23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perias Jenazah Menyingkap Tabir

Chusmeru by Chusmeru
January 29, 2026
in Fiksi
‘Orang Ketiga’ yang Selalu Menggoda

MELAYANI orang lain adalah tugasnya. Sesuai namanya, Sudarmo. Ia memberikan darma bakti kepada sesama manusia. Melayani dan mengabdi untuk orang-orang yang sedang berduka. Sudarmo memberi pelayanan merias jenazah.

Profesinya sebagai perias jenazah tidak dipelajari secara khusus. Sudarmo hanya tamat SMA yang kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarganya. Kebetulan suatu hari ia berkenalan dengan teman gerejanya yang membuka usaha jasa merias jenazah. Sudarmo ditawari untuk menggantikan salah satu pegawai yang berhenti bekerja.

Pada awalnya ia ragu menerima tawaran kerja itu. Profesi itu memerlukan keterampilan khusus dan ketahanan mental. Sudarmo tidak memiliki keterampilan merias, bahkan pengetahuan tentang tata rias pun ia tak punya. Ia juga belum memiliki mental yang kuat untuk berhadapan dengan jenazah, apalagi merias jenazah itu.

Namun teman gereja Sudarmo meyakinkan, bahwa semua dapat dipelajari. Lagi pula ia bukan perias utama atau mortician.Sudarmo hanya membantu perias utama ketika ada jenazah yang baru datang. Tentang mental, teman Sudarmo mengatakan nantinya juga akan terbiasa. Tidak perlu takut. Orang yang sudah meninggal tidak akan mengganggu kita.

Pasrah pada akhirnya. Sudarmo menerima tawaran sebagai perias jenazah. Apalagi gaji yang ia terima lumayan untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Ia tidak harus bekerja keras di bawah terik matahari. Merias jenazah dilakukan di ruang tertutup dan ber-AC. Lebih dari itu, Sudarmo juga ingin memberikan pelayanan kemanusiaan bagi keluarga yang sedang berduka ditinggal orang tercinta.

Istri dan kedua anaknya pada awalnya juga khawatir dan kasihan pada Sudarmo yang harus bekerja merias jenazah. Mereka takut Sudarmo tidak kuat mental berhadapan dengan jenazah yang  beragam kondisinya. Akan tetapi Sudarmo meyakinkan mereka, semua butuh proses. Jika memang nantinya ia tidak mampu bertahan, ia akan berhenti bekerja.

Seiring perjalanan waktu Sudarmo mulai mampu menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Perias utamanya juga sering mengajarkan Sudarmo bagaimana merias jenazah yang baik, yang dapat membuat jenazah tampak seperti masih hidup. Dan tentu saja merias jenazah yang membuat anggota keluarga jenazah itu dapat dengan tenang, tabah, dan senang hati melihat jenazah itu. Tidak mudah memang. Namun lama-kelamaan Sudarmo mengerti teknik merias jenazah yang baik.

  ***

Suatu malam, Sudarmo mendapat telepon dari perusahaannya. Ada jenazah baru yang harus segera dirias, karena akan dimakamkan esok pagi. Sedangkan perias utama sedang liburan ke luar kota. Itu berarti Sudarmo harus menggantikannya merias jenazah. Sendirian. Mendadak Sudarmo merinding. Ia membayangkan berada dalam ruangan hanya bersama jenazah yang diriasnya.

Namun Sudarmo siap untuk berangkat. Ia justru berpikir, bila ia dapat menjalankan tugas merias jenazah dengan baik, siapa tahu suatu saat ia akan menjadi perias utama. Penghasilannya tentu akan bertambah besar. Oleh karenanya ia tepis semua rasa takut untuk merias jenazah di malam hari. Bergegas ia menuju ruang rias jenazah.

Informasi yang ia dapatkan dari perusahaan, jenazah yang harus dirias malam hari adalah seorang pengusaha di kotanya. Usianya belum begitu lanjut. Namun ia dikabarkan mengidap komplikasi penyakit yang sudah menahun.

Perlahan Sudarmo merias jenazah itu. Wajah jenazah dalam pandangan Sudarmo seperti menanggung beban berat. Sudarmo harus merias wajah itu agar tampak lebih segar, ceria, dan tanpa beban. Bukan pekerjaan yang mudah. Diperlukan rasa simpati yang dalam terhadap jenazah agar Sudarmo bisa merias dengan baik.

Ruang jenazah terasa lebih dingin dari suhu udara yang diatur Sudarmo. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan mencekam saat Sudarmo berhadapan dengan jenazah itu. Mungkin karena baru pertama ia merias jenazah sendirian atau memang ada sesuatu dalam ruang rias itu. Sudarmo merasa seolah-olah pengusaha itu belum meninggal.

Dipandangi agak lama jenazah itu sebelum Sudarmo meriasnya. Ia mulai menggunakan masker dan sarung tangan sebelum merias. Kemudian dipersiapkan sisir rambut, alas bedak, spons, kuas, pembersih wajah dan perlengkapan lain. Saat ia mulai merias wajah, ia dikagetkan dengan sebuah suara lembut di telinganya.

“Anak-anak saya sudah berebut warisan sebelum saya meninggal”.

Sudarmo terkesiap. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, mencari arah suara. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan jenazah itu. Bulu kuduknya berdiri. Ia tatap kembali wajah jenazah itu. Kali ini Sudarmo terkejut. Mata jenazah itu tampak sembab seperti baru saja menangis.

“Apakah jenazah ini yang tadi berbicara?” tanya Sudarmo pada diri sendiri.

