3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mens Rea’: Ketika Kritik Menguji Pengkritiknya Sendiri

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA ironi yang  saya rasa bikin trenyuh dan bukan semata kebetulan dalam polemik Mens Rea milik Panji Pragiwaksono. Pertunjukan yang dia niatkan sebagai kritik atas kebiasaan manusia menghakimi orang lain, justru berujung berbalik  pada Panji yang dihakimi secara massal. Dan bukan sembarang dihakimi, melainkan dengan mekanisme yang sama persis seperti yang ia ungkapkan dalam kritiknya.

Di titik ini, Mens Rea tidak lagi berdiri sebagai karya komedi atau opini personal. Ia berubah menjadi peristiwa sosial. Semacam eksperimen psikologi massa yang berlangsung tanpa proposal riset, tanpa informed consent, tapi dengan partisipasi publik yang sangat antusias.

Dan seperti layaknya semua eksperimen sosial yang menyentuh saraf sensitif, hasilnya pasti ada sisi brutalnya. Ibarat tanpa sengaja, atau mungkin sengaja juga, memasang sebuah cermin besar yang dipasang di hadapan publik. Dan seperti biasa, tidak semua orang suka dengan bayangan yang mereka lihat. Seperti emak-emak selfie kemudian buru-buru menghapus hasilnya karena merasa penampilannya terlalu gendut dari berbagai sisi.  Meski begitu realitanya, tapi emoh mengakuinya.

Mens Rea Konsep ke Mens Rea Metafora

Dalam hukum pidana, Mens Rea berarti niat batin. Ia penting, tapi tidak absolut. Niat tidak otomatis menghapus akibat. Namun Panji jelas-jelas tidak sedang memberi kuliah hukum. Ia menggunakan Mens Rea sebagai metafora sosial, suatu ajakan agar manusia tidak buru-buru menghukum sebelum mencoba memahami.

Masalahnya, saat ini kita tahu ruang publik digital bukan ruang seminar yang sarat dialog dan diskusi logis. Ia adalah ruang emosi. Algoritma tidak mengedepankan bobot dan esensi, melainkan reaksi. Potongan kalimat justru bisa lebih laku daripada penjelasan utuh. Dan di sinilah Mens Rea mulai bergeser makna. Dari suatu kritik atas kebiasaan sosial, menjadi pagelaran tuduhan, bahkan ancaman, terhadap nilai yang dianggap sakral.

Dalam psikologi massa, ada perbedaan antara cognitive listening dan identity listening. Yang pertama mendengar untuk memahami argumen. Yang kedua mendengar untuk mendeteksi ancaman terhadap identitas. Nah, niat batin audiens juga bisa terbaca di sini.

Massa dan Hilangnya Individu

Gustave Le Bon, jauh sebelum media sosial ada, sudah memperingatkan bahwa dalam kerumunan, individu kehilangan kapasitas reflektifnya. Dalam The Crowd : A Study of the Popular Mind (1895), ia menyebut massa bersifat impulsif, emosional, dan mudah digerakkan oleh simbol-simbol sederhana.

Sebagian penonton, Mens Rea terdengar sebagai kritik sosial.

Mereka boleh setuju, boleh tidak, tapi tetap berada di jalur diskusi. Sebagian lain mendengar isi Mens Rea sebagai serangan terhadap moral, agama, atau nilai hidup yang mereka pegang. Di titik ini, argumen tidak lagi penting. Yang langsung aktif adalah alarm adanya serangan. Le Bon sudah mengingatkan: massa tidak mencari kebenaran, ia mencari keyakinan. Dan keyakinan yang diserang akan dibela, bahkan dengan cara yang bertentangan dengan nilai yang diklaim dibela itu sendiri.

Begitu identitas terasa terancam, nalar biasanya minggir entah ke mana. Yang muncul ke depan adalah kemarahan moral. Dan seperti kata Hannah Arendt, ketika legitimasi rapuh, kekuasaan sering digantikan oleh kekerasan.   Dalam konteks ini, kekerasan simbolik yang berupa hujatan, pelaporan, boikot, dan tekanan publik. Di sini, Panji tidak lagi diperlakukan sebagai individu dengan argumen, melainkan sebagai representasi ancaman. Dan kalau soal ada ancaman, massa tidak berdiskusi. Massa menghukum sebagai antisipasi terhadap ancaman.

