6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Yahya Umar by Yahya Umar
January 26, 2026
in Ulas Buku
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Acara bedah buku "Dokter Gila" di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

  • Judul Buku : Dokter Gila
  • Penulis : dr. Putu Arya Nugraha
  • Penerbit : Tatkala
  • Tahun : 2025

DOKTER seperti apa yang biasa dianggap memiliki gejala atau tepatnya tanda-tanda bisa disebut gila?

Adalah dokter yang tidur dan bermalam di ruangan pasien. Bercerita dengan penunggu pasien dan sesekali ngobrol dengan pasien.

Apa lagi? Adalah seorang dokter yang peduli kondisi ruangan pasien. Yang menilai bahwa tidak manusiawi satu ruangan bangsal dihuni 16 pasien. Dalam pandangan dokter ini, meskipun obat yang diberikan sudah sesuai standar, secara psikologis situasi dalam ruangan semacam itu akan menghambat penyembuhan pasien.

Apa lagi?

Adalah dokter yang sarapan bersama para perawat dan pegawai rumah sakit. Menunya sama, dan bahkan dokter itu mengeluarkan uang sendiri untuk membelikan nasi bungkus untuk para perawat dan pegawai rumah sakit.

Apa lagi?

Adalah seorang dokter yang saat bertugas di rumah sakit tidak pernah menggunakan jas dokter. Ia hanya memakai kemeja lengan pendek, kaos berkrah bahkan hanya memakai t-shirt dan celana jeans. Kalau ditegur manajemen rumah sakit ia berkata, ”Saya ke rumah sakit untuk memeriksa dan mengobati pasien, bukan untuk fashion show. Coba tanya pasien saya ada nggak pasien saya yang keberatan dengan penampilan saya”.

Apa lagi?

Adalah dokter yang ketika masuk ruangan pasien tidak langsung memeriksa pasien, tapi memeriksa kamar mandi pasien lebih dulu. Apakah bersih atau kotor. Kalau kamar mandi itu kotor minta untuk dibersihkan lebih dulu, baru memeriksa pasien. Sebab, dalam keyakinannya kamar mandi yang kotor berpengaruh pada proses penyembuhan pasien.

Yahya Umar (tengah) saat membedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Apa lagi?

Adalah dokter yang pagi-pagi datang ke dapur rumah sakit dan meminta seporsi makanan yang biasa diberikan kepada pasien untuk sarapan pagi. Kemudian membagikan nasi bungkus yang dibeli di warung favorit masyarakat kota kepada juru masak. Ia ingin menyampaikan pesan lewat aksinya itu agar para juru masak meracik masakan yang enak untuk pasien. Baginya, orang sakit perlu hidangan yang menggugah selera dan rasanya nikmat sehingga makanan yang disajikan kepada pasien itu dilahap habis.

Itulah tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila seperti ditulis dr. Putu Arya Nugraha dalam buku kumpulan cerpennya “Dokter Gila”. Judul buku tersebut diambil dari salah satu judul cerpen dalam buku ini.

Lalu, apakah ada lagi gejala atau tepatnya tanda-tanda seorang dokter bisa disebut gila? Ya ada.

Adalah seorang dokter yang jatuh cinta kepada sastra. Arya Nugraha adalah dokter yang jelas-jelas jatuh cinta kepada sastra. Dalam suatu kesempatan bahkan ia pernah mengungkapkan kata-kata ‘gila’ seperti ini; “Seorang yang dokter yang ingin banyak dikunjungi pasien dalam prakteknya, ia harus menggauli sastra”.

Di abad 17, seorang notaris di Paris, Arouet menyebut kedua anaknya ‘sinting”. Gila. Yang pertama, tertarik kepada kepercayaan yang tak direstui gereja. Yang kedua, tertarik kepada kesusastraan. Bahkan yang kedua ini telah menulis saja begitu ia bisa menulis namanya sendiri. Dia adalah Voltaire. Karena jatuh cinta kepada sastra, Arouet menyebut Voltaire sebagai anak yang sinting.   

  • Klik untuk lihat info buku
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Membaca tanda-tanda dokter yang disebut gila seperti disampaikan dr. Arya Nugraha dalam cerpen “Dokter Gila”-nya tersebut sebenarnya bukan ‘gila’ seperti yang dipahami masyarakat umum. Kata ‘gila’ dalam cerpen itu lebih menggambarkan pemberontakan, protes dan upaya mengubah sesuatu. Karena pemberontakan, protes atau upaya mengubah sesuatu itu dilakukan dengan cara yang tidak biasa, atawa tidak lazim maka bolehlah disebut sebagai ‘cara gila’. Dokter yang melakukan pemberontakan, protes atau upaya mengubah keadaan itu bisa disebut ‘dokter gila’.    

