24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mens Rea’: Ketika Kritik Menguji Pengkritiknya Sendiri

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA ironi yang  saya rasa bikin trenyuh dan bukan semata kebetulan dalam polemik Mens Rea milik Panji Pragiwaksono. Pertunjukan yang dia niatkan sebagai kritik atas kebiasaan manusia menghakimi orang lain, justru berujung berbalik  pada Panji yang dihakimi secara massal. Dan bukan sembarang dihakimi, melainkan dengan mekanisme yang sama persis seperti yang ia ungkapkan dalam kritiknya.

Di titik ini, Mens Rea tidak lagi berdiri sebagai karya komedi atau opini personal. Ia berubah menjadi peristiwa sosial. Semacam eksperimen psikologi massa yang berlangsung tanpa proposal riset, tanpa informed consent, tapi dengan partisipasi publik yang sangat antusias.

Dan seperti layaknya semua eksperimen sosial yang menyentuh saraf sensitif, hasilnya pasti ada sisi brutalnya. Ibarat tanpa sengaja, atau mungkin sengaja juga, memasang sebuah cermin besar yang dipasang di hadapan publik. Dan seperti biasa, tidak semua orang suka dengan bayangan yang mereka lihat. Seperti emak-emak selfie kemudian buru-buru menghapus hasilnya karena merasa penampilannya terlalu gendut dari berbagai sisi.  Meski begitu realitanya, tapi emoh mengakuinya.

Mens Rea Konsep ke Mens Rea Metafora

Dalam hukum pidana, Mens Rea berarti niat batin. Ia penting, tapi tidak absolut. Niat tidak otomatis menghapus akibat. Namun Panji jelas-jelas tidak sedang memberi kuliah hukum. Ia menggunakan Mens Rea sebagai metafora sosial, suatu ajakan agar manusia tidak buru-buru menghukum sebelum mencoba memahami.

Masalahnya, saat ini kita tahu ruang publik digital bukan ruang seminar yang sarat dialog dan diskusi logis. Ia adalah ruang emosi. Algoritma tidak mengedepankan bobot dan esensi, melainkan reaksi. Potongan kalimat justru bisa lebih laku daripada penjelasan utuh. Dan di sinilah Mens Rea mulai bergeser makna. Dari suatu kritik atas kebiasaan sosial, menjadi pagelaran tuduhan, bahkan ancaman, terhadap nilai yang dianggap sakral.

Dalam psikologi massa, ada perbedaan antara cognitive listening dan identity listening. Yang pertama mendengar untuk memahami argumen. Yang kedua mendengar untuk mendeteksi ancaman terhadap identitas. Nah, niat batin audiens juga bisa terbaca di sini.

Massa dan Hilangnya Individu

Gustave Le Bon, jauh sebelum media sosial ada, sudah memperingatkan bahwa dalam kerumunan, individu kehilangan kapasitas reflektifnya. Dalam The Crowd : A Study of the Popular Mind (1895), ia menyebut massa bersifat impulsif, emosional, dan mudah digerakkan oleh simbol-simbol sederhana.

Sebagian penonton, Mens Rea terdengar sebagai kritik sosial.

Mereka boleh setuju, boleh tidak, tapi tetap berada di jalur diskusi. Sebagian lain mendengar isi Mens Rea sebagai serangan terhadap moral, agama, atau nilai hidup yang mereka pegang. Di titik ini, argumen tidak lagi penting. Yang langsung aktif adalah alarm adanya serangan. Le Bon sudah mengingatkan: massa tidak mencari kebenaran, ia mencari keyakinan. Dan keyakinan yang diserang akan dibela, bahkan dengan cara yang bertentangan dengan nilai yang diklaim dibela itu sendiri.

Begitu identitas terasa terancam, nalar biasanya minggir entah ke mana. Yang muncul ke depan adalah kemarahan moral. Dan seperti kata Hannah Arendt, ketika legitimasi rapuh, kekuasaan sering digantikan oleh kekerasan.   Dalam konteks ini, kekerasan simbolik yang berupa hujatan, pelaporan, boikot, dan tekanan publik. Di sini, Panji tidak lagi diperlakukan sebagai individu dengan argumen, melainkan sebagai representasi ancaman. Dan kalau soal ada ancaman, massa tidak berdiskusi. Massa menghukum sebagai antisipasi terhadap ancaman.

