ADA ironi yang saya rasa bikin trenyuh dan bukan semata kebetulan dalam polemik Mens Rea milik Panji Pragiwaksono. Pertunjukan yang dia niatkan sebagai kritik atas kebiasaan manusia menghakimi orang lain, justru berujung berbalik pada Panji yang dihakimi secara massal. Dan bukan sembarang dihakimi, melainkan dengan mekanisme yang sama persis seperti yang ia ungkapkan dalam kritiknya.
Di titik ini, Mens Rea tidak lagi berdiri sebagai karya komedi atau opini personal. Ia berubah menjadi peristiwa sosial. Semacam eksperimen psikologi massa yang berlangsung tanpa proposal riset, tanpa informed consent, tapi dengan partisipasi publik yang sangat antusias.
Dan seperti layaknya semua eksperimen sosial yang menyentuh saraf sensitif, hasilnya pasti ada sisi brutalnya. Ibarat tanpa sengaja, atau mungkin sengaja juga, memasang sebuah cermin besar yang dipasang di hadapan publik. Dan seperti biasa, tidak semua orang suka dengan bayangan yang mereka lihat. Seperti emak-emak selfie kemudian buru-buru menghapus hasilnya karena merasa penampilannya terlalu gendut dari berbagai sisi. Meski begitu realitanya, tapi emoh mengakuinya.
Mens Rea Konsep ke Mens Rea Metafora
Dalam hukum pidana, Mens Rea berarti niat batin. Ia penting, tapi tidak absolut. Niat tidak otomatis menghapus akibat. Namun Panji jelas-jelas tidak sedang memberi kuliah hukum. Ia menggunakan Mens Rea sebagai metafora sosial, suatu ajakan agar manusia tidak buru-buru menghukum sebelum mencoba memahami.
Masalahnya, saat ini kita tahu ruang publik digital bukan ruang seminar yang sarat dialog dan diskusi logis. Ia adalah ruang emosi. Algoritma tidak mengedepankan bobot dan esensi, melainkan reaksi. Potongan kalimat justru bisa lebih laku daripada penjelasan utuh. Dan di sinilah Mens Rea mulai bergeser makna. Dari suatu kritik atas kebiasaan sosial, menjadi pagelaran tuduhan, bahkan ancaman, terhadap nilai yang dianggap sakral.
Dalam psikologi massa, ada perbedaan antara cognitive listening dan identity listening. Yang pertama mendengar untuk memahami argumen. Yang kedua mendengar untuk mendeteksi ancaman terhadap identitas. Nah, niat batin audiens juga bisa terbaca di sini.
Massa dan Hilangnya Individu
Gustave Le Bon, jauh sebelum media sosial ada, sudah memperingatkan bahwa dalam kerumunan, individu kehilangan kapasitas reflektifnya. Dalam The Crowd : A Study of the Popular Mind (1895), ia menyebut massa bersifat impulsif, emosional, dan mudah digerakkan oleh simbol-simbol sederhana.
Sebagian penonton, Mens Rea terdengar sebagai kritik sosial.
Mereka boleh setuju, boleh tidak, tapi tetap berada di jalur diskusi. Sebagian lain mendengar isi Mens Rea sebagai serangan terhadap moral, agama, atau nilai hidup yang mereka pegang. Di titik ini, argumen tidak lagi penting. Yang langsung aktif adalah alarm adanya serangan. Le Bon sudah mengingatkan: massa tidak mencari kebenaran, ia mencari keyakinan. Dan keyakinan yang diserang akan dibela, bahkan dengan cara yang bertentangan dengan nilai yang diklaim dibela itu sendiri.
Begitu identitas terasa terancam, nalar biasanya minggir entah ke mana. Yang muncul ke depan adalah kemarahan moral. Dan seperti kata Hannah Arendt, ketika legitimasi rapuh, kekuasaan sering digantikan oleh kekerasan. Dalam konteks ini, kekerasan simbolik yang berupa hujatan, pelaporan, boikot, dan tekanan publik. Di sini, Panji tidak lagi diperlakukan sebagai individu dengan argumen, melainkan sebagai representasi ancaman. Dan kalau soal ada ancaman, massa tidak berdiskusi. Massa menghukum sebagai antisipasi terhadap ancaman.
