24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 16, 2026
in Esai
Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.” The Gospel of Mahamaya – Anand Krishna

PERAYAAN Foundation Day ke-36 Yayayasan Anand Ashram di Anand Ashram Ubud, Rabu 14 Januari 2026 telah usai. Malam turun perlahan, seperti tirai yang menutup sebuah panggung sakral. Chanting masih terasa bergema di dada, mantra dari fire purification seolah masih terngiang di telinga, dan wajah Guruji Anand Krishna di layar—dari video yang diputar—masih terasa hadir, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai kesadaran yang hidup.

Dalam suasana itulah, sebuah quote dibacakan dari buku The Gospel of Mahamaya karya Guruji. Pertama dalam bahasa Inggris, lalu dalam bahasa Indonesia, karena ada sahabat-sahabat dari berbagai bangsa yang ikut merayakan:

“When you believe in money and begin to think that nothing can be done without it, you lose your belief in God, in fellow human beings, and in yourself.”

Ketika kau percaya pada uang dan mulai berpikir tanpa uang kau tidak dapat berbuat sesuatu, maka kau kehilangan kepercayaanmu terhadap Tuhan, sesama manusia, dan dirimu sendiri.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak bombastis. Bahkan bisa terasa klise bila dibaca sepintas. Namun malam itu, di tengah keheningan kolektif setelah chanting dan fire purification, kata-kata tersebut seperti menemukan ruangnya sendiri di dalam batin.

Saat Kenyamanan Tidak Lagi Cukup

Dalam perjalanan pulang dari ashram ke rumah, renungan itu bertaut dengan pengalaman hidup saya sendiri. Hampir dua puluh tahun saya bekerja di sebuah BUMN. Fasilitas yang saya terima sangat layak untuk ukuran sebuah kenyamanan—bahkan sebuah kemewahan jika dibandingkan dengan latar belakang hidup saya hingga SMA yang sangat memprihatinkan. Stabilitas ekonomi tercapai. Rasa aman material relatif terpenuhi. Di mata banyak orang, hidup saya bisa disebut berhasil dan mapan.

Dan memang benar, secara lahiriah, kita butuh uang. Ia memberi ruang bernapas, martabat sosial, dan kemudahan hidup. Itu fakta. Namun justru dari dalam kecukupan itulah, pelan-pelan saya menyadari kebenaran kalimat berikutnya: uang bukan segalanya.

Ada sesuatu yang hampa. Ada sesuatu yang belum saya dapatkan. Saya belum bisa menamainya saat itu. Apakah itu kebahagiaan sejati? Saya belum tahu. Yang jelas, ada kejenuhan yang tak bisa dijelaskan oleh logika karier, target, atau grafik penghasilan—kejenuhan tingkat dewa, jika boleh saya menyebutnya begitu.

Saya tidak sedang menderita. Tapi juga tidak sungguh hidup. Tidak kekurangan, tapi tidak utuh. Dan mungkin di titik itulah, tanpa saya sadari, pusat kepercayaan saya mulai goyah.

Keputusan pensiun dini di usia 41 tahun bukanlah tindakan heroik atau romantik. Ia lahir dari kejujuran batin: bahwa ada perjalanan lain yang memanggil, meski belum jelas arahnya. Bukan karena membenci uang atau pekerjaan, melainkan karena menyadari bahwa hidup tidak menemukan makna di sana.

Uang Bukan Masalah, Kepercayaan yang Bergeser

Di sinilah saya baru sungguh memahami kedalaman quote Guruji. Beliau tidak sedang mengutuk uang. Uang bersifat netral. Yang disentuh adalah pergeseran pusat kepercayaan.

Ketika seseorang mulai berpikir bahwa tanpa uang ia tidak bisa berbuat apa-apa, maka uang telah naik derajat—dari alat menjadi sandaran eksistensial. Ia tidak lagi sekadar membantu hidup, tetapi menentukan makna hidup.

Dalam kerangka The Gospel of Mahamaya, inilah kerja ilusi: yang relatif diperlakukan sebagai mutlak. Maya tidak menipu dengan kebohongan total, melainkan dengan separuh kebenaran. Uang memang penting, tetapi bukan sumber kehidupan, apalagi kebahagiaan.

