28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 16, 2026
in Esai
Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.” The Gospel of Mahamaya – Anand Krishna

PERAYAAN Foundation Day ke-36 Yayayasan Anand Ashram di Anand Ashram Ubud, Rabu 14 Januari 2026 telah usai. Malam turun perlahan, seperti tirai yang menutup sebuah panggung sakral. Chanting masih terasa bergema di dada, mantra dari fire purification seolah masih terngiang di telinga, dan wajah Guruji Anand Krishna di layar—dari video yang diputar—masih terasa hadir, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai kesadaran yang hidup.

Dalam suasana itulah, sebuah quote dibacakan dari buku The Gospel of Mahamaya karya Guruji. Pertama dalam bahasa Inggris, lalu dalam bahasa Indonesia, karena ada sahabat-sahabat dari berbagai bangsa yang ikut merayakan:

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.”

Ketika kau percaya pada uang dan mulai berpikir tanpa uang kau tidak dapat berbuat sesuatu, maka kau kehilangan kepercayaanmu terhadap Tuhan, sesama manusia, dan dirimu sendiri.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak bombastis. Bahkan bisa terasa klise bila dibaca sepintas. Namun malam itu, di tengah keheningan kolektif setelah chanting dan fire purification, kata-kata tersebut seperti menemukan ruangnya sendiri di dalam batin.

Saat Kenyamanan Tidak Lagi Cukup

Dalam perjalanan pulang dari ashram ke rumah, renungan itu bertaut dengan pengalaman hidup saya sendiri. Hampir dua puluh tahun saya bekerja di sebuah BUMN. Fasilitas yang saya terima sangat layak untuk ukuran sebuah kenyamanan—bahkan sebuah kemewahan jika dibandingkan dengan latar belakang hidup saya hingga SMA yang sangat memprihatinkan. Stabilitas ekonomi tercapai. Rasa aman material relatif terpenuhi. Di mata banyak orang, hidup saya bisa disebut berhasil dan mapan.

Dan memang benar, secara lahiriah, kita butuh uang. Ia memberi ruang bernapas, martabat sosial, dan kemudahan hidup. Itu fakta. Namun justru dari dalam kecukupan itulah, pelan-pelan saya menyadari kebenaran kalimat berikutnya: uang bukan segalanya.

Ada sesuatu yang hampa. Ada sesuatu yang belum saya dapatkan. Saya belum bisa menamainya saat itu. Apakah itu kebahagiaan sejati? Saya belum tahu. Yang jelas, ada kejenuhan yang tak bisa dijelaskan oleh logika karier, target, atau grafik penghasilan—kejenuhan tingkat dewa, jika boleh saya menyebutnya begitu.

Saya tidak sedang menderita. Tapi juga tidak sungguh hidup. Tidak kekurangan, tapi tidak utuh. Dan mungkin di titik itulah, tanpa saya sadari, pusat kepercayaan saya mulai goyah.

Keputusan pensiun dini di usia 41 tahun bukanlah tindakan heroik atau romantik. Ia lahir dari kejujuran batin: bahwa ada perjalanan lain yang memanggil, meski belum jelas arahnya. Bukan karena membenci uang atau pekerjaan, melainkan karena menyadari bahwa hidup tidak menemukan makna di sana.

Uang Bukan Masalah, Kepercayaan yang Bergeser

Di sinilah saya baru sungguh memahami kedalaman quote Guruji. Beliau tidak sedang mengutuk uang. Uang bersifat netral. Yang disentuh adalah pergeseran pusat kepercayaan.

Ketika seseorang mulai berpikir bahwa tanpa uang ia tidak bisa berbuat apa-apa, maka uang telah naik derajat—dari alat menjadi sandaran eksistensial. Ia tidak lagi sekadar membantu hidup, tetapi menentukan makna hidup.

Dalam kerangka The Gospel of Mahamaya, inilah kerja ilusi: yang relatif diperlakukan sebagai mutlak. Maya tidak menipu dengan kebohongan total, melainkan dengan separuh kebenaran. Uang memang penting, tetapi bukan sumber kehidupan, apalagi kebahagiaan.

Tuhan sebagai Opsi Cadangan

Guruji tidak mengatakan kita kehilangan Tuhan, melainkan kehilangan belief in God. Tuhan tidak pergi ke mana-mana. Yang memudar adalah relasi batin kita dengan-Nya.