Moral Outrage dan Kenikmatan Menghukum
Byung-Chul Han menyebut masyarakat hari ini hidup dalam ekonomi kemarahan. Emosi negatif, marah, tersinggung, merasa paling benar, bukan lagi sebagai gangguan, melainkan komoditas sosial. Untuk kepentingan ekonomi dan politik, kemarahan bisa diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi bersama.
Dalam konteks ini, menghukum bukan beban moral. Ia justru memberi kepuasan etis. Ada rasa lega, ada rasa benar, ada rasa bahwa para penghukum dan yang marah ini ada di pihak yang baik. Itulah mengapa perdebatan cepat berubah menjadi pelaporan. Diskusi berubah menjadi desakan sanksi. Karena yang dicari bukan pemahaman, melainkan katarsis. Dan di sinilah ironi Mens Rea mengemuka, kritik terhadap kebiasaan menghukum justru memicu pesta penghukuman.
Eksperimen Sosial yang Memantul Balik
Hannah Arendt membedakan power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama. Violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Dalam konteks masyarakat hari ini, hukum sering ditarik ke tengah kerumunan bukan sebagai alat keadilan, melainkan sebagai alat penenang. Fenomena ini dikenal sebagai penal populism, hukum bekerja mengikuti tekanan publik, bukan pertimbangan rasional. Yang penting bukan benar atau salah, tapi apakah kemarahan massa bisa diredam.
Ironisnya, ini persis kritik yang disampaikan Panji, dan persis mekanisme yang kemudian menjeratnya. Menarik, ketika kritik ini justru terkonfirmasi lewat nasib Panji sendiri. Tekanan publik muncul, laporan berdatangan. Dan diskusi perlahan bergeser, dari diskusi awal ke apa sih yang dia maksud, ke diskusi tentang bagaimana cara menghukumnya . Ruwet ini.
Apakah Panji sengaja menguji publik, kita tidak pernah tahu. Tapi secara empiris, Mens Rea berfungsi seperti eksperimen sosial hidup. Premisnya sederhana, manusia kini lebih cepat menghukum daripada memahami. Kita lihat saja hasilnya sekarang, Panji dihukum tanpa banyak upaya untuk memahami niatnya. Dalam filsafat, ini bisa dibaca sebagai performative contradiction yang produktif, kontradiksi yang justru membuktikan tesis. Argumentasi dan kritiknya runtuh secara sosial, tapi menang secara teoritis.
Lebih jauh lagi, polemik ini juga menguji para pengkritiknya. Bukan lewat debat intelektual untuk mengetahui isi kepalanya, melainkan lewat cara mereka bereaksi. Ketahuan di sini siapa yang mengkritik argumen, siapa yang menyerang pribadi. Siapa yang membuka ruang dialog, siapa pula yang menutupnya dengan palu moral. Di situ, publik bukan hanya penonton, mereka adalah partisipan yang sedang membuka kartu masing-masing. Jadi di sini, Mens Rea menjadi cermin dua arah.
Jadi, Siapa yang Salah?
Pertanyaan ini mungkin justru keliru. Polemik Mens Rea tidak terutama tentang siapa benar atau salah. Ini tentang cara kita sebagai masyarakat merespons perbedaan. Secara sosial, Panji mungkin kalah. Ia dihujat, dilaporkan, dan diposisikan sebagai pihak bermasalah. Tapi secara wacana, ada sesuatu yang justru terbuka lebar, terbuka sudah bagaimana cara kita menghukum. Dan mungkin, itulah yang paling mengganggu dari Mens Rea, sepertinya bukan karena ia menyerang nilai tertentu, melainkan karena ia memaksa kita melihat wajah kita sendiri.
Dalam polemik Mens Rea, Panji bukan hanya diuji oleh massa, sekaligus ia juga membuat massa mengungkapkan caranya sendiri dalam menghukum. Yang kita saksikan bukan sekadar konflik antara komika dan publik, tetapi benturan antara refleksi dan reaksi, juga antara nalar dan identitas. Dan barangkali pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal Mens Rea menghina apa dan siapa,
melainkan apakah kita masih sanggup menahan diri untuk berpikir sebelum ikut-ikutan melempar batu? Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole


























