MELAYANI orang lain adalah tugasnya. Sesuai namanya, Sudarmo. Ia memberikan darma bakti kepada sesama manusia. Melayani dan mengabdi untuk orang-orang yang sedang berduka. Sudarmo memberi pelayanan merias jenazah.
Profesinya sebagai perias jenazah tidak dipelajari secara khusus. Sudarmo hanya tamat SMA yang kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarganya. Kebetulan suatu hari ia berkenalan dengan teman gerejanya yang membuka usaha jasa merias jenazah. Sudarmo ditawari untuk menggantikan salah satu pegawai yang berhenti bekerja.
Pada awalnya ia ragu menerima tawaran kerja itu. Profesi itu memerlukan keterampilan khusus dan ketahanan mental. Sudarmo tidak memiliki keterampilan merias, bahkan pengetahuan tentang tata rias pun ia tak punya. Ia juga belum memiliki mental yang kuat untuk berhadapan dengan jenazah, apalagi merias jenazah itu.
Namun teman gereja Sudarmo meyakinkan, bahwa semua dapat dipelajari. Lagi pula ia bukan perias utama atau mortician.Sudarmo hanya membantu perias utama ketika ada jenazah yang baru datang. Tentang mental, teman Sudarmo mengatakan nantinya juga akan terbiasa. Tidak perlu takut. Orang yang sudah meninggal tidak akan mengganggu kita.
Pasrah pada akhirnya. Sudarmo menerima tawaran sebagai perias jenazah. Apalagi gaji yang ia terima lumayan untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Ia tidak harus bekerja keras di bawah terik matahari. Merias jenazah dilakukan di ruang tertutup dan ber-AC. Lebih dari itu, Sudarmo juga ingin memberikan pelayanan kemanusiaan bagi keluarga yang sedang berduka ditinggal orang tercinta.
Istri dan kedua anaknya pada awalnya juga khawatir dan kasihan pada Sudarmo yang harus bekerja merias jenazah. Mereka takut Sudarmo tidak kuat mental berhadapan dengan jenazah yang beragam kondisinya. Akan tetapi Sudarmo meyakinkan mereka, semua butuh proses. Jika memang nantinya ia tidak mampu bertahan, ia akan berhenti bekerja.
Seiring perjalanan waktu Sudarmo mulai mampu menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Perias utamanya juga sering mengajarkan Sudarmo bagaimana merias jenazah yang baik, yang dapat membuat jenazah tampak seperti masih hidup. Dan tentu saja merias jenazah yang membuat anggota keluarga jenazah itu dapat dengan tenang, tabah, dan senang hati melihat jenazah itu. Tidak mudah memang. Namun lama-kelamaan Sudarmo mengerti teknik merias jenazah yang baik.
***
Suatu malam, Sudarmo mendapat telepon dari perusahaannya. Ada jenazah baru yang harus segera dirias, karena akan dimakamkan esok pagi. Sedangkan perias utama sedang liburan ke luar kota. Itu berarti Sudarmo harus menggantikannya merias jenazah. Sendirian. Mendadak Sudarmo merinding. Ia membayangkan berada dalam ruangan hanya bersama jenazah yang diriasnya.
Namun Sudarmo siap untuk berangkat. Ia justru berpikir, bila ia dapat menjalankan tugas merias jenazah dengan baik, siapa tahu suatu saat ia akan menjadi perias utama. Penghasilannya tentu akan bertambah besar. Oleh karenanya ia tepis semua rasa takut untuk merias jenazah di malam hari. Bergegas ia menuju ruang rias jenazah.
Informasi yang ia dapatkan dari perusahaan, jenazah yang harus dirias malam hari adalah seorang pengusaha di kotanya. Usianya belum begitu lanjut. Namun ia dikabarkan mengidap komplikasi penyakit yang sudah menahun.
Perlahan Sudarmo merias jenazah itu. Wajah jenazah dalam pandangan Sudarmo seperti menanggung beban berat. Sudarmo harus merias wajah itu agar tampak lebih segar, ceria, dan tanpa beban. Bukan pekerjaan yang mudah. Diperlukan rasa simpati yang dalam terhadap jenazah agar Sudarmo bisa merias dengan baik.
Ruang jenazah terasa lebih dingin dari suhu udara yang diatur Sudarmo. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan mencekam saat Sudarmo berhadapan dengan jenazah itu. Mungkin karena baru pertama ia merias jenazah sendirian atau memang ada sesuatu dalam ruang rias itu. Sudarmo merasa seolah-olah pengusaha itu belum meninggal.
Dipandangi agak lama jenazah itu sebelum Sudarmo meriasnya. Ia mulai menggunakan masker dan sarung tangan sebelum merias. Kemudian dipersiapkan sisir rambut, alas bedak, spons, kuas, pembersih wajah dan perlengkapan lain. Saat ia mulai merias wajah, ia dikagetkan dengan sebuah suara lembut di telinganya.
“Anak-anak saya sudah berebut warisan sebelum saya meninggal”.
Sudarmo terkesiap. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, mencari arah suara. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan jenazah itu. Bulu kuduknya berdiri. Ia tatap kembali wajah jenazah itu. Kali ini Sudarmo terkejut. Mata jenazah itu tampak sembab seperti baru saja menangis.
“Apakah jenazah ini yang tadi berbicara?” tanya Sudarmo pada diri sendiri.