Moral Outrage dan Kenikmatan Menghukum

Byung-Chul Han menyebut masyarakat hari ini hidup dalam ekonomi kemarahan. Emosi negatif, marah, tersinggung, merasa paling benar, bukan lagi sebagai gangguan, melainkan komoditas sosial. Untuk kepentingan ekonomi dan politik, kemarahan bisa diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi bersama. 

Dalam konteks ini, menghukum bukan beban moral. Ia justru memberi kepuasan etis. Ada rasa lega, ada rasa benar, ada rasa bahwa para penghukum dan yang marah ini ada di pihak yang baik.  Itulah mengapa perdebatan cepat berubah menjadi pelaporan. Diskusi berubah menjadi desakan sanksi. Karena yang dicari bukan pemahaman, melainkan katarsis. Dan di sinilah ironi Mens Rea mengemuka,  kritik terhadap kebiasaan menghukum justru memicu pesta penghukuman.

Eksperimen Sosial yang Memantul Balik

Hannah Arendt membedakan power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama. Violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Dalam konteks masyarakat hari ini, hukum sering ditarik ke tengah kerumunan bukan sebagai alat keadilan, melainkan sebagai alat penenang.  Fenomena ini dikenal sebagai penal populism,  hukum bekerja mengikuti tekanan publik, bukan pertimbangan rasional. Yang penting bukan benar atau salah, tapi apakah kemarahan massa bisa diredam. 

Ironisnya, ini persis kritik yang disampaikan Panji, dan persis mekanisme yang kemudian menjeratnya. Menarik, ketika kritik ini justru terkonfirmasi lewat nasib Panji sendiri. Tekanan publik muncul, laporan berdatangan. Dan diskusi perlahan bergeser, dari diskusi awal ke apa sih  yang dia maksud, ke diskusi tentang bagaimana cara menghukumnya . Ruwet ini.

Apakah Panji sengaja menguji publik, kita tidak pernah tahu. Tapi secara empiris, Mens Rea berfungsi seperti eksperimen sosial hidup. Premisnya sederhana, manusia kini lebih cepat menghukum daripada memahami.  Kita lihat saja hasilnya sekarang, Panji dihukum tanpa banyak upaya untuk memahami niatnya. Dalam filsafat, ini bisa dibaca sebagai performative contradiction yang produktif, kontradiksi yang justru membuktikan tesis. Argumentasi dan kritiknya runtuh secara sosial, tapi menang secara teoritis.  

Lebih jauh lagi, polemik ini juga menguji para pengkritiknya. Bukan lewat debat intelektual untuk mengetahui isi kepalanya, melainkan lewat cara mereka bereaksi. Ketahuan di sini siapa yang mengkritik argumen, siapa yang menyerang pribadi. Siapa yang membuka ruang dialog, siapa pula yang menutupnya dengan palu moral. Di situ, publik bukan hanya penonton, mereka adalah partisipan yang sedang membuka kartu masing-masing. Jadi di sini, Mens Rea menjadi cermin dua arah.

Jadi, Siapa yang Salah?

Pertanyaan ini mungkin justru keliru. Polemik Mens Rea tidak terutama tentang siapa benar atau salah. Ini tentang cara kita sebagai masyarakat merespons perbedaan.  Secara sosial, Panji mungkin kalah. Ia dihujat, dilaporkan, dan diposisikan sebagai pihak bermasalah. Tapi secara wacana, ada sesuatu yang justru terbuka lebar, terbuka sudah bagaimana cara kita menghukum. Dan mungkin, itulah yang paling mengganggu dari Mens Rea, sepertinya bukan karena ia menyerang nilai tertentu, melainkan karena ia memaksa kita melihat wajah kita sendiri.

Dalam polemik Mens Rea, Panji bukan hanya diuji oleh massa, sekaligus ia juga membuat massa mengungkapkan caranya sendiri dalam menghukum. Yang kita saksikan bukan sekadar konflik antara komika dan publik, tetapi benturan antara refleksi dan reaksi, juga  antara nalar dan identitas.  Dan barangkali pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal Mens Rea  menghina apa dan siapa,
melainkan apakah kita masih sanggup menahan diri untuk berpikir sebelum ikut-ikutan melempar batu? Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: komedikomediankritikMens ReaPanji Pragiwaksono
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Next Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co