3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mens Rea’: Ketika Kritik Menguji Pengkritiknya Sendiri

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 26, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA ironi yang  saya rasa bikin trenyuh dan bukan semata kebetulan dalam polemik Mens Rea milik Panji Pragiwaksono. Pertunjukan yang dia niatkan sebagai kritik atas kebiasaan manusia menghakimi orang lain, justru berujung berbalik  pada Panji yang dihakimi secara massal. Dan bukan sembarang dihakimi, melainkan dengan mekanisme yang sama persis seperti yang ia ungkapkan dalam kritiknya.

Di titik ini, Mens Rea tidak lagi berdiri sebagai karya komedi atau opini personal. Ia berubah menjadi peristiwa sosial. Semacam eksperimen psikologi massa yang berlangsung tanpa proposal riset, tanpa informed consent, tapi dengan partisipasi publik yang sangat antusias.

Dan seperti layaknya semua eksperimen sosial yang menyentuh saraf sensitif, hasilnya pasti ada sisi brutalnya. Ibarat tanpa sengaja, atau mungkin sengaja juga, memasang sebuah cermin besar yang dipasang di hadapan publik. Dan seperti biasa, tidak semua orang suka dengan bayangan yang mereka lihat. Seperti emak-emak selfie kemudian buru-buru menghapus hasilnya karena merasa penampilannya terlalu gendut dari berbagai sisi.  Meski begitu realitanya, tapi emoh mengakuinya.

Mens Rea Konsep ke Mens Rea Metafora

Dalam hukum pidana, Mens Rea berarti niat batin. Ia penting, tapi tidak absolut. Niat tidak otomatis menghapus akibat. Namun Panji jelas-jelas tidak sedang memberi kuliah hukum. Ia menggunakan Mens Rea sebagai metafora sosial, suatu ajakan agar manusia tidak buru-buru menghukum sebelum mencoba memahami.

Masalahnya, saat ini kita tahu ruang publik digital bukan ruang seminar yang sarat dialog dan diskusi logis. Ia adalah ruang emosi. Algoritma tidak mengedepankan bobot dan esensi, melainkan reaksi. Potongan kalimat justru bisa lebih laku daripada penjelasan utuh. Dan di sinilah Mens Rea mulai bergeser makna. Dari suatu kritik atas kebiasaan sosial, menjadi pagelaran tuduhan, bahkan ancaman, terhadap nilai yang dianggap sakral.

Dalam psikologi massa, ada perbedaan antara cognitive listening dan identity listening. Yang pertama mendengar untuk memahami argumen. Yang kedua mendengar untuk mendeteksi ancaman terhadap identitas. Nah, niat batin audiens juga bisa terbaca di sini.

Massa dan Hilangnya Individu

Gustave Le Bon, jauh sebelum media sosial ada, sudah memperingatkan bahwa dalam kerumunan, individu kehilangan kapasitas reflektifnya. Dalam The Crowd : A Study of the Popular Mind (1895), ia menyebut massa bersifat impulsif, emosional, dan mudah digerakkan oleh simbol-simbol sederhana.

Sebagian penonton, Mens Rea terdengar sebagai kritik sosial.

Mereka boleh setuju, boleh tidak, tapi tetap berada di jalur diskusi. Sebagian lain mendengar isi Mens Rea sebagai serangan terhadap moral, agama, atau nilai hidup yang mereka pegang. Di titik ini, argumen tidak lagi penting. Yang langsung aktif adalah alarm adanya serangan. Le Bon sudah mengingatkan: massa tidak mencari kebenaran, ia mencari keyakinan. Dan keyakinan yang diserang akan dibela, bahkan dengan cara yang bertentangan dengan nilai yang diklaim dibela itu sendiri.

Begitu identitas terasa terancam, nalar biasanya minggir entah ke mana. Yang muncul ke depan adalah kemarahan moral. Dan seperti kata Hannah Arendt, ketika legitimasi rapuh, kekuasaan sering digantikan oleh kekerasan.   Dalam konteks ini, kekerasan simbolik yang berupa hujatan, pelaporan, boikot, dan tekanan publik. Di sini, Panji tidak lagi diperlakukan sebagai individu dengan argumen, melainkan sebagai representasi ancaman. Dan kalau soal ada ancaman, massa tidak berdiskusi. Massa menghukum sebagai antisipasi terhadap ancaman.