Sebenarnya, dokter semacam itulah yang dibutuhkan masyarakat. Ia sebenarnya sosok yang waras, dokter yang benar-benar sebagai manusia.

Sebaliknya dalam cerpen “Dokter Gila”-nya, dr. Arya Nugraha seperti ingin menegaskan bahwa dokter yang ‘normal” itu sebenarnya mengidap segenap penyakit. Yakni dokter yang datang ke rumah sakit hanya untuk ‘bekerja’, sesuai SOP. Sesuai aturan yang dibuat juga oleh dokter yang normal.

Ia hanya sekadar bekerja, tak beda dengan robot mesin yang harus berjalan dan bekerja sesuai fungsinya. Tak lebih tak kurang. Kalau ada yang kurang, mesin tak berfungsi. Kalau ada yang lebih, mesin itu juga tak akan berfungsi. Dan, mesin tidak punya hati, tak punya jiwa. Tak punya perasaan. Itulah penyakit yang diidap dokter yang ‘normal’.

Dengan bekerja secara ‘normal’, memang tidak akan mengganggu sistem yang ada di rumah sakit. Apalagi jika sistem itu berlangsung cukup lama. Namun tak ada nilai lebih, tak ada kekhasan atau kelebihan yang diperoleh.

Kalau dr. Arya Nugraha, yang seorang dokter, sampai menulis cerpen “Dokter Gila”, artinya ada sesuatu dengan dokter yang ‘normal’. Rasa peduli pada lingkungan, rasa peduli pada situasi dan kondisi kerja, rasa peduli kepada kemanusiaan sepertinya kalah dengan kerja normal sesuai SOP. Mereka terjebak dalam keteraturan, rutinitas, rasio dan statistik. Ya seperti robot. Tak ada rasa empati. Bukankah itu sebuah penyakit juga? Sementara dokter gila yang dilukiskan dalam cerpen itu punya perasaan, punya rasa sedih, haru dan bahagia.

Dari kiri ke kanan, Gea (moderator), Made Adnyana Ole (pembedah), Yahya Umar (pembedah), dr. Lina Kamelia (pembedah) dan dr, Putu Arya Nugraha (penulis buku) dalam bedah buku “Dokter Gila” di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Jadi, dokter gila seperti diceritakan dalam cerpen dr. Arya Nugraha tidak membutuhkan terapi. Justru dokter ‘normal’ yang harus disentuh oleh terapi. Dibangkitkan perasaannya, dihidupkan empatinya, salah satunya bisa dengan memintanya menggauli dan ‘meminum’ sastra, seperti dilakukan dr. Arya Nugraha. Terapi itu misalnya juga dengan membaca buku kumpulan cerpen “Dokter Gila” karya dr. Arya Nugraha ini.

Dalam cerpen-cerpen dalam buku dr. Arya Nugraha ini ada edukasi khas dokter Arya, dan ada kegetiran. Ada perbedaan mencolok cara dr. Arya Nugraha dalam menyampaikan edukasi antara ditujukan kepada dunia atau komunitanya (para dokter, petugas kesehatan, dan semacamnya) dan masyarakat umum.

Kepada komunitasnya, dr. Arya tampak menampaikan pesan yang begitu keras. Ya seperti dalam cerpen “Dokter Gila”. Sementara kepada warga atau masyarakat, dr. Arya memberikan edukasi yang lebh lembut atau halus, nyaris sebagai sindiran. Misalnya dalam cerpen “Sakit Gegaen Anak”, dan Sumi Gadis yang Dihamili Lembu.

Sementara tentang kegetiran hidup seorang dokter bisa dibaca dalam cerpennya “Sebuah Tas untuk Istri Dokter”, atau cerpen “Seorang Dokter yang tak Pernah Pulang”. [T]

Catatan: Ulasan buku ini disampaikan dalam acara bedah buku “Dokter Gila” yang diselenggarakan Anima tokobuku di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukudokterKomunitas MahimaPutu Arya Nugraharesensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Next Post

‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails

Pertemuan Santos dan Oppenheimer, Refleksi atas Eden in the East dan The Lost Continent Finally Found

by Agung Sudarsa
December 15, 2025
0
Pertemuan Santos dan Oppenheimer, Refleksi atas Eden in the East dan The Lost Continent Finally Found

Dua Dunia, Satu Akar Dalam sejarah peradaban, sering kali kita terjebak pada dikotomi: Timur sebagai wilayah mitos dan spiritualitas, Barat...

Read moreDetails
Next Post
‘Day-O’: Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

'Day-O': Nyanyian Fajar dari Pelabuhan yang Lelah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co