23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mens Rea’: Ketika Kritik Menguji Pengkritiknya Sendiri

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA ironi yang  saya rasa bikin trenyuh dan bukan semata kebetulan dalam polemik Mens Rea milik Panji Pragiwaksono. Pertunjukan yang dia niatkan sebagai kritik atas kebiasaan manusia menghakimi orang lain, justru berujung berbalik  pada Panji yang dihakimi secara massal. Dan bukan sembarang dihakimi, melainkan dengan mekanisme yang sama persis seperti yang ia ungkapkan dalam kritiknya.

Di titik ini, Mens Rea tidak lagi berdiri sebagai karya komedi atau opini personal. Ia berubah menjadi peristiwa sosial. Semacam eksperimen psikologi massa yang berlangsung tanpa proposal riset, tanpa informed consent, tapi dengan partisipasi publik yang sangat antusias.

Dan seperti layaknya semua eksperimen sosial yang menyentuh saraf sensitif, hasilnya pasti ada sisi brutalnya. Ibarat tanpa sengaja, atau mungkin sengaja juga, memasang sebuah cermin besar yang dipasang di hadapan publik. Dan seperti biasa, tidak semua orang suka dengan bayangan yang mereka lihat. Seperti emak-emak selfie kemudian buru-buru menghapus hasilnya karena merasa penampilannya terlalu gendut dari berbagai sisi.  Meski begitu realitanya, tapi emoh mengakuinya.

Mens Rea Konsep ke Mens Rea Metafora

Dalam hukum pidana, Mens Rea berarti niat batin. Ia penting, tapi tidak absolut. Niat tidak otomatis menghapus akibat. Namun Panji jelas-jelas tidak sedang memberi kuliah hukum. Ia menggunakan Mens Rea sebagai metafora sosial, suatu ajakan agar manusia tidak buru-buru menghukum sebelum mencoba memahami.

Masalahnya, saat ini kita tahu ruang publik digital bukan ruang seminar yang sarat dialog dan diskusi logis. Ia adalah ruang emosi. Algoritma tidak mengedepankan bobot dan esensi, melainkan reaksi. Potongan kalimat justru bisa lebih laku daripada penjelasan utuh. Dan di sinilah Mens Rea mulai bergeser makna. Dari suatu kritik atas kebiasaan sosial, menjadi pagelaran tuduhan, bahkan ancaman, terhadap nilai yang dianggap sakral.

Dalam psikologi massa, ada perbedaan antara cognitive listening dan identity listening. Yang pertama mendengar untuk memahami argumen. Yang kedua mendengar untuk mendeteksi ancaman terhadap identitas. Nah, niat batin audiens juga bisa terbaca di sini.

Massa dan Hilangnya Individu

Gustave Le Bon, jauh sebelum media sosial ada, sudah memperingatkan bahwa dalam kerumunan, individu kehilangan kapasitas reflektifnya. Dalam The Crowd : A Study of the Popular Mind (1895), ia menyebut massa bersifat impulsif, emosional, dan mudah digerakkan oleh simbol-simbol sederhana.

Sebagian penonton, Mens Rea terdengar sebagai kritik sosial.

Mereka boleh setuju, boleh tidak, tapi tetap berada di jalur diskusi. Sebagian lain mendengar isi Mens Rea sebagai serangan terhadap moral, agama, atau nilai hidup yang mereka pegang. Di titik ini, argumen tidak lagi penting. Yang langsung aktif adalah alarm adanya serangan. Le Bon sudah mengingatkan: massa tidak mencari kebenaran, ia mencari keyakinan. Dan keyakinan yang diserang akan dibela, bahkan dengan cara yang bertentangan dengan nilai yang diklaim dibela itu sendiri.

Begitu identitas terasa terancam, nalar biasanya minggir entah ke mana. Yang muncul ke depan adalah kemarahan moral. Dan seperti kata Hannah Arendt, ketika legitimasi rapuh, kekuasaan sering digantikan oleh kekerasan.   Dalam konteks ini, kekerasan simbolik yang berupa hujatan, pelaporan, boikot, dan tekanan publik. Di sini, Panji tidak lagi diperlakukan sebagai individu dengan argumen, melainkan sebagai representasi ancaman. Dan kalau soal ada ancaman, massa tidak berdiskusi. Massa menghukum sebagai antisipasi terhadap ancaman.

