3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Green Valentine’, Ketika Cinta Tak Berhenti pada Manusia

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Setiap 14 Februari, warga dunia mendadak jadi lebih manis dari biasanya. Cokelat, bunga, kartu ucapan, dan diskon makan malam berseliweran di mana-mana. Kita diajak untuk merayakan kasih sayang, dan itu adalah niatan baik.

Tentu tidak ada yang salah dengan mencintai pasangan, keluarga, atau sahabat. Masalahnya bukan di cintanya, tapi di ke mana cinta itu berhenti. Nah, saat Valentine, ramai pas tanggal 14. Besoknya sudah tak ada rasanya.

Di Indonesia, Valentine hampir selalu berakhir dengan polemik. Ada yang menolak karena dianggap kebarat-baratan. Ada yang curiga karena diasosiasikan dengan seks bebas. Ada juga yang menolaknya atas nama moral dan agama.

Menariknya, di tengah ribut itu, jarang ada yang bertanya, apakah kita benar-benar sedang membicarakan kasih sayang, atau hanya simbol-simbolnya saja?  Melihat pergerakannya, memang kasih sayang tidak pernah punya paspor budaya. Ia lebih tua dari negara, lebih tua dari agama formal, bahkan lebih tua pula dari yang namanya pasar, alias jual beli.

Ketika Kasih Sayang Dipersempit

Di dunia modern ini, valentine direduksi cinta menjadi relasi romantik dua individu. Cinta dipaketkan, dijual, dan dikonsumsi. Semakin besar pengeluaran, semakin dianggap sayang. Padahal, dalam banyak tradisi termasuk tradisi Nusantara kita, kasih sayang tidak pernah sesempit itu.

Meski bukan ahli falsafah Jawa, setidaknya saya bisa paham bahwa orang Jawa mengenal welas asih, suatu empati yang meluas, bukan eksklusif. Dalam kosmologi lama, manusia hidup di dalam jagad gede alam semesta, bukan berdiri di atasnya. Maka cinta yang sejati tidak berhenti pada manusia, tetapi mengalir ke sesama makhluk dan alam yang menopang kehidupan. 

Demikian juga dengan suku lain. Seperti di film Kuyang,  yang diangkat dari novel karya Achmad Benbela, saya melihat suatu tradisi, untuk menebar sisa makanan ke lingkungan sekitar rumah.  Bagi saya, ini juga suatu jenis pemahaman bahwa alam sekitar harus kita sayangi. Dan saya yakin di setiap pelosok Nusantara ini, ekspresi cinta pada sesama makhluk dan alam sebagai penopang kehidupan, selalu bisa kita temukan dalam berbagai ekspresi. Ironisnya, justru di zaman yang rajin bicara cinta, alam kita kini mengalami kekerasan paling sistematis.

Krisis Ekologi Tak Lain Adalah Krisis Kasih Sayang

Kita sering mendengar dari media soal hutan yang dibabat, sungai dicemari, tanah diperas dan digali sampai tandus. Semua itu sering dibahas, melulu sebagai masalah hukum, ekonomi, atau teknologi. Tapi jarang disebut sebagai apa adanya, yaitu suatu kisah krisis kasih sayang.

Kita marah jika moral publik dianggap rusak oleh perayaan Valentine. Tapi kita tenang melihat sungai jadi tempat sampah. Kita curiga pada simbol budaya asing, tapi tidak curiga pada kerusakan ekologis yang jelas bakal kita wariskan ke anak cucu. Byung-Chul Han menyebut zaman ini miskin eros, kemampuan mencintai yang lain tanpa menguasai. Alam tidak lagi kita cintai, alam justu kita eksploitasi. Ia tidak kita perlakukan sebagai sesama ciptaan, melainkan sebagai objek.

Biasanya valentine nuansanya pink. Kok saya merasa perlu di titik ini, ada juga Green Valentine. Bukan sekadar kampanye lingkungan, tapi koreksi spiritual. Izinkan saya sharing sebentar soal pemikiran sederhana ini. 

Jadi begini, pembaca yang budiman. Jika Tuhan yang juga menciptakan kita, diyakini sebagai Maha Pengasih, maka wajiblah kita mewarisi sifatNya itu dengan juga mengasihi Tuhan.  Dan mencintai Tuhan tidak mungkin dilepaskan dari cara manusia memperlakukan ciptaan-Nya. Ini bukan soal agama, tapi spiritualitas. Spiritualitas yang berhenti di ritual, tapi tidak menjelma dalam perawatan bumi, adalah spiritualitas yang timpang.

