tandus. Semua itu sering dibahas, melulu sebagai masalah hukum, ekonomi, atau teknologi. Tapi jarang disebut sebagai apa adanya, yaitu suatu kisah krisis kasih sayang.

Kita marah jika moral publik dianggap rusak oleh perayaan Valentine. Tapi kita tenang melihat sungai jadi tempat sampah. Kita curiga pada simbol budaya asing, tapi tidak curiga pada kerusakan ekologis yang jelas bakal kita wariskan ke anak cucu. Byung-Chul Han menyebut zaman ini miskin eros, kemampuan mencintai yang lain tanpa menguasai. Alam tidak lagi kita cintai, alam justu kita eksploitasi. Ia tidak kita perlakukan sebagai sesama ciptaan, melainkan sebagai objek.

Biasanya valentine nuansanya pink. Kok saya merasa perlu di titik ini, ada juga Green Valentine. Bukan sekadar kampanye lingkungan, tapi koreksi spiritual. Izinkan saya sharing sebentar soal pemikiran sederhana ini. 

Jadi begini, pembaca yang budiman. Jika Tuhan yang juga menciptakan kita, diyakini sebagai Maha Pengasih, maka wajiblah kita mewarisi sifatNya itu dengan juga mengasihi Tuhan.  Dan mencintai Tuhan tidak mungkin dilepaskan dari cara manusia memperlakukan ciptaan-Nya. Ini bukan soal agama, tapi spiritualitas. Spiritualitas yang berhenti di ritual, tapi tidak menjelma dalam perawatan bumi, adalah spiritualitas yang timpang.

Banyak perusak alam di negeri ini fasih bicara Tuhan, rajin ibadah, bahkan lantang soal moral. Tapi gagal memahami satu hal sederhana, bahwa merusak alam berarti memutus rantai kasih sayang Tuhan kepada generasi selanjutnya.  Dalam logika iman apa pun, sesungguhnya manusia bukan pemilik bumi, melainkan penerima amanah. Dan amanah selalu mengandung tanggung jawab lintas waktu.

Spiritualitas Remah Roti untuk Semut

Suatu hari, anak saya sehabis makan roti, dia menumpahkan remah roti ke kebun. Ketika ditanya, ia menjawab sederhana. Katanya, biar semut bisa makan rotinya juga.  Mungkin bagi dia itu asyik saja, melihat dan mengamati semut yang diam-diam datang dan bergotong royong mengusung remah kecil itu. 

Tapi entah kenapa saya merasa, di situ ada spiritualitas yang utuh. Suatu kesadaran bahwa hidup tidak sendirian, ada yang harus dibagi, dan bahwa kasih sayang tidak harus besar dan heroik.  Ironisnya, justru orang dewasa, dengan segala gelar dan ritual malah sering kehilangan kepekaan seperti itu.

Khayalan saya soal Green Valentine, pun jika itu akan ada, idealnya tidak menggantikan Valentine. Ia akan melengkapinya.  Karena itu, paling pas jika meletakkannya pada 15 Februari dan justru sangat masuk akal secara simbolik.  Urutannya begini, 14 Februari merayakan kasih sayang antar manusia, besoknya 15 Februari, kasih sayang yang meluas ke alam.

Jika 14 Februari adalah rasa, maka 15 Februari adalah lakunya.   Jika 14 Februari adalah emosi, maka 15 Februari adalah tanggung jawab.  Cinta yang matang selalu bergerak keluar dari dirinya sendiri. Kalau cuma berhenti di manusia, ia masih romantik. Ketika berlanjut ke alam, maka ia menjadi etis dan spiritual.

Green Valentine sebagai Ibadah Sosial-Ekologis

Green Valentine tidak perlu dirayakan dengan seremoni besar. Justru kekuatannya ada pada kesederhanaan seperti memupuk tanaman sektiar rumah, menanam pohon baru, membersihkan sungai, memberi makan hewan, mengurangi konsumsi, tidak menyisakan sampah, dan sebagainya.

Ini bukan aktivisme keras, tapi ibadah diam-diam. Semacam doa yang ditanam di tanah dan dilantunkan ke udara, atau jenis puasa yang dilakukan lewat pengendalian konsumsi. Bisa juga suatu rasa syukur yang diwujudkan lewat perawatan.  Dalam bahasa spiritual, ini cara mencintai Tuhan tanpa banyak kata.

Jadi satu dimensi penting Green Valentine adalah orientasinya ke masa depan. Bukan hanya bagaimana kita bahagia hari ini, tapi meneliti kembali dengan refleksi bagaimana tindakan kita hari ini masih memungkinkan anak-cucu kita semua kelak bisa hidup layak. 

Merusak alam bukan hanya kejahatan ekologis, tapi ketiadaan empati pada generasi yang belum lahir. Dan kasih sayang yang tidak melampaui waktu saya yakin suatu bentuk kasih sayang yang masih dangkal. Kakek nenek saya saja, saya tahu persis, masih mendoakan cucu dan cicitnya. Bahkan untuk anak-anak dari cucunya yang belum lahir.

Dari Perayaan ke Peradaban

Jika pun ada, nantinya Green Valentine pada 15 Februari adalah ajakan halus tapi tegas. Setelah merayakan cinta, bertanggung jawablah atas jejaknya.  Ia bukan anti-Valentine, bukan anti-agama, bukan anti-budaya. Justru sebalikny, Green Valentine ini akan mengembalikan kasih sayang ke makna paling dalam, yaitu sebagai hubungan antara manusia, alam, Tuhan, dan generasi selanjutnya.

Mungkin sudah waktunya perayaan valentine tetap ada, hanya kini tidak terbatas pada yang muda dan remaja. Jika sudah lelah untuk bertanya, ini budaya siapa? Apakah cukup bermoral? Apakah pasangan kita masih ingat ini Valentine?

Mungkin bisa kita mulai bertanya, apakah kita masih punya cukup cinta untuk membuat dunia lebih layak diwariskan? Jika jawabannya ya, barangkali di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling dewasa. Untuk itu saya izin mengucapkan untuk yang pertama, Happy Green Valentine. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaHari Valentinekasihkasih sayangperadaban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Energi Baru Pendidikan Bali —Catatan dari Kunjungan Mendikdasmen di Buleleng

Next Post

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co