Moral Outrage dan Kenikmatan Menghukum

Byung-Chul Han menyebut masyarakat hari ini hidup dalam ekonomi kemarahan. Emosi negatif, marah, tersinggung, merasa paling benar, bukan lagi sebagai gangguan, melainkan komoditas sosial. Untuk kepentingan ekonomi dan politik, kemarahan bisa diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi bersama. 

Dalam konteks ini, menghukum bukan beban moral. Ia justru memberi kepuasan etis. Ada rasa lega, ada rasa benar, ada rasa bahwa para penghukum dan yang marah ini ada di pihak yang baik.  Itulah mengapa perdebatan cepat berubah menjadi pelaporan. Diskusi berubah menjadi desakan sanksi. Karena yang dicari bukan pemahaman, melainkan katarsis. Dan di sinilah ironi Mens Rea mengemuka,  kritik terhadap kebiasaan menghukum justru memicu pesta penghukuman.

Eksperimen Sosial yang Memantul Balik

Hannah Arendt membedakan power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama. Violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Dalam konteks masyarakat hari ini, hukum sering ditarik ke tengah kerumunan bukan sebagai alat keadilan, melainkan sebagai alat penenang.  Fenomena ini dikenal sebagai penal populism,  hukum bekerja mengikuti tekanan publik, bukan pertimbangan rasional. Yang penting bukan benar atau salah, tapi apakah kemarahan massa bisa diredam. 

Ironisnya, ini persis kritik yang disampaikan Panji, dan persis mekanisme yang kemudian menjeratnya. Menarik, ketika kritik ini justru terkonfirmasi lewat nasib Panji sendiri. Tekanan publik muncul, laporan berdatangan. Dan diskusi perlahan bergeser, dari diskusi awal ke apa sih  yang dia maksud, ke diskusi tentang bagaimana cara menghukumnya . Ruwet ini.

Apakah Panji sengaja menguji publik, kita tidak pernah tahu. Tapi secara empiris, Mens Rea berfungsi seperti eksperimen sosial hidup. Premisnya sederhana, manusia kini lebih cepat menghukum daripada memahami.  Kita lihat saja hasilnya sekarang, Panji dihukum tanpa banyak upaya untuk memahami niatnya. Dalam filsafat, ini bisa dibaca sebagai performative contradiction yang produktif, kontradiksi yang justru membuktikan tesis. Argumentasi dan kritiknya runtuh secara sosial, tapi menang secara teoritis.  

Lebih jauh lagi, polemik ini juga menguji para pengkritiknya. Bukan lewat debat intelektual untuk mengetahui isi kepalanya, melainkan lewat cara mereka bereaksi. Ketahuan di sini siapa yang mengkritik argumen, siapa yang menyerang pribadi. Siapa yang membuka ruang dialog, siapa pula yang menutupnya dengan palu moral. Di situ, publik bukan hanya penonton, mereka adalah partisipan yang sedang membuka kartu masing-masing. Jadi di sini, Mens Rea menjadi cermin dua arah.

Jadi, Siapa yang Salah?

Pertanyaan ini mungkin justru keliru. Polemik Mens Rea tidak terutama tentang siapa benar atau salah. Ini tentang cara kita sebagai masyarakat merespons perbedaan.  Secara sosial, Panji mungkin kalah. Ia dihujat, dilaporkan, dan diposisikan sebagai pihak bermasalah. Tapi secara wacana, ada sesuatu yang justru terbuka lebar, terbuka sudah bagaimana cara kita menghukum. Dan mungkin, itulah yang paling mengganggu dari Mens Rea, sepertinya bukan karena ia menyerang nilai tertentu, melainkan karena ia memaksa kita melihat wajah kita sendiri.

Dalam polemik Mens Rea, Panji bukan hanya diuji oleh massa, sekaligus ia juga membuat massa mengungkapkan caranya sendiri dalam menghukum. Yang kita saksikan bukan sekadar konflik antara komika dan publik, tetapi benturan antara refleksi dan reaksi, juga  antara nalar dan identitas.  Dan barangkali pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal Mens Rea  menghina apa dan siapa,
melainkan apakah kita masih sanggup menahan diri untuk berpikir sebelum ikut-ikutan melempar batu? Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: komedikomediankritikMens ReaPanji Pragiwaksono
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Next Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co