Moral Outrage dan Kenikmatan Menghukum

Byung-Chul Han menyebut masyarakat hari ini hidup dalam ekonomi kemarahan. Emosi negatif, marah, tersinggung, merasa paling benar, bukan lagi sebagai gangguan, melainkan komoditas sosial. Untuk kepentingan ekonomi dan politik, kemarahan bisa diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi bersama. 

Dalam konteks ini, menghukum bukan beban moral. Ia justru memberi kepuasan etis. Ada rasa lega, ada rasa benar, ada rasa bahwa para penghukum dan yang marah ini ada di pihak yang baik.  Itulah mengapa perdebatan cepat berubah menjadi pelaporan. Diskusi berubah menjadi desakan sanksi. Karena yang dicari bukan pemahaman, melainkan katarsis. Dan di sinilah ironi Mens Rea mengemuka,  kritik terhadap kebiasaan menghukum justru memicu pesta penghukuman.

Eksperimen Sosial yang Memantul Balik

Hannah Arendt membedakan power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama. Violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Dalam konteks masyarakat hari ini, hukum sering ditarik ke tengah kerumunan bukan sebagai alat keadilan, melainkan sebagai alat penenang.  Fenomena ini dikenal sebagai penal populism,  hukum bekerja mengikuti tekanan publik, bukan pertimbangan rasional. Yang penting bukan benar atau salah, tapi apakah kemarahan massa bisa diredam. 

Ironisnya, ini persis kritik yang disampaikan Panji, dan persis mekanisme yang kemudian menjeratnya. Menarik, ketika kritik ini justru terkonfirmasi lewat nasib Panji sendiri. Tekanan publik muncul, laporan berdatangan. Dan diskusi perlahan bergeser, dari diskusi awal ke apa sih  yang dia maksud, ke diskusi tentang bagaimana cara menghukumnya . Ruwet ini.

Apakah Panji sengaja menguji publik, kita tidak pernah tahu. Tapi secara empiris, Mens Rea berfungsi seperti eksperimen sosial hidup. Premisnya sederhana, manusia kini lebih cepat menghukum daripada memahami.  Kita lihat saja hasilnya sekarang, Panji dihukum tanpa banyak upaya untuk memahami niatnya. Dalam filsafat, ini bisa dibaca sebagai performative contradiction yang produktif, kontradiksi yang justru membuktikan tesis. Argumentasi dan kritiknya runtuh secara sosial, tapi menang secara teoritis.  

Lebih jauh lagi, polemik ini juga menguji para pengkritiknya. Bukan lewat debat intelektual untuk mengetahui isi kepalanya, melainkan lewat cara mereka bereaksi. Ketahuan di sini siapa yang mengkritik argumen, siapa yang menyerang pribadi. Siapa yang membuka ruang dialog, siapa pula yang menutupnya dengan palu moral. Di situ, publik bukan hanya penonton, mereka adalah partisipan yang sedang membuka kartu masing-masing. Jadi di sini, Mens Rea menjadi cermin dua arah.

Jadi, Siapa yang Salah?

Pertanyaan ini mungkin justru keliru. Polemik Mens Rea tidak terutama tentang siapa benar atau salah. Ini tentang cara kita sebagai masyarakat merespons perbedaan.  Secara sosial, Panji mungkin kalah. Ia dihujat, dilaporkan, dan diposisikan sebagai pihak bermasalah. Tapi secara wacana, ada sesuatu yang justru terbuka lebar, terbuka sudah bagaimana cara kita menghukum. Dan mungkin, itulah yang paling mengganggu dari Mens Rea, sepertinya bukan karena ia menyerang nilai tertentu, melainkan karena ia memaksa kita melihat wajah kita sendiri.

Dalam polemik Mens Rea, Panji bukan hanya diuji oleh massa, sekaligus ia juga membuat massa mengungkapkan caranya sendiri dalam menghukum. Yang kita saksikan bukan sekadar konflik antara komika dan publik, tetapi benturan antara refleksi dan reaksi, juga  antara nalar dan identitas.  Dan barangkali pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal Mens Rea  menghina apa dan siapa,
melainkan apakah kita masih sanggup menahan diri untuk berpikir sebelum ikut-ikutan melempar batu? Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: komedikomediankritikMens ReaPanji Pragiwaksono
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Next Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co