Ketika uang menjadi pusat rasa aman, Tuhan bergeser menjadi pelengkap. Kita masih berdoa, masih menyebut nama-Nya, tetapi di lapisan terdalam, rasa percaya kita sudah berpindah. Tuhan direduksi menjadi “opsi cadangan”, bukan sumber kehidupan.

Dalam Peta Kesadaran David R. Hawkins, kondisi ini beresonansi dengan level Desire (125) dan Pride (175)—kesadaran yang masih digerakkan oleh keinginan memiliki dan penguatan ego. Spiritualitas pun mudah berubah menjadi transaksi: doa sebagai proposal, amal sebagai investasi.

Retaknya Kepercayaan pada Sesama Manusia

Ketika uang menjadi ukuran nilai, sesama manusia pun ikut tereduksi. Kita mulai bertanya: apa manfaatnya? apa untungnya? Relasi menjadi fungsional, bukan personal.

Tak heran dunia hari ini terasa dingin. Mudah curiga. Sulit percaya. Solidaritas menipis. Bukan semata karena manusia makin jahat, tetapi karena kesadaran kolektif kita bergerak dari kelimpahan menuju kelangkaan.

Dalam Peta Hawkins, ini selaras dengan level Fear (100) dan Anger (150)—takut kekurangan, marah karena merasa hidup tidak adil.

Kehilangan Diri Sendiri: Harga yang Paling Mahal

Namun bagian paling sunyi dari quote Guruji adalah yang terakhir: and in yourself. Di sinilah saya merasa paling tersentuh.

Betapa banyak orang—termasuk saya di masa lalu—yang perlahan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena merasa tanpa uang ia tidak berarti. Kreativitas terbungkam. Keberanian menguap. Langkah tertahan.

Padahal sebelum memiliki apa pun, manusia dianugerahi kesadaran, daya cipta, dan keberanian untuk hidup. Ketika semua itu dikalahkan oleh angka, kita membayar harga yang sangat mahal.

Hawkins menyebut wilayah ini sebagai Apathy (50) dan Grief (75)—energi rendah, hidup terasa berat, dan masa depan tampak suram.

Api yang Membersihkan, Bukan Membakar

Malam itu, fire purification menemukan maknanya. Api tidak membakar, tetapi membersihkan. Bukan menghancurkan, melainkan mengingatkan.

Mungkin yang perlu disucikan bukanlah uang, melainkan ketergantungan batin kita padanya. Mengembalikan uang ke tempatnya: sebagai alat, bukan pusat makna, apalagi tuhuan hidup.

Dalam Peta Hawkins, titik balik terjadi di level Courage (200)—saat seseorang mulai percaya pada kehidupan itu sendiri, meski tanpa jaminan mutlak. Di atasnya, Love (500), level aman bagi manusia: Kasih dalam pengertian cinta tanpa batas dan tak bersyarat. Namun, mengenal kasih saja tidak cukup, kita mesti mengaplikasikannya dalam keseharian hidup. Jika tidak, kesadaran kita bisa merosot lagi, demikian menurut Guruji dalam The Science of Fear Management & The Art of Being Happy

Perayaan yang Ikut Pulang

Motor melaju pelan di jalan Ubud yang mulai lengang, tidak seramai biasanya. Tidak ada kesimpulan besar. Tidak ada resolusi heroik. Hanya satu kesadaran yang mengendap pelan-pelan:

Bahwa spiritualitas bukan soal menolak dunia, tetapi tidak menyerahkan jiwa kita pada dunia materi. Bahwa uang boleh kita cari, kelola, dan gunakan—tanpa menjadikannya Tuhan.

Foundation Day usai. Chanting berhenti. Api padam. Arati, tarian, nyanyian, dan makan malam bersama usai. Tetapi renungan itu ikut pulang, dan tinggal.

Dan mungkin di sanalah salah satu makna terdalam perayaan ini: mengingatkan kita bahwa kita memang butuh uang, tetapi yang sungguh menopang hidup adalah keyakinan—pada Dia yang satu adanya, walaupun disebut dengan banyak nama, pada sesama manusia, dan pada diri sendiri. [T]

Tags: Anand Krishnauang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

Next Post

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co