Tidak ingin terganggu oleh suasana yang menyeramkan, Sudarmo kembali melanjutkan merias jenazah. Hari ini pertama kali ia menjalankan tugas merias jenazah tanpa didampingi perias utama. Mungkin suatu saat ia juga akan menghadapi kejadian misterius lain selagi merias jenazah.

“Permisi ya, Pak. Saya akan merias wajah Bapak,” kata Sudarmo kepada jenazah itu. Ucapan seperti itu biasa diucapkan Sudarmo sebelum memulai pekerjaannya. Sapaan dan ucapan kepada jenazah sebagai bentuk penghormatan dan perlakuan selayaknya jenazah itu masih hidup.

Esoknya Sudarmo duduk di teras rumah sambil mengopi dan merokok. Pekerjaan merias jenazah semalam menyita tenaga dan perasaannya. Saat ia membuka ponsel dan media sosial, ia dikejutkan dengan sebuah berita di mediaonline. Dikabarkan, beberapa anggota keluarga seorang pengusaha di kotanya saling menggugat di pengadilan terkait harta warisan setelah ayah mereka meninggal.

Sudarmo tertegun. Ia teringat kembali bisikan misterius semalam ketika ia merias jenazah. Apakah suara yang mengatakan anak-anak berebut warisan sebelum meninggal datang dari jenazah itu? Apakah jenazah itu ingin menyingkap tabir kehidupannya dengan mengatakannya kepada Sudarmo?

***

Siang terasa terik. Matahari menyengat tubuh. Sudarmo sudah berada di tempat kerjanya. Kali ini bersama Agus Purnomo, perias utama jenazah. Mereka berbincang tentang cuaca yang tidak menentu. Siang hari panas dan terang-benderang, tiba-tiba sore hari hujan lebat. Tak ketinggalan mereka juga membahas tentang dunia ekonomi dan politik yang juga seperti cuaca, kadang panas, kadang dingin.

Setelah makan siang, mereka mendapat telepon dari perusahaan. Akan datang jenazah seorang mahasiswa korban kecelakaan di jalan raya. Almarhum merupakan anak seorang pejabat penting di kotanya. Agus Purnomo tak bereaksi apa pun. Sedangkan Sudarmo tampak sedikit pucat. Ia berpikir akan menghadapi kondisi jenazah yang mengalami luka-luka di sekujur tubuh.

Begitu jenazah tiba, mereka segera meriasnya. Mahasiswa itu masih sangat muda. Terdapat luka terbuka di dadanya. Kemungkinan terbentur benda keras. Wajahnya juga sedikit rusak akibat goresan aspal di jalan. Dengan hati-hati Agus Purnomo dan Sudarmo merias jenazah itu. Muncul perasaan sedih dan kasihan pada almarhum.

Ruangan yang dingin membuat Sudarmo meremang. Ada perasaan ngeri dan merinding melihat kondisi jenazah itu. Sudarmo merasakan ada sesuatu yang hendak dikatakan jenazah itu. Entahlah. Sejak beberapa kali merias jenazah, ia merasa seolah-olah semua jenazah ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Sudarmo merasa jenazah yang diriasnya hendak berpesan kepadanya.

 Benar saja. Ketika tertidur lelap di rumah, Sudarmo mimpi didatangi mahasiswa yang tadi siang diriasnya. Mahasiswa itu datang dalam mimpi dengan wajah yang sedih. Sudarmo berusaha mendekati dan menanyakan apa yang terjadi.

“Tolong sampaikan kepada orang tua saya agar membuka buku harian yang saya taruh di rak buku kamar,” pesan mahasiswa itu.

Sudarmo terbangun. Jam dinding di kamar menunjukkan angka dua. Masih dini hari. Sudarmo menengok kanan kiri. Jenazah yang tadi ia rias hadir dalam mimpi, dan pesan yang harus disampaikan kepada orang tuanya. Sudarmo merenung. Ada apa di balik buku harian almarhum? Adakah tabir yang akan tersingkap dalam buku harian itu? Sudarmo berdebar-debar; antara penasaran, sedih, dan perasaan merinding.

Tanpa berpikir panjang esoknya Sudarmo mendatangi kedua orang tua almarhum mahasiswa korban kecelakaan itu. Disampaikan pesan yang ia terima lewat mimpi. Kedua orang tua mahasiswa itu kaget. Cepat-cepat mereka menuju kamar anak mereka, mencari buku harian yang tersimpan di rak buku. Dibacanya seluruh catatan harian anak mereka. Tak berapa lama mereka berdua menangis.

Kedua orang tua almarhum mahasiswa menceritakan, bahwa anak mereka menulis di buku harian ingin mendapatkan beasiswa untuk studi di salah satu kampus di London, Inggris. Dia berpesan jika keinginannya tidak tercapai, berharap orang tuanya bisa berkunjung ke kampus itu. Sudarmo terharu mendengar cerita orang tua almarhum. Ternyata mimpinya menguak tabir keinginan almarhum.

Berselang sebulan dari meninggalnya mahasiswa yang jenazahnya dirias, Sudarmo mendapat kiriman foto-foto dari orang tua mahasiswa itu. Mereka berfoto di depan sebuah kampus di London. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Sudarmo sambil mengatakan bahwa pesan almarhum sudah mereka tunaikan.

Sudarmo trenyuh, bahagia, dan ikut lega. Walau selalu diliputi rasa ketakutan, ia senang dapat menyampaikan pesan dari jenazah yang diriasnya. Entah tabir apa lagi yang akan disingkap ketika esok ia akan merias jenazah lain. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

Next Post

Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda —Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

by Chusmeru
June 11, 2026
0

BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails
Next Post
Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda —Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda ---Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co