Tidak ingin terganggu oleh suasana yang menyeramkan, Sudarmo kembali melanjutkan merias jenazah. Hari ini pertama kali ia menjalankan tugas merias jenazah tanpa didampingi perias utama. Mungkin suatu saat ia juga akan menghadapi kejadian misterius lain selagi merias jenazah.
“Permisi ya, Pak. Saya akan merias wajah Bapak,” kata Sudarmo kepada jenazah itu. Ucapan seperti itu biasa diucapkan Sudarmo sebelum memulai pekerjaannya. Sapaan dan ucapan kepada jenazah sebagai bentuk penghormatan dan perlakuan selayaknya jenazah itu masih hidup.
Esoknya Sudarmo duduk di teras rumah sambil mengopi dan merokok. Pekerjaan merias jenazah semalam menyita tenaga dan perasaannya. Saat ia membuka ponsel dan media sosial, ia dikejutkan dengan sebuah berita di mediaonline. Dikabarkan, beberapa anggota keluarga seorang pengusaha di kotanya saling menggugat di pengadilan terkait harta warisan setelah ayah mereka meninggal.
Sudarmo tertegun. Ia teringat kembali bisikan misterius semalam ketika ia merias jenazah. Apakah suara yang mengatakan anak-anak berebut warisan sebelum meninggal datang dari jenazah itu? Apakah jenazah itu ingin menyingkap tabir kehidupannya dengan mengatakannya kepada Sudarmo?
***
Siang terasa terik. Matahari menyengat tubuh. Sudarmo sudah berada di tempat kerjanya. Kali ini bersama Agus Purnomo, perias utama jenazah. Mereka berbincang tentang cuaca yang tidak menentu. Siang hari panas dan terang-benderang, tiba-tiba sore hari hujan lebat. Tak ketinggalan mereka juga membahas tentang dunia ekonomi dan politik yang juga seperti cuaca, kadang panas, kadang dingin.
Setelah makan siang, mereka mendapat telepon dari perusahaan. Akan datang jenazah seorang mahasiswa korban kecelakaan di jalan raya. Almarhum merupakan anak seorang pejabat penting di kotanya. Agus Purnomo tak bereaksi apa pun. Sedangkan Sudarmo tampak sedikit pucat. Ia berpikir akan menghadapi kondisi jenazah yang mengalami luka-luka di sekujur tubuh.
Begitu jenazah tiba, mereka segera meriasnya. Mahasiswa itu masih sangat muda. Terdapat luka terbuka di dadanya. Kemungkinan terbentur benda keras. Wajahnya juga sedikit rusak akibat goresan aspal di jalan. Dengan hati-hati Agus Purnomo dan Sudarmo merias jenazah itu. Muncul perasaan sedih dan kasihan pada almarhum.
Ruangan yang dingin membuat Sudarmo meremang. Ada perasaan ngeri dan merinding melihat kondisi jenazah itu. Sudarmo merasakan ada sesuatu yang hendak dikatakan jenazah itu. Entahlah. Sejak beberapa kali merias jenazah, ia merasa seolah-olah semua jenazah ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Sudarmo merasa jenazah yang diriasnya hendak berpesan kepadanya.
Benar saja. Ketika tertidur lelap di rumah, Sudarmo mimpi didatangi mahasiswa yang tadi siang diriasnya. Mahasiswa itu datang dalam mimpi dengan wajah yang sedih. Sudarmo berusaha mendekati dan menanyakan apa yang terjadi.
“Tolong sampaikan kepada orang tua saya agar membuka buku harian yang saya taruh di rak buku kamar,” pesan mahasiswa itu.
Sudarmo terbangun. Jam dinding di kamar menunjukkan angka dua. Masih dini hari. Sudarmo menengok kanan kiri. Jenazah yang tadi ia rias hadir dalam mimpi, dan pesan yang harus disampaikan kepada orang tuanya. Sudarmo merenung. Ada apa di balik buku harian almarhum? Adakah tabir yang akan tersingkap dalam buku harian itu? Sudarmo berdebar-debar; antara penasaran, sedih, dan perasaan merinding.
Tanpa berpikir panjang esoknya Sudarmo mendatangi kedua orang tua almarhum mahasiswa korban kecelakaan itu. Disampaikan pesan yang ia terima lewat mimpi. Kedua orang tua mahasiswa itu kaget. Cepat-cepat mereka menuju kamar anak mereka, mencari buku harian yang tersimpan di rak buku. Dibacanya seluruh catatan harian anak mereka. Tak berapa lama mereka berdua menangis.
Kedua orang tua almarhum mahasiswa menceritakan, bahwa anak mereka menulis di buku harian ingin mendapatkan beasiswa untuk studi di salah satu kampus di London, Inggris. Dia berpesan jika keinginannya tidak tercapai, berharap orang tuanya bisa berkunjung ke kampus itu. Sudarmo terharu mendengar cerita orang tua almarhum. Ternyata mimpinya menguak tabir keinginan almarhum.
Berselang sebulan dari meninggalnya mahasiswa yang jenazahnya dirias, Sudarmo mendapat kiriman foto-foto dari orang tua mahasiswa itu. Mereka berfoto di depan sebuah kampus di London. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Sudarmo sambil mengatakan bahwa pesan almarhum sudah mereka tunaikan.
Sudarmo trenyuh, bahagia, dan ikut lega. Walau selalu diliputi rasa ketakutan, ia senang dapat menyampaikan pesan dari jenazah yang diriasnya. Entah tabir apa lagi yang akan disingkap ketika esok ia akan merias jenazah lain. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole




