Tuhan sebagai Opsi Cadangan

Guruji tidak mengatakan kita kehilangan Tuhan, melainkan kehilangan belief in God. Tuhan tidak pergi ke mana-mana. Yang memudar adalah relasi batin kita dengan-Nya.

Ketika uang menjadi pusat rasa aman, Tuhan bergeser menjadi pelengkap. Kita masih berdoa, masih menyebut nama-Nya, tetapi di lapisan terdalam, rasa percaya kita sudah berpindah. Tuhan direduksi menjadi “opsi cadangan”, bukan sumber kehidupan.

Dalam Peta Kesadaran David R. Hawkins, kondisi ini beresonansi dengan level Desire (125) dan Pride (175)—kesadaran yang masih digerakkan oleh keinginan memiliki dan penguatan ego. Spiritualitas pun mudah berubah menjadi transaksi: doa sebagai proposal, amal sebagai investasi.

Retaknya Kepercayaan pada Sesama Manusia

Ketika uang menjadi ukuran nilai, sesama manusia pun ikut tereduksi. Kita mulai bertanya: apa manfaatnya? apa untungnya? Relasi menjadi fungsional, bukan personal.

Tak heran dunia hari ini terasa dingin. Mudah curiga. Sulit percaya. Solidaritas menipis. Bukan semata karena manusia makin jahat, tetapi karena kesadaran kolektif kita bergerak dari kelimpahan menuju kelangkaan.

Dalam Peta Hawkins, ini selaras dengan level Fear (100) dan Anger (150)—takut kekurangan, marah karena merasa hidup tidak adil.

Kehilangan Diri Sendiri: Harga yang Paling Mahal

Namun bagian paling sunyi dari quote Guruji adalah yang terakhir: and in yourself. Di sinilah saya merasa paling tersentuh.

Betapa banyak orang—termasuk saya di masa lalu—yang perlahan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena merasa tanpa uang ia tidak berarti. Kreativitas terbungkam. Keberanian menguap. Langkah tertahan.

Padahal sebelum memiliki apa pun, manusia dianugerahi kesadaran, daya cipta, dan keberanian untuk hidup. Ketika semua itu dikalahkan oleh angka, kita membayar harga yang sangat mahal.

Hawkins menyebut wilayah ini sebagai Apathy (50) dan Grief (75)—energi rendah, hidup terasa berat, dan masa depan tampak suram.

Api yang Membersihkan, Bukan Membakar

Malam itu, fire purification menemukan maknanya. Api tidak membakar, tetapi membersihkan. Bukan menghancurkan, melainkan mengingatkan.

Mungkin yang perlu disucikan bukanlah uang, melainkan ketergantungan batin kita padanya. Mengembalikan uang ke tempatnya: sebagai alat, bukan pusat makna, apalagi tuhuan hidup.

Dalam Peta Hawkins, titik balik terjadi di level Courage (200)—saat seseorang mulai percaya pada kehidupan itu sendiri, meski tanpa jaminan mutlak. Di atasnya, Love (500), level aman bagi manusia: Kasih dalam pengertian cinta tanpa batas dan tak bersyarat. Namun, mengenal kasih saja tidak cukup, kita mesti mengaplikasikannya dalam keseharian hidup. Jika tidak, kesadaran kita bisa merosot lagi, demikian menurut Guruji dalam The Science of Fear Management & The Art of Being Happy

Perayaan yang Ikut Pulang

Motor melaju pelan di jalan Ubud yang mulai lengang, tidak seramai biasanya. Tidak ada kesimpulan besar. Tidak ada resolusi heroik. Hanya satu kesadaran yang mengendap pelan-pelan:

Bahwa spiritualitas bukan soal menolak dunia, tetapi tidak menyerahkan jiwa kita pada dunia materi. Bahwa uang boleh kita cari, kelola, dan gunakan—tanpa menjadikannya Tuhan.

Foundation Day usai. Chanting berhenti. Api padam. Arati, tarian, nyanyian, dan makan malam bersama usai. Tetapi renungan itu ikut pulang, dan tinggal.

Dan mungkin di sanalah salah satu makna terdalam perayaan ini: mengingatkan kita bahwa kita memang butuh uang, tetapi yang sungguh menopang hidup adalah keyakinan—pada Dia yang satu adanya, walaupun disebut dengan banyak nama, pada sesama manusia, dan pada diri sendiri. [T]

Tags: Anand Krishnauang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

Next Post

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co