Moral Outrage dan Kenikmatan Menghukum

Byung-Chul Han menyebut masyarakat hari ini hidup dalam ekonomi kemarahan. Emosi negatif, marah, tersinggung, merasa paling benar, bukan lagi sebagai gangguan, melainkan komoditas sosial. Untuk kepentingan ekonomi dan politik, kemarahan bisa diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi bersama. 

Dalam konteks ini, menghukum bukan beban moral. Ia justru memberi kepuasan etis. Ada rasa lega, ada rasa benar, ada rasa bahwa para penghukum dan yang marah ini ada di pihak yang baik.  Itulah mengapa perdebatan cepat berubah menjadi pelaporan. Diskusi berubah menjadi desakan sanksi. Karena yang dicari bukan pemahaman, melainkan katarsis. Dan di sinilah ironi Mens Rea mengemuka,  kritik terhadap kebiasaan menghukum justru memicu pesta penghukuman.

Eksperimen Sosial yang Memantul Balik

Hannah Arendt membedakan power dan violence. Power lahir dari legitimasi bersama. Violence muncul ketika legitimasi itu rapuh. Dalam konteks masyarakat hari ini, hukum sering ditarik ke tengah kerumunan bukan sebagai alat keadilan, melainkan sebagai alat penenang.  Fenomena ini dikenal sebagai penal populism,  hukum bekerja mengikuti tekanan publik, bukan pertimbangan rasional. Yang penting bukan benar atau salah, tapi apakah kemarahan massa bisa diredam. 

Ironisnya, ini persis kritik yang disampaikan Panji, dan persis mekanisme yang kemudian menjeratnya. Menarik, ketika kritik ini justru terkonfirmasi lewat nasib Panji sendiri. Tekanan publik muncul, laporan berdatangan. Dan diskusi perlahan bergeser, dari diskusi awal ke apa sih  yang dia maksud, ke diskusi tentang bagaimana cara menghukumnya . Ruwet ini.

Apakah Panji sengaja menguji publik, kita tidak pernah tahu. Tapi secara empiris, Mens Rea berfungsi seperti eksperimen sosial hidup. Premisnya sederhana, manusia kini lebih cepat menghukum daripada memahami.  Kita lihat saja hasilnya sekarang, Panji dihukum tanpa banyak upaya untuk memahami niatnya. Dalam filsafat, ini bisa dibaca sebagai performative contradiction yang produktif, kontradiksi yang justru membuktikan tesis. Argumentasi dan kritiknya runtuh secara sosial, tapi menang secara teoritis.  

Lebih jauh lagi, polemik ini juga menguji para pengkritiknya. Bukan lewat debat intelektual untuk mengetahui isi kepalanya, melainkan lewat cara mereka bereaksi. Ketahuan di sini siapa yang mengkritik argumen, siapa yang menyerang pribadi. Siapa yang membuka ruang dialog, siapa pula yang menutupnya dengan palu moral. Di situ, publik bukan hanya penonton, mereka adalah partisipan yang sedang membuka kartu masing-masing. Jadi di sini, Mens Rea menjadi cermin dua arah.

Jadi, Siapa yang Salah?

Pertanyaan ini mungkin justru keliru. Polemik Mens Rea tidak terutama tentang siapa benar atau salah. Ini tentang cara kita sebagai masyarakat merespons perbedaan.  Secara sosial, Panji mungkin kalah. Ia dihujat, dilaporkan, dan diposisikan sebagai pihak bermasalah. Tapi secara wacana, ada sesuatu yang justru terbuka lebar, terbuka sudah bagaimana cara kita menghukum. Dan mungkin, itulah yang paling mengganggu dari Mens Rea, sepertinya bukan karena ia menyerang nilai tertentu, melainkan karena ia memaksa kita melihat wajah kita sendiri.

Dalam polemik Mens Rea, Panji bukan hanya diuji oleh massa, sekaligus ia juga membuat massa mengungkapkan caranya sendiri dalam menghukum. Yang kita saksikan bukan sekadar konflik antara komika dan publik, tetapi benturan antara refleksi dan reaksi, juga  antara nalar dan identitas.  Dan barangkali pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal Mens Rea  menghina apa dan siapa,
melainkan apakah kita masih sanggup menahan diri untuk berpikir sebelum ikut-ikutan melempar batu? Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: komedikomediankritikMens ReaPanji Pragiwaksono
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Next Post

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

‘Citta Nirbhana’: Saat Mahasiswa Pendidikan Sendratasik UPMI Bali Merayakan Pembebasan Batin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co