14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Green Valentine’, Ketika Cinta Tak Berhenti pada Manusia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Setiap 14 Februari, warga dunia mendadak jadi lebih manis dari biasanya. Cokelat, bunga, kartu ucapan, dan diskon makan malam berseliweran di mana-mana. Kita diajak untuk merayakan kasih sayang, dan itu adalah niatan baik.

Tentu tidak ada yang salah dengan mencintai pasangan, keluarga, atau sahabat. Masalahnya bukan di cintanya, tapi di ke mana cinta itu berhenti. Nah, saat Valentine, ramai pas tanggal 14. Besoknya sudah tak ada rasanya.

Di Indonesia, Valentine hampir selalu berakhir dengan polemik. Ada yang menolak karena dianggap kebarat-baratan. Ada yang curiga karena diasosiasikan dengan seks bebas. Ada juga yang menolaknya atas nama moral dan agama.

Menariknya, di tengah ribut itu, jarang ada yang bertanya, apakah kita benar-benar sedang membicarakan kasih sayang, atau hanya simbol-simbolnya saja?  Melihat pergerakannya, memang kasih sayang tidak pernah punya paspor budaya. Ia lebih tua dari negara, lebih tua dari agama formal, bahkan lebih tua pula dari yang namanya pasar, alias jual beli.

Ketika Kasih Sayang Dipersempit

Di dunia modern ini, valentine direduksi cinta menjadi relasi romantik dua individu. Cinta dipaketkan, dijual, dan dikonsumsi. Semakin besar pengeluaran, semakin dianggap sayang. Padahal, dalam banyak tradisi termasuk tradisi Nusantara kita, kasih sayang tidak pernah sesempit itu.

Meski bukan ahli falsafah Jawa, setidaknya saya bisa paham bahwa orang Jawa mengenal welas asih, suatu empati yang meluas, bukan eksklusif. Dalam kosmologi lama, manusia hidup di dalam jagad gede alam semesta, bukan berdiri di atasnya. Maka cinta yang sejati tidak berhenti pada manusia, tetapi mengalir ke sesama makhluk dan alam yang menopang kehidupan. 

Demikian juga dengan suku lain. Seperti di film Kuyang,  yang diangkat dari novel karya Achmad Benbela, saya melihat suatu tradisi, untuk menebar sisa makanan ke lingkungan sekitar rumah.  Bagi saya, ini juga suatu jenis pemahaman bahwa alam sekitar harus kita sayangi. Dan saya yakin di setiap pelosok Nusantara ini, ekspresi cinta pada sesama makhluk dan alam sebagai penopang kehidupan, selalu bisa kita temukan dalam berbagai ekspresi. Ironisnya, justru di zaman yang rajin bicara cinta, alam kita kini mengalami kekerasan paling sistematis.

Krisis Ekologi Tak Lain Adalah Krisis Kasih Sayang

Kita sering mendengar dari media soal hutan yang dibabat, sungai dicemari, tanah diperas dan digali sampai tandus. Semua itu sering dibahas, melulu sebagai masalah hukum, ekonomi, atau teknologi. Tapi jarang disebut sebagai apa adanya, yaitu suatu kisah krisis kasih sayang.

Kita marah jika moral publik dianggap rusak oleh perayaan Valentine. Tapi kita tenang melihat sungai jadi tempat sampah. Kita curiga pada simbol budaya asing, tapi tidak curiga pada kerusakan ekologis yang jelas bakal kita wariskan ke anak cucu. Byung-Chul Han menyebut zaman ini miskin eros, kemampuan mencintai yang lain tanpa menguasai. Alam tidak lagi kita cintai, alam justu kita eksploitasi. Ia tidak kita perlakukan sebagai sesama ciptaan, melainkan sebagai objek.

Biasanya valentine nuansanya pink. Kok saya merasa perlu di titik ini, ada juga Green Valentine. Bukan sekadar kampanye lingkungan, tapi koreksi spiritual. Izinkan saya sharing sebentar soal pemikiran sederhana ini. 

Jadi begini, pembaca yang budiman. Jika Tuhan yang juga menciptakan kita, diyakini sebagai Maha Pengasih, maka wajiblah kita mewarisi sifatNya itu dengan juga mengasihi Tuhan.  Dan mencintai Tuhan tidak mungkin dilepaskan dari cara manusia memperlakukan ciptaan-Nya. Ini bukan soal agama, tapi spiritualitas. Spiritualitas yang berhenti di ritual, tapi tidak menjelma dalam perawatan bumi, adalah spiritualitas yang timpang.