Banyak perusak alam di negeri ini fasih bicara Tuhan, rajin ibadah, bahkan lantang soal moral. Tapi gagal memahami satu hal sederhana, bahwa merusak alam berarti memutus rantai kasih sayang Tuhan kepada generasi selanjutnya.  Dalam logika iman apa pun, sesungguhnya manusia bukan pemilik bumi, melainkan penerima amanah. Dan amanah selalu mengandung tanggung jawab lintas waktu.

Spiritualitas Remah Roti untuk Semut

Suatu hari, anak saya sehabis makan roti, dia menumpahkan remah roti ke kebun. Ketika ditanya, ia menjawab sederhana. Katanya, biar semut bisa makan rotinya juga.  Mungkin bagi dia itu asyik saja, melihat dan mengamati semut yang diam-diam datang dan bergotong royong mengusung remah kecil itu. 

Tapi entah kenapa saya merasa, di situ ada spiritualitas yang utuh. Suatu kesadaran bahwa hidup tidak sendirian, ada yang harus dibagi, dan bahwa kasih sayang tidak harus besar dan heroik.  Ironisnya, justru orang dewasa, dengan segala gelar dan ritual malah sering kehilangan kepekaan seperti itu.

Khayalan saya soal Green Valentine, pun jika itu akan ada, idealnya tidak menggantikan Valentine. Ia akan melengkapinya.  Karena itu, paling pas jika meletakkannya pada 15 Februari dan justru sangat masuk akal secara simbolik.  Urutannya begini, 14 Februari merayakan kasih sayang antar manusia, besoknya 15 Februari, kasih sayang yang meluas ke alam.

Jika 14 Februari adalah rasa, maka 15 Februari adalah lakunya.   Jika 14 Februari adalah emosi, maka 15 Februari adalah tanggung jawab.  Cinta yang matang selalu bergerak keluar dari dirinya sendiri. Kalau cuma berhenti di manusia, ia masih romantik. Ketika berlanjut ke alam, maka ia menjadi etis dan spiritual.

Green Valentine sebagai Ibadah Sosial-Ekologis

Green Valentine tidak perlu dirayakan dengan seremoni besar. Justru kekuatannya ada pada kesederhanaan seperti memupuk tanaman sektiar rumah, menanam pohon baru, membersihkan sungai, memberi makan hewan, mengurangi konsumsi, tidak menyisakan sampah, dan sebagainya.

Ini bukan aktivisme keras, tapi ibadah diam-diam. Semacam doa yang ditanam di tanah dan dilantunkan ke udara, atau jenis puasa yang dilakukan lewat pengendalian konsumsi. Bisa juga suatu rasa syukur yang diwujudkan lewat perawatan.  Dalam bahasa spiritual, ini cara mencintai Tuhan tanpa banyak kata.

Jadi satu dimensi penting Green Valentine adalah orientasinya ke masa depan. Bukan hanya bagaimana kita bahagia hari ini, tapi meneliti kembali dengan refleksi bagaimana tindakan kita hari ini masih memungkinkan anak-cucu kita semua kelak bisa hidup layak. 

Merusak alam bukan hanya kejahatan ekologis, tapi ketiadaan empati pada generasi yang belum lahir. Dan kasih sayang yang tidak melampaui waktu saya yakin suatu bentuk kasih sayang yang masih dangkal. Kakek nenek saya saja, saya tahu persis, masih mendoakan cucu dan cicitnya. Bahkan untuk anak-anak dari cucunya yang belum lahir.

Dari Perayaan ke Peradaban

Jika pun ada, nantinya Green Valentine pada 15 Februari adalah ajakan halus tapi tegas. Setelah merayakan cinta, bertanggung jawablah atas jejaknya.  Ia bukan anti-Valentine, bukan anti-agama, bukan anti-budaya. Justru sebalikny, Green Valentine ini akan mengembalikan kasih sayang ke makna paling dalam, yaitu sebagai hubungan antara manusia, alam, Tuhan, dan generasi selanjutnya.

Mungkin sudah waktunya perayaan valentine tetap ada, hanya kini tidak terbatas pada yang muda dan remaja. Jika sudah lelah untuk bertanya, ini budaya siapa? Apakah cukup bermoral? Apakah pasangan kita masih ingat ini Valentine?

Mungkin bisa kita mulai bertanya, apakah kita masih punya cukup cinta untuk membuat dunia lebih layak diwariskan? Jika jawabannya ya, barangkali di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling dewasa. Untuk itu saya izin mengucapkan untuk yang pertama, Happy Green Valentine. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaHari Valentinekasihkasih sayangperadaban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Energi Baru Pendidikan Bali —Catatan dari Kunjungan Mendikdasmen di Buleleng

Next Post

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co