Banyak perusak alam di negeri ini fasih bicara Tuhan, rajin ibadah, bahkan lantang soal moral. Tapi gagal memahami satu hal sederhana, bahwa merusak alam berarti memutus rantai kasih sayang Tuhan kepada generasi selanjutnya.  Dalam logika iman apa pun, sesungguhnya manusia bukan pemilik bumi, melainkan penerima amanah. Dan amanah selalu mengandung tanggung jawab lintas waktu.

Spiritualitas Remah Roti untuk Semut

Suatu hari, anak saya sehabis makan roti, dia menumpahkan remah roti ke kebun. Ketika ditanya, ia menjawab sederhana. Katanya, biar semut bisa makan rotinya juga.  Mungkin bagi dia itu asyik saja, melihat dan mengamati semut yang diam-diam datang dan bergotong royong mengusung remah kecil itu. 

Tapi entah kenapa saya merasa, di situ ada spiritualitas yang utuh. Suatu kesadaran bahwa hidup tidak sendirian, ada yang harus dibagi, dan bahwa kasih sayang tidak harus besar dan heroik.  Ironisnya, justru orang dewasa, dengan segala gelar dan ritual malah sering kehilangan kepekaan seperti itu.

Khayalan saya soal Green Valentine, pun jika itu akan ada, idealnya tidak menggantikan Valentine. Ia akan melengkapinya.  Karena itu, paling pas jika meletakkannya pada 15 Februari dan justru sangat masuk akal secara simbolik.  Urutannya begini, 14 Februari merayakan kasih sayang antar manusia, besoknya 15 Februari, kasih sayang yang meluas ke alam.

Jika 14 Februari adalah rasa, maka 15 Februari adalah lakunya.   Jika 14 Februari adalah emosi, maka 15 Februari adalah tanggung jawab.  Cinta yang matang selalu bergerak keluar dari dirinya sendiri. Kalau cuma berhenti di manusia, ia masih romantik. Ketika berlanjut ke alam, maka ia menjadi etis dan spiritual.

Green Valentine sebagai Ibadah Sosial-Ekologis

Green Valentine tidak perlu dirayakan dengan seremoni besar. Justru kekuatannya ada pada kesederhanaan seperti memupuk tanaman sektiar rumah, menanam pohon baru, membersihkan sungai, memberi makan hewan, mengurangi konsumsi, tidak menyisakan sampah, dan sebagainya.

Ini bukan aktivisme keras, tapi ibadah diam-diam. Semacam doa yang ditanam di tanah dan dilantunkan ke udara, atau jenis puasa yang dilakukan lewat pengendalian konsumsi. Bisa juga suatu rasa syukur yang diwujudkan lewat perawatan.  Dalam bahasa spiritual, ini cara mencintai Tuhan tanpa banyak kata.

Jadi satu dimensi penting Green Valentine adalah orientasinya ke masa depan. Bukan hanya bagaimana kita bahagia hari ini, tapi meneliti kembali dengan refleksi bagaimana tindakan kita hari ini masih memungkinkan anak-cucu kita semua kelak bisa hidup layak. 

Merusak alam bukan hanya kejahatan ekologis, tapi ketiadaan empati pada generasi yang belum lahir. Dan kasih sayang yang tidak melampaui waktu saya yakin suatu bentuk kasih sayang yang masih dangkal. Kakek nenek saya saja, saya tahu persis, masih mendoakan cucu dan cicitnya. Bahkan untuk anak-anak dari cucunya yang belum lahir.

Dari Perayaan ke Peradaban

Jika pun ada, nantinya Green Valentine pada 15 Februari adalah ajakan halus tapi tegas. Setelah merayakan cinta, bertanggung jawablah atas jejaknya.  Ia bukan anti-Valentine, bukan anti-agama, bukan anti-budaya. Justru sebalikny, Green Valentine ini akan mengembalikan kasih sayang ke makna paling dalam, yaitu sebagai hubungan antara manusia, alam, Tuhan, dan generasi selanjutnya.

Mungkin sudah waktunya perayaan valentine tetap ada, hanya kini tidak terbatas pada yang muda dan remaja. Jika sudah lelah untuk bertanya, ini budaya siapa? Apakah cukup bermoral? Apakah pasangan kita masih ingat ini Valentine?

Mungkin bisa kita mulai bertanya, apakah kita masih punya cukup cinta untuk membuat dunia lebih layak diwariskan? Jika jawabannya ya, barangkali di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling dewasa. Untuk itu saya izin mengucapkan untuk yang pertama, Happy Green Valentine. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaHari Valentinekasihkasih sayangperadaban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Energi Baru Pendidikan Bali —Catatan dari Kunjungan Mendikdasmen di Buleleng

